Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertempuran di Sekte Serigala Putih I


__ADS_3

Darah segera mengucur dari sudut bibir. Senjata pusaka yang selama ini mereka andalkan, patah menjadi dua bagian.


Pelakunya kalau bukan Shin Shui, siapa lagi?


Dua tetua sangat marah. Tentu, siapapun orangnya, kalau barang yang sangat disayangi hancur, siapa yang tidak akan marah? Siapapun pasti marah.


"Kurang ajar, jangan kira kami tidak berani kepadamu. Malam ini, kalau bukan kau yang tewas, biarlah kami yang mampus …" kata satu orang tetua sangat marah kepada Shin Shui.


"Pria bisa disebut lelaki sejati kalau dia bisa membuktikan kata-katanya," jawab Shin Shui singkat.


Jawaban yang sangat singkat. Tapi sebenarnya penuh sindiran tajam.


"Bangsat. Jangan mentang-mentang kau pendekar nomor satu sehingga bisa melakukan apapun sesuka hatimu," bentaknya.


"Dan kalian, jangan mentang-mentang berada di dalam kandang sehingga bisa menyombongkan diri tanpa sadar diri terlebih dahulu," jawab Shin Shui.


"Bedebah …"


Tanpa bicara lagi, dua tetua segera melancarkan sebuah serangan jurus maut. Serangannya kali ini bukanlah serangan biasa, sebab mereka sudah benar-benar marah, sehingga kekuatan yang keluar jauh lebih kuat dua kali lipat.


Dua buah sinar biru dan hijau melesat ke arah Shin Shui. Daun kering turut serta karena tersedot jurus itu. Datangnya jurus serangan ini sangat cepat sekali. Tapi tetap, Pendekar Halilintar bisa bergerak lebih cepat lagi.


Shin Shui mengibaskan tangan kanannya. Kibasannya pelan, tapi kekuatan yang terkandung di dalamnya, tidak diragukan lagi.


"Blarrr …"


Ledakan keras terdengar. Tiga buah sinar jurus pecah di udara. Dua tetua itu terdorong tiga langkah ke belakang. Mereka merasakan sakit di beberapa bagian tubuh.


Sebelum keduanya mengobati rasa sakit mereka, Shin Shui sudah menyerang lagi. Dengan jurus Langkah Kilat, Pendekar Halilintar mampu bergerak cepat dalam sekejap mata saja.

__ADS_1


Dua pukulan dia lancarkan kembali. Kali ini, Shin Shui tidak menahan lagi serangannya. Dia menyerang sepenuhnya sehingga kekuatan pukulan pun terasa sangat mengerikan.


Dua tetua sadar bahwa lawannya tidak lagi main-main, mereka langsung menangkis semua serangan Shin Shui. Benturan pukulan dan tendangan terjadi. Setiap kali tangan dan kaki mereka beradu, kedua tetua selalu merasakan sakit dan perih.


Empat puluh jurus sudah berlalu dalam waktu singkat. Posisi kedua Tetua Sekte Serigala Putih mulai di ambang batas. Sekujur tubuh mereka telah menerima luka dari kemarahan Shin Shui.


"Tapak Dewa Halilintar …"


"Wushh …"


Sebuah sinar biru terang membentuk tapak keluar. Sinar itu meluncur deras ke arah dua tetua yang sedang merasakan sakit luar biasa. Keduanya hanya diam saja, bukan karena tidak mau menghindar, tetapi karena tubuh mereka memang tidak dapat bergerak.


"Blarrr …"


Keduanya terpental jauh ke belakang. Organ dalamnya terguncang. Dua tetua langsung terkapar di tanah. Walaupun mereka masih hidup, tapi sekujur tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi seperti halnya seorang yang lumpuh.


Pertarungan Maling Sakti juga nampak seru. Kedua tetua berusaha keras untuk mencecar pria itu. Beberapa saat sebelumnya, pertarungan mereka memang tampak imbang. Bahkan dua tetua itu mampu menggempur Maling Sakti dalam beberapa jurus.


Dua tangan itu, yang tadinya normal, kini telah berubah diselimuti cahaya merah membara. Maling Sakti mulai ambil posisi, dia tidak mau memperlambat pertarungannya.


Ketika mendapatkan kesempatan untuk bergerak, dia langsung menyerang. Serangan yang sangat berbahaya dan mampu menewaskan lawan.


Dua tangan yang kini merah membara, telah melayang ke arah dua tetua. Maling Sakti mulai menunjukkan kemampuan aslinya, dia memberikan hujan serangan dengan kedua tangan yang kini berhawa panas tersebut.


Dua tetua berusaha menangkis. Namun semua tangkisan mereka sia-sia. Karena ketika serangan Maling Sakti tertahan, selalu saja ada serangan susulan lainnya yang tidak kalah berbahaya.


Hawa di sana berubah drastis. Yang tadinya dingin, kini menjadi sangat panas bagaikan siang hari di sebuah padang pasir.


Kedua tetua mengeluh. Kalau seperti ini terus kejadiannya, maka nyawa mereka tentunya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Menjelang jurus kelima puluh, Maling Sakti Hidung Serigala mengubah gaya bertarungnya.

__ADS_1


Dia berputar cepat. Gempuran serangan datang bertubi-tubi mengingat semua titik penting di tubuh. Kedua kakinya turut andil dalam serangan kali ini. Sinar merah membara terasa sangat menekan dua tetua.


Mereka ingin membebaskan diri, sayangnya hal itu hanya sebuah kemustahilan semata. Sebab seberapa keras mereka melawan, serangan Maling Sakti tetap lancar jaya tanpa halangan.


Mencapai jurus keenam puluh, Maling Sakti berhasil melancarkan serangan jarak jauh yang dengan telak menghantam tubuh dua tetua.


Satu orang di antara mereka tewas karena kepalanya pecah. Sedangkan satu orang lagi mengalami luka yang sangat parah. Kedua tangannya lumpuh total dan tidak akan bisa disembuhkan lagi. Bahkan kedua tangan tersebut gosong seperti dibakar.


Di sisi lain, para tetua dan para pendekar yang melawan puluhan murid Sekte Serigala Putih juga sudah melangsungkan pertarungannya masing-masing.


Dua puluh murid sudah terkapar tewas di tanah. Mereka yang tewas mengalami berbagai macam luka yang berbeda. Warna darah membanjiri sekitar arena pertempuran.


Chen Li juga pastinya turut turun tangan. Bocah berjuluk Pendekar Tanpa Perasaan itu, sudah mengeluarkan dua senjata andalannya untuk saat ini. Pedang Awan dan seruling giok hijau.


Kalau dua senjata pusaka tersebut sudah keluar, maka bisa dipastikan bocah itu sedang tidak main-main.


Pedang Awan bergerak cepat. Walaupun dia menggunakan pedang dengan tangan kiri, tetapi Chen Li sama sekali tidak merasa kesulitan.


Justru karena alasan itulah, sosoknya kelak di masa depan akan sangat ditakuti. Sebab gerakan pedangnya, saat ini saja sudah terbilang melebihi anak-anak seusianya. Bahkan mungkin para Pendekar Langit tahap dua, tidak akan sanggup bertahan lama kalau Chen Li mengeluarkan jurus pedangnya.


Pendekar Langit tahap dua saja tidak mampu bertahan lama, apalagi sekarang lawannya hanya merupakan Pendekar Bumi tahap akhir? Sudah tentu mereka tidak sanggup.


Pedang Awan di tangan kiri, seruling giok hijau di tangan kanan. Lengkap sudah.


Bocah itu bergerak cepat melancarkan berbagai macam gaya serangan. Pedang Awan bergerak dengan sangat cepat dan tepat sasaran. Kalau Chen Li sudah seperti ini, maka serangannya mustahil untuk meleset.


Seruling giok hijau turut ambil bagian. Senjata warisan dari kakek gurunya itu berputar memberikan totokan hebat. Semakin kekuatannya meningkat, semakin hebat juga pemahaman dan otaknya.


Saat ini Chen Li sudah mulai paham titik penting di tubuh manusia. Sehingga serulingnya tidak hanya asal bergetar dan bergerak saja. Melainkan justru menyasar ke berbagai titik itu.

__ADS_1


Hanya dalam satu kali gerakan kilat, dua orang murid tewas olehnya. Tidak sampai di situ, Li kecil juga mulai begerak lagi. Semakin lama dia bertarung, maka semakin hebat juga jurusnya.


__ADS_2