
Tidak ada reaksi apapun setelah beberapa saat menunggu. Chen Li kembali menyebutkan ucapan yang sama, tapi tetap tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sana.
Suasana menjadi hening. Chen Li dan Eng Kiam menajamkan semua indera mereka. Matanya menyapu semua tempat.
Namun anehnya, sama sekali kedua bocah itu tidak menemui kejanggalan apapun.
Dari kejauhan, Shin Shui memuji kewaspadaan kedua bocah tersebut. Tentu saja sendiri dia tahu di mana si penyerang atau orang yang memasang jebakan tadi, hanya saja Shin Shui sengaja membiarkan anaknya.
Dia ingin melihat lebih jauh sampai di mana tingkat kewaspadaan Chen Li dalam menghadapi situasi semacam ini.
"Di atas …" kata Chen Li seketika kemudian dia mengirimkan serangan jarak jauh.
Sinnar putih melesat ke arah yang dia tuju. Begitupun Eng Kiam, dia melakukan hal yang sama seperti Chen Li.
Dua sinar berbeda warna dari dua bocah melesat ke atas beberapa batang pohon secara bersamaan. Di sana ternyata ada sekelompok orang yang sedang mengintai mereka.
"Blarrr …"
Serangan jarak jauh Chen Li dan Eng Kiam menghantam dahan pohon yang tadi ditempati oleh beberapa orang tersebut. Dahan itu langsung patah menjadi beberapa bagian.
Tidak lama kemudian, kini di hadapan kedua bocah tersebut ada empat orang tak dikenal. Mereka semua memakai pakaian serba hitam dan cadar. Sehingga wajahnya tertutup, yang terlihat hanyalah bagian matanya saja.
"Siapa kalian dan kenapa menggangguku?" tanya Chen Li dengan kesal.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami bocah. Yang jelas, kami akan mengirimmu ke neraka," kata salah seorang.
"Lancang sekali mulutmu," bentak Eng Kiam.
"Gadis kecil, kau diamlah. Kalau memang ingin meneruskan hidup, lebih baik kau segera pergi dari sini. Kami hanya menginginkan anak Pendekar Halilintar ini," katanya kepada Eng Kiam.
Chen Li terkejut, ternyata dia sudah mulai di incar oleh orang-orang yant ingin membunuh ayahnya. Dan sepertinya, target mereka sekarang bukan hanya Shin Shui saja.
Tetapi seluruh keluarga Shin Shui. Termasuk istri dan mungkin sektenya sendiri.
Di kejauhan, Shin Shui pun tersentak. Tak disangkanya orang-orang yang ada di balik semua kerusuhan sudah merencanakan sejauh ini. Bahkan 'tunas'nya pun ingin mereka habisi.
__ADS_1
'Keparat. Aku harus secepatnya membereskan semua ini,' batin Shin Shui sambil mengepalkan tangannya.
Sementara itu di tempat kejadian, Chen Li merasa semakin geram. Telinganya bahkan terasa panas mendengar ayahnya disebut oleh orang yang kurang ajar.
"Kalau kau memang menginginkan aku, silahkan jika mampu. Tapi jangan libatkan nona ini. Yang kalian cari adalah aku. Kalau ingin nyawaku, silahkan bunuh. Itupun kalau kalian sanggup," katanya langsung berubah dingin.
Eng Kiam terkejut. Dia ingin bicara tetapi tidak berani. Terlebih lagi ketika merasakan aura yang mulai kelaur dari tubuh Chen Li.
"Hahaha, keberanianmu kami akui. Tapi kemampuanmu belum cukup untuk mengalahkan kami," kata seseorang sambil tertawa nyaring.
"Seorang pria itu lebih baik sedikit bicara tapi banyak bekerja. Sedikit mengucap janji tapi banyak bukti," kata Chen Li menyindir empat orang tak dikenal tersebut.
Mendengar ucapan seorang bocah tapi begitu tajam, keempat orang itu segera memberhentikan tawa mereka. Keempatnya langsung memandang Chen Li dengan ganas. Seperti seekor serigala yang ingin segera menerkam.
"Mulutmu memang sangat tajam. Ayah dan anak sama saja," katanya.
"Jangan bawa-bawa ayahku. Sekali lagi kau menyebutnya, aku pastikan tidak akan ada yang selamat dari sini," ujar Chen Li.
Aura pembunuh semakin kental keluar. Asap hitam tipis mengelilingi dirinya.
Walaupun kekuatannya terpaut jauh. Tapi tidak ada rasa takut dalam dirinya. Selain karena Chen Li belum bisa mengukur kekuatan lawan, dalam kamus hidupnya juga tidak ada kata takut.
Kepada siapapun dia tidak pernah takut. Selama dia benar, apa yang harus ditakutkan?
"Majulah," tantang Chen Li dengan gagah.
"Tuan muda," ujar Eng Kiam ingin menahannya.
"Kakak Kiam tenang saja. Kalau memang aku harus mati, kau segera lari dan beritahukan kepada ayahku," kata Chen Li sambil melangkah ke depan.
Pedang dan seruling sudah dia genggam. Sifat sebagai pria dan pendekar sejatinya keluar.
Di kejauhan, Shin Shui dapat mendengar percakapan semuanya. Dia memuji keberanian dan sifat jantan anak kesayangannya. Dan tentu saja dia tidak akan tinggal diam.
Shin Shui mengibaskan tangannya sedikit. Sebuah tenaga besar meluncur deras dan memasuki Chen Li tanpa disadarinya.
__ADS_1
Hal seperti yang itu tidak bisa dilakukan oleh semua pendekar. Selain ada cara khusus, si peminjam kekuatan juga harus mencapai kekuatan tertinggi. Setidaknya harus mencapai kekuatan Pendekar Dewa tahap tujuh pertengahan ke atas.
Sedangkan sekarang Shin Shui sudah mencapai puncak. Jadi, sudah pasti hal yang bagi orang lain mustahil, tapi bagi dirinya tidak. Itulah alasan kenapa Shin Shui belum pernah kalah telak setelah beberapa waktu pergi mengembara lagi.
Dan karena itu juga dia menjadi pemimpin dunia persilatan. Kalau bukan Shin Shui, siapa lagi yang sanggup mengemban tugas itu?
Chen Li sedikit tersentak saat kekuatan yang di pinjamkan Shin Shui memasuki tubuhnya. Dia sedikit kaget, tapi tidak ada waktu untuk berpikir seperti itu. Karena detik selanjutnya, keempat orang tak di kenal sudah menerjang memberikan serangan pertama.
Chen Li masih berdiri dengan tenang. Dia sedang menunggu datangnya keempat serangan.
Saat ini, kekuatanya mencapai Pendekar Surgawi tahap empat akhir.
Secara tidak langsung, dia pasti mampu menghadapi orang-orang tersebut. Setidaknya, kurang dari enam puluh jurus, empat orang tak dikenal itu dipastikan akan roboh.
Empat serangan sudah datang menerjang. Sabetan pedang membelah udara dari empat penjuru. Serangan mereka terbilang cepat dan berbahaya karena dibarengi jurus dahsyat.
Tapi Chen Li tidak gentar. Sekali sentak, seruling dan pedang sudah bergerak secara bersamaan.
Pedang di tangan kirinya memapak serangan dua lawan lebih cepat dari yang mereka berikan. Seruling di tangan kanan, menyambar dan menghantam dua pedang lainnya.
Sekali menggebrak, empat serangan lawan sudah kandas di tengah jalan. Keempat orang itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa bocah yang kini menjadi lawannya memiliki kekuatan hebat. Padahal sebelumnya tidak terasa kekuatan di bocah lebih hebat.
Di tengah kebingungan tersebut, Chen Li sudah mulai memberikan gempuran hebat. Pedang dan seruling bergerak saling libas.
Pedang Awan membelah gelapnya malam dengan desiran angin yang diciptakan. Seruling giok hijau berkelebat memberikan hantaman keras.
Dua jurus maut sudah dikeluarkan oleh bocah istimewa itu. Tubuhnya melesat melancarkan serangan hebat.
Keempat lawannya merasa keteteran karena serangan Chen Li seperti tidak ada habisnya. Bahkan semakin lama mereka bertarung, semakin cepat juga dia menyerang lawan.
Pertarungan sudah mencapai empat puluh lima jurus. Satu lawan sudah terdapat tewas.
Tiga rekannya bertambah geram. Serangan yang mereka lancarkan semakin ganas. Tapi masih belum sanggup mengalami keganasan Pendekar Tanpa Perasaan.
Pada jurus kelima puluh dua, Pedang Awan sudah kembali menelan mangsa. Satu lawan terkena tebasannya tepat di dada. Seruling giok hijau juga sudah ambil bagian. Satu orang di antara mereka pecah kepalanya.
__ADS_1