Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mengembara Kembali


__ADS_3

Shin Shui tidak heran jika Kakek Sakti Manusia Dewa sudah tahu kedatangannya walau dalam keadaan mata terpejam sekalipun. Sebab dia tahu siapa kakek tua yang ki ada di hadapannya.


"Tentu saja aku akan datang Kek. Walaupun bumi hancur, aku akan tetap menemuimu," kata Shin Shui masih dalam posisi berdiri.


Kakek Sakti Manusia Dewa tersenyum. Dia tahu bagaimana sifat Shin Shui, sehingga dia percaya kepadanya.


"Bagus, kau memang dapat diandalkan. Kapan kau akan turun gunung?" tanyanya.


"Secepatnya. Jika kau sudah menyampaikan maksud dan tujuan menyuruhku kemari, maka aku langsung turun gunung saat itu pula," jawab Pendekar Halilintar.


Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kemudian bangkit berdiri lalu kedua matanya di buka perlahan.


"Baiklah, aku juga tidak akan lama. Hanya perlu menyampaikan beberapa hal saja," kata Kakek Sakti Manusia Dewa.


"Apa itu?"


"Kau harus selalu siap. Musuhmu di mana-mana. Apapun bisa terjadi jika dalam situasi seperti ini,"


"Aku sudah tahu,"


"Bagus, kau memang cerdas. Kau ingin mencari seseorang yang menyamar menjadi dirimu?"


"Benar, di mana aku bisa menemukan orang itu?"


"Di daerah Timur. Di hutan perbatasan sana kau akan menemukan sebuah bangunan cukup besar. Itu markas utama orang yang menyamar menjadi dirimu bersama para bawahannya. Jumlah orang yang ada di sana tak kurang dari lima puluh orang," jelas Kakek Sakti.


"Hanya lima puluh orang? Hemm, mungkin aku masih sanggup untuk menghadapi mereka," ujar Shin Shui penuh rasa percaya diri.


"Aku yakin kau memang sanggup. Tapi kalau mereka maju semua dalam waktu bersamaan, aku tidak yakin. Kekuatan terendah yang ada di sana adalah Pendekar Dewa tahap dua. Sedangkan orang yang menyamar menjadi dirimu, kekuatannya hanya kalah setingkat di bawahmu,"


Shin Shui tertegun sejenak. Kalau begini caranya, rasanya tidak mungkin dia dapat mengalahkan mereka. Tapi kalau dibagi menjadi tiga kelompok, mungkin dia masih ada harapan.


"Hemm, ternyata mereka tidak main-main,"


"Mereka memang tidak pernah main-main,"


"Baiklah. Apapun itu, aku akan tetap berusaha menghabisi mereka semua. Demi nama baik dan keamanan Kekaisaran Wei, aku siap berkorban nyawa," kata Shin Shui penuh semangat.


"Semangatmu memang tidak pernah berubah,"


"Tentu saja, karena aku Shin Shui …"


"Bukan orang lain," kata Kakek Sakti Manusia Dewa menimpali perkataan Shin Shui.


Pendekar Halilintar hanya tersenyum simpul menanggapinya.

__ADS_1


"Apakah ada pesan lain Kek?" tanya Shin Shui.


"Hemm, rasanya cukup. Aku hanya ingin memberikan informasi tentang di mana orang yang kau cari-cari berada,"


Walaupun hanya informasi demikian, tapi Shin Shui tetap merasa sangat berterimakasih. Baginya, informasi tersebut sangatlah berarti. Itu artinya, dia tidak perlu mencari-cari ke seluruh penjuru mata angin.


Cukup ke Daerah Timur, maka dia akan menemukan tempat yang menjadi tujuannya dalam turun gunung kali ini.


"Baiklah, terimakasih atas informasi yang telah kau berikan. Aku titipkan Sekte Bukit Halilintar kepadamu Kek. Kalau tidak ada yang akan di bicarakan lagi, sekarang juga aku akan pamit," ucap Shin Shui.


"Baik, kau tenang saja. Selama aku di sini, tidak akan kubiarkan siapapun yang mengganggu sektemu. Selamat berjuang anak muda,"


"Terimakasih,"


Shin Shui menjura memberikan hormatnya kepada Kakek Sakti Manusia Dewa. Sedangkan orang tua itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Senyuman yang membawa ketenangan dan kedamaian dalam jiwa.


Shin Shui langsung melesat keluar dari Hutan Awan. Jubah hitamnya berkibar agung dalam kegelapan malam. Dia terbang.


Terbang tinggi dan dengan kecepatan tinggi seperti layaknya seekor burung gagak yang menembus awan hitam.


Menurut dugaannya, waktu untuk menuju ke Daerah Timur setidaknya membutuhkan hampir satu bulan jika dengan kecepatan yang sekarang dia miliki.


Dan itu sudah dia hitung dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah perjalanan nanti. Terkait berbagai macam gangguan yang bisa saja terjadi setiap saat, dia sudah siap menghadapi semuanya.


Demi bangsa dan negara serta nama baiknya, resiko apapun dia tidak takut.


Jiwa petarung telah berkobar kembali. Api semangat untuk mengembara telah menyala sedemikian hebatnya.


Pada akhirnya setelah sepuluh tahun lebih tidak pergi jauh, kini Shin Shui dapat pergi kembali.


Pergi ke tempat yang jauh.


Perjalanan yang sama, tapi dalam masa yang berbeda.


Kalau dahulu dia masih merupakan seorang pendekar yang sedang berusaha naik ke puncak, maka sekarang dia merupakan pendekar yang sudah ada di puncak.


Dulu dia ingin menjadi pendekar kuat.


Dan sekarang justru dia sudah menjadi pendekar yang terkuat.


Bulan di langit mulai bergeser ke sebelah barat. Semilir angin di tengah udara menerpa tubuh Pendekar Halilintar lembut. Aroma harum bunga tercium oleh hidungnya.


Lolongan serigala di kejauhan sana menggema ke seluruh jagat raya.

__ADS_1


Shin Shui masih dalam keadaan terbang. Dengan kekuatannya yang seperti sekarang ini, dia mampu terbang hingga beberapa hari tanpa berhenti.


Hanya saja dia tidak dapat melakukan hal tersebut setiap saat. Sebab berbagai macam gangguan sedang terjadi hampir di semua daerah. Dia tidak mau mengembara tapi masih meninggalkan derita.


Justru tujuannya mengembara adalah karena ingin menyingkirkan penderitaan yang dirasakan oleh seluruh rakyat di Kekaisaran Wei.


Walaupun hampir setiap pendekar turun tangan, walaupun para tentara Kekaisaran telah diterjunkan, tapi toh nyatanya masalah tetap ada.


Bahkan semakin banyak.


Hanya saja, yang tersisa memang tinggal masalah besar. Karena itulah Shin Shui memutuskan untuk turun gunung.


Pagi harinya, Shin Shui telah berada jauh dari daerah kekuasaannya sendiri.


Sekarang dia sudah berada di sebuah kota yang cukup besar.


Saat ini Shin Shui sedang berjalan di antara kerumunan para warga yang baru saja menggelar barang dagangan mereka.


Dia rindu masa-masa seperti ini.


Berjalan bersama warga. Berdesak-desakan dan ingin saling mendahului. Atau juga sarapan pagi di restoran mewah.


Dia merindukan semua itu.


Terkadang manusia memang selalu merindukan masa-masa yang telah berlalu.


Mengingat kenangan memang mengasyikan. Apalagi kenangan yang penuh canda tawa bersama sahabat lama.


Kota yang dia singgahi saat ini bernama Sokhia.


Sebuah kota yang katanya terkenal karena keganasan aliran hitamnya. Berbagai macam sekte dan organisasi aliran hitam tumbuh subur di kota ini.


Setiap saat selalu saja ada kejahatan yang terjadi.


Tapi kehidupan di kotanya terlihat makmur. Seolah kota ini aman-aman saja tanpa ada gangguan apapun.


Karena merasa lelah, Shin Shui mencari restoran sekaligus penginapan untuk beristirahat.


Setelah mendapatkan kamar, Pendekar Halilintar itu segera memasukinya.


Perutnya memang sudah berbunyi dari tadi. Tapi Shin Shui tidak langsung memenuhinya.


Terlebih dahulu dia membuka sebuah peta cukup besar. Di peta itu terdapat segala tempat yang termasuk di wilayah Kekaisaran Wei.


Peta yang sangat detail sekali. Sebab semua titik terdapat di sana.

__ADS_1


Peta itu dia dapatkan dari seorang murid mata-mata, beberapa hari sebelum dia turun gunung.


Dengan peta ini, maka Shin Shui dapat menentukan langkahnya dengan pasti.


__ADS_2