Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Gembira


__ADS_3

"Nona Zhu, apakah anak-anak sudah berada di tempat aman?" tanya Huang Taiji.


"Sudah Tuan Huang, mari kita segera ke sana. Kebetulan mereka juga sedang menunggu kita," ucap Ye Xia Zhu.


Mereka siap berangkat, tetapi Ye Xia Zhu baru menyadari bahwa di hadapannya ada dua ekor siluman kera putih yang memancarkan kekuatan tidak biasa.


"Sebentar Tuan Huang, apakah ini adalah dua siluman bersaudara yang menjadi peliharaan Shin Shui?" tanyanya heran sambil menatap San Ong dan Ong San.


"Benar Nona, mereka adalah San Ong dan Ong San," kata orang tua itu menjelaskan.


"Selamat bertemu Wakil Kepala Tetua Zhu," ucap keduanya secara bersamaan.


Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang dia mengerti bahwa kabar yang sempat beredar bahwa Shin Shui mempunyai dua siluman peliharaan berkekuatan mengerikan, ternyata bukan omong kosong.


"Selamat bertemu kembali. Baik-baik jaga Li'er," ucapnya sambil tersenyum.


Dia membalikkan badan lalu segera pergi ke tempat di mana Moi Xiuhan dan yang lainnya berada.


Huang Taiji dan Chen Li segera mengikuti. Tetapi sebelum itu, si bocah mengembalikan dua sahabatnya ke dalam Kantong Siluman. Chen Li tidak mau menjadi bahan perhatian orang-orang.


Apalagi di tempat seperti sekarang. Bisa saja ada seorang tokoh yang memang mengincar mereka.


Tiga bayangan menembus kegelapan malam. Gerakan mereka cepat dan lincah. Seolah ketiganya sudah tahu seluk beluk hutan. Sama sekali mereka tidak merasa kesulitan, padahal cahaya rembulan sudah benar-benar tertutup awan.


Setelah beberapa saat menyusuri hutan, akhirnya mereka tiba juga di tempat di mana terdapat para naga muda.


Ternyata mereka di tempatkan di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai sama sekali. Terlihat Yuan Shao dan Li Meng Li sedang berjaga diluar kuil.


Begitu melihat kedatangan Ye Xia Zhu dan Huang Taiji, keduanya segera memberikan hormat yang mendalam.


"Bagaimana keadaan Xiuhan'er?" tanyanya kepada dua bocah itu.


"Adik Xuan sudah membaik," jawab Yuan Shao.


Mereka segera mengajak yang lainnya untuk masuk ke dalam.


Ternyata bocah itu sedang melakukan semedi untuk meleburkan sumber daya yang sebelumnya dia konsumsi.


Sesudah beberapa saat matanya terpejam, pada akhirnya dia membuka mata. Gadis kecil itu segera menubruk ke arah ibunya.

__ADS_1


Tak ada sepatah kata yang diucapkan keluar dari keduanya. Tetapi wajah mereka jelas mencerminkan kerinduan dan kekhawatiran.


Batin antara seorang anak dan ibunya memang jauh lebih kuat daripada apapun. Bahkan tanpa bicara pun mereka sudah saling mengerti satu sama lain.


"Bagaimana dengan orang-orang itu Ibu?" tanya Moi Xiuhan.


"Mereka semua sudah menjadi bangkai. Dendammu sudah Ibu wakilkan. Jangan banyak berpikir lagi," kata wanita itu sersta mengusap-usap rambutnya.


"Syukurlah. Mereka memang pantas mati," kata gadis kecil itu merasa sangat gemas.


"Xiuhan'er, coba kau ceritakan bagaimana kau bisa ditangkap oleh mereka juga," pinta Huang Taiji.


Dia mengangguk. Setelah menghela nafas, Moi Xiuhan segera memulai ceritanya.


"Malam itu kan Tuan Huang menyuruh aku untuk menyelamatkan Kakak seniorku yang lainnya, aku segera masuk ke dalam. Ternyata bangunan tersebut cukup luas. Bahkan aku sendiri sempat kebingungan untuk mencari tempat di mana Kakak seniorku di tahan. Tapi setelah beberapa saat, akhirnya aku menemukan mereka,"


"Aku segera menunju ke sana. Sebenarnya keempat Kakak seniorku sudah memberikan isyarat bahwa di sana juga dijaga oleh beberapa orang. Mereka hanya bisa memberi isyarat dengan matanya saja, sebab jalam darah lainnya di totok. Karena aku tidak paham, aku tetap berjalan menuju ke mereka,"


"Siapa sangka aku lantas ditangkap. Pakaianku diganti dengan pakaian mereka, begitu juga dengan baju keempat Kakak seniorku. Mereka sempat merias wajahnya supaya mirip dengan kami, oleh sebab itulah setelah beberapa lama baru keluar," kata gadis kecil itu menjelaskan kejadian sebenarnya.


Semua orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya sekarang mereka paham kenapa ada lima orang gadis yang menyamar menjadi Moi Xiuhan dan empat kakak seniornya.


"Jadi, apakah Kakak Li dan Tuan Huang tahu bahwa yang keluar itu bukan kami?" tanyanya keheranan.


"Tentu saja sudah tahu, tetep kami sudah saling mengerti satu sama lain. Kami tidak membunuh mereka supaya mendapatkan petunjuk di mana kalian berada. Tak nyana, mereka malah berniat untuk membunuh kami lebih dulu," kata Huang Taiji.


"Untungnya Malaikat Pencabut Nyawa takut kepada Paman Huang, sehingga kami selamat dari kematian," ujar Chen Li menimpali ucapan pamannya sambil tertawa.


Mereka juga tertawa, suara tawa yang gembira karena pada akhirnya bisa berkumpul kembali.


"Hari sudah larut malam. Tapi di kota mungkin ada penginapan dan restoran yang masih buka, bagaimana kalau kita ke sana?" usul Ye Xia Zhu.


"Usul yang bagus," kata Huang Taiji tertawa.


Mereka segera pergi untuk ke kota. Walaupun tidak lama lagi akan tiba, tetapi rasanya cukup untuk istirahat. Lagi pula, perut mereka berasa lapar.


Dari dulu hingga kini, yang namanya di perkotaan, pasti dapat ditemukan apapun. Yang tidak ada di desa, di kota pasti ada.


Mereka sudah mendapatkan penginapan cukup mewah, di bawahnya ada restoran pula.

__ADS_1


Kentongan sudah terdengar tiga kali. Artinya sebentar lagi fajar akan tiba.


Mereka sedang makan bersama. Walaupun pengunjungnya tidak banyak, tapi toh satu atau dua tetap masih ada juga.


"Tuan Huang, setelah ini kalian akan pergi ke mana?" tanya Xia Zhu di sela makan.


"Kami akan menuju ke Sekte Seribu Iblis, sesuai perintah dari Kepala Tetua Shin Shui. Kami akan mengajak kerjasama Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma, bagaimanapun juga kita harus bekerja sama dalam situasi seperti ini. Apalagi keadaan negara sudah benar-benar gawat," kata Huang Taiji nampak sedih.


Xia Zhu tidak terkejut. Dia sendiri melihat dengan mata kepalanya bagaimana sikap-sikap sekte ataupun pendekar aliran hitam. Setelah negara terancam, justru mereka mau membantu tanpa pamrih. Hebatnya lagi, yang tadinya bermusuhan justru menjadi sangat akrab.


"Baiklah, semoga perjalanan kalian mengenyangkan,"


"Terimakasih. Apakah para naga muda ini ingin ikut jalan-jalan?" tanya Huang Taiji kepada para bocah itu.


Mereka saling pandang, lalu memandang sekilas kepada Xia Zhu. Wanita itu mengerti maksud di balik perkataan Huang Taiji, oleh sebab itu, Ye Xia Zhu mengangguk sambil tersenyum.


Mereka merasa sangat gembira sekali. Apalagi perjalanan kali ini akan ditemani oleh Chen Li. Mereka ingin mengenal lebih jauh sosoknya.


"Ibu, apakah aku boleh ikut?" tanya Moi Xiuhan.


"Tidak,"


Seketika gadis kecil itu lebih murung lagi.


"Tidak boleh ketinggalan," katanya melanjutkan ucapan sambil tersenyum.


"Yeee, terimakasih Ibu,"


Semua bocah merasa girang. Pada akhirnya mereka mendapatkan teman seangkatan. Chen Li juga senang. Hanya saja tingkahnya tidak seperti rekan-rekannya.


"Sekarang, kalian pergi lebih dulu untuk beristirahat. Li'er, kau juga,"


"Baik," jawab mereka serentak lalu berlalu.


Setelah semua pergi, kembali Xia Zhu berbicara.


"Kau ingin mendidik mereka?"


"Betul, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Aku akan mengawasi mereka dari jauh. Kau jangan khawatir,"

__ADS_1


"Baiklah, aku percaya," jawab Xia Zhu.


__ADS_2