
Sepuluh orang bercadar hitam itu kembali saling pandang. Belum ada yang bicara dari mereka. Namun tatapan matanya semakin jelas bahwa kesepuluh orang tersebut merasa sangat marah.
Di lihat dari kekuatannya, sembilan orang hanya setara dengan Pendekar Surgawi tahap tujuh. Sedangkan yang satu merupakan setara dengan Pendekar Dewa tahap dua akhir.
Secara diam-diam Chen Li dan Huang Taiji Lu tidak memperlihatkan kekuatan mereka yang sesungguhnya. Dua orang tersebut hanya memperlihatkan kekuatan yang setara dengan Pendekar Surgawi tahap lima.
Namun walaupun begitu, mereka tetap merasa ganjil saat menatap mata Chen Li. Dalam hatinya masing-masing, sepuluh orang bercadar tersebut mempertanyakan mata apakah itu?
Sebab seumur hidupnya, baru kali ini saja mereka melihat ada mata aneh seperti yang dimiliki oleh si bocah kecil.
"Sepertinya kalian memang sengaja mencari perkara dengan kami," kata salah seorang.
"Memang kami cari perkara. Kenapa? Kau tidak terima? Ingin aku lihat sampai di mana kemampuanmu," kata Chen Li sambil tersenyum sinis.
"Mulut saudara kecil ini sama tajamnya dengan ujung mata pedang. Hemm, apakah tubuhmu sendiri sudah tidak mempan oleh senjata tajam?"
"Oh, tentu saja. Kau tahu bahwa kulitku ini terbuat dari baja lunak?"
"Aku tidak percaya sama sekali,"
"Aku juga tidak mewajibkan supaya kau percaya,"
"Sekarang apa mau kalian?" bentak si pemimpin bercadar.
"Hemm, kalau aku ingin kepalamu, bagaimana?"
"Hehehe, saudara kecil ini sungguh berbahaya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tajamnya mulutmu jika sepuluh tahun ke depan,"
"Untuk apa membayangkan sesuatu yang belum terjadi? Lagi pula, hari ini kau akan mati. Jadi bagaimana bisa tahu tentangku sepuluh tahun kemudian?"
"Aii, sungguh bocah yang sangat pintar. Sepertinya tidak ada sesuatu apapun yang tidak bisa kau jawab. Tapi apakah kau sanggup membunuhku?"
"Kalau belum dicoba, mana bisa tahu?"
"Aku hanya takut jadi bahan tertawaan kaum dunia persilatan jika bertarung melawan bocah ingusan sepertimu,"
"Itu hanya ketakutanmu saja. Perduli apa denganku? Kalau memang kau tidak mau menyerahkan kepalamu sendiri kepadaku, maka biarkanlah aku yang memenggal kepalamu,"
Mulai panas hati pemimpin bercadar itu. Baru kali ini ada seorang bocah kecil yang baginya sangat kurang ajar. Sebelumnya tidak ada orang yang berani demikian kepadanya. Apalagi di negeri asalnya.
"Baik. Kau yang menantang, aku yang menerima. Kalau hari ini tidak bisa membunuhmu, rasanya sampai mati pun akun sungguh kecewa kepada kekuatanku sendiri,"
Pemimpin bercadar itu langsung menerjang ke arah Chen Li. Saat itu Mata Dewa Unsur Bumi masih keluar, sehingga begitu mendapati lawannya menyerang secara tiba-tiba, maka Chen Li langsung menghindar dengan gerakan yang sangat cepat.
Si pemimpin bercadar tersentak. Bagaimana mungkin ada seorang Pendekar Surgawi tahap lima bisa melakukan gerakan secepat itu?
__ADS_1
Mustahil. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
'Mungkin mata itulah yang menjadi sumber kekuatannya,' batin pemimpin bercadar.
Dia mencoba menyerang kembali dengan gerakan yang sama seperti barusan. Tetapi hasilnya juga sama. Bocah itu bisa menghindari serangan yang dia berikan.
Mengalami dua kali kejadian yang sama, dia menjadi yakin bahwa memang mata itulah sumber masalahnya.
Sementara di sisinya, sembilan anggota bercadar hitam juga sudah mengepung Huang Taiji Lu.
Sembilan senjata yang amat tajam telah diacungkan. Seolah mereka memberi tanda siap untuk membacok Huang Taiji.
Namun dia masih tetap tenang. Bahkan dengan santainya kembali duduk sambil menikmati seguci arak yang tinggal tersisa sedikit.
"Kau niat bertarung atau tidak?" tanya seorang anggota.
"Tentu saja. Aku sudah siap,"
"Lalu kenapa kau malah duduk orang tua?"
"Meskipun aku duduk, aku jamin tidak akan ada yang selamat dari kalian,"
"Sombong," dengus satu orang anggota.
Mereka menyerang secara bersamaan. Sembilan batang senjata diayunkan serentak mengincar seluruh tubuh Pendekar Pedang Tombak.
"Aku di sini. Apakah mata kalian buta?" ejek Huang Taiji.
Mendengar ejekan itu, mereka bertambah marah. Jurus senjata mulai keluar. Sembilan sinar tajam menerjang Pendekar Pedang Tombak tanpa ampun lagi.
Bentakan nyaring mulai terdengar untuk membuat jeri mental lawan.
"Wushh …"
Sekilas ada sinar putih melesat sangat cepat.
"Prakk …"
Guci arak pecah berantakan berbarengan dengan pecahnya satu kepala orang.
Delapan anggota bercadar tersentak kaget. Mereka tidak mengetahui bagaimana caranya pendekar tua itu bisa membunuh rekannya hanya dengan sekali serang.
Kejadian ini sungguh membuat siapapun tidak akan percaya.
Seorang Pendekar Surgawi tahap tujuh, tewas dalam sekali serang. Pendekar Dewa tahap tiga atau empat sekalipun tidak akan bisa melakukannya kecuali menggunakan jurus dahsyat.
__ADS_1
Sedangkan orang tua itu tidak menggunakan jurus sama sekali.
Delapan orang itu baru sadar bahwa ternyata si orang tua bukanlah pendekar sembarangan.
Agaknya Huang Taiji Lu terlampau banyak minum arak. Sehingga dia menjadi tidak bisa mengontrol kekuatannya.
Sebelum delapan orang itu bergerak, dia telah melesat lebih dulu melancarkan serangkaian serangan dengan Pedang Tombak Surga Neraka.
Pendekar Dewa saja belum tentu bisa menahan serangannya, apalagi mereka yang Pendekar Surgawi?
Mimpi pun tidak pernah bahwa mereka harus tewas semudah itu.
Saat Huang Taiji Lu menyerang, senjata pusaka istimewa miliknya memberikan sabetan dan tusukan yang mengerikan.
Lebih cepat daripada kilat, lebih menakutkan daripada gemuruh guntur.
Jerit kematian langsung terdengar saling sahut. Delapan kepala manusia menggelinding ke tanah hampir berbarengan. Darah menyembur menggenangi tempat sekitar.
Bau amis tercium terbawa angin malam.
Huang Taiji Lu tidak berhenti sampai di situ saja.
Dia tahu bahwa Chen Li tidak akan mudah meraih kemenangan jika melawan Pendekar Dewa tahap dua akhir. Karena alasan tersebut, dia kembali menerjang ke arah pertarungan itu.
"Mundur Li'er," bentaknya keras.
Chen Li sontak mundur seketika. Dia sendiri merasa tergetar saat mendengar suara Huang Taiji Lu.
Sebab tidak biasanya sang paman mengeluarkan suara sebegitu mengerikannya.
Huang Taiji Lu mulai tidak bisa mengendalikan kekuatannya.
Kekuatan dahsyat sebagai pengawal pribadi Dewa Lima Unsur telah keluar secara tidak sengaja.
Pedang Tombak Surga Neraka melancarkan serentetan sabetan ke segala titik tubuh. Belum lagi tusukan yang amat berbahaya.
Si pemimpin bercadar terkejut bukan kepalang. Tubuhnya terkunci. Dia sama sekali tidak bisa bergerak.
"Crashh …"
Kepalanya menggelinding sama seperti delapan anggotanya.
Huang Taiji Lu mengibaskan tangan kiri. Seketika semua bangkai siluman dan mayat orang bercadar langsung lenyap dari pandangan.
Tak ada yang tahu ke mana hilangnya.
__ADS_1
Semuanya kembali seperti semula. Huang Taiji Lu baru sadar kembali setelah menyaksikan keadaan di sekitarnya.
"Sialan. Ternyata aku telah lepas kendali. Kalau begini caranya, aku jangan minum arak terlalu banyak lagi. Sebab jika kejadian ini terulang kembali, maka jati diriku akan terbongkar sebelum waktunya," gumam Huang Taiji Lu.