
Dua hari sudah berlalu. Saat ini Huang Taiji dan Chen Li sudah pergi dari Sekte Seribu Iblis. Mereka memang tidak berlama-lama di sekte tersebut.
Bukan karena tidak ingin. Tetapi karena keadaan yang sangat mendesak. Dan hal ini sudah jelas tidak boleh ditunda lebih lama lagi.
Yuan Shao, Moi Xiuhan dan Li Meng Li sudah dijemput oleh Ye Xia Zhu satu hari yang lalu sesuai perjanjian awal. Di mana antara Huang Taiji dan Wakil Kepala Tetua Sekte Teratai Putih tersebut telah membuat kesepakatan bahwa setelah kembali dari Sekte Seribu Iblis, wanita itu akan segera menjemputnya.
Huang Taiji Lu melakukan hal ini bukan karena dia tidak ingin melakukan perjalanan bersama tiga bocah itu. Namun alasannya karena dia ingin lebih cepat menyelesaikan tugasnya.
Sebab keadaan sekarang sudah bukan waktunya untuk bersantai lagi. Menurut pepatah juga mengatakan, lebih cepat lebih baik. Dan hal itulah yang dilakukan Huang Taiji saat ini.
"Li'er, kita harus mempercepat perjalanan sekarang supaya bisa melakukan tugas lainnya lagi. Paman harap jika ada masalah, kita bisa membereskannya dengan cepat," ucap Huang Taiji Lu di tengah perjalanan keduanya.
"Baik Paman. Li'er mengerti apa yang Paman katakan. Sebisa mungkin, Li'er akan mempercepat masalah apapun yang mungkin kita temui nanti," jawab Chen Li penuh semangat.
"Bagus. Itu baru namanya keponakan Paman, hahaha …"
Orang tua itu tertawa. Dia memang selalu bangga kepada Chen Li. Rasa sayangnya kepada bocah istimewa tersebut semakin dalam. Sudah tidak dapat dilukiskan lagi bagaimana rasa sayang itu.
Karena waktu masih siang hari, maka keduanya segera mempercepat perjalanan. Hutan, desa, kota, hingga hutan lagi, entah sudah mereka lewati beberapa puluh kali.
Namun yang jelas, saat ini mereka sudah berada jauh dari tempat Sekte Seribu Iblis.
Huang Taiji dan Chen Li melewati sebuah kuil. Mereka berniat untuk beristirahat di sana.
Kuil itu cukup luas. Namun sepertinya tidak terawat. Terlihat dari halamannya yang sangat kotor. Daun kering berserakan di segala tempat. Beberapa dinding sudah bobrok. Begitu juga dengan tiang-tiangnya yang ada di sana.
Gapura kuil pun sudah sebagian bobrok. Nama kuil yang ditulis di atas kayu, sudah sebagian patah dan lapuk dimakan rayap.
Namun meskipun keadaannya sudah demikian bobrok, mereka berdua tetap berniat untuk istirahat di sana. Walau bagaimanapun juga, keduanya masih merupakan manusia normal seperti pada umumnya. Manusia yang mempunyai rasa lelah.
"Li'er, kita istirahat sebentar di sini untuk sekedar mengambil nafas," kata Huang Taiji lalu mulai memasuki ke dalam kuil.
"Baik Paman," Chen Li menurut lalu ikut di belakangnya.
__ADS_1
Mereka berdua segera memasuki kuil ke bagian yang lebih dalam. Melihat keadaan kuil dengan seksama. Meneliti semua yang ada di sana.
Dalam keadaan seperti ini, memang diwajibkan untuk selalu waspada. Sebab kapan pun itu, nyawa bisa saja melayang.
Huang Taiji Lu duduk di ruangan tengah kuil. Dia langsung mengeluarkan arak dari Cincin Ruang miliknya.
Mereka mulai menikmati arak bersama. Daging yang diawetkan dalam Cincin Ruang segera dikeluarkan sebagai pelengkap minum arak.
"Ada yang datang," desis Chen Li secara tiba-tiba.
Huang Taiji hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia juga sudah merasakan kehadiran orang lain. Hal ini bisa dirasakan karena adanya pancaran energi yang mulai menyebar memasuki kuil.
"Aii, rupanya di dalam sedang ada orang,"
Sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan di sana. Tidak berapa lama kemudian, terlihat seorang kakek tua berkepala botak berjalan dengan langkah berat masuk ke dalam kuil.
Di tangan kanannya memegang sebuah tongkat berwarna hitam. Tongkat itu meliuk-liuk seperti ular yang sedang berjalan. Ada hawa lain yang terpancar keluar dari tongkat aneh tersebut.
Huang Taiji Lu berdiri lalu membungkuk memberikan hormat kepada orang tersebut. Begitu juga dengan Chen Li.
"Aihh, tidak mengapa. Mari, mari, silahkan duduk kembali. Saya juga jarang ke sini, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran saja," kata orang yang memang mirip biksu tersebut.
Ketiganya kemudian duduk kembali.
Kebetulan di sana ada tiga cawan arak. Chen Li sengaja menawarkan arak kepada biksu asing tersebut.
"Apakah biksu mau minum arak barang beberapa cawan?" tanya bocah itu sopan.
"Aii, adik kecil ternyata minum arak juga. Boleh, boleh. Tapi aku hanya bisa minum beberapa cawan saja,"
Chen Li tersenyum. Kemudian dia langsung menuangkan arak ke dalam gelasnya masing-masing.
Mereka segera bersulang. Daging yang di hidangkan sudah habis lebih dari separuhnya.
__ADS_1
Hari mulai memasuki senja. Sinar keemasan memancar ke bumi. Pohon-pohon di seluruh hutan berubah warna menjadi kemerahan akibat terkena tempaan sinar matahari.
Ketiga orang tersebut masih minum arak dengan riang.
"Siapakah nama saudara sekalian ini?" tanya biksu tersebut setelah meneguk gelas araknya.
"Margaku Huang, namaku Taiji. Dan ini keponakanku. Namanya Chen Li," jawab Huang Taiji memperkenalkan dirinya.
Wajah biksu itu langsung sedikit berubah setelah mengetahui siapa dua nama orang tersebut. Sepertinya dia merasakan suatu hal. Hanya saja tidak ada yang memperhatikan perubahan pada wajahnya, kecuali Chen Li.
Tapi perubahan itu hanya terjadi sebentar saja. Karena detik berikutnya, biksu tua tersebut segera mengeluarkan suara tawanya yang cukup keras sehingga seisi ruangan terasa sedikit bergetar.
"Sungguh beruntung, sungguh beruntung sekali karena aku bisa bertatap muka dengan dua nama yang sekarang sedang ramai menjadi perbincangan hangat. Aii, rasanya ini adalah hari keberuntunganku," katanya lalu tertawa kembali.
"Biksu terlalu memuji kami. Kami mana berani menerima pujian tersebut," kata Huang Taiji merendah.
"Aii, aku bicara apa adanya saja," jawab si biksu. "Sebenarnya mau ke mana tujuan kalian sekarang ini?" lanjutnya.
Sebelum Huang Taiji menjawab, Chen Li lebih dahulu menjawabnya.
"Tujuan kami sekarang akan ke Sekte Tangan Dewa Kegelapan. Hanya saja, kami berdua juga mencari orang-orang yang pantas untuk mati. Biasanya mereka selalu mengantarkan nyawanya sendiri dengan berpura-pura baik di hadapan kami," kata Chen Li sambil tersenyum misterius.
Wajah si biksu tua kembali terlihat mengalami perubahan hebat. Lagi-lagi Huang Taiji tidak menyadarinya.
"Aii, benarkah? Sungguh sial sekali nasib orang-orang tersebut. Budha memberikan nyawa, tetapi mereka malah memilih untuk mati," kata si biksu tua.
Chen Li tertawa. Huang Taiji pun tertawa.
"Benar, memang sangat sial nasib orang-orang ini. Biasanya mereka sudah tidak bisa lepas lagi kalau sudah bertemu dengan kami," jawab Huang Taiji Lu.
"Benarkah?" tanya si biksu.
"Tentu saja biksu. Siapapun yang pernah bertemu kami berdua, kalau memang dia pantas untuk mati, maka bagaimanapun mereka berusaha melarikan diri, tetap hal itu tidak akan bisa," tukas Chen Li.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena orang-orang itu sudah ditakdirkan untuk mati di tangan kami,"