
"Haishh, kau ini manusia atau Dewa? Kenapa semua hal selalu dapat kau ketahui?" tanya orang tua itu tertunduk lesu.
"Ada hal yang bisa dijelaskan, ada hal yang tidak bisa dijelaskan,"
Hong Hua langsung membungkam mulutnya saat itu juga.
Semua anggota Organisasi Elang Hitam yang ada di belakangnya mulai berteriak tidak karuan. Mereka sudah tidak sabar lagi. Seratus tokoh kelas atas aliran hitam itu ingin segera melangsungkan pertempuran yang pastinya bakal berjalan dahsyat ini.
Mereka sudah benci kepada Pendekar Tanpa Perasaan. Orang-orang tersebut ingin segera membunuh pemuda yang sombong itu.
"Ketua, cepat langsungkan pertempuran ini," teriak salah seorang tokoh.
"Betul …"
"Kami sudah tidak sabar,"
Suara-suara yang bermakna hampir sama mulai terdengar riuh. Suara itu menggema ke seluruh area hutan Gunung Bok San. Seperti suara raungan iblis yang ada di neraka.
"Semua anggota Organisasi Elang Hitam sudah tidak sabar lagi," ucap Hong Hua.
"Aku pun tidak sabar. Tidak sabar ingin memenggal kepalamu," tegas Pendekar Tanpa Perasaan dengan nada yang sangat dingin.
Wuttt!!!
Pendekar Tanpa Perasaan melompat lalu berjumpalitan dua kali di udara. Setelah itu dia langsung mendarat tepat tiga langkah di depan Hong Hua.
"Bicaramu selalu saja membuat orang semakin gemas ingin membunuhmu," kata orang tua itu dengan geram.
"Kalau memang sanggup, coba saja bunuh aku," ejek pemuda yang terkenal dingin itu.
"Sekarang juga aku akan mencobanya. Semua anggotaku juga akan melakukan hal yang sama," teriaknya sambil melakukan gerakan pertama.
Seratus tokoh kelas atas aliran hitam turut bergerak. Mereka segera melompat menerjang ke depan. Seratus macam senjata pusaka yang sangat tajam telah berkilat memenuhi seluruh jagat raya.
Ratusan sinar perak berkumpul menjadi satu titik sehingga menghasilkan ribuan titik perak yang membawa maut. Suara menggelegar pertanda dikerahkan jurus dahsyat telah terdengar sejak awal mula pertempuran dimulai.
Pendekar Tanpa Perasaan menundukkan kepalanya sesaat. Begitu seluruh serangan lawan hampir tiba di depannya, dia mengangkat kepalanya sekaligus.
__ADS_1
Topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya tiba-tiba terlepas. Dari balik topeng itu, sekarang bisa terlihat dengan jelas ada sepasang mata yang sangat mengerikan. Sepasang mata aneh yang juga menyeramkan.
Lima unsur elemin alam semesta ada di sepasang bola mata itu. Urat-urat yang tidak kalah menyeramkan tiba-tiba muncul di sekitar indera penglihatan tersebut.
Kekuatan kesempurnaan dari Mata Dewa telah dikeluarkan saat itu juga. Alam semesta seakan mengalami suatu kejadian mengerikan. Langit berguncang dengan sangat hebat. Dari atas langit seperti terdengar raungan lima ekor naga yang maha dahsyat.
Gemuruh guntur dan sambaran halilintar menyapa bumi tiada hentinya. Kilatan petir itu membuat malam semakin mencekam.
Malam yang tadinya hening, sekarang hanya dalam waktu sekejap mata telah berubah menjadi malam yang sangat menegangkan.
Pedang Merah Darah sudah digenggam erat di tangan kiri. Seruling Dewa digenggam di tangan kanan dengan penuh rasa percaya diri dan rasa yakin.
Pendekar Tanpa Perasaan percaya bahwa dirinya bisa melawan atau bahkan membunuh semua musuhnya. Dia pun yakin kalau malam ini dirinya akan dapat memenangkan pertempuran maha dahsyat tersebut.
Wushh!!!
Chen Li melompat tinggi ke atas. Satu tebasan pedang memanjang dia layangkan dengan segenap kemampuan. Berbarengan dengan hal tersebut, tangan kanan yang memegang seruling pusaka juga sudah mulai ikut turun tangan.
Seruling Dewa ditiup.
Jurus Prahara Dari Alam Nirwana yang merupakan jurus paling dahsyat dari Kitab Dewa Seruling sudah dikeluarkan oleh pemuda itu.
Suara seruling mengalun tiada berhenti. Semakin lama, suara tersebut semakin mengerikan. Gelombang suara yang dihasilkan mengandung satu kekuatan aneh yang belum pernah dirasakan oleh setiap lawan Pendekar Tanpa Perasaan.
Malam ini benar-benar berbeda dari malam sebelumnya. Dunia seakan mau kiamat. Lima elemen yang tersebar di seluruh alam semesta mulai bermunculan satu persatu. Air, api, angin, halilintar dan tanah, lima elemen itu mulai menerjang ke semua lawan Pendekar Tanpa Perasaan.
Chen Li sengaja tidak mau meminta bantuan siluman kera putih bersaudara, Ong San san San Ong, bahkan Pendekar Tanpa Perasaan pun tidak meminta bantuan dari Phoenix Raja.
Bukan karena dia tidak mau atau hendak berlaku sombong.
Alasan Chen Li tidak meminta bantuan kepada semua siluman peliharaannya adalah karena dia ingin tahu sampai di mana kekuatan dirinya sendiri. Pemuda serba putih itu ingin tahu bagaimana hasil latihan kerasnya selama tiga tahun di Lembah Ketenangan.
Apakah semuanya sesuai dengan apa yang dia bayangkan? Apakah hasil latihannya tidak mengecewakan?
Trangg!!!
Benturan dahsyat terjadi untuk yang pertama kalinya. Puluhan tokoh yang senjatanya ditahan oleh Pendekar Tanpa Perasaan merasakan tubuh mereka bergetar. Telapak tangan yang memegang senjata terasa sakit. Perih, pegal, semuanya bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Wushh!!!
Tanah bergetar hebat. Dari dalam tanah muncul tanah lainnya yang membentuk pisau.
Puluhan atau bahkan ratusan pisau dari elemen tanah itu segera menghujani seluruh tubuh tokoh Organisasi Elang Hitam yang sudah menjadi sasaran utamanya.
Baru sesaat saja, pertempuran ini sudah demikian hebatnya. Apalagi kalau sudah lama?
Puluhan tokoh kelas atas itu terdorong mundur. Sebagian mundur, sebagian lagi maju ke depan. Mereka yang menyerang sekarang adalah para tokoh yang senjatanya tidak tertahan.
Pendekar Tanpa Perasaan tetap meniup Seruling Dewa dengan kekuatan tinggi. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri.
Jurus Prahara Dari Alam Nirwana disalurkan lewat gelombang suara. Itu artinya, selama Chen Li meniup seruling, maka selama itu pula efeknya akan terus dirasakan oleh semua lawannya.
Jurus seruling terdahsyat sudah keluar. Maka sekarang giliran jurus pedang paling dahsyat di muka bumi yang dikeluarkan.
Jurus Pedang Sang Dewa.
Cahaya merah segera berpijar dengan sangat terang. Cahaya itu tampak indah seperti sinar senja yang menyejukan jiwa. Bedanya, cahaya merah yang sekarang nampak bukan menyejukan jiwa, melainkan mengancam jiwa. Mengincar nyawa.
Wushh!!!
Satu bayangan putih melesat. Sepuluh tusukan yang dahsyatnya tiada tara segera dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan.
Slebb!!! Slebb!!! Slebb!!!
Gerakan yang sangat-sangat cepat dan dahsyat. Hanya beberapa kali bergerak, lima teriakan kematian berkumandang sangat keras. Suara itu mengalun dan menyatu bersama suara alunan nada seruling.
Wuttt!!!
Puluhan tebasan hebat kembali dilayangkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan. Sinar merah berkelebat ke segala arah.
Semua lawan Pendekar Tanpa Perasaan dibuat terpana oleh pemandangan itu untuk sesaat saja. Tapi detik berikutnya beberapa orang di antara mereka sudah tidak mengetahui apa-apa lagi.
Sebab nyawa mereka telah melayang.
Enam orang tokoh aliran hitam meregang nyawa. Mereka tewas dengan luka-luka yang berbeda. Meskipun begitu, tapi jenis lukanya masih sama. Sama-sama tidak enak dipandang mata.
__ADS_1
Wushh!!!
Sepuluh batang senjata tajam tiba-tiba datang menyerang dari samping kanan Pendekar Tanpa Perasaan.