Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Lima Orang Tua Perkasa


__ADS_3

Bukk!!! Bukk!!!


Empat kali suara yang sama terdengar. Empat orang itu terpental lima langkah ke belakang. Dadanya menjadi sasaran telak pukulan Huang Taiji yang keras.


Baru saja mereka mengambil posisi untuk melanjutkan pertarungan, serangan berikutnya telah datang lagi. Huang Taiji melancarkan sebuah jurus dahsyat.


Sinar putih menerjang bagaikan ombak yang mengamuk. Empat orang itu terpental kembali ke belakang. Mereka muntah darah saat itu juga.


Api amarah langsung berkobar dalam dadanya. Empat orang itu segera mengeluarkan segenap kekuatannya. Tubuhnya diselimuti oleh aura yang berbeda.


Wushh!!! Wushh!!!


Empat bayangan sinar berbeda warna melesat ke depan. Huang Taiji sedikit tersentak melihat kecepatan empat lawannya. Namun kejadian itu hanya sesaat, karena detik berikutnya, Huang Taiji sudah menangkis serangan lawan dengan kedua tangannya.


Blarr!!! Blarr!!!


Ledakan terdengar beberapa kali. Lima tokoh kelas atas itu telah bertarung sengit kembali. Mereka mengeluarkan berbagai macam jurus dahsyat.


"Pukulan Neraka Ketujuh …"


Gelegar!!!


Huang Taiji melancarkan jurus dahsyatnya. Empat orang tua itu terlempar jauh ke belakang. Mereka mengalami luka dalam yang sangat parah.


Keempatnya tidak dapat bangun untuk melanjutkan pertarungan kembali. Karena tepat pada saat itu, nyawanya juga sudah melayang keluar dari raganya.


Empat lawan Huang Taiji tewas dengan luka parah di bagian dalamnya. Tidak ada satupun dari mereka yang sempat mengeluarkan suara tertahan ataupun suara kesakitan.


Semua kejadian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Huan Ni Mo sendiri dibuat terkejut oleh 'pertunjukkan' yang dipersembahkan oleh Huang Taiji.


Baru kali ini wanita itu melihat bagaimana mengerikannya kekuatan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding, karena itulah dirinya merasa sangat terpukau.


Huang Taiji memandang ke seluruh isi hutan tersebut. Dia hanya tersenyum simpul saat melihat bahwa si orang tua dan si Tuan muda telah tidak ada di sana. Bahkan si kusir juga lenyap entah ke mana.


Orang tua itu langsung menghampiri Chen Li dan Huan Ni Mo. Hanya sesaat, dirinya telah berdiri di samping mereka berdua. Padahal jaraknya lumayan jauh, setidaknya tidak kurang dari dua puluh tombak.


Huan Ni Mo kembali dibuat terkejut dengan kemampuan Huang Taiji. Dia hanya bisa memuji dalam diam.


"Kau tidak mengejar mereka yang melarikan diri?" tanya Huan Ni Mo.


"Memangnya siapa?"


"Siapa lagi? Tentu saja si Tuan muda,"

__ADS_1


"Tidak perlu. Biarkan mereka lari,"


Huan Ni Mo tidak bicara lagi. Dia langsung diam seribu bahasa.


Ketiga orang itu diam. Matanya menerawang jauh ke depan. Dalam benaknya, mereka sedang bertanya-tanya siapakah si Tuan muda sebenarnya? Bagaimana latar belakangnya dan siapa namanya?


Semua pertanyaan itu tidak ada yang mampu menjawabnya. Sebab tidak ada satupun yang mengetahuinya secara jelas.


###


Orang tua yang membawa si Tuan muda berlari dengan kencang. Seluruh kemampuannya dikeluarkan sehingga larinya sangat cepat seperti sambaran kilat.


Jika ada orang biasa, mereka tidak akan sanggup untuk melihatnya dengan jelas kecuali hanya desiran angin yang bergerak sangat cepat.


Setelah beberapa saat berlari kencang sambil terus memangku tuan mudanya, akhirnya orang tua itu tiba juga di tempat tujuan utama.


Sebuah bangunan terlihat sangat megah dan luas. Atap bangunan menjulang tinggi mencakar langit. Di depan gerbang utama, ada empat orang penjaga. Mereka memakai pakaian berwarna hitam. Wajahnya seram, tatapan matanya tajam.


Letak bangunan itu berada di tengah hutan belantara yang jarang sekali dilewati manusia. Bahkan jalan untuk menuju ke saja juga sangat berliku-liku. Jika bukan orang yang sudah biasa keluar masuk, mustahil bahwa mereka dapat menemukan bangunan dan bisa keluar dari dalamnya.


Saat orang tua itu melewati empat penjaga tersebut, mereka langsung membungkuk memberikan hormatnya.


Si orang tua kembali berlari agar segera sampai ke dalam bangunan. Dia langsung menuju ke ruangan utama.


Orang tua yang duduk dengan santai itu diduga merupakan ketua atau setidaknya tokoh utama di dalam sana. Begitu melihat kedatangan si orang tua bersama anaknya yang ada di pangkuan, dia mengernyitkan keningnya penuh keheranan.


"Apa yang sudah terjadi dengan anakku?" tanyanya mengandung nada sangat penasaran.


Semua orang yang ada di sana segera berpaling ke arah si orang tua yang baru saja datang itu. Mereka juga mengernyitkan keningnya masing-masing.


Semua mata memandang si orang tua dan menunggunya bicara.


"Ceritanya sangat panjang Tuanku. Tapi singkatnya kami telah mendapatkan sebuah masalah sehingga harus bertarung dengan seorang tokoh yang sangat sakti. Awalnya Tuan muda hamba totok supaya diam, tapi sekarang hamba baru menyadari bahwa Tuan muda terluka cukup parah," terangnya.


"Apa kau bilang? Siapa yang sudah berani melukai anakku?"


"Seorang bocah yang sepantaran dengan Tuan muda sendiri,"


"Kau tahu siapa namanya?"


"Tidak, Tuanku,"


"Lantas, di mana empat rekanmu yang lainnya?"

__ADS_1


"Mereka, mereka …"


"Kenapa mereka?" tanya orang itu memotong ucapan si orang tua.


"Mereka telah tewas di tangan musuh. Hamba sendiri segera melarikan diri dan menyelamatkan Tuan muda,"


Brakk!!!


Meja yang ada di hadapannya langsung hancur berantakan. Hanya dengan tatapan mata, meja itu telah berubah menjadi serpihan kayu kecil.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut merasa takut. Tanpa terasa orang-orang itu semakin menundukkan kepalanya serendah mungkin.


"Bawa anakku ke kamarnya dan segera panggil tabib,"


Orang tua itu mengangguk. Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung pergi ke kamar yang dimaksud.


Setelah itu, dia segera kembali dan menghadap lagi ke orang tadi.


"Cari orang itu sampai ketemu. Antar aku ke sana," katanya dengan geram.


"Tapi Tuanku, menurut hamba, Tuanku tidak perlu sampai turun tangan. Masih banyak anggota lain yang bisa menjalankan tugas seperti ini,"


"Mereka tidak akan mampu menjalankan tugas yang sekarang,"


"Kenapa?" tanya si orang tua keheranan.


"Jika Lima Orang Tua Perkasa saja tidak sanggup melawannya, kau pikir di antara yang lainnya masih ada yang mampu?"


Si orang tua terdiam saat itu juga. Apa yang dikatakan tuannya memang benar.


Mereka dikenal dengan sebutan Lima Orang Tua Perkasa. Di sini, merekalah yang paling tangguh di antara semua anggota lainnya.


Jika yang paling tangguh saja tidak sanggup melawan, adalan anggota lain yang mampu mengatasinya?


"Kalau begitu, kapan Tuanku ingin mencari orang yang hamba maksud?" tanyanya.


"Sekarang juga aku ingin mencari mereka. Lebih cepat lebih baik,"


"Apakah kita akan pergi berdua?"


"Tentu saja. Biarlah yang lainnya menjaga anakku,"


Dia yang merupakan salah satu dari anggota Lima Orang Tua Perkasa mengangguk. Keduanya segera melangkahkan kakinya keluar untuk mencari keberadaan Huang Taiji dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2