
Mendengar nama besar itu disebut, semua tetua yang ada di ruangan itu langsung memberikan hormat mereka yang terdalam.
Kini mereka baru menyadari siapa sebenarnya sosok kakek pengemis tadi.
Ternyata dia adalah Kakek Sakti Manusia Dewa.
Dia adalah guru besar langsung Kaisar Liu Yuchen Sun. Seorang manusia yang bertakhta di Tiongkok bagian Utara.
Kekaisaran Utara.
Walaupun jarak Kekaisaran Liu dan Kekaisaran Wei sangat jauh, tapi bagi sosok sepertinya, bukan tidak mungkin bisa sampai dalam waku singkat.
Kakek Sakti Manusia Dewa adalah seorang kakek tua yang namanya sudah terkenal ke penjuru bumi. Dulunya dia merupakan pendekar tanpa tanding di Kekaisaran Liu sana.
Sedikit mengulas tentang siapakah sosok tua tersebut.
Kakek Sakti Manusia Dewa merupakan tokoh tua yang sangat dihormati dan disegani. Baik itu oleh lawan maupun oleh kawan.
Namun semenjak usianya mencapai dua ratus tahun, dia telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan menjalani hidupnya dengan damai di sebuah goa.
Hingga pada suatu ketika, singkatnya, dia di ajak ke Istana Kekaisaran Liu dan diminta menjadi guru dari Kaisar. Awalnya Kakek Sakti Manusia Dewa menolak, tetapi karena terus didesak, akhirnya mau juga menjadi guru besar tersebut.
Ada tiga tokoh lain yang seangkatan dan kekuatannya setara dengan kakek tua itu. Dan yang tiga orang ini juga menjadi guru besar di Kekaisaran lain. Satu di Kekaisaran Sung, satu di Kekaisaran Tang, dan satu lagi di Kekaisaran Wei.
Mereka berempat merupakan saudara seperguruan. Semuanya menjadi guru dari masing-masing Kaisar di daerah kekuasannya sendiri.
Hanya saja, tiga saudara seperguruan Kakek Sakti Manusia Dewa lebih dahulu meninggalkan dunia. Yang tersisa tinggal dia seorang.
Itupun usianya sekarang sudah sangat tua sekali. Mungkin sudah mencapai tiga ratus tahun lebih. Walaupun begitu, tapi wibawa dan kegagahan di masa muda, masih bisa terlihat jelas.
Postur tubuhnya tinggi tetap. Kedua alisnya tebal membentuk golok. Jenggotnya putih dibiarkan panjang, hampir menyentuh dada. Rambutnya yang sudah penuh uban diikat memakai kain sutera berwarna biru muda.
Dia jarang memakai senjata. Karena bagi seorang tokoh sepertinya, apapun bisa menjadi senjata.
Walau hanya daun bambu sekalipun, bisa dijadikannya sebagai senjata yang menakutkan.
__ADS_1
Shin Shui sendiri awalnya tidak tahu bahwa kakek pengemis tersebut merupakan sosok yang sangat dihormati. Alasannya karena dia belum pernah bertemu langsung dengannya.
Tetapi setelah di lihat lebih jelas lagi, dia menjadi tahu siapa kakek pengemis tersebut. Oleh sebab itulah saat di restoran, Pendekar Halilintar mengajaknya makan bersama.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, tapi Shin Shui tahu ciri-ciri semua tokoh yang dianggap ghaib oleh kalangan dunia persilatan tersebut.
Nama besar Kakek Sakti Manusia Dewa dan tiga saudara seperguruannya sudah menyebar luas. Siapapun pasti tahu dan mengenal mereka.
Walaupun belum ada yang pernah bertemu secara langsung karena dianggap sudah meninggal, tapi cerita orang-orang dari mulut ke mulut tidak ada habisnya.
Di saat semua orang memberikan hormatnya termasuk Shin Shui, Kakek Sakti Manusia Dewa berjalan lalu mengangkat pundak mereka satu persatu.
"Kalian jangan seperti itu. Aku sudah tidak pantas mendapatkan kehormatan seperti dahulu lagi," kata orang tua itu.
Suaranya lembut, menenangkan. Hanya saja ada aura besar yang keluar saat dia bicara.
Kini semua orang telah kembali ke posisinya semula. Mereka belum ada yang berani bicara lagi karena takut disebut tidak sopan.
Hingga pada akhirnya, Kakek Sakti Manusia Dewa sendirilah yang angkat bicara terlebih dahulu. "Jangan bilang kepada siapapun bahwa kalian sudah bertemu denganku," kata kakek tua itu.
Semua orang saling pandang seperti kebingungan. Bukankah ini merupakan kebanggaan dalam hidup sebab bisa berjumpa dengan seorang guru besar yang legendaris?
Karena tak tahan dengan rasa penasaran, akhirnya Shin Shui memulai bicaranya.
"Maaf kek, memangnya kenapa? Bukankah bagus? Supaya semua orang tahu bahwa kau masih hidup," kata Shin Shui.
"Shui'er, kalau kehadiranku bisa bocor sampai semua orang tahu, maka urusannya bakal lebih gawat lagi. Perlu kau ketahui, jangankan orang luar, bahkan termasuk muridku sendiri, Kaisar Liu Yuchen Sun, tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku masih hidup," jelas Kakek Sakti Manusia Dewa.
Semua orang kembali tersentak. Kenapa kakek tua itu memilih jalan yang cukup aneh, bukankah semua orang ingin terkenal sampai penjuru dunia?
Melihat gelagat kebingungan dari wajah para tetua, akhirnya Kakek Sakti Manusia Dewa kembali melanjutkan bicaranya.
"Aku melakukan semua ini karena ingin melewati hari-hariku dengan aman dan damai. Bahkan sebenarnya aku sudah tidak ingin mencampuri urusan duniawi lagi. Sayang, Dewa belum mengizinkanku untuk menikmati ketenangan sehingga aku ditugaskan untuk kemari,"
"Maksud kakek, apakah kakek ingin membantu Kekaisaran Wei dalam menghadapi semua perusuh yang ingin menghancurkan Kekaisaran ini?" tanya Shin Shui memastikan.
__ADS_1
Kakek Sakti Manusia Dewa mengangguk membenarkan ucapan Pendekar Halilintar.
"Kau benar. Hanya saja, untuk saat ini aku tidak bisa. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan sejak lama sekali. Aku akan membantu kalian jika perang besar sudah benar-benar terjadi. Biarkan aku memberi pelajaran kepada manusia-manusia itu," ucapnya.
"Sebelumnya kami mengucapkan banyak terimakasih sekali kepada kakek. Tapi kalau boleh kami tahu, apa alasan kakek sehingga turun tangan langsung untuk membantu Kekaisaran Wei? Kenapa tidak membantu menjaga keamanan di Kekaisaran Utara," ujar Pendekar Halilintar ingin mengerti tentang semua yang terjadi.
Pertanyaan Shin Shui merupakan satu pemikiran dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Kakek Sakti Manusia Dewa merupakan guru Kaisar Liu Yuchen Sun, Kekaisaran dari Utara, tapi kenapa dia memilih untuk membantu Kekaisaran Wei?
"Karena keadaan Kekaisaran Wei saat ini sangat bahaya sekali. Kalau sudah kembali normal , aku pun akan langsung segera kembali lalu bertapa untuk menjadi Pendekar Keabadian," kata Kakek Sakti Manusia Dewa menjelaskan.
Shin Shui mengangguk. Begitupun dengan para tetua lainnya. Mereka sekarang paham.
Walaupun bantuan yang datang hanya satu orang, tapi hal ini merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi Shin Shui.
Lebih berarti daripada bantuan seratus pendekar sekalipun.
Karena walaupun satu orang, justru yang satu itu mampu membunuh banyak orang.
Dan itu pasti.
"Baiklah kalau begitu kek. Sekali lagi, aku mewakili para tetua dan orang-orang di Kekaisaran Wei, mengucapkan banyak sekali terimakasih kepadamu," kata Shin Shui tulus.
"Kau jangan sungkan Shui'er. Kau adalah orang yang sudah berjasa besar bagi Kekaisaran ini, jangan merendahkan harga dirimu di depanku,"
"Aku tidak peduli. Tapi di hadapanmu, aku memang tidak ada apa-apanya," kata Shin Shui.
Kakek Sakti Manusia Dewa tersenyum penuh arti. Dia mengelus kepala Shin Shui seperti elusan seorang kakek kepada cucunya.
Penuh kelembutan.
Penuh kehangatan.
Dan penuh kasih sayang.
"Sebelum kau turun tangan lagi, pergilah dulu ke goa tempat di mana Pendekar Belakang Sembah di makamkan. Saat waktunya tiba, aku akan datang lagi. Perjuangkan hak kalian sebagain warga negara, bantu mereka yang membutuhkan. Bebaskan manusia dari belenggu setan yang kini sedang gencar terjadi. Aku menjaga kalian di kejauhan sana," kata Kakek Sakti Manusia Dewa.
__ADS_1
Suaranya masih terdengar sangat jelas. Bahkan terasa dekat sekali.
Namun begitu semua orang tersadar, ternyata sosok tua yang maha sakti itu, kini telah menghilang entah ke mana.