
"Anak pintar hahaha, kau memang pantas menjadi anakku," ujar Shin Shui tertawa kembali.
"Karena itulah aku tidak mati," jawab Chen Li dengan raut wajah gembira.
Wajahnya yang pucat sudah tidak terlihat lagi. Bahkan bocah kecil itu tampak seperti sedia kala. Chen Li sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sudah mengalami luka parah. Dia terlihat segar bugar, bahkan lebih segar dari pada sebelumnya.
"Bagaimana kalau kita bicara sambil makan? Perutku sudah lapar sekali," kata Chen Li memberikan usul.
"Usul yang bagus," timpal Shin Shui.
Mereka berempat segera turun ke bawah. Keempatnya duduk di meja yang terletak di tengah-tengah restoran. Ruangan yang mereka pesan adalah ruangan khusus, ruangan itu hanya mampu dipesan oleh orang-orang kaya atau orang yang mempunyai latar belakang istimewa.
Seorang pelayan datang, Shin Shui segera memesan segala macam makanan mewah. Tidak lupa juga, dia memesan beberapa guci arak termahal yang harum.
Pelayan itu segera pergi untuk menyampaikan pesannya. Di meja tersebut, Huang Taiji langsung bertanya karena dia tidak tahan dengan rasa penasarannya.
"Adik Shin, bagaimana tadi kau bisa tahu bahwa Li'er akan segera siuman?" tanyanya.
"Karena secara tidak langsung, aku melihat ada segulung kekuatan aneh yang menjalar ke seluruh jalan darahnya. Kekuatan aneh itu kemudian menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Li'er. Hebatnya, seluruh luka itu bisa sembuh hanya dalam waktu singkat. Detak jantung Li'er yang sebelumnya lemah, langsung kembali normal. Begitu juga dengan yang lainnya," jawab Shin Shui secara singkat.
Huang Taiji akhirnya mengerti bagaimana Shin Shui bisa mengetahui, begitu juga dengan Huan Ni Mo. Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa mereka mengerti.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa muncul secara tiba-tiba di sini?" tanya Huang Taiji kembali.
"Aku memang sengaja kemari untuk mencari kalian,"
"Kau mengkhawatirkan kami?"
"Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menyuruh kalian segera pulang, sudah terlalu lama kalian pergi mengembara. Terutama Li'er, dia masih harus banyak berlatih lagi. Selain itu, aku yakin bahwa kalian sudah menyelesaikan misi yang aku berikan sebelumnya," kata Shin Shui menjelaskan kenapa dia bisa tiba-tiba muncul.
"Tapi bagaimana mungkin kau tahu secara tepat di mana kami berada?"
__ADS_1
"Ada hal yang bisa diceritakan, ada pula hal yang tidak bisa diceritakan,"
"Meskipun kepada saudara sendiri?"
"Tidak salah," jawab Shin Shui sambil tertawa.
Mereka kembali tertawa bersama untuk yang kesekian kalinya. Jika kedua saudara yang cukup lama tidak bertemu, lalu secara tiba-tiba bertemu kembali, bukankah hal itu sangat bahagia? Jika iya, maka itulah yang kini dirasakan oleh Huang Taiji dan Shin Shui.
"Nyonya Huan, bagaimana? Apakah kau mau menjalankan apa yang ada salam surat itu?" tanya Shin Shui kepada Huan Ni Mo.
"Itu sudah pasti Tuan Shin. Sekalipun kau tidak mengirimkan surat itu, aku akan tetap melakukannya. Hanya saja, aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar bergerak," jawab Wanita Tombak Asmara.
"Bagus, kau memang seorang tokoh yang patut menjadi contoh,"
Huan Ni Mo hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak menjawab pujian Shin Shui barusan.
"Adik Shin, bagaimana keadaan di daerah sekitaran Kotaraja?" tanya Huang Taiji.
Perkataan Shin Shui barusan membuat Huan Ni Mo sedikit kaget. Pada dasarnya sia memang sudah tahu kejadian yang sedang berlangsung di seluruh penjuru saat ini, hanya saja, Wanita Tombak Asmara tidak menyangka bahwa keadaannya benar-benar gawat.
"Sepertinya kita hanya mampu berusaha semaksimal mungkin. Masalah bisa menang atau kalah, kita tidak mempunyai jaminan pasti untuk hal itu," kata wanita tua tersebut.
Apa yang dikatakan Huan Ni Mo sangat berasalan. Jika satu Kekaisaran yang menyerang, mungkin para pendekar di Kekaisaran Wei masih mempunyai keyakinan tinggi untuk meraih kemenangan jika perang berlangsung.
Tapi kalau yang menyerang langsung dua Kekaisaran, maka harapan untuk menang hampir tidak ada. Apalagi, Kekaisaran Wei merupakan Kekaisaran terlemah di antara tiga Kekaisaran Besar yang ada di daratan Tiongkok.
"Benar. Tapi menang atau kalah bukanlah hal yang paling utama. Yang terpenting adalah apakah kita mau berjuang atau tidak? Itu saja," jawab Shin Shui dengan ekspresi wajah serius.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Huan Ni Mo. Meskipun dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi dia sengaja menanyakan hal tersebut. Siapa tahu Shin Shui punya tugas khusus untuk dirinya?
"Menyusun kekuatan yang jauh lebih besar. Dan tentunya kita harus berjuang hingga tetesan darah terakhir," jawab Shin Shui.
__ADS_1
"Baik, aku mengerti. Setelah ini, aku akan menyusun kekuatan lalu menghancurkan mereka yang membuat kekacauan di tanah airku,"
Shin Shui mengangguk tersenyum. Ketika dirinya berhasil mengajak para tokoh utama untuk melawan para penjajah, hatinya selalu senang. Selalu bahagia.
"Ayah, apakah aku boleh ambil bagian lagi?" tanya Chen Li setelah sekian lama membungkam mulutnya.
"Kau masih ingin membunuh?"
"Tentu saja. Apalagi membunuh bangsa penjajah, aku sangat senang melakukannya,"
"Ternyata kau selalu haus untuk membunuh manusia,"
"Bukankah saat Ayah masih muda, Ayah juga selalu haus membunuh? Jika Ayah boleh, kenapa Li'er tidak? Jika Ayah bisa, kenapa Li'er tidak?"
Shin Shui tertawa. Jika anaknya sudah bicara seperti ini, maka Pendekar Halilintar itu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Kepintaran Chen Li memang sangat jauh berbeda dengan orang pada umumnya.
Terkadang, Shin Shui sendiri merasa seperti orang bodoh jika sedang bicara dengan anak kesayangannya tersebut.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan Li'er. Selama hal itu benar, maka Ayah tidak akan melarangmu,"
"Bahkan jika aku membunuh manusia lebih banyak lagi?"
"Jika manusia itu memang pantas untuk dibunuh, kenapa tidak?"
Chen Li tidak menjawab. Dia hanya melemparkan senyuman kepada ayahnya. Senyuman yang mengandung makna tertentu.
Dalam beberapa hal, Chen Li memang sama dengan Shin Shui. Tetapi dalam beberapa hal lainnya, bocah itu justru sangat berbeda dengan ayahnya sendiri.
Makanan yang dipesan sudah tiba semuanya. Empat orang pelayan mengantarkan pesanan mewah Shin Shui. Hanya dalam sekejap mata, meja yang tadinya kosong itu, sekarang mendadak penuh dengan berbagai macam menu mewah dan mahal.
Bau harum segera menyeruak ke seluruh ruangan. Siapapun yang mencium bau makanan itu, niscaya orang tersebut akan merasa lapar saat itu juga.
__ADS_1
Keempat orang itu langsung menyambar hidangan yang sudah tertata rapi itu. Jika dalam hal makanan, Huan Ni Mo tidak pernah merasa malu. Karena itulah, wanita Tombak Asmara itu langsung menyantap dan mencoba semua hidangan yang ada.