
Jurus yang baru saja dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan untuk mengalahkan Pedang Kembar Neraka diberi nama jurus Pedang Sang Dewa. Chen Li baru mengusai jurus tersebut belum lama ini.
Bisa dibilang, pemuda itu baru mengeluarkannya sekarang. Tak disangka, jurus penyempurnaan tersebut ternyata sangat dahsyat sekali.
Jurus Pedang Sang Dewa.
Sebuah jurus mematikan. Jurus pedang yang amat mengerikan. Jurus itu tidak banyak kembangan. Tidak banyak gaya dan tidak banyak pula sesuatu yang istimewa.
Jurus Pedang Sang Dewa sangat sederhana. Sangat singkat dan bahkan tidak memiliki keindahan sama sekali.
Kenapa jurus pedang tertinggi malah terdengar begitu jelek sekali?
Alasannya hanya satu. Karena jurus Pedang Sang Dewa bukan sebuah jurus untuk dipertontonkan. Jurus itu adalah jurus kematian. Jurus yang menjadi wakil Malaikat Maut. Siapapun tidak akan ada yang sanggup melihat bagaimanakah kedahsyatan jurus tersebut.
Karena pada dasarnya, jurus Pedang Sang Dewa bukan untuk dipandang oleh mata. Jurus itu dikhususkan untuk mencabut nyawa.
Nyawa manusia pastinya.
Pendekar Merah membalikkan badannya. Sesaat kemudian, dia telah kembali berada di hadapan Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji. Seperti biasanya, saat dia berada di hadapan mereka berdua, maka Chen Li akan berubah menjadi seperti orang bodoh.
"Kau kembali berhasil muridku," kata Dewa Lima Unsur sangat bangga.
"Li'er yang sekarang ternyata sudah jauh berbeda dengan Li'er yang dulu. Semuanya sudah berubah. Yang tidak beruba hanyalah watak dan sifat aslimu," ucap Huang Taiji kembali ikut menimbrung.
"Kalau watak dan sifat dasar berbuah, bukankah itu artinya Li'er sudah tidak menjadi diri sendiri?" jawab Chen Li sambil tetap menundukkan kepalanya.
Huang Taiji langsung membungkam mulutnya. Dia sadar kalau sekali ini dirinya telah salah berucap.
Sementara Dewa Lima Unsur hanya tersenyum hangat sambil memandangi murid satu-satunya itu. "Kau bukan hanya beruba dalam segi fisik dan kekuatan. Kecerdasanmu ternyata juga berubah. Beruba jauh lebih tinggi," puji Dewa Lima Unsur.
Chen Li hanya berani berkata terimakasih dengan perlahan. Dia tidak berani bicara keras. Bahkan pada saat menjawab ucapan Huang Taiji pun, dia berkata dengan amat perlahan dan hati-hati sekali.
__ADS_1
"Ujian kedua telah selesai. Sekarang sudah tiba saatnya untuk menjalankan ujian ketiga," katanya melanjutkan.
Chen Li kembali terbengong. Pemuda itu hanya bisa pasrah. Sebenarnya berapa banyak ujian kelulusan yang harus dia jalankan? Kalau memang benar ada, lantas ujian seperti apakah yang harus dia lakukan selanjutnya?
"Baik guru. Li'er siap menjalankan semua perintah," ujarnya patuh.
Meksipin tidak mau, dia harus tetap mau. Sekalipun tidak sudi, Chen Li tetap harus sudi.
Di hadapan seorang guru, selain menuruti setiap perkataan, memangnya hal apa lagi yang dapat dilakukan?
Dewa Lima Unsur tahu apa yang saat ini sedang dirasakan oleh murid tunggalnya tersebut. Dia adalah Dewa, bukan manusia. Sesuatu apa yang bisa disembunyikan oleh manusia di hadapan para Dewa?
"Kau tenang saja, ini merupakan ujian terkahir. Ujian ini bukan pula sebuah pertarungan melawan makhluk-makhluk ciptaanku. Ujian yang akan kau jalankan sekarang adalah melawan dirimu sendiri,"
Chen Li terbungkam. Dia belum mengetahui apa yang dimaksudkan oleh gurunya tersebut. Namun seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah berani bertanya terlalu jauh.
"Sekarang mungkin kau belum tahu. Tapi sebentar lagi kau akan segera tahu," katanya sambil tersenyum.
###
Malam tiba. Rembulan bersinar terang di atas langit sana. Bintang bertaburan di angkasa raya. Semilir angin malam berhembus mmebawa harum bunga-bunga yang sedang mekar.
Dewa Lima Unsur, Huang Taiji dan Chen Li sudah berada di pinggir sungai di dekat Lembah Ketenangan.
Sungai itu sudah menjadi tempat mereka beristirahat. Di pinggir ungai tersebut, di atas sebuah batu hitam, di sana lah biasanya mereka bercanda tawa riang gembira.
Air terjun masih turun dengan deras. Warna airnya masih jernih. Airnya sendiri masih dingin. Kalau malam tiba, air itu jauh lebih dingin lagi.
"Sekarang kau turun ke sungai. Berendamlah di tengah air itu. Kau harus bisa mengosongkan pikiranmu. Lupakan semua hal yang berhubungan dengan duniawi. Lupakan semua beban di pundakmu, lupakan juga semua masalah dalam hidup lainnya. Pokoknya, kau harus bisa melupakan segalanya. Kosongkan dirimu sekosong mungkin,"
"Setelah semuanya sudah berhasil kau jalankan, maka kau akan bertemu dengan dirimu sendiri. Tapi bukan yang asli, sosokmu dalam dunia itu merupakan jelmaan dari hawa nafsu. Hanya saja hawa nafsu itu berwujud dirimu. Oleh karena itu, jika kau ingin menguasai hawa nafsu, maka kau harus bisa mengalahkan dirimu itu," kata Dewa Lima Unsur menjelaskan panjang lebar kepada Chen Li terkait ujian ketiga atau yang terakhir itu.
__ADS_1
Huang Taiji hanya tersenyum samb terus memandangi wajah Chen Li. Orang tua itu ingin melihat bagaimana reaksi Pendekar Tanpa Perasan.
Ternyata faktanya tidak salah dengan dugaan sebelumnya. Bocah itu tampak kaget, juga terlihat tidak begitu mengerti. Dia ingin bertanya, namun tidak berani.
"Baiklah guru,"
"Kau mengerti maksudku bukan?"
"Sedikit mengerti, sedikit tidak,"
Dewa Lima Unsur hanya tertawa kecil. Terkadang dirinya merasa bahagia kalau melihat ekspresi wajah Chen Li pada saat kebingungan seperti itu.
"Sebentar lagi kau akan mengerti. Intinya kau hanya perlu mengingat apa yang sudah aku katakan. Untuk selanjutnya, kau harus belajar melawan dirimu atau hawa nafsumu sendiri. Kalau kau dapat mengalahkannya, itu artinya kau berhasil. Kalau tidak, maka kau akan gagal. Jika sampai gagal, maka sia-sia saja selama tiga tahun ini kau berlatih keras," tegas Dewa Lima Unsur.
Mendengar perkataan seperti itu, mau tidak mau Chen Li juga sedikit kaget. Mendadak hatinya bertekad, dia tidak boleh gagal. Apapun yang terjadi, dia jangan sampai gagal. Chen Li harus berhasil.
"Baik guru, kalau begitu Li'er akan melaksanakannya dengan segera,"
"Bagus. Mulailah sekarang juga," perintah Dewa Lima Unsur.
Pendekar Tanpa Perasaan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Chen Li langsung melangkah turun ke sungai. Gerakannya sangat perlahan. Langkahnya amat yakin.
Dia yakin dirinya akan bisa menjalankan ujian terakhir ini dengan sempurna.
Begitu dirinya telah tiba di kedalaman sungai yang setinggi dadanya, pemuda itu lantas segera berdiam diri. Sepasang matanya terpejam rapat. Nafasnya dibuat teratur. Kedua tangannya ditaruh di depan dada seperti seseorang yang sedang menyembah.
Malam semakin kelam. Hawa semakin dingin. Sedingin air sungai itu. Chen Li mulai tenggelam bersama keheningan. Dia mulai menuju ke alam kesepian. Sepi yang tiada bandingannya di dunia ini.
Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji masih duduk di atas batu hitam. Keduanya mengawasi pemuda itu lekat-lekat, mendadak Huang Taiji menggerakan kedua tangannya.
__ADS_1
Segulung tenaga istimewa berhembus. Chen Li sudah dilindungi oleh tenaga hasil ciptaan Huang Taiji barusan.