Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rencana Shin Shui


__ADS_3

Keadaan menjadi kembali seperti semula. Suara meggelegar yang mampu memecahkan gendang telinga sudah tidak ada lagi. Hutan kembali sepi.


Yang tersisa hanyalah belasan atau bahkan puluhan mayat tergeletak di sana. Orang-orang Lembah Kematian yang tidak terluka berat membereskan semua mayat tersebut.


Sedangkan Shin Shui membantu dua pendekar untuk menuju ke rumah sederhana Kakek Tua Jubah Hitam. Seperti dua pendekar yang bersama Serigala dari Lembah Kematian mengalami luka yang tidak ringan.


Setelah tiba di dalam kediaman kakek tua, ternyata dia sendiri sedang mengobati beberapa pendekar lainnya. Awalnya Shin Shui ingin menyuruh dia untuk mengobati, tetapi mau tidak mau, akhirnya Shin Shui mengobati dua pendekar tersebut dengan kedua tangannya sendiri.


Kedua pendekar yang terluka itu disuruh untuk bersila berdampingan. Shin Shui sendiri bersila di belakangnya. Kedua tangan Pendekar Halilintar mulai di tempelkan di kedua punggung orang itu.


Terlihat ada aura berwarna biru terang memancarkan kekuatan besar merembes keluar dari telapak tangannya dan memasuki tubuh kedua pendekar tersebut.


Dua pendekar itu merasa ada sesuatu yang hangat memasuki tubuhnya. Terlebih lagi saat kedua telapak tangan pemimpin dunia persilatan itu menempel di punggungnya.


Setelah hampir setengah jam menyalurkan hawa murni dan tenaga dalam, akhirnya pengobatan telah selesai. Shin Shui memberikan beberapa pil kepada kedua pendekar dan yang lainnya.


"Kalian setidaknya harus beristirahat selama kurang lebih satu minggu. Dengan begitu, luka kalian akan segera sembuh total," kata Shin Shui kepada dua pendekar.


Mereka hanya mengangguk dan memberikan hormat untuknya.


Para pendekar yang terluka disuruh beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Sedangkan para pendekar lain yang tidak menderita luka parah, di suruh untuk berjaga diluar barangkali ada yang mengganggu lagi.


Kini di ruangan tersebut hanya ada Kakek Tua Jubah Hitam, Kiang Cong Sun, Shin Shui, dan juga Chen Li.

__ADS_1


Ketiga pendekar hebat yang berbeda jalur itu sedang berdiskusi terkait keadaan dunia persilatan sekarang ini. Sedangkan Chen Li hanya menjadi seorang pendengar yang baik.


"Aku mendapatkan kabar bahwa keadaan di sekitar kotaraja juga mulai dilanda badai. Ternyata orang-orang ini bahkan sudah berani tampil secara terang-terangan. Sungguh gila nyali mereka," kata Kiang Cong Sun mengawali pembicaraan serius.


Mendengar informasi tersebut, Shin Shui menjadi lebih kaget lagi. Bagaimana pula daerah-daerah yang berdekatan dengan kotaraja bisa mengalami kekacauan lagi? Ke mana para pendekar sekte besar? Ke mana para prajurit Istana Kekaisaran? Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?


Berbagai macam pertanyaan sudah terkumpul di benak Shin Shui. Dia belum mengerti kenapa semua ini menjadi cepat terjadi. Bahkan baginya hal ini sangatlah terhitung lebih cepat dari apa yang sudah dia perkirakan.


Ternyata pergerakan musuh ini jauh lebih mengejutkan daripada dugaannya. Bahkan sepertinya, kekuatan yang mereka miliki juga tentunya lebih besar daripada yang dia bayangkan.


"Apakah kabar itu benar senior?" tanya Shin Shui penasaran.


"Tentu saja. Aku mendapatkan informasi ini dari rekan-rekanku yang memberi tahu lewat burung elang pengirim pesan," ucap Serigala dari Lembah Kematian itu.


"Pahlawan benar. Kalau tidak bersatu, maka Kekaisaran Wei akan mudah dihancurkan oleh musuh. Aku sudah menyuruh sebagian anggota Lembah Kematian untuk turun tangan membendung dunia persilatan yang sedang gonjang-ganjing ini. Tapi yang membuat aku heran, justru yang mengaku berasal dari sekte aliran putih, bahkan terlihat seperti tidak peduli. Sedangkan aliran hitam seperti kami, justru secara tidak langsung sudah menjadi garda terdepan untuk menghalau datangnya musuh. Bahkan beberapa sekte aliran hitam telah menyuruh sebagian anak muridnya untuk turun gunung, walaupun sekarang kami tidak dapat diterima di semua tempat, tapi seiring berjalannya waktu, rakyat pasti akan menerima. Kami yakin itu," kata Kiang Cong Sun.


"Tadi aku sudah membahas hal tersebut bersama pahlawan. Menurut dugaannya, pasti ada sesuatu besar entah itu rahasia atau aib apa yang telah dipegang oleh dalang kerusuhan ini sehingga mampu menarik sekte aliran putih menjadi sekutu mereka. Dan setelah aku pikir, hal itu memang sangat masuk akal," kata Kakek Tua Jubah Hitam.


"Benar, pasti ada sesuatu di balik semua ini," kata Serigala dari Lembah Kematian menyetujui.


"Pahlawan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" lanjutnya kepada Shin Shui.


Shin Shui berpikir sebentar. Otaknya langsung berputar cepat memecahkan persoalan rumit yang saat ini sedang melanda Kekaisaran Wei.

__ADS_1


"Kalau begini caranya, kumpulkan beberapa Kepala Tetua sekte besar atau orang-orang penting aliran hitam. Dalam waktu tiga bulan ke depan, aku ingin kalian mengunjungi Sekte Bukit Halilintar untuk membahas hal ini secara bersama. Sedangkan aku sendiri nanti akan mengirimkan surat kepada beberapa sekte aliran putih yang memang masih belum terjamah oleh musuh. Urusan Kaisar dan yang lainnya, serahkan saja kepadaku," kata Shin Shui menarik kesimpulan.


"Baik. Kami setuju, tiga bulan lagi kami akan membawa perwakilan Kepala Tetua sekte aliran hitam untuk ke sana," kara Serigala dari Lembah Kematian setuju dengan usul Shin Shui.


Begitupun dengan Kakek Tua Jubah Hitam. Dia setuju sepenuhnya.


Tiga bulan lagi, ketiganya sepakat untuk merencanakan langkah tepat guna menanggulangi dunia persilatan dan Kekaisaran Wei yang sedang gonjang-ganjing ini.


"Senior sekalian, aku juga ingin meminta bantuan kalian," kata Shin Shui.


"Silahkan pahlawan. Selama kami bisa melakukannya, kami siap melaksanakan perintah," jawab si kakek tua.


"Aku minta kalian selidiki siapa itu Tuan Tang, tugas ini aku serahkan kepada Serigala dari Lembah Kematian, senior Kiang Cong Sun. Dan untuk Kakek Tua Jubah Hitam, aku minta kau cari informasi tentang badai di sebelah Timur wilayah kita. Siapa dalang di balik kekisruhan ini," perintah Shin Shui dengan wibawa sebagai pemimpin dunia persilatan saat ini.


"Perintah akan segera dilaksanakan," jawab mereka.


"Terimakasih kalau begitu. Biarlah Kiam'er ikut dahulu bersamaku untuk tiga bulan ke depan. Aku tanggungjawab sepenuhnya," ucap Shin Shui.


Kakek Tua Jubah Hitam mengangguk.


Ketiganya terus membicarakan hal seputar bencana di negerinya hingga larut malam. Dua hari berikutnya, Shin Shui undur diri dari sana untuk menuju ke Sekte Langit Merah. Sesuai dengan janjinya, dia akan menghancurkan sekte itu sekaligus menjatuhkan namanya, baik nama sekte, maupun nama petinggi di sana.


Kalau Shin Shui sudah memutuskan, siapa yang berani membantahnya? Lagi pula, sekarang ini dia adalah pendekar yang memimpin dunia persilatan. Kekuasaannya di rimba hijau hampir sama seperti sosok Kaisar yang berkuasa atas negerinya.

__ADS_1


__ADS_2