Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ciri-ciri Huan Ni Mo


__ADS_3

Chen Li mendekati semua mayat-mayat yang berserakan itu. Dia mengambil Cincin Ruang milik mereka. Baginya, walaupun isinya tidak bisa dibilang sangat banyak, tetapi jika dikumpulkan rasanya sudah lebih dari cukup untuk membantu sesama.


Setelah mengumpulkan beberapa Cincin Ruang, bocah itu kemudian mendekati yang lainnya.


Huang Taiji tersenyum lembut penuh kasih sayang. Begitu juga dengan San Ong dan Ong San. Bahkan dua siluman harimau bersayap ungu juga sama. Bedanya, kedua siluman itu langsung menjilati tubuhnya.


"Ternyata kemampuanmu semakin matang Li'er, Paman semakin kagum kepadamu," kata Huang Taiji sambil mengelus rambutnya.


Chen Li tersenyum menggemaskan. "Paman terlalu memuji. Ini semua berkat didikan dan pengalaman selama melakukan perjalanan bersama," jawabnya singkat.


Semua urusan sudah selesai. Sekarang sudah waktunya bagi mereka untuk pulang kembali. San Ong menghadap ke dua ekor siluman harimau bersayap ungu.


"Aku akan pergi dari sini sekarang juga. Kalian aku tugaskan untuk menjaga tempat ini. Apapun yang terjadi, jangan sampai kejadian yang sama terulang lagi," tegas San Ong.


Saat bicara seperti barusan, dia menggambarkan sosok pemimpin. Seperti seorang panglima perang yang selalu bicara gagah jika di hadapan bawahannya.


Dua siluman harimau itu mengangguk pelan. Walaupun keduanya tidak bisa bicara, namun mereka mengerti apa yang San Ong bicarakan.


"Sekarang, pergilah,"


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dua siluman itu langsung pergi dari sana. Keduanya terbang melesat masuk ke dalam hutan.


"San Ong, Ong San, kalian juga harus kembali sekarang," kata Chen Li.


"Kami mengerti Tuan muda,"


Chen Li segera mengeluarkan Kantong Siluman, kemudian dia memasukan kedua siluman peliharaannya.


Chen Li dan Huang Taiji segera melesat dari sana. Mereka tidak ingin berlama-lama lagi. Toh, masih banyak masalah yang harus mereka selesaikan.


Terlebih lagi, tugas penting mereka tinggal tersisa satu lagi. Yaitu mencari Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara. Keduanya harus menemukan wanita itu sesegera mungkin.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dua orang itu sudah sampai kembali di sekte sebelumnya. Dia langsung masuk ke dalam ruangan di mana Hu Toan menunggu keduanya.


Terlihat orang tua itu sedang menunggunya bersama beberapa tetua.

__ADS_1


"Apakah Tuan Huang sudah ke sana?" tanyanya begitu melihat Huang Taiji masuk ruangan.


"Sudah. Bahkan sudah membereskan semuanya,"


Hu Toan dan beberapa orang tetua terlihat sangat terkejut sekali.


Apakah yang dikatakannya benar? Atau, keduanya hanya berpura-pura semata?


Bagaimanapun pun, Hu Toan tidak mau langsung begitu percaya. Tapi kembali lagi, semua orang tahu bahwa orang bernama Huang Taiji, selamanya tidak sudi untuk berbohong hanya karena masalah kecil.


Apalagi situasi sekarang sedang darurat, bagaimana mungkin dia bisa berbohong?


"Apakah Tuan Huang tidak berbohong?"


"Aku rasa kau sudah mendengar berita bahwa aku tidak suka berbohong,"


Sebenarnya tidak perlu bertanya lagi juga Hu Toan sudah percaya. Hanya saja, dia ingin memastikan semata. Tapi setelah mendengar jawaban seperti barusan, pada akhirnya orang tua itu hanya mampu tertawa saja.


"Ternyata Tuan Huang memang benar-benar luar biasa. Kagum, aku sungguh kagum. Kalau begitu, mari kita lanjutkan kembali minum arak," ajak Hu Toan sambil menyuruh kedua tamunya duduk.


Mereka mengangguk. Tapi terlihat sekali rasa ketidakpastian di wajahnya.


Karena itulah, Huang Taiji menceritakan seluruh kejadiannya secara singkat. Beberapa orang tua itu tampak berulang kali terkejut. Antara percaya dan tidak percaya.


Tapi setelah mereka ingat orang bagaimanakah Huang Taiji itu, tanpa sadar mulutnya mengeluarkan pujian tulus.


"Benar-benar luar biasa. Andai saja aku bisa menyaksikan pertarungan dahsyat itu secara langsung. Aii, sayangnya aku sudah tua. Kecuali hanya mengurus sekte semampunya saja, selain itu, memangnya apalagi yang dapat aku lakukan?"


Terlihat kesedihan di wajah Hu Toan. Namun hanya sesaat, karena berikutnya dia kembali tertawa.


"Marilah kita merayakan kemenangan ini dengan beberapa cawan arak," katanya sambil tertawa.


Semua orang tertawa. Mereka segera mengisi cawan dengan arak lalu kemudian minum bersama.


"Tuan Hu, apakah kau kenal si Wanita Tombak Asmara?" tanya Huang Taiji setelah selesai bersulang.

__ADS_1


"Maksud Tuan Huang adalah Huan Ni Mo?"


"Benar. Apakah kau tahu bagaimana cirinya?"


"Tentu saja. Siapa yang tidak tahu terhadap dirinya?" Orang-orang di wilayah sini pasti mengenalnya. Karena sudah beberapa kali dia memberikan bantuan,"


"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Huang Taiji antusias.


Hu Hoan termenung sesaat. Matanya menerawang jauh. Sepertinya kakek tua itu sedang mengingat-ingat kembali bagaimana ciri-ciri tokoh wanita yang sudah terkenal itu.


"Dia selalu memakai cadar. Pakaiannya merah muda, mulai dari cadar, dari atas sampai bawah, semuanya merah muda. Di punggungnya selalu terselip sebatang tombak. Di bawah mata tombaknya, terdapat sebuah pita warna merah muda juga. Selain dirinya, rasanya tidak ada lagi tokoh wanita yang mempunyai penampilan hampir serupa. Jadi jika Tuan Huang menemukan wanita yang ciri-cirinya seperti aku sebutkan, dapat dipastikan bahwa dia adalah Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara," jelas Hu Toan kepada Huang Taiji.


"Kira-kira bagaimana wajah dan usianya berapa?"


"Wajahnya sudah pasti sangat cantik. Meskipun sebagian wajahnya selalu tertutup cadar, tapi siapapun pasti dapat menebak bahwa wanita itu memang menawan seperti seorang Dewi. Untuk usianya sendiri, aku rasa baru empat puluh lima tahunan. Hanya saja, dia menguasai semacam ilmu untuk mempertahankan kecantikannya. Sehingga dia selalu tampak lebih muda dua puluh tahunan,"


Huang Taiji dan Chen Li tampak sangat gembira mendengar penjelasan dari Hu Toan. Pada akhirnya mereka tidak perlu sudah mencari-cari informasi tentang tokoh wanita itu.


"Aiii, tidak kusangka ternyata Tuan Hu memiliki pengetahuan yang begitu luas," puji Huang Taiji.


"Tuan Huang terlalu memujiku. Kalau boleh tahu, memangnya ada masalah apa Tuan mencarinya? Barangkali, secara tidak sengaja orang-orangku bertemu dengannya,"


"Tidak ada masalah apa-apa Tuan Hu. Hanya saja, Kepala Tetua Shin Shui menyuruhku untuk mencarinya dan menyampaikan beberapa pesan kepada Wanita Tombak Asmara,"


"Aih, baiklah kalau begitu. Nanti jika orang-orangku bertemu lebih dulu dengannya, akan aku sampaikan pula hal ini,"


"Terimakasih sebelumnya Tuan Hu. Mohon maaf kalau sudah merepotkanmu,"


"Tentu saja tidak. Justru aku yang merasa telah merepotkan Tuan Huang. Sehingga kalian menghadapi sebuah pertarungan hebat, padahal sebelumnya kalian tidak tahu akan masalah ini," ucap Hu Toan sedikit merasa tidak enak.


"Kita masih satu jalan. Toh sesama manusia memang sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu,"


Hu Toan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tuan Hu, aku ada sedikit hasil dari harta rampasan. Sepuluh orang yang sudah mengganggu dan menyebabkan kekacauan di kota ini, Cincin Ruangnya aku ambil. Mungkin ini bisa sedikit membantumu," kata Chen Li lalu menyerahkan beberapa Cincin Ruang.

__ADS_1


__ADS_2