Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bayangan Merah


__ADS_3

Wushh!! Slebb!! Crashh!!!


Desiran angin terasa sangat kencang menerpa tubuhnya. Pemuda itu lebih-lebih tidak menyangka bahwa gadis yang menjadi lawannya mampu mempercepat serangan tanpa harus melakukan persiapan lebih dulu.


Satu Pedang Kembar Bunga Lotus Es menusuk telak di jantungnya. Sedangkan satu lagi bersarang di pinggang sebelah kanan.


Dua serangan maut yang terakhir telah berhasil mencabut nyawa lawannya. Meskipun harus mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi Li Meng Yi tidak merasa menyesal.


Dia justru bersyukur. Bersyukur karena latihan kerasnya selama ini ternyata tidak sia-sia. Perjuangan itu membuahkan hasil yang sangat memuaskan baginya.


Puteri Gunung Salju tersenyum lembut. Dia merasa sangat puas dengan pencapaiannya.


Tidak jauh dari tempat pertarungannya, ada Moi Xiuhan yang juga sedang bertempur hebat. Gadis cantik itu bertarung melawan seorang kakek tua yang menggunakan tongkat bambu sebagai senjatanya.


Meskipun hanya sebatang tongkat bambu, tapi jika berada di tangannya, bambu itu justru akan menghasilkan satu kekuatan dahsyat. Tongkat bambu itu tidak mudah ditebas oleh senjata tajam lainnya.


Bahkan yang lebih hebatnya lagi, tongkat bambu tersebut bisa memberikan hantaman yang setara dengan berat ratusan kilo gram.


Sepak terjangnya patut di acungi jempol. Dia menyerang Gadis Penarik Sukma dengan ganas. Kecepatan serangannya sulit untuk dijelaskan lagi.


Cahaya hijau tua berkelebat lewat tepat di atas kepala Moi Xiuhan. Untungnya gadis itu menundukkan kepalanya lebih dulu sehingga serangan lawan tidak mengenai kepalanya.


Belum habis serangan sebelumnya, kakek tua tersebut sudah melancarkan kembali serangan lainnya. Sodokan tongkat dan hantaman yang dahsyat dia lancarkan dengan segenap kemampuan.


Moi Xiuhan si Gadis Penarik Sukma mulai marah. Sejak tadi dia lebih memilih untuk berada pada posisi bertahan. Dirinya ingin mengetahui sampai di mana kekuatan pertahanannya.


Tapi karena tidak mungkin berada dalam posisi itu terus menerus, Gadis Penarik Sukma tidak berdiam diri saja. Dia langsung mengibaskan Kipas Dewi Sakura yang dahsyat itu. Segulung angin seperti badai menerbangkan segalanya. Debu mengepul tinggi, kerikil ikut terbawa di dalamnya.


Gelegar!!!


Dentuman besar terdengar sangat nyaring. Gelombang kejut yang tercipta mementalkan para pasukan musuh yang berada di sekat arena pertarungan.


Moi Xiuhan mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia miliki. Dirinya melancarkan beberapa kibasan dari jarak jauh.


Kakek tua yang menjadi lawannya mulai kerepotan. Dia melompat ke sana kemari untuk menghindari kibasan Moi Xiuhan.


Wushh!!!

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu melesat jauh ke depan. Kipas Dewi Sakura yang terbuat dari besi baja itu langsung memberikan sedangan dari jarak dekat. Sabetan dan sodokan kipas langsung mengancam beberapa titik penting di tubuh musuhnya.


Si kakek tua menggeram keras. Dia mencoba untuk membalas serangan yang dilancarkan oleh Moi Xiuhan. Sayangnya usaha tersebut gagal, gadis cantik itu terlalu cepat memberikan serangan sehingga dia tidak mendapatkan celah sama sekali.


Wushh!!! Crashh!!! Crashh!!!


Darah muncrat ke segala arah. Begitu cepatnya si Gadis Penarik Sukma melancarkan serangan sehingga si kakek tua itu tidak melihat sama sekali.


Yang dia lihat hanyalah sinar merah muda berkelebat beberapa kali ke arahnya. Yang dia rasakan hanya ada benda dingin menyentuh lehernya.


Detik selanjutnya, si kakek tua itu langsung roboh ke tanah. Lehernya hampir putus. Dadanya mengalami luka yang lebar dari sisi kiri hingga ke sisi kanan.


Semuanya terjadi sangat cepat. Tidak ada yang mampu melihat kejadian itu dengan jelas.


Selama tiga pertarungan pendekar muda berjalan, para pasukan dari dua belah pihak juga tetap melanjutkan pertempurannya. Masing-masing dari mereka berusaha sebisa mungkin agar dapat membunuh musuh dan menyelamatkan nyawanya sendiri.


Tapi setelah menyadari bahwa pemimpin mereka mula tewas satu persatu, para pasukan musuh langsung mengendur. Semangat juang mereka lenyap. Untuk bertarung pun rasanya tidak ada selera lagi.


Semua kejadian ini sungguh diluar dugaan semua orang.


Pada saat itulah satu kekuatan dahsyat datang dari atas sana lalu turun tepat di tengah-tengah pasukan musuh yang jumlahnya masih sekitar seratusan orang itu.


Ledakan keras terdengar menggelegar seperti ledakan sebuah bom. Puluhan pasukan musuh terlempar puluhan langkah ke belakang. Mereka semua mengerang keras sebelum akhirnya meregang nyawa.


Sebagian lagi mengalami luka parah. Bahkan mereka tidak mungkin dapat melanjutkan pertarungannya kembali.


Wushh!!!


Bayangan merah melesat secepat kilat. Bayangan itu bergerak ke segala penjuru dengan kecepatan sulit diikuti mata.


Di mana ada musuh, maka ke sana lah perginya bayangan merah tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


Suara kesakitan menjelang kematian mulai meramaikan suasana. Semua pasukan musuh hampir tewas. Tidak ada yang tidak merasa ngeri.


Bulu kuduk mereka terasa berdiri. Seluruh nyalinya seolah lenyap terhisap oleh satu kekuatan aneh.

__ADS_1


"Raungan Serigala Kematian …"


Wushh!!!


Suara lolongan serigala terdengar sangat mengerikan sekali. Saking hebatnya, raungan itu bahkan membuat telinga tiga pendekar muda sedikit bergetar. Karena alasan itu, terpaksa mereka harus menutup pendengaran lalu melindunginya dengan saluran tenaga dalam.


Puluhan pasukan musuh yang tersisa meraung sangat keras. Mereka memegangi sepasang telinganya masing-masing. Rasa sakit yang tiada terkira mulai mereka rasakan. Sakitnya tidak ada bandingan di dunia.


Perlahan, darah segar mulai mengucur dari kedua telinganya. Terus merembes ke hidungnya hingga pada akhirnya darah segar itu mengucur dari seluruh lubang di telinganya.


Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Bayangan merah itu langsung berhenti tepat di posisi semula. Persis di tengah-tengah kerumunan pasukan musuh.


Begitu melihat semua pasukan musuh telah terkapar tanpa nyawa, bayangan merah itu langsung pergi begitu saja. Dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Pada saat itu, kebetulan tiga pendekar muda yang sedang naik daun tersebut sudah berkumpul di tempat yang sama.


"Apakah kalian mengenal siapa bayangan merah tadi?" tanya Li Meng Yi kepada dua rekannya.


"Entahlah. Aku sendiri baru melihatnya. Tapi jika dilihat dari postur tubuhnya, paling tidak orang itu seusia dengan kita," jawab Moi Xiuhan.


Yuan Shao menganggukkan kepalanya, dia sendiri sependapat dengan cucu dari Kepala Tetua Sekte Teratai Putih itu.


"Benar, dia sepantaran dengan kita. Tapi dia laki-laki, kalau dilihat dari jurus yang dikeluarkan, sepertinya orang tadi berasal dari Sekte Serigala Putih," ucap Pangeran Pedang Emas.


"Menurut kalian siapakah orang tadi?" tanya Li Meng Yi yang merasa sangat penasaran.


"Mungkinkah dia itu murid terbaik Sekte Serigala Putih?" terdengar Moi Xiuhan angkat bicara.


"Bukan,"


"Kenapa bukan?"


"Karena jurus yang dia keluarkan adalah jurus khusus, jurus yang istimewa. Bahkan jurus tadi hampir mirip dengan milik Kaisar Buas sendiri," jawab Yuan Shao yang terkenal karena pengetahuannya sangat luas.


"Kalau begitu, apakah dia cucu dari Kaisar Buas?" tanya Li Meng Yi lebih lanjut.


"Hemm, kemungkinan besar iya. Kalau pun bukan cucunya, pasti orang tadi merupakan keluarganya sendiri,"

__ADS_1


"Tapi, kenapa dia tidak menampakkan diri langsung, kenapa pula dia tidak bicara?" tanya Gadis Penarik Sukma.


"Entahlah. Hal ini aku sama sekali tidak tahu," jawab Yuan Shao.


__ADS_2