Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Buku Catatan Para Pendekar Dunia Persilatan


__ADS_3

Ketiganya sekarang sedang bersulang minum arak. Sekarang To Cun dan Beng Koan sudah tenang kembali. Keduanya telah berhasil menguasai dirinya kembali.


"Apakah kalian mempunyai gambar lukisan Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat itu?" tanya Chen Li lebih lanjut.


"Ada Tuan muda, ada. Sebentar,"


Beng Koan kemudian memanggil satu orang muridnya untuk mengambil lukisan Pang Meng. Setelah lukisan kakek tua itu berada di tangannya, Beng Koan lantas segera memberikannya kepada Chen Li.


Pemuda itu segera membuka dan mengamati lekat-lekat gambar lukisan tersebut setelah menerimanya. Setelah beberapa lama mengamati, Chen Li menggulung kembali lukisan yang dilukis di atas kulit menjangan itu.


"Aku akan membawanya,"


"Silahkan,"


Chen Li mengangguk. Mereka kemudian kembali membicarakan terkait masalah tersebut.


Untuk menyelidiki suatu persoalan yang cukup rumit dan penuh misteri, maka kau harus mempersiapkan segalanya. Jangankan hal besar, bahkan hal kecil pun harus dipelajari. Yang penting atau yang tidak penting, semuanya harus dipelajari lebih dulu agar saat memulai gerakan, kau sudah mengetahui langkah-langkahnya.


Karena dalam melakukan penyelidikan, petunjuk kecil pun bisa menjadi besar. Begitu juga sebaliknya. Petunjuk besar malah terkadang bisa menjadi petunjuk kecil.


"Aku pun ingin bertanya kepada kalian," ucap Pendekar Tanpa Perasaan.


"Silahkan Tuan muda katakan,"


"Apakah kalian tahu orang bernama Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa?"


Beng Koan terdiam sesaat. Dia sedang mengingat-ingat nama dan julukan tersebut.


Chen Li sendiri sengaja mengajukan pertanyaan demikian karena dia tahu persis bahwa sesungguhnya Perkumpulan Pengemis adalah sebuah perkumpulan yang paling banyak mengetahui segala macam informasi yang berhubungan dengan dunia persilatan.


Setiap orang yang berkecimpung di sungai telaga pasti tahu akan kebenaran ini.


Beng Koan kembali memanggil satu orang muridnya.


"Ambil Buku Catatan Para Pendekar Dunia Persilatan yang aku tulis di ruang kerjaku. Bawa kemari," katanya.


Si murid mengangguk beberapa kali lalu kemudian segera beranjak pergi dari sana. Setelah beberapa saat, dia telah datang kembali sambil membawa sebuah buku catatan yang sudah cukup lusuh, seluruh bagian buku itu berwarna kuning.


Beng Koan kemudian membuka selembar demi selembar dari setiap buku catatan tersebut, sepuluh menit kemudian, dia tampak kegirangan. Setelah itu, orang tua tersebut mulai bicara.

__ADS_1


"Aku tahu, bahkan informasi yang ada di buku ini terkait dirinya terbilang lengkap,"


"Coba jelaskan," kata Chen Li.


"Xhiang Yu, dia berasal dari Kota Sichuan. umurnya sekitar tiga pulih empat tahunan. Wajahnya lumayan tampan, sepasang matanya agak sipit, dia mempunyai alis golok. Hidungnya mancung. Rambutnya hitam legam serta panjang dibiarkan terurai. Dia selalu memakai pakaian serta jubah hitam. Pedang di pinggangnya merupakan pedang pusaka kelas atas, pedang itu lemas, bahkan bisa dijadikan sabuk. Ilmu pedangnya cepat dan keras. Julukannya adalah Pedang Lima Nyawa. Setiap orang yang pernah bertarung dengannya tidak ada yang selamat,"


"Selain dari pada itu, Xhiang Yu pun merupakan memimpin dari Tiga Pedang Tanpa Tanding. Ketiga orang yang ada di dalamnya merupakan jago pedang yang jarang menemukan tandingan. Meskipun satu wadah, tapi setiap dari mereka mempunyai aliran yang berbeda. Namun walaupun begitu, ketiganya merupakan orang-orang yang sangat berbahaya," kata Beng Koan menjelaskan tentang Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa kepada Chen Li.


Selama kakek tua itu menjelaskan, Pendekar Tanpa Perasaan sama sekali tidak memotong bicaranya. Dia mendengarkan dengan seksama.


Dalam hatinya, Chen Li sedikit merasa terkejut karena ternyata Perkumpulan Pengemis mempunyai informasi yang terbilang lebih dari cukup.


Apakah perkumpulan itu merupakan pusat segala informasi?


Jawabannya bisa iya bisa tidak.


"Di mana aku bisa menemukan dirinya?" tanya Chen Li setelah Beng Koan menyelesaikan penjelasannya.


"Saat ini dia sedang berada di Barat, tepatnya di Pegunungan Salju,"


"Apakah jarak dari sini cukup jauh?"


"Baik. Terimakasih," jawab Chen Li singkat.


Sekarang sedikit banyak informasi terkait masalahnya sudah jelas. Begitu juga dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Perkumpulan Pengemis.


Syarat-syarat dari dua masalah telah dikantongi. Maka sekarang saatnya untuk bergerak menjalankannya.


"Kalau boleh tahu, kenapa Tuan muda mencari Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa?" tanya To Cun yang sejak tadi membungkam mulutnya.


"Karena dia sudah mencari masalah denganku," jawab Chen Li dingin.


"Aii, pasti masalahnya rumit. Kami hanya bisa mengingatkan agar Tuan muda selalu hati-hati jika sudah menghadapi orang itu. Selain ahli pedang, dia juga sangat ahli dalam hal menggunakan senjata rahasia," kata To Cun mengingatkan.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak memperlihatkan ekspresi apapun kecuali hanya sepasang alisnya saja yang terangkat. Sejatinya Chen Li tidak peduli terkait hal tersebut, mau itu ahli senjata rahasia, ahli racun atau ahli apapun, dia tidak pernah ambil pusing.


Yang pasti, setiap manusia yang sudah berani mengusiknya, apalagi berniat membunuhnya, maka orang tersebut sangat wajib untuk mati.


"Kalau begitu terimakasih. Sekarang aku pamit undur diri," katanya sambil bangkit dari tempat duduk.

__ADS_1


"Aii Tuan muda, kenapa buru-buru sekali?" tanya Beng Liang sambil ikut berdiri pula.


"Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, jadi maaf sekali aku tidak bisa berlama-lama,"


"Baiklah kalau begitu, kami tidak bisa memaksa lagi,"


"Terimakasih, masalah kalian jangan khawatir. Aku akan membantu secepatnya," kata Pendekar Tanpa Perasaan mengulang kembali perkataannya.


"Sekali lagi terimakasih Tuan muda," ucap Beng Koan dan To Cun hampir secara bersamaan. Mereka menjura sambil memberikan hormat dengan kedua tangan disilangkan di depan dada.


Tetapi pada saat keduanya berdiri tegak kembali, ternyata sekarang di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Di hadapan mereka hanya ada satu kursi kosong serta cawan arak yang baru saja diteguk sampai habis.


"Pemuda yang luar biasa," kata Beng Koan.


"Sangat luar bisa malah," sahut To Cun.


###


Chen Li sudah berada di Kotaraja kembali. Saat ini pemuda itu sedang duduk di benteng kota yang tidak pernah mati itu.


Malam semakin larut. Suasana mulai sepi. Suara binatang malam sekarang mulai tidak terdengar. Suara mereka seperti hilang ditelan oleh bumi.


Di tangan kanannya ada satu guci arak harum yang tinggal setengahnya lagi. Arak itu adalah arak yang dia bawa dari tempat Perkumpulan Pengemis barusan.


Baru saja mulutnya bersiap untuk meneguk arak, secara tiba-tiba dari arah sebelah kanan dan kirinya tampak berkelebat dua bayangan keperakan yang tidak terlukiskan kecepatannya.


Wushh!!! Wushh!!!


Trakk!!!


Chen Li tidak menghindar terlalu jauh. Pemuda itu hanya bangkit berdiri dengan gerakan yang sama cepatnya.


Dua sinar keperakan tadi sekarang telah menusuk ke guci arak yang sebelumnya dia genggam.


Semuanya terjadi hanya dalam sekejap mata saja. Sekarang di sana telah bertambah orang lagi. Dua orang asing telah berdiri di kedua sisi Pendekar Tanpa Perasaan.


Sinar keperakan tadi berasal dari dua batang tombak. Tombak hitam legam yang sangat tajam. Dan sekarang, tombak tersebut sudah salah mengenai sasaran.


"Siapa kalian?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan dengan suaranya yang sangat dingin.

__ADS_1


__ADS_2