Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Malam Yang Penuh Dengan Kesedihan


__ADS_3

Kedatangan Shin Shui dan Chen Li disambut antusias oleh semua siluman yang ada di tenda darurat itu, terutama sekali Kaisar Naga Merah sendiri. Awalnya dia memang ragu Shin Shui tidak bisa kembali dengan selamat, sebab dirinya tahu bagaimana kondisi di Istana Kekaisaran tersebut.


Tetapi begitu melihat malam ini Shin Shui pulang selamat tanpa cacat sedikitpun, dia menjadi lebih yakin bahwa sosok manusia itu memang mempunyai kekuatan yang sangat sulit untuk di ukur.


Saat ini mereka sedang berada di ruangan khusus bersama beberapa pengawal setia Kaisar Naga Merah. Mereka sempat berbincang-bincang beberapa hal terkait perjalanan Shin Shui ke Istana Kekaisaran.


Tanpa keberatan sama sekali, Shin Shui menceritakan perjalanannya dengan jelas. Semua yang mendengarkan sampai membuka mulut saat Pendekar Halilintar bercerita. Apalagi ketika mereka mendengar pertarungan Shin Shui melawan iblis berkulit merah, mereka bahkan sampai terkagum-kagum dengan sosok Shin Shui si Legenda Pendekar Halilintar.


"Kau memang orang yang istimewa. Sungguh, aku sangat beruntung sekali bisa mengenalmu dengan baik," kata Kaisar Naga Merah sambil menepuk bahu kanan Shin Shui.


"Kaisar terlalu memuji. Aku hanyalah manusia biasa seperti pada umumnya," jawab Shin Shui tersenyum.


"Sifatmu dari dulu tidak berubah. Kau selalu merendah meski terkadang arogan,"


"Eh, Kaisar, Anda bisa tahu dari mana?" tanya Shin Shui penasaran.


"Cun Fei. Dia selalu menceritakan dirimu saat berkunjung ke sini," katanya perlahan. Tiba-tiba matanya memandang jauh melihat langit yang kelam tanpa sinar rembulan. Ada raut wajah kesedihan yang tergambar jelas di matanya.


"Hahh … dia memang sosok yang luar biasa. Andai saja dia ada hari ini, pasti dia senang sekali melihat Li'er sudah tumbuh besar. Mungkin dia akan menjaga Li'er seperti menjagaku dulu," ucap Shin Shui dengan hati pilu.


Saat berkata seperti itu, dia merasakan bahwa hatinya terasa sangat sakit. Seperti ditusuk ribuan jarum. Tak terasa air mata mengembang di dua matanya.


Keadaan menjadi hening seketika. Semua siluman naga yang ada di sana, saat ini sedang merasakan hal yang sama.


Kesedihan!


Mereka merasa sedih karena kehilangan sosok seperti Cun Fei. Sosok yang luar biasa dan berjasa bagi orang ataupun siluman yang ada di sekelilingnya.


"Ayah, Cun Fei itu siapa?" tanya Chen Li karena merasa penasaran.


"Dia adalah siluman naga yang baik Li'er,"


"Lalu kenapa ayah bersedih?"


"Karena dia pernah menjaga ayah selama belasan tahun. Ayah bisa seperti ini tak lepas dari campur tangan senior Cun Fei. Kalau tidak ada dia yang menjaga ayah, mungkin ayah sudah mati ribuan kali dan mungkin kau pun tidak akan lahir ke dunia ini," kata Shin Shui mencoba menahan tangisnya.


"Kasihan dia, aku ingin membalas budi baik paman senior," kata Chen Li bersemangat.


"Kalau kau mau membalas kebaikannya, jadilah orang baik. Dengan begitu, Li'er sudah membuatnya senang di sana," ucap Shin Shui sambil mengusap-usap rambut Chen Li.


"Baik ayah," jawabnya.

__ADS_1


"Ah iya, ini serulingmu. Ayah menemukannya kemarin di tempat kau berlatih," kata Shin Shui sambil memberikan seruling giok hijau milik anaknya tersebut.


"Terimakasih ayah,"


Chen Li lalu terdiam. Keadaan menjadi sunyi kembali. Kesedihan mereka belum juga sirna. Entah kenapa, Chen Li juga seperti merasakan kesedihan itu.


Dia menarik seruling gioknya lalu menempelkan di mulut. Tidak ada yang memperhatikan gerakannya ini karena semua orang tenggelam dalam kesedihannya.


Chen Li lalu pergi keluar tenda. Dia berjalan menuju sebuah batu hitam agak besar di tengah-tengah pepohonan. Dalam malam yang sunyi, dia berniat untuk mencurahkan semuanya lewat alunan nada seruling.


Pelan-pelan Chen Li meniup serulingnya. Suara yang sangat merdu segera menggema ke seluruh penjuru. Alunan nadanya menyayat hati siapapun yang mendengarkan.


Chen Li mulai terbawa dalam permainan serulingnya. Dia benar-benar mencurahkan semua kesedihan yang dia rasakan saat ini lewat tiupan seruling tersebut.


Alunan nadanya sayup-sayup merasuki setiap hati jiwa yang mendengar. Langit yang kelam menjadi lebih kelam lagi. Daun-daun berguguran tertiup angin malam yang dingin. Chen Li semakin tenggelam dalam permainannya sendiri.


Di ruangan lain, Shin Shui beserta Kaisar Naga Merah dan yang lainnya menjadi semakin sedih saat mendengar alunan nada itu. Mereka menangis keras teringat kepada Cun Fei si Naga Emas.


Air mata mereka meleleh membasahi pipi. Perasaan masing-masing seperti disayat oleh pisau yang sangat tajam. Semua kenangan yang terukir, terbayang kembali dalam benak.


Shin Shui tahu bahwa ini permainan anaknya. Maka dia segera berjalan keluar dengan perasaan sedih yang masih tidak dapat dia buang. Kaisar Naga Merah dan yang lainnya mengikuti dari belakang, lalu semua siluman yang ada di sana ikut juga.


Dalam sekejap mata, tempat di mana Chen Li meniup seruling sudah dipenuhi para siluman. Tidak ada yang tidak menangis di antara mereka. Semuanya menangis menumpahkan kerinduannya.


Di saat seperti inilah, tiba-tiba sebuah suara pilu terdengar mengiringi alunan nada seruling.


"Kehidupan ini tercipta sudah sesuai rencana


Tidak ada sesuatu hal kebetulan dalam kehidupan


Semuanya adalah takdir yang telah ditentukan


Kita hanya bertugas untuk menjalankan


Tak ada yang bisa lepas dari jeratan takdir tuhan


Yang harus terjadi, pasti sudah terjadi


Kita tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima


Keputusan apapun, kita tidak ada hak untuk tidak menerima

__ADS_1


Kesedihan selalu bercampur dengan kebahagiaan


Ada sedih ada gembira


Ada suka ada duka


Semuanya telah diciptakan berpasangan


Jangan terlalu menangisi


Sebab semuanya takkan terulang lagi


Tapi sesungguhnya mereka tidak pergi


Mereka selalu ada, mereka selalu hidup, tepatnya di dalam hatimu"


Bertepatan berakhirnya syair tersebut, berakhir juga permainan seruling Chen Li. Dia menjadi semakin kebingungan saat semua orang menangis tersedu-sedu.


Malam itu, semua yang ada si tenda merasakan kesedihan yang sama. Mereka baru merasa lega setelah fajar hampir tiba.


###


Pagi-paginya, Shin Shui dan Kaisar Naga Merah serta beberapa yang lainnya sedang menikmati indahnya pagi. Mereka sempat berbincang-bincang berbagai macam hal. Sehingga pada akhirnya menjadi lebih serius saat Shin Shui bertanya.


"Kaisar, aku mau bertanya kepadamu," kata Shin Shui.


"Silahkan pendekar,"


"Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil saja namaku," kata Shin Shui agak gemes.


"Baiklah Shui'er," kata Kaisar Naga Merah sambil menghela nafas.


"Apakah benar bahwa senior Cun Fei mati di medan peperangan kemarin di Negeri Siluman ini?" tanya Shin Shui serius.


"Benar. Dia bersama temannya yang disebut phoenix biru tewas dalam perang beberapa waktu lalu,"


"Siapa yang membunuh mereka?"


"Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk," jawab Kaisar Naga Merah.


"Keparat … akan aku bunuh iblis itu. Kalau aku tidak membunuhnya, bagaimana aku bisa hidup tenang. Demi membalaskan dendam senior Cun Fei dan phoenix biru, aku akan menghancurkan para iblis itu," kata Shun Shui dengan sangat marah. Bibirnya bergetar saat mengucapkan perkataan barusan.

__ADS_1


Kemarahannya saat ini benar-benar sudah naik ke puncak. Kemarahan itu pasti akan keluar saat perang terjadi sebentar lagi.


__ADS_2