Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Semua Perasaan Menjadi Satu


__ADS_3

Slebb!!!


"Ahhh …" teriakan nyaring yang mengandung rasa sakit terdengar sangat memilukan.


Darah muncrat ke segala penjuru. Satu sosok tubuh terduduk di tanah dengan luka tusukan tepat di tenggorokan. Setelah teriakan barusan, tidak terdengar lagi teriakan lainnya.


Pedang Hitam milik Chen Li masih menancap di tengah-tengah tenggorokan Bidadari Kecil Pedang Sutera. Bocah itu berdiri tegak dalam diam. Baju putihnya yang indah terkena cipratan noda darah lawan.


Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bocah itu masih tetap dingin dan akan semakin dingin.


Si Nenek Pedang Tunggal menjerit dengan sangat keras. Dia langsung menerjang ke arah Chen Li sambil melancarkan sebuah serangan berkekuatan dahsyat.


Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan segera melompat mundur sambil mencabut Pedang Hitam yang sebelumnya masih tertancap di tenggorokan Bidadari Kecil Pedang Sutera.


Serangan yang dilancarkan oleh Nenek Pedang Tunggal terus melesat ke depan dan beberpa beberapa batang pohon.


Blarr!!!


Tak kurang dari lima batang pohon langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu kecil. Pepohonan yang ada di sekitarnya berguncang. Daun-daun seketika bergugua jatuh ke tanah.


Nenek Pedang Tunggal memeluk Bidadari Kecil Pedang Sutera. Dia menangis tersedu-sedu melihat muridnya tewas secara mengenaskan.


Gadis kecil itu adalah murid satu-satunya. Bahkan dia merawatnya sejak usianya baru satu tahun. Belasan tahun mereka lewati secara bersama. Suka dan duka dilalui bersama pula sehingga hubungan mereka lebih dari guru dan murid.


Keduanya sudah seperti ibu dan anak. Atau juga seperti nenek dengan cucunya.


Angin berhembus lirih membawa kesedihan mendalam bagi Nenek Pedang Tunggal.


"Pergilah dengan tenang. Dendammu akan aku balaskan sekarang juga," gumam Nenek Pedang Tunggal lirih.


Suaranya pelan. Tapi kesedihannya tidak bisa digambarkan lagi.


Selain kehilangan orang yang disayangi, di dunia ini, adakah kesedihan lain yang setimpal dengan hal tersebut?


Nenek Pedang Tunggal bangkit berdiri setelah meletakkan kepala Bidadari Kecil Pedang Sutera dengan lembut.


Dia mendongakkan kepalanya lalu tertawa lantang. Suara tawanya menggetarkan hati siapapun. Sebab di dalam suara tawa itu, terkandung kesedihan, kebencian, dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Satu-satunya muridku telah tewas," katanya dengan suara serak parau.


"Aku tahu," tiba-tiba Huang Taiji menjawabnya.


"Sekarang aku akan membalaskan dendamnya, aku juga ingin membunuh bocah keparat itu,"


"Kenapa kau melakukan itu? Bukankah kau sendiri yang mengadakan pertarungan hidup dan mati ini? Secara tidak langsung, justru kau yang telah menyebabkan muridmu tewas. Lalu kenapa sekarang kau ingin membalas dendam? Bagaimana jalannya pikiranmu selalu tokoh tua dunia persilatan?" kata Huang Taiji sambil menatap tajam ke arah Nenek Pedang Tunggal.


Senyumannya menghilang. Wajahnya terkesan datar dan tidak memperlihatkan ekspresi apapun.


Nenek Pedang Tunggal tidak tersinggung. Dia justru malah kembali tertawa, bahkan jauh lebih lantang dari pada sebelumnya.


"Memang aku yang mengadakan pertarungan ini. Tapi sebagai guru, aku tidak akan terima jika muridku tewas di depan mata kepala sendiri. Jika kau menjadi aku, apakah kau akan diam saja?"


"Tentu saja. Karena aku sendiri yang menantang, berarti aku sudah siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku termasuk angkatan tua dunia persilatan. Jika tidak menepati janji ucapanku sendiri, bukankah hal itu sangat memalukan sekali?"


Huang Taiji sengaja menyindir Nenek Pedang Tunggal. Untuk sekarang, dalam situasi seperti ini, dia sudah tidak bisa lagi merendah. Bagaimanapun caranya, orang tua itu harus memberikan pelajaran kepada orang-orang seperti wanita tua itu.


Nenek Pedang Tunggal tersenyum sinis. Dia tidak banyak bicara lagi. Wanita tua itu tahu bahwa sekarang bukan mulut yang harus bicara. Tetapi kekuatan.


Tubuhnya mendadak diselimuti aura berwarna hitam pekat. Hawa kematian mengelilingi sekitar tubuhnya berdiri. Sepasang matanya berkilat membawa bayangan kematian. Tanah yang dia injak mengalami retak cukup lebar.


Wushh!!!


Tanpa banyak bicara, dia mengibaskan tangan kanannya. Sekali kibasan, bergulung-gulung tenaga dahsyat melesat ke arah Huang Taiji.


Serangan itu sangat cepat. Huang Taiji sendiri merasa sedikit terkejut. Tetapi dia tidak menangkis ataupun melawan. Orang tua itu hanya berdiri menanti.


Blarr!!!


Ledakan terdengar. Debu mengepul tinggi. Nenek Pedang Tunggal memandangi ke arah kepulan debu.


Sesosok bayangan keluar dari dalam debu.


"Serangan yang hebat. Sayangnya masih sangat kurang jika ingin membunuhku,"


Si Nenek Pedang Tunggal mengernyitkan keningnya. Dia sudah mengeluarkan seperempat kekuatannya. Tak disangka justru pria tua itu masih dapat bicara dengan santai. Bahkan hebatnya, dia tidak terlihat terluka sedikitpun.

__ADS_1


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kapan dia menahan serangannya?


Si Nenek Pedang Tunggal bertanya-tanya dalam hatinya. Dia tidak melihat Huang Taiji menangkis, tapi kenapa pria tua itu masih dapat bertahan?


Seketika wajahnya merah padam. Dia mempunyai sifat yang sangat angkuh. Mendengar ucapan Huang Taiji barusan, api amarah dalam diri Nenek Pedang Tunggal langsung memuncak.


"Bagus. Ternyata kau mempunyai sedikit kemampuan juga. Sekarang, kita bertarung lebih serius lagi,"


Wushh!!!


Wanita tua itu melompat ke arah Huang Taiji. Dia seperti anak panah yang diluncurkan dengan kekuatan tinggi. Kecepatannya benar-benar hebat, sehingga hanya sekejap saja, dirinya sudah tiba di hadapan Huang Taiji.


Tangan kanan dan kirinya memberikan pukulan secara bergantian. Setiap pukulan itu mengandung tenaga dalam besar. Jika batu yang dipukul, bisa dipastikan batu itu akan hancur berkeping-keping.


Plakk!!!


Huang Taiji mengangkat kedua tangannya. Semua pukulan Nenek Pedang Tunggal dapat ditahan dengan mudah. Benturan keras itu benar-benar luar biasa. Suaranya seperti raungan dua ekor harimau yang mengamuk.


Tubuh si Nenek Pedang Tunggal tergetar. Dia terdorong dua langkah ke belakang. Kedua lengannya terasa sangat ngilu mulai dari telapak tangan hingga ke pangkal lengan.


Huang Taiji tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melompat ke depan sambil melancarkan pukulan keras. Segulung angin kencang datang berhembus membawa maut.


Nenek Pedang Tunggal menghindari serangan pertama lalu melancarkan serangan balasan. Pukulan yang dia berikan tidal kalah hebatnya.


Plakk!!!


Benturan terjadi lagi. Kali ini keduanya langsung bertarung sengit. Jurus serangan dahsyat keluar dari dua tokoh itu secara bergantian.


Debu mengepul dan bebatuan berterbangan. Nenek Pedang Tunggal mencecar Huang Taiji tanpa henti. Segenap kekuatannya dikerahkan demi untuk melumpuhkan lawan dalam waktu singkat.


Huang Taiji masih bertarung dengan santai. Bahkan dia belum mengeluarkan setengah kemampuannya.


Chen Li terpukau menyaksikan pertarungan dua tokoh tersebut. Baginya, pertarungan ini sungguh hebat.


Huang Taiji menyerang. Tangannya di julurkan ke depan terbuka. Lima sinar putih keluar dari ujung jari menerjang ke Nenek Pedang Tunggal.


Wanita tua itu melompat sambil berjumpalitan di udara. Tidak lupa dia juga memberikan serangan balasan kepada Huang Taiji.

__ADS_1


__ADS_2