Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Racun Minyak Wangi Khayalan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Mo Lin sudah menyelesaikan sarapan paginya. Sekarang gadis cantik itu sedang mengusut-usut mulutnya dengan kain pakaiannya.


Chen Li sedikit terkejut, hanya saja dia tidak memperlihatkan hal itu. Ternyata nafsu makan Mo Lin besar juga. Semua menu makanan yang diberikan oleh Chen Li, hampir habis semuanya.


Nafsu makannya bukan menampakan nafsu makan seorang gadis biasa. Tapi meskipun demikian, pemuda itu tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Terimakasih. Semua makanan ini sangat enak," kata Mo Lin sambil tersenyum hangat kepada Chen Li.


"Tidak perlu sungkan lagi. Kalau Nona Mo masih ingin makan, bilang saja. Aku masih mempunyai cukup banyak stok makanan," ujarnya.


Mo Lin hanya mengangguk. Dia belum pergi dari sana.


"Kalau boleh tahu, apakah Tuan ini yang disebut sebagai Pendekar Tanpa Perasaan?" tanyanya secara tiba-tiba.


"Benar," jawab Chen Li singkat.


"Aii, ternyata aku sedang berhadapan dengan tokoh terkenal," puji Mo Lin kepada Chen Li.


"Aku hanya pemuda biasa saja,"


"Tuan terlalu merendah, aku sangat kagum akan sikapmu yang selalu demikian,"


"Terimakasih," jawab pemuda itu.


Mo Lin kemudian merogoh saku di balik pakaiannya. Setelah itu dia mengambil sebuah botol minyak wangi. Gadis cantik itu kemudian menuangkan minyak wangi tersebut ke seluruh pakaiannya.


Bau harum yang sangat menusuk hidung langsung tercium semerbak. Seluruh area sekitar mereka berdua segera diliputi oleh bau dari minyak wangi tersebut.


Seumur hidupnya, belum pernah Chen Li mencium bau harum seperti ini. Di antara bau harum yang pernah dia cium, sepertinya hanya keharuman sekarang yang paling harum.


Chen Li tiba-tiba menguap. Tanpa sadar pemuda itu segera menyenderkan tubuhnya di batang pohon tadi. Hanya beberapa saat saja Pendekar Tanpa Perasaan telah mendengkur.


Phoenix Raja juga sama.


Keduanya sama-sama tertidur dengan pulas.


Mo Lin masih berada di sana. Dia tersenyum dingin dan misterius. Melihat Chen Li dan Phoenix Raja sudah benar-benar tertidur dengan pulas, gadis tersebut segera bertepuk tangan tiga kali.


Baru saja selesai tepukan tangannya, tampak empat orang asing tiba-tiba berlompatan dari balik semak belukar.


Mereka berwajah angker. Di tangannya sudah tergenggam berbagai macam senjata seperti pedang, golok bahkan trisula. Semuanya berpakaian hitam dengan ikat kepala hitam pula.

__ADS_1


Siapapun dapat menilai bahwa mereka pasti orang-orang bengis dan kejam.


"Bagaimana?" tanya seorang brewokan kepada Mo Lin.


"Berhasil. Racun Minyak Wangi Khayalan memang mujarab. Coba saja lihat, mereka sudah tertidur sangat pulas seperti orang mati," kata Mo Lin tersenyum sinis sambil memandangi Chen Li dan Phoenix Raja.


Empat orang berwajah angker itu tertawa lantang. Suara tawanya amat menyeramkan. Kalau saja saat ini malam hari, siapapun pasti akan menyangka bahwa yang tertawa bukanlah manusia, melainkan sebangsa setan.


"Rencana sudah berhasil, lantas kenapa kalian masih belum turun tangan?" tanya Mo Lin sambil melirik kepada empat orang tersebut.


"Baiklah. Kami akan melakukannya sekarang juga," jawab salah seorang.


Dia langsung maju melangkah mendekati Pendekar Tanpa Perasaan yang saat ini sedang mendengkur. Golok hitam legam di tangan kanannya diangkat lalu siap untuk diayunkan.


Wutt!!!


Bayangan putih keperakan membelah udara. Suara desingan tajam telah melesat dan siap membelah batok kepala Pendekar Tanpa Perasaan.


Crapp!!! Clangg!!!


Gerakan golok seketika berhenti. Setelah itu benda tajam tersebut langsung patah menjadi dua bagian.


Bukan hanya dirinya, bahkan tiga orang rekannya, termasuk Mo Lin sendiri merasakan hal yang sama.


Semuanya terkejut. Semuanya kaget setengah mati.


Dilihatnya saat ini Pendekar Tanpa Perasan sedang tiduran dengan santai. Tangan kanannya dijadikan bantal. Sedangkan tangan kirinya masih menjepit kurungan golok dengan kedua jarinya.


"Untuk mengelabui diriku bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika ingin membunuhku," kata Chen Li dengan nada suara yang sangat dingin.


Dia berkata jujur. Agar seseorang dapat mengelabui dirinya dengan berbagai macam cara bukanlah suatu yang mudah. Kalau mengelabui saja sudah susah, apalagi jika ingin membunuhnya?


"Nona Mo, Racun Minyak Wangi Khayalan memang sangat ampuh untuk membuat seseorang tertidur seperti orang mati. Efek racun itu sangat hebat. Sayangnya hal itu tidak berlaku bagiku," lanjut Pendekar Tanpa Perasaan lalu bangun dari posisinya.


Mo Lin tidak mampu bicara lagi. Begitu juga dengan orang-orang yang lainnya. Semangat dalam tubuh yang tadi berkobar, sekarang sudah menghilang entah ke mana.


Mereka merasa lemas. Rasa takut mulai mendera tubuhnya.


"Ka-kau … bagaimana kau bisa kebal terhadap efek racun itu?" tanya Mo Bin dengan mulut bergetar.


"Karena aku Pendekar Tanpa Perasaan …"

__ADS_1


Jawabannya terdengar tidak nyambung. Namun setiap orang-orang itu mengerti, jawaban sederhana tersebut sudah cukup untuk mewakili rasa penasarannya.


Mo Lin kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Kenapa kalian masih diam saja? Cepat bunuh dia!!!" tegasnya kepada empat orang pria berwajah angker itu.


"Baik …"


Wuttt!!! Wuttt!!!


Empat bayangan manusia telah melompat ke depan. Mereka langsung melayangkan serangan ganas kepada Pendekar Tanpa Perasaan.


Empat serangan itu dilayangkan dengan segenap tenaga dalam. Di balik serangan tersebut terselip satu jurus yang hebat. Kalau bukan tokoh kelas atas, pasti nyawanya tidak akan selamat.


Pendekar Tanpa Perasaan masih dalam posisi yang sama. Dia amat tenang dan santai. Sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan takut ataupun jeri.


Begitu juga dengan Phoenix Raja, siluman istimewa itu masih tetap bertengger dengan tenteram di pundak tuan mudanya.


Wushh!!! Slebb!!! Slebb!!!


Tepat sebelum empat serangan itu tiba menghunjam tubuhnya, empat pisau energi berkekuatan tinggi telah menembus tenggorokan masing-masing lawannya.


Hanya sekali serangan, empat nyawa manusia dibuat melayang seketika itu juga.


Mo Lin semakin tertegun. Dia tahu bahwa empat rekannya merupakan pendekar kelas atas. Kekuatan mereka setara dengan Pendekar Dewa tahap dua awal.


Tingkatan setinggi itu seharusnya mampu bertahan beberapa jurus lamanya. Apalagi pengalaman dan jurus mereka sudah matang.


Sayangnya, saat ini keempat orang tersebut telah menemui kesialan. Mereka menemukan lawan yang tingkatannya saja jauh di atas diri sendiri.


Tingkatan Pendekar Tanpa Perasaan sudah mencapai tahap kesempurnaan. Di dunia saat ini, mungkin tidak ada seorang tokoh yang sanggup bertahan dari semua jurus-jurusnya. Di muka bumi sekarang, mungkin yang dapat melawan dirinya hanya mereka yang sudah benar-benar bersekutu dengan iblis saja. Seperti yang diceritakan oleh Dewa Lima Unsur sebelum perpisahan waktu itu.


Dan itupun jumlahnya hanya beberapa orang saja.


Sekarang ada empat orang Pendekar Dewa tahap dua ingin membunuhnya? Jangan mimpi.


Chen Li maju beberapa langkah ke depan. Wajahnya dingin. Dia memandang dengan tajam ke arah Mo Lin.


Crashh!!!


Darah menyembur deras. Mo Lin ambruk ke tanah sebelum Pendekar Tanpa Perasaan mengambil tindakan.

__ADS_1


__ADS_2