Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sekte Seribu Iblis


__ADS_3

Sekte Seribu Iblis. Sekte ini dikenal dengan anggotanya yang hampir mencapai dua ribu orang. Selain itu, Sekte Iblis merupakan sekte aliran sesat pertama. Sedikit lebih besar dari Sekte Tangan Dewa Kegelapan.


Sekte Seribu Iblis dipimpin oleh seorang kepala tetua yang terkenal kejam dan tidak kenal ampun. Siapapun pasti pernah mendengar tentang kebesaran nama Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma.


Orangnya sudah berumur tujuh puluh tahunan. Namun kekuatan yang dia miliki sukar untuk dilukiskan lagi. Dia termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang terkuat di Kekaisaran Wei dewasa ini.


Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma menempati urutan kedelapan dari sepuluh orang pendekar terkuat.


Sepak terjangnya yang tidak kenal ampun, sudah menjadi berita umum bagi semua orang.


Bangunan Sekte Seribu Iblis terkenal megah dan sangat mewah. Halaman yang dimiliki sekte tersebut juga sangat luas. Saking luasnya sehingga dua ribu orang murid bisa ditampung di halaman tersebut.


Di kanan kiri pojok bangunan, terdapat patung iblis yang menyeramkan. Tembok setinggi dua tombak mengelilingi seluruh bangunan sekte. Di depan, ada lima orang murid penjaga. Mereka merupakan Pendekar Surgawi tahap empat akhir.


Walaupun tampak menyeramkan, ternyata pemandangan di sana sangat bertolak belakang.


Pohon cemara tumbuh menjulang tinggi. Pohon bunga sakura dam bunga seruni terlihat sangat indah. Bunga-bunganya berguguran tertiup angin musim semi.


Bau harum bunga mekar tercium menyengat. Semilir angin berhembus membelai tubuh.


Dibelakang Sekte Seribu Iblis ada sebuah gunung yang menjulang tinggi. Warnanya sedikit abu-abu dengan puncak berwarna putih seperti es. Di gunung itulah sang kepala tetua biasa melakukan semacam meditasi untuk melatih ilmu-ilmunya.


Chen Li, Moi Xiuhan, Yuan Shao dan Li Meng Li tiba di sekte tersebut saat sore hari. Setelah menempuh perjalan beberapa hari, akhirnya keempat bocah itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.


Udara terasa sangat sejuk. Sinar kemerahan membakar Sekte Seribu Iblis yang dominan berwana hitam. Mendatangkan hawa kengerian tersendiri. Suara burung berdecit riang kembali ke sarangnya masing-masing.


"Sekte Seribu Iblis ternyata sangat menyeramkan," kata Moi Xiuhan sambil memegang erat tangan Meng Li.


"Benar, memang sesuai dengan namanya. Lebih menyeramkan daripada hutan belantara," ujar Meng Li menyetujui perkataan Moi Xiuhan.


Mereka terus berjalan untuk menuju ke gerbang utama. Yuan Shao memimpin di depan. Dan Chen Li paling belakang.


Apa yang dikatakan oleh dua gadis kecil tersebut memang benar. Baik Chen Li ataupun Yuan Shao, keduanya juga merasakan hal yang sama. Bulu kuduk mereka merinding dibuatnya.


Ciri khas orang-orang Sekte Seribu Iblis adalah pakaiannya yang serba hitam. Memakai kerudung hitam. Semuanya hitam. Seperti sosok Malaikat Maut yang suka diceritakan oleh kebanyakan orang.


Mereka telah tiba di pintu gerbang utama. Yuan Shao ingin bicara, namun si penjaga telah bicara lebih dulu.


"Kalian anak-anak dari empat sekte besar?" tanya seorang penjaga.


Suaranya hambar. Nadanya datar. Seolah mereka sangat enggan untuk membuka mulut.


"Be-benar," jawab Yuan Shao sedikit gugup karena melihat betapa bengisnya wajah para penjaga tersebut.

__ADS_1


"Silahkan masuk," katanya masih dengan nada dan suara yang sama.


Keempatnya saling pandang beberapa saat sebelum memutuskan untuk masuk bersama.


Di halaman yang sangat luas itu, ada banyak sekali murid-murid yang melihat mereka dengan tatapan dingin. Seperti seekor musuh bebuyutan yang melihat musuhnya.


Di depan mimbar, ada seorang tua berpenampilan sama. Hanya saja pakaiannya berwarna ungu tua. Seluruh tubuhnya selalu diselubungi asap ungu kehitaman.


Aura kegelapan di sana ternyata sepuluh kali lipat lebih kental daripada saat tadi diluar. Mereka berempat menahan nafasnya masing-masing.


"Aku merasa seperti buronan," kata Yuan Shao.


"Aku seperti terpidana mati," sambung Moi Xiuhan.


"Aku malah merasa di neraka," kata Li Meng Li menambahkan pula.


"Aku malah lapar," timpal Chen Li memasang wajah polos.


Ketiga temannya langsung menengok secara serempak. Ingin sekali mereka memukul kepalanya itu. Sayang, situasinya saat ini sedang tidak memungkinkan.


Jangankan untuk memukul, mengangkat tangan saja rasanya tidak sanggup.


"Mau apa kalian?" tanya orang berkerudung ungu tua. Suaranya menggelegar seperti guntur.


"Wushh …"


Segulung angin dahsyat tiba-tiba datang menerjang ke arah mereka berempat. Kecepatannya sukar untuk dilukiskan.


Tiga bocah langsung melompat ke samping kanan dan kiri untuk menghindari angin serangan tersebut. Sedangkan Chen Li hanya mengibskan tangannya.


"Chen Li, kau cari masalah," desis Yuan Shao sambil mendelik.


"Tidak dicari pun masalah tetap datang kepadaku," jawabnya acuh tak acuh.


"Kau ini …"


Belum sempat Yuan Shao menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Moi Xiuhan dan Li Meng Li.


Chen Li mendadak berubah menjadi sosok manusia yang dingin saat melihat tiga sahabatnya pingsan. Kekuatan besar langsung terpancar keluar dari tubuhnya.


Orang berkerudung ungu tertawa seram. Sangat seram. Bahkan rasanya dunia menjadi gelap.


Namun Chen Li tidak takut sedikitpun. Dia masih tetap berdiri dengan tegar tanpa bergeser sedikitpun.

__ADS_1


"Kau boleh mempengaruhiku, tapi jangan terhadap sahabat-sahabatku," kata bocah itu dengan dingin.


"Hahaha … bagus, nyalimu besar juga. Aku salut. Lantas, apa maumu sekarang?" tanya si orang berkerudung ungu.


"Sadarkan mereka kembali,"


"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakuka?"


"Memaksamu untuk menyadarkan mereka,"


"Apakah kau berani?"


"Aku tidak kenal rasa takut,"


"Kau pikir bisa melawanku?" tanya orang tersebut sambil tersenyum sinis.


"Aku tahu ilmuku masih jauh jika dibandingkan denganmu. Tapi demi sahabat, apapun akan aku lakukan. Aku bisa membunuh sebanyak mungkin murid-murid di sini," tegas Chen Li.


Aura misterius semakin mencuat keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tubuhnya diselubungi asap hitam pekat. Aura pembunuhan terpancar kuat.


Dalam hatinya, si orang berkerudung ungu sedikit terkejut. Dia tidak mengira bahwa bocah itu sudah mempunyai hawa pembunuhan sedemikian besarnya di usia yang masih belia.


"Sekali kau menyentuh murid-murid di sini, kupastikan tiga rekanmu tidak akan melihat dunia lagi,"


Chen Li tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dingin. Senyuman yang tidak kalah menyeramkannya.


"Kalau begitu aku akan menyentuhmu,"


Wushh!!!


Dia melesat sangat cepat ke arah orang tersebut. Segulung angin datang menerjang Chen Li. Tetapi dia menghindarinya ke arah samping. Selama usahanya untuk mendekati orang tersebut, selama itu pula bergulung-gulung angin datang menyerangnya.


Untungnya bocah itu bergerak saat waktu yang tepat.


Begitu jaraknya tinggal beberapa langkah lagi, Chen Li langsung mengeluarkan Pedang Hitam dan seruling giok hijau.


Dia menyerang dengan ganas. Pedang Hitam langsung mengeluarkan asap dan aura misterius. Seruling giok hijau mengeluarkan sinar hijau terang.


Dua senjata langsung bergerak menyerang orang berkerudung ungu. Gerakan Chen Li walaupun tidak terbilang sangat cepat baginya, tetapi sudah cukup untuk membuatnya kaget.


Orang berkerudung ungu semakin kaget ketika melihat kedua bola mata bocah itu.


Mata Dewa Unsur Bumi.

__ADS_1


Mata itu sudah keluar menunjukkan kekuatannya.


__ADS_2