Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Terakhir


__ADS_3

"Aku belum pantas mendapatkan pujian seperti ini guru," jawab Chen Li dengan suaranya yang telah hangat kembali.


Mereka bertiga tersenyum. Senyuman yang bahagia. Senyuman yang penuh dengan rasa hangat.


Matahari semakin bersinar dengan cerah. Burung-burung telah terbang tinggi mencari makan ke sawah ladang atau ke tempat lainnya.


Alam semesta seakan ikut menghangat. Seolah mereka pun ikut bahagia saat melihat senyuman Chen Li telah kembali lagi. Matahari tampak seperti tersenyum ke arah mereka.


"Suasana yang indah ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bagaimana kalau kita berlatih bersama," tanya Huang Taiji kepada Chen Li.


"Usul yang bagus Paman. Baiklah, mari kita mulai sekarang juga," jawabnya penuh semangat.


Pemuda itu langsung melompat dari duduknya. Dia amat gembira menyambut usulan yang dikatakan oleh Huang Taiji.


Sekarang keduanya telah berdiri berhadapan. Meskipun mereka akan bertarung, tapi yang sekarang bukanlah pertarungan sesungguhnya. Yang akan mereka langsungkan sekarang hanyalah latihan semata.


Selain para sosok yang diciptakan oleh Dewa Lima Unsur, Huang Taiji sendiri juga ingin menguji sampai di mana kemampuan pemuda itu.


Dia ingin tahu seberapa kuat Chen Li yang sekarang setelah semua elemen Mata Dewa telah terbuka. Apakah Pendekar Tanpa Perasaan yang sekarang lebih kuat darinya? Ataukah pemuda itu masih belum bisa mengalahkannya?


"Bertarunglah dengan serius," ujar Huang Taiji kepada Chen Li.


"Aku pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk mengalahkan Paman," jawab Chen Li dengan suara hangat.


"Wajib, jangan ada perasaan tidak enak, jangan ada perasaan tidak tega. Keluarkan seluruh kekuatanmu. Perlihatkan ilmu pedang yang sudah berhasil kau sempurnakan. Ini adalah pertemuan terkahir sekaligus pertarungan terakhir, aku ingin di kesempatan ini kau menyuguhkanku dengan sesuatu yang sangat istimewa agar aku dapat mengingatnya selalu," pinta Huang Taiji.


Sekarang memang pertemuan terakhir bagi keduanya. Saat ini adalah saat terkahir Huang Taiji dapat melihat Chen Li, begitu juga dengan Chen Li sendiri.


Di saat terakhir kali, sudah tentu siapapun ingin disuguhkan dengan sesuatu yang sangat-sangat istimewa. Tujuannya hanya satu, yaitu agar di antara mereka tidak ada yang saling melupakan. Agar mereka saling ingat selalu.


Dewa Lima Unsur sudah berdiri di pinggir mereka. Sepasang matanya yang lemah lembut itu menatap kepada keduanya dengan ramah. Mulutnya mengulum senyuman hangat. Sepasang tangannya disimpan di belakang.


Posisinya amat tenang. Amat santai. Namun sebenarnya, dia sudah siap kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi nanti.


Pedang Merah Darah sudah tergenggam di tangan kiri Pendekar Tanpa Perasaan. Pedang Tombak Surga Neraka juga sudah digenggam erat oleh Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Dua pusaka yang menggetarkan langit bumi sudah dikeluarkan dan siap memperlihatkan keistimewaannya masing-masing.


Pusaka manakah yang lebih hebat?

__ADS_1


"Kau siap Li'er?"


"Aku sudah siap Paman," jawab Chen Li penuh keyakinan.


Mereka saling menatap tajam untuk sesaat. Detik selanjutnya, pertarungan dahsyat pun akhirnya dimulai.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan putih berkelebat cepat. Dua pusaka kelas atas telah dimainkan oleh pemiliknya masing-masing.


Hawa agung dari kedua orang itu telah menutupi jagat raya. Keduanya sudah mengeluarkan aura yang mereka miliki masing-masing.


Jurus Pedang Tombak Meruntuhkan Alam Nirwana milik Huang Taiji telah dikeluarkan begitu melihat kesempatan baik. Pusaka unik itu melesat dengan kecepatan diluar nalar manusia.


Hawa panas dan hawa dingin menyatu bersama serangan yang dilancarkan. Sinar putih dan biru menerjang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Suara menggelegar terdengar sangat keras. Seolah suara itu dapat meruntuhkan gunung yang kokoh. Seolah suara tersebut mampu meruntuhkan semangat seseorang.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak mau kalah.


Dia pun turut mengeluarkan jurus terdahsyat yang dia miliki.


Cahaya merah darah yang amat pekat tampak berkelebat seperti sebuah meteor yang jatuh ke bumi. Kecepatannya tidak bisa dilukiskan. Keganasan dan kedahsyatannya tak mampu digambarkan.


Dua jurus tertinggi dari tahapan ilmu pedang telah keluar.


Wushh!!! Trangg!!!


Benturan amat keras terjadi. Gelombang kejut itu sangat dahsyat sehingga meruntuhkan goa yang terdapat di sekitar. Guncangan yang terjadi juga tidak kalah hebatnya sampai-sampai membuat air sungai seperti sebuah ombak yang mendapat dorongan.


Grrr!!! Roarr!!!


Suara raungan naga dan harimau mengalun di udara. Kedua suara binatang perkasa itu memberikan suatu kekuatan yang sulit untuk dibayangkan.


Huang Taiji menarik kembali pusakanya. Tubuhnya melompat mundur sejauh sepuluh langkah. Dia bukan takut atau menyerah, justru sekarang lah serangan yang sudah disiapkan jauh sebelum pertarungan dimulai.


Pedang Tombak Surga Neraka berputar sangat cepat. Dari seluruh batang pusaka itu mengeluarkan suatu tekanan hebat. Cahaya putih dan cahaya merah kembali terlihat. Satu tusukan dan lima belas sabetan mematikan telah dilancarkan secepat kilat.


Pendekar Tanpa Perasaan tersentak kaget. Kesempatan untuk menghindari tipis sekali. Bahkan hampir mustahil.

__ADS_1


Tidak banyak yang dapat dia lakukan. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah bertekad untuk mengadu jurusnya dengan jurus lawan.


Trangg!!!


Kedua senjata pusaka bergetar sangat hebat. Setelah senjata kembali berbenturan, keduanya langsung melancarkan lagi serangan terakhir.


Jurus Pedang Sang Dewa bergerak tepat pada waktunya. Pedang Tombak Surga Neraka hampir menusuk lambung. Sedangkan Pedang Merah Darah hampir menusuk tenggorokan.


Keduanya berhenti bergerak. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh Pendekar Tanpa Perasaan. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya sedikit pucat.


Wushh!!!


Angin berhembus. Secara tiba-tiba sosok Huang Taiji yang ada di depannya telah lenyap. Yang ada hanyalah gumpalan asap putih yang mulai mengepul tinggi ke udara.


"Kau kalah Li'er," suara Huang Taiji tiba-tiba terdengar berada di belakangnya.


Chen Li langsung membalikkan badannya. Di lihatnya Huang Taiji sudah tepat berjarak dua langkah di belakang. Pedang Merah Darah berada satu jengkal tepat berada di punggungnya.


Huang Taiji kemudian menarik diri. Chen Li pun melakukan hal yang sama. Keduanya menjura memberikan hormat sebagai pertanda akhir dari pertarungan dahsyat tersebut.


Chen Li menampilkan sedikit raut muka kecewa. Tapi dia tidak mengeluh sedikitpun.


"Semua jurus yang kau pelajari sudah mencapai tahap sempurna. Di antara para manusia, kau pasti lebih unggul. Orang yang dapat menandingi dirimu hanya bisa dihitung oleh sebelah jari tangan," kata Huang Taiji.


"Siapakah mereka Paman?"


"Pastinya aku tidak tahu. Namun yang jelas, mereka yang dapat menandingimu adalah mereka yang sudah bersekutu dengan Raja para iblis,"


Chen Li hanya mengangguk tanda mengerti. Dia paham, sekuat apapun dirinya, tapi dia masih manusia. Dan di dunia manusia, ada peribahasa bahwa di atas langit masih ada langit.


Dia percaya akan hal ini. Bahkan kalau tidak percaya sekalipun, dia tetap harus percaya. Karena hal itu adalah fakta nyata.


"Waktunya tiba, mari kita pergi," ujar Dewa Lima Unsur.


Huang Taiji mengangguk. Dia memandangi Chen Li untuk sesaat. Ketiganya tidak ada yang bicara.


Chen Li paham akan hal ini. Dia pun tidak mengeluarkan suara.


Saat menjelang perpisahan, lebih baik diam dari pada banyak bicara. Tujuannya hanya satu.

__ADS_1


Agar masing-masing pihak bisa melepas dengan leluasa.


__ADS_2