Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Warisan Dari Ayah


__ADS_3

"Apa yang dikatakan oleh Kakek Tua Jubah Hitam memang benar. Aku setuju dengannya. Bagaimanapun caranya, kita harus bisa menjaga Li'er. Aku memang sudah merasakan hal lain yang ada padanya. Di dunia persilatan angkatan sekarang, mungkin hanya dia yang paling berbakat dan paling jenius," ucap Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.


Para tokoh yang lainnya juga mengangguk. Mereka tahu bahwa jika orang tua itu sudah bicara, maka hal tersebut sebuah kenyataan.


"Kepala Tetua Shin Shui, apakah kau tidak menurunkan jurus-jurus milikmu?" tanya Serigala dari Lembah Kematian.


"Tidak, aku memang sengaja tidak mau menurunkannya. Aku ingin Li'er berjuang sendiri supaya dia tahu apa artinya perjuangan. Selain itu, memang dia tidak cocok jika menggunakan jurus-jurus halilintar. Aku hanya memberikannya Pedang Awan. Terkait ilmu pedang mana yang dia pakai, aku tidak mewajibkannya. Paling-paling dia lebih suka membaca kitab-kitab pusaka. Dan yang membuat aku terkejut, dia mampu mengeluarkan jurus dari kitab yang dia baca hanya dalam sekali bacaan saja. Tetapi karena tenaga dalamnya masih kurang, dia tidak bisa sesukanya mengeluarkan jurus-jurus tersebut," kata Shin Shui kepada semua tokoh.


"Kau benar. Sekalipun dia anakmu, tetapi tidak selamanya bahwa anak akan memiliki kemiripan dengan ayahnya dalam pelajaran ilmu silat. Seperti dalam hal senjata contohnya, kau tidak terlalu mahir dalam memainkan seruling untuk senjata bertarung. Tetapi aku melihat, Li'er justru sangat lihat dan mempunyai bakat yang bagus," ucap Yuan Shui menyetujui perkataan Shin Shui.


"Kepala Tetua Yuan Shi memang benar. Aku juga sependapat. Untuk saat ini, aku membiarkan Li'er membaca semua kitab pusaka yang dia inginkan. Karena aku percaya, suatu saat nanti ketika dia telah mengerti tentang intisarinya, dia pasti bisa menciptakan sebuah jurus yang mungkin lebih hebat daripada yang aku miliki,"


"Tepat. Dengan kecerdasan yang dia miliki, dengan kekuatan yang ada dalam dirinya, rasanya tidak sulit jika dia ingin menciptakan jurus yang sangat dahsyat," kata Yuan Shi bersemangat.


Sekarang mereka mengerti tentang Chen Li. Ternyata bocah kecil itu memang bocah yang sangat luar biasa sekali. Bocah yang mungkin hanya ada satu di dunia ini.


"Kakek Tua Jubah Hitam juga harus menjaga baik-baik cucunya. Aku yakin di masa depan nanti, Kiam'er bisa menjadi pendekar wanita yang tersohor. Bakatnya dalam memainkan pedang sudah terlihat sejak sekarang," puji Yuan Shi kepada Kakek Tua Jubah Hitam.


"Terimakasih Kepala Tetua Yuan Shi. Anda terlalu memuji cucuku. Kalau urusan menjaga, pastinya aku akan menjaga dia dengan segenap nyawaku. Dan aku merasa sangat berterimakasih sekali kepada Kepala Tetua Shin Shui karena sudah baik kepada Kiam'er," jawabnya sedikit malu-malu.


"Kakek Tua Jubah Hitam terlalu sungkan. Kalau seandainya kita tidak bisa selamat dari perang nanti, aku hanya berharap bahwa penerus kita akan melakukan hal yang sama seperti kita ini. Biarlah mereka meneruskan perjuangan yang belum selesai. Apalagi kalau cucu si Raja Seribu Pedang sudah dewasa nanti. Sudah pasti dia akan menjadi pendekar pedang terkenal," kata Shin Shui memuji cucu Yuan Shi yang sekarang sudah berumur empat belas tahun.


"Tidak berani, tidak berani. Kalian terlalu sadis kalau memuji seperti itu … hahaha,"


Mereka tertawa. Tawa yang terdengar begitu bahagia. Padahal sebenarnya, orang-orang itu justru sedang meringankan beban pikiran yang sudah pusing karena masalah besar sudah di depan mata.

__ADS_1


###


Beberapa hari telah berlalu. Para tokoh yang kemarin ada di Sekte Bukit Halilintar, sekarang semuanya sudah kembali menjalankan tugasnya masing-masing. Besok adalah hari di mana Chen Li akan menjalankan tugas sesuai perintah ayahnya.


Dia akan mengunjungi dua sekte aliran hitam terbesar sekaligus berkelana di dunia persilatan untuk mencari pengalaman.


Sekarang waktu menunjukkan malam hari. Di bawah bunga sakura, Shin Shui sedang duduk berdua bersama Chen Li. Mereka sudah berbicara beberapa saat sebelumnya. Yun Mei pulang lebih awal karena dia ingin istirahat.


"Li'er, kau duduklah di depan Ayah," kata Shin Shui memberikan perintah kepada anaknya.


Tanpa membantah sedikitpun, Chen Li langsung duduk bersila di hadapan ayahnya.


Shin Shui segera menempelkan telapak tangan ke punggung Chen Li. Seketika keluar sinar biru samar-samar yang memasuki tubuhnya. Semakin lama, sinar tersebut semakin memberikan rasa hangat dan rasa nyaman.


Tiga puluh menit kemudian, Shin Shui telah berhenti menyalurkan sinar biru tadi.


"Ayah sudah memberikan tenaga dalam murni kepadamu. Tenaga dalam langit dan bumi. Walaupun hanya sedikit, namun rasanya sudah cukup supaya kau bisa mengeluarkan berbagai jurus dari kitab yang kau pelajari. Untuk sekarang, jika melawan seorang Pendekar Dewa tahap pertengahan, Ayah yakin kau bisa mengalahkannya," ujarnya kepada Chen Li.


Mendengar perkataan ayahnya, tentu saja Chen Li sangat girang sekali. Pada akhirnya dia bisa mengeluarkan berbagai macam jurus baru yang sudah terngiang-ngiang di benaknya.


Untuk selanjutnya, dia tidak perlu takut lagi kehabisan tenaga dalam. Apalagi jika dirinya sudah bisa menggabungkan tenaga dalam dari ayahnya dengan tenaga dari Mata Dewa Unsur Bumi. Sudah pasti hal ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa.


Menggabungkan tenaga dalam yang ada dalam diri memang mudah. Namun anehnya tenaga dari Mata Dewa sama sekali tidak bisa digabungkan. Sehingga jika Chen Li menggunakan tenaga tersebut, maka dia tidak bisa mengeluarkan jurus lainnya lagi.


Meskipun memang jurusnya sangat berbahaya. Namun dia sendiri merasa bosan kalau jurus yang keluar hanya itu-itu saja. Apalagi dia belum bisa untuk menciptakan jurus-jurus Mata Dewa Unsur Bumi.

__ADS_1


"Terimakasih Ayah, terimakasih. Jadi sekarang Li'er bisa menggunakan jurus lainnya? Yeayy … yuhuu …" katanya sangat girang lalu melompat-lompat tidak jelas.


"Duduk …" kata Shin Shui sambil menarik tangan anaknya.


"Ayah punya sesuatu lagi untukmu,"


"Apa Ayah?"


Shin Shui bangkit berdiri lalu kemudian mengeluarkan sesuatu dari Kantong Siluman.


Asap putih mengepul. Bumi bergetar sedikit. Tiba-tiba di hadapan Chen Li kini adalah dua ekor siluman kera berbulu putih.


Dialah San Ong dan Ong San.


Dua siluman kera yang sudah sejak dahulu bersama Shin Shui.


"Salam untuk Tuan Muda. Kami adalah siluman kera putih bersaudara. Aku Ong San, dan ini saudaraku San Ong," ucap Ong San memberikan salamnya kepada Chen Li.


Chen Li terkejut. Dia melirik kepada Shin Shui.


"Ayah, ini … ini …"


"Benar, mulai sekarang mereka akan akan selalu bersama Li'er. Menemani Li'er dalam kondisi apapun. Menjaga Li'er dengan segenap kemampuannya. Tetapi meskipun San Ong dan Ong San bisa diandalkan, kau tidak boleh selalu memerintahkan mereka untuk bertarung. Kau harus berusaha sendiri. Kecuali kalau keadaan memang sudah tidak memungkinkan," kata Shin Shui memberikan nasihat kepada anaknya.


"Pasti Ayah, pasti. Jadi, kalian akan bersamaku?"

__ADS_1


"Dengan senang hati. Kami akan selalu menemani Tuan Muda," kata Ong San kepada Chen Li.


__ADS_2