
Setelah semuanya setuju, Shin Shui segera pergi ke dalam hutan bersama Chen Li dan Maling Sakti Hidung Serigala.
Ketiganya melesat di tengah udara yang sangat dingin. Orang-orang pada umumnya, lebih tepatnya mereka warga biasa, sudah pasti akan memilih untuk tidur atau menghangatkan badan bersama arak ataupun api unggun jika sedang tiba musim dingin seperti ini.
Tetapi tiga orang tersebut malah lebih memilih untuk pergi. Kalau ada yang melihat, mungkin Shin Shui dan yang lainnya bakal di anggap gila.
Dan memang demikian. Pendekar Halilintar itu lebih suka kalau ada orang lain menganggapnya gila. Karena baginya, menjadi orang gila itu lebih menyenangkan.
Sudah terlalu banyak orang-orang di muka bumi ini yang mengaku waras. Padahal sebenarnya dia gila. Sangat gila sekali. Terkadang justru lebih enak memilih untuk disebut gila sekalian. Gila tapi waras, waras tapi gila. Gila sebenarnya waras, waras sebenarnya gila. Apakah itu betul? Kalau tidak percaya, amati saja orang-orang yang ada di sekitarmu.
Dunia ini memang benar-benar sudah terbalik.
Setelah beberapa waktu menyusuri hutan tersebut, akhirnya tiga orang itu sampai juga di tengah-tengah hutan. Ternyata hutan itu memang sangat luas. Sehingga membutuhkan waktu hampir sepuluh menit untuk mencapai tengah-tengahnya saja.
Suasana di tengah hutan sangat jauh berbeda dengan pinggiran hutan. Kalau di pinggir terasa sangat dingin karena sedang turun salju, justru di tengah-tengahnya ini malah terasa panas.
Sekalipun salju memang turun, tapi nyatanya tidak mampu mengalahkan hawa panas yang tersebar di sana.
Entah dari mana asalnya hawa tersebut. Namun yang pasti, Shin Shui dan Maling Sakti Hidung Serigala, menjadi bertambah yakin bahwa hutan ini mempunyai misteri.
"Kakak Yang, aku rasa dalam hal ini kau yang paling tepat untuk menjadi pemimpin. Silahkan kau di depan, sedangkan aku dan Li'er akan mengikutimu dari belakang," kata Shin Shui
Awalnya Maling Sakti enggan. Tetapi setelah di pikir kembali, akhirnya dia mau juga. Karena setelah di ingat, dia sendiri ternyata mempunyai informasi tentang hutan ini.
Menurut informasi yang dia ketahui, hutan yang mereka telusuri saat ini memang bernama Hutan Masiteri. Namanya bukan hanya nama kosong. Sebab keadaan di sana, memang sesuai dengan nama yang disandang.
Berbagai macam misteri sepertinya terdapat di hutan ini. Masalah misteri apakah itu, baik Maling Sakti maupun Shin Shui, sama-sama belum menemukan jawaban tepat.
Maling Sakti Hidung Serigala mulai melakukan penyelidikan. Dia bergerak ke dalam lagi sambil tetap menajamkan semua indera. Sebab dalam keadaan seperti ini, kepekaan terhadap situasi haruslah sangat peka. Bahkan dibutuhkan konsentrasi yang benar-benar serius.
__ADS_1
Karena kalau tidak waspada, maka nyawa bisa saja tiba-tiba melayang. Berbagai macam ancaman bisa terjadi dan datang kapan saja.
Maling Sakti tiba-tiba berhenti di sebuah dahan pohon. Shin Shui dan Chen Li ikut berhenti juga.
"Ada apa?" tanya Shin Shui sedikit berbisik.
"Di depan sana ada sebuah bangunan tua. Sepertinya itu bangunan sebuah perguruan. Tapi entahlah, aku belum bisa menyimpulkannya," kata Maling Sakti sambil menunjukkan tempat yang dia maksud.
Dan ternyata hal itu memang benar. Di depan mereka, sekitar jarak tiga puluh tombak, berdiri sebuah bangunan tua yang sudah tua. Namun walaupun begitu, bangunan tersebut berukuran lumayan besar. Ada juga sebuah halaman cukup luas.
Walaupun umumnya sudah pasti sangat lama, tetapi bangunan itu terbilang bersih. Dari sini saja bisa dipastikan ada kehidupan di sana.
"Bangunan memang sepertinya merupakan sebuah perguruan. Kau lihat, di depan gapura masuk ada tulisan. Tulisan apa itu?" tanya Maling Sakti kepada Shin Shui.
Pendekar Halilintar segera menajamkan indera penglihatannya setajam mungkin. Namun sayangnya, dia tidak bisa membaca keseluruhan tulisan yang tertera di sebuah papan gantung hitam tersebut.
"Perguruan Siluman Hutan Misteri …" desis Chen Li.
Kedua orang di dekatnya terkejut. Mereka sebenarnya tidak ingin mempercayai bocah itu, tapi setelah di tegaskan lagi, saat Shin Shui dan Maling Sakti memperpendek jarak mereka, memang tulisan itulah yang mereka temukan.
Tulisannya sama dengan apa yang diucapkan oleh Chen Li.
Ketika mereka sedang mengamati keadaan sekitar, tiba-tiba sebuah aura dahsyat menekan tempat sekitar. Hawa semakin panas. Sampai-sampai pohon yang jaraknya dekat, daunnya mendadak layu dan gugur. Padahal waktu itu musim salju. Bagaimana mungkin daun bisa sampai layu kemudian rontok?
Tapi apapun itu, kejadian seperti ini memang benar-benar nyata dan sekarang sedang di alami oleh Pendekar Halilintar.
Tidak berapa lama, mendadak keluar dua orang manusia berusia tua. Seorang pria, seorang lagi wanita. Sepertinya mereka merupakan pasangan suami istri.
Setelah keduanya muncul, dari sisi lain banyak juga siluman bermunculan. Mulai dari harimau emas, dan binatang siluman lain sebagainya.
__ADS_1
Pasangan suami istri tersebut duduk di sebuah bangku yang sudah tersedia di sana. Semua siluman yang hadir mengelilingi keduanya sambil memuji-muji dua manusia itu.
Shin Shui semakin merasakan hal lain. Begitupun dengan si Maling Sakti.
"Anak-anak, dua bulan purnama lagi, kita akan turun gunung untuk menghancurkan orang-orang. Aku ingin rencana kita untuk menjadi penguasa harus terwujud. Karena itulah, kalian harus serius. Sekarang, berlatihlah," kata si pria menyuruh semua siluman untuk berlatih.
Semua siluman tersebut tidak ada yang menjawab ataupun menolaknya. Mereka mulai menuruti perintah dari di pria tadi. Para siluman mulai memainkan keahlian yang mereka miliki masing-masing. Ada juga yang sedang berlatih tanding bersama siluman lainnya.
Tetapi kalau ditilik lebih teliti lagi, kita akan tahu bahwa semua siluman tersebut seperti terpaksa. Sehingga dalam menjalankan latihan pun, puluhan siluman tersebut tidak ada yang serius.
Ketika Shin Shui mengalihkan perhatian, yang tadinya memandangi pasangan suami istri itu, tiba-tiba saja sebuah serangan jarak jauh yang lumayan dahsyat menerjang cepat ke arah mereka bertiga.
Shin Shui terkejut. Dia tidak menangkis, melainkan hanya berusaha untuk menghindarinya. Alasannya karena dia belum mau mencari masalah.
Siapa tahu serangan itu hanyalah serangan yang salah mengenai sasaran.
"Blarrr …"
Pohon tempat tiga orang itu bersembunyi, kini sudah hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Bau hangus terbakar segera menyeruak.
"Tuan-tuan yang ada di balik pohon, lebih baik segera pergi dari sini atau kami pastikan tidak bisa keluar lagi dari hutan," kata si wanita dengan suaranya yang sedikit cempreng.
Si Maling Sakti terkejut. Bagaimana mungkin mereka biss merasakan kehadirannya? Bukankah dia bersama yang lainnya sudah menyembunyikan kekuatan? Lalu … bagaimana keadaan mereka dapat tercium?
Sebelum mereka menemukan jawaban, kembali sebuah sinar melesat cepat ke arahnya. Kali ini terlihat sinar tersebut lebih hebat daripada yang sebelumnya.
"Blarrr …"
Dua batang pohon dibuat hancur seperti tadi. Shin Shui dan Maling Sakti mulai tidak bisa menahan diri. Mereka tahu bahwa ini bukanlah serangan salah sasaran.
__ADS_1
Melainkan sebuah serangan kesengajaan.