
Bersamaan dengan pertarungan Chen Li tadi, Huang Taiji Lu juga sedang bertarung melawan lima orang Pendekar Dewa tahap dua. Kelima pendekar tersebut menyerangnya dari segala sisi. Lima batang senjata tajam telah menghujani tubuhnya dengan berbagai macam serangan yang tiada habisnya.
Pedang berkilat. Tombak melesat melancarkan tusukan. Trisula merobek udara. Desingan angin tajam terasa dari seluruh penjuru.
Huang Taiji Lu mengeluarkan jurusnya yang mampu menggetarkan bumi. Kedua tangannya melancarkan pukulan beruntun bagi setiap lawannya.
Setiap dari mereka mendapatkan jatah yang sama. Kedua tangan itu seperti palu godam yang sangat berat. Lima puluh persen kekuatannya sudah keluar.
Di saat seperti itu, dia melihat satu bayangan putih yang melesat ke arahnya. Dia sudah tahu siapa bayangan putih itu, dan dia juga sudah tahu apa yang telah terjadi. Sehingga sebelum bayangan tersebut tiba di hadapannya, Huang Taiji lebih dahulu berbicara.
"Kau pilih satu lawan kalau masih kurang Li'er," kata Pendekar Pedang Tombak kepada Chen Li.
"Ehehe, terimakasih Paman,"
Chen Li langsung melancarkan serangan dahsyat. Bumi seketika meledak menghabiskan segalanya. Satu orang terpental cukup jauh ke belakang. Dan pendekar itulah yang dia pilih untuk menjadi lawan selanjutnya.
Seorang Pendekar Dewa tahap dua bersenjatakan tombak, dia pilih untuk menjadi lawannya. Tanpa basa-basi, Chen Li langsung menerjang bagaikan harimau menerkam mangsa.
Seruling gioknya sudah dia simpan, tetapi Pedang Awan masih dia genggam. Bahkan sekarang pedang pusaka itu memberikan tebasan jarak jauh.
Lawan bergerak cepat. Secara refleks, dia melancarkan serangan balasan untuk menangkisnya.
Mereka berdua kemudian melanjutkan pertarungan yang lebih menegangkan lagi.
Sementara itu, Pendekar Pedang Tombak kini masih bertarung sengit melawan empat lawannya. Karena tidak mau membuang waktu dan tenaga secara sia-sia, pada akhirnya dia mengeluarkan senjata pusaka andalannya.
Pedang Tombak Surga Neraka.
Senjata pusaka yang unik namun sangat mematikan itu langsung menunjukkan pamornya. Kekuatan dahsyat terpancar jelas. Hawa kematian terasa sangat kental di sana.
Cahaya perak menyilaukan keluar dari batang pedang dan tombak.
Pertarungan berhenti sesaat akibat tekanan yang dikeluarkan dari pusaka tersebut. Empat Pendekar Dewa tahap dua merasakan betapa berat punggung mereka. Bahkan kaki seorang di antaranya sampai melesak semata kaki.
"Menyapu Ombak Membelah Samudera …"
__ADS_1
"Wushh …"
Jurus dahsyat segera dia lancarkan. Dia hanya mempunyai tiga jurus. Tidak kurang, tidak lebih. Namun jangan salah, dari setiap jurus tersebut justru mampu menghancurkan segalanya. Jurus Menyapu Ombak Membelah Samudera adalah jurus terlemah yang dia kuasai.
Tetapi walaupun begitu, kedahsyatan jurusnya jangan ditanyakan lagi. Jarang ada yang selamat jika dia sudah mengeluarkan jurus-jurus dahsyatnya.
Tubuhnya melesat cepat. Pedang Tombak Surga Neraka melancarkan serangan yang mengerikan. Kilatan pusaka menyilaukan mata. Empat Pendekar Dewa itu merasa kematian membayangi mereka.
Dengan sigap, keempatnya turut serta mengeluarkan jurus pamungkas. Berbagai macam sinar dan jurus berusaha menahan gempuran serangan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
Tetapi semuanya sia-sia belaka. Sebab walau bagaimanapun mereka berusaha untuk bertahan lebih lama, nyatanya tetap tidak bisa. Hal itu terasa sangat mustahil.
Apalagi kekuatan Huang Taiji sangat berbeda dengan pendekar pada umumnya.
Tenaga yang dia keluarkan sangat murni. Bahkan membawa kesan tersendiri. Seumur hidupnya, empat orang itu baru mengalami hal seperti ini. Mereka baru bertemu dengan seorang pendekar yang mempunyai tenaga dalam sepertinya.
Mereka tentu tidak tahu bahwa yang mereka lawan ini bukanlah pendekar biasa. Bahkan mungkin bisa dibilang manusia setengah Dewa.
Ya, manusia setengah Dewa. Karena dia adalah pengawal pribadi Dewa Lima Unsur. Salah satu Dewa terkuat di alam Para Dewa yang ditugaskan untuk membimbing Chen Li suatu saat nanti.
Hanya dalam lima belas gebrakan kemudian, satu persatu Pendekar Dewa itu telah berhasil di lumpuhkan.
Semuanya tewas dalam kondisi yang memprihatinkan. Ada yang perutnya robek. Dadanya robek. Bahkan ada juga yang kepalanya terbelah jadi dua bagian.
Pendekar yang sadis tanpa belas kasihan.
Setelah semua lawannya berhasil dibunuh, dia segera ke pinggir untuk melihat jalannya pertarungan Chen Li.
Bocah itu pun sepertinya sebentar lagi akan menyelesaikan pertarungannya. Terlihat dia sudah berhasil menguasai jalannya pertarungan.
Pedang Awan bergerak seperti mempunyai mata sendiri. Posisi lawan benar-benar terdesak.
Pedang itu menggempur memberikan tusukan dan sabetan yang sangat dahsyat. Hanya dalam tiga puluh jurus, Chen Li sudah berhasil mendaratkan beberapa serangan di beberapa bagian tubuh lawannya.
Lingkaran biru dan memanjang menerjang lawan dalam kecepatan tinggi. Chen Li semakin ganas. Lima jurus berikutnya, dia sudah membabatkan Pedang Awan ke bagian pinggang lawannya.
__ADS_1
Saking kuatnya Chen Li dalam melancarkan serangan terakhir, tubuh yang tadinya utuh mendadak terpotong menjadi dua bagian saat itu juga.
Darah menyembur ke segala arah. Jeritan menyakitkan terdengar sangat memilukan. Orang itu tewas dalam kondisi tubuh terpotong dua bagian.
Setetes darah mengenai atas bibirnya. Spontan Chen Li menjilat darah itu.
Entah kenapa, setiap kali dia melakukan pembunuhan, selalu tidak ada rasa penyesalan dalam dirinya. Bahkan dia merasa sangat menikmati pembunuhan tersebut.
Kalau dia sudah seperti itu, semuanya akan berbeda. Entah itu wajahnya, prilakunya, atau bahkan sifatnya.
Andai ada yang tahu bagaimana dia sebenarnya, di mata orang sudah pasti mereka akan mengira bahwa Chen Li adalah iblis. Karena hanya iblis lah yang membunuh tanpa perasaan.
Tetapi dia bukan iblis. Dia adalah manusia. Manusia yang sangat misterius. Dia sendiri atau bahkan Shin Shui dan Yun Mei, belum bisa mengetahui secara pasti kenapa anaknya seperti itu.
Hanya Huang Taiji Lu saja yang tahu. Namun, sekarang masih belum waktunya untuk membuka rahasia itu.
Suatu saat nanti, rahasia tersebut pasti akan terbongkar. Namun nanti, bukan sekarang.
Chen Li segera menghampiri Pamannya kembali, wajahnya masih kaku dan dingin.
"Mereka datang lagi," katanya dingin.
"Pandanganmu sungguh tajam," jawab Pendekar Pedang Tombak sambil tersenyum.
Di depan keduanya, tiga sosok bayangan sedang melesat dalam kecepatan tinggi menuju ke arah mereka. Hanya dalam sekejap mata saja, mereka telah tiba di hadapan Chen Li dan Huang Taiji.
Dua Pendekar Dewa tahap empat yang diduga menjadi pemimpin dalam kelompok tersebut kini telah datang. Meraka berdua merupakan pendekar pedang. Walaupun kekuatannya masih terbilang belum tinggi betul, tetapi permainan pedangnya sangat mengerikan.
Di daerahnya, mereka berdua dikenal sebagai Dua Pendekar Pedang Hitam. Kalau keduanya sudah bersatu, maka lawan yang tahapannya berbeda satu tahap sekalipun, keduanya masih sanggup untuk mengalahkannya.
"Hemm, sepertinya kita tidak bisa menjalankan rencana utama Li'er. Sebab pertarungan pecah sebelumnya waktunya," kata Pendekar Pedang Tombak.
###
Takut lupa, diingatkan kembali supaya tidak ada yang salah paham wkwk.
__ADS_1
Setiap tahapan di sini, bedanya jauh sekali. Sehingga sangat wajar jika terkadang hanya beda satu tahap saja tetapi sulit untuk mengalahkan.