Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar IX


__ADS_3

Akibat dari suara tawa tersebut, sekarang lapangan yang berada di sekitarnya telah lenggang. Tidak ada lagi ribuan pasukan musuh yang menghadang. Tidak tampak lagi pasukan musuh yang berniat untuk mengepungnya.


Semuanya terlempar sangat jauh. Semuanya tewas dalam keadaan mengkhawatirkan. Mereka tidak pernah menyangka jika akhir hidupnya akan berakhir seburuk itu.


Chen Li masih berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya. Dia masih berdiri di tengah udara tanpa menjejak ke bumi sama sekali.


Seluruh tubuhnya masih diselimuti oleh lima macam aura berbeda warna yang melambangkan masing-masing elemen di alam semesta. Bola matanya menjadi lebih menyeramkan. Siapapun tidak akan ada yang berani menatap sepasang bola mata itu lama-lama.


Pada saat dirinya tertawa itu, mendadak segulung kekuatan dahsyat datang menerjang dari arah atas. Kekuatan yang sekarang sangat hebat. Sangat dahsyat. Lebih dahsyat dan lebih hebat dari semua kekuatan yang tadi menyerangnya.


Gelegar!!!


Chen Li mengangkat telapak tangan kanan ke atas. Dari balik telapak tangan itu mendadak keluar segulung kekuatan dahsyat yang menjadi sebuah benteng sangat kokoh.


Elemen angin.


Pendekar Tanpa Perasaan yang sedang dirasuki kekuatan Mata Dewa telah menggunakan elemen angin untuk menahan serangan barusan.


Duarr!!!


Ledakan terjadi. Kekuatan yang muncul dari atas secara tiba-tiba itu mendadak lenyap entah ke mana. Gelombang kejut tercipta. Ratusan mayat pasukan berterbangan seperti kapas yang tertiup angin kencang.


Wushh!!! Wushh!!!


Secara mendadak, lima belasan tokoh dari dua Kekaisaran besar telah mengepung Pendekar Tanpa Perasaan. Mereka semua merupakan tokoh kelas atas, kekuatannya masing-masing setara dengan Pendekar Dewa tahap empat.


Lima belas orang Pendekar Dewa tahap lima? Itu artinya, sekarang Chen Li sama saja seperti sedang menghadapi kekuatan dari satu buah sekte besar di Kekaisaran Wei.


Jika yang menjadi pelaku utamanya saat ini adalah Shin Shui, dia sendiri pasti tidak akan terlalu yakin bisa memenangkan pertarungan yang akan berlangsung ini dengan mudah.


Mengingat jumlah kekuatan mereka sangat besar. Lima belas orang Pendekar Dewa tahap lima itu bisa meratakan sebuah sekte kelas menengah.


"Ternyata kekuatan dahsyat ini berasal dari seorang bocah," terdengar sebuah suara di antara lima belasan tokoh tersebut.


"Aku tidak menyangka ada bocah yang mempunyai kekuatan istimewa di Kekaisaran Wei ini," sambung temannya.


"Aku juga sama. Hemm, sepertinya ini akan menjadi sebuah pertarungan seru. Sudah lama sekali aku ingin melangsungkan pertarungan seperti ini,"


"Kalau begitu lekas mulai. Untuk apa kalian masih berdiam? Mari kita rayakan semua ini," ujar seorang tokoh dengan suara lantang lalu kemudian dia tertawa.


Setelah itu, lima belasan tokoh tersebut kemudian menyiapkan kuda-kuda masing-masing.

__ADS_1


Mereka adalah pendekar pilih tanding. Sudah pasti kekuatannya juga jarang menemukan tandingan.


Lalu, apakah sekarang mereka juga tidak akan menemukan tandingannya?


Wushh!!! Wushh!!!


Dua orang melesat memulai serangan pertamanya. Dua kelebatan sinar menerjang Pendekar Tanpa Perasaan dengan sangat cepat.


Blarr!!!


Benturan jurus yang pertana terjadi. Kedua tokoh tersebut tergetar. Mereka terdorong tiga langkah ke belakang.


Tidak berhenti sampai di situ saja, tiga orang tokoh lainnya juga tak mau ketinggalan. Mereka turut serta melancarkan serangan dahsyat dengan jurusnya masing-masing.


Bergulung-gulung serangan dahsyat datang seperti air bah yang menerjang bebatuan. Semuanya serangan ganas. Semuanya merupakan jurus yang dahsyat.


Pendekar Tanpa Perasaan bergerak kembali. Sekarang kedua tangannya tidak tinggal diam. Sepasang tangan itu diangkat lalu dikibaskan ke sana kemari untuk menangkis semua serangan lawan.


Dia terus bergerak dalam kepungan jurus musuh. Kekuatan dahsyat langsung terpancar keluar. Lima elemen yang terdapat di alam semesta berkumpul menjadi satu.


Pendekar Tanpa Perasaan mengirimkan dua belas serangan dari lima elemen tersebut.


Wushh!!! Duarr!!!


Mereka berniat untuk segera bangkit kembali. Sayangnya hal itu hanya sia-sia belaka.


Sebab sebelum niatnya terlaksana, serangan susulan lainnya telah tiba. Pendekar Tanpa Perasaan melancarkan serangan menggunakan puluhan senjata energi yang mengandung kekuatan hebat.


Wushh!!! Crashh!!! Crashh!!! Crashh!!!


"Ahhh …"


Teriakan kesakitan terdengar. Suara tertahan menggebu menggelora di sekitar arena pertempuran.


Pertarungan Pendekar Tanpa Perasaan baru saja berlangsung. Tetapi lima nyawa telah melayang percuma. Lima tokoh yang pertama menyerang, sekarang mereka menjadi korban pertama juga.


Kelimanya tewas mengenaskan. Tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian. Darah muncrat membasahi pakaian sepuluh rekannya yang masih tersisa.


Sepuluh tokoh yang menyaksikan pertarungan itu melongo. Mereka hanya mampu membuka mulut dengan sepasang mata seperti ingin keluar.


Bagaimana mungkin bocah itu dapat membunuh lima rekannya hanya dalam waktu belasan jurus saja?

__ADS_1


Sampai matipun mereka tidak akan mempercayainya.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Perasaan menyerang kembali. Lima naga yang merupakan jelmaan dari kekuatan Mata Dewa telah marah besar.


Dia tidak terima melihat calon majikannya hampir mampus di ujung senjata lawan. Karena itulah tanpa diduga sebelumnya, kekuatan yang maha dahsyat itu tiba-tiba bangkit secara sempurna.


Sinar merah api menerjang dengan ganas. Hujan tanah yang sangat tajam terjadi di tempat tersebut. Angin kencang yang membentuk pusaran melesat sangat cepat menerjang ke arah sepuluh tokoh yang tersisa.


Pusaran angin bercerai berai menjadi sagu gulungan ombak yang dapat menyapu apa saja.


Sepuluh tokoh dari dua Kekaisaran besar berada dalam posisi yang sangat-sangat berbahaya.


Tubuh mereka bergetar hebat karena tekanan dahsyat dari jurus Pendekar Tanpa Perasaan. Nyali mereka ciut saat itu juga.


Duarr!!! Gelegarr!!!


Beberapa kali ledakan terdengar karena benturan beberapa jurus yang berlawanan. Sepuluh lawan Pendekar Tanpa Perasaan saat ini sedang berjuang keras.


Mereka berusaha sebisa mungkin untuk terus bertahan hidup. Sepuluh tokoh itu telah mengeluarkan kekuatan tertingginya masing-masing. Jurus serangan yang mereka keluarkan selanjutnya merupakan jurus pamungkas.


Gelegarr!!!


Ledakan paling keras terdengar kembali. Sepuluh tokoh itu terlempar ke segala penjuru mata angin.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak tinggal diam. Dia melesat mengejar masing-masing lawannya. Kedua tangannya yang kini mengandung kekuatan maha dahsyat itu melancarkan serangan beruntun kepada lawan.


Satu orang, dua orang, tiga orang, hingga akhirnya sepuluh orang.


Sepuluh orang itu tewas. Mereka benar-benar mampus di ujung kemarahan Pendekar Tanpa Perasaan yang kini sedang dirasuki oleh kekuatan Mata Dewa.


Matanya bertambah menyala. Kekuatan dahsyatnya bertambah beberapa kali lipat.


Roarr!!!


Raungan dari lima ekor naga terdengar mengerikan sekali. Lima orang tokoh lain yang berniat untuk ikut campur dalam pertarungan itu, terlempar puluhan langkah ke belakang.


Mereka berlima langsung tewas saat itu juga sebelum memberikan serangan.


Mata Dewa kembali meminta korban. Jumlah tokoh kelas atas yang sudah dia bunuh bertambah kembali.

__ADS_1


Apakah dia akan meminta korban tambahan lainnya lagi?


Setelah kemarahan Mata Dewa mulai mereda, kekuatan maha dahsyat yang terasa mulai lenyap secara perlahan. Tubuh Chen Li mulai kembali seperti sedia kala.


__ADS_2