
Begitu selesai memecahkan kepala salah satu pendekar, Kakek Tua Jubah Hitam segera bergerak kembali. Tongkatnya dia ayunkan dari sisi kanan ke sisi kiri. Ada hembusan angin kencang yang keluar bersamaan ayunan tongkat tersebut.
Tujuh pendekar sisanya segera menghalau serangan itu dengan jurus mereka. Tapi rupanya Kakek Tua Jubah Hitam bukan hanya mengeluarkan jurus itu saja. Begitu hampir tiba di depan semua lawan, tangannya di hentakkan ke depan sehingga keluar asap berwarna hijau pekat dengan bau yang sangat menyengat.
Tujuh pendekar itu terkejut. Tapi yang terkuat di antara mereka segera melancarkan jurusnya kembali. Benturan demi benturan terjadi menimbulkan sebuah gelombang kejut.
Tanah bergetar karena benturan jurus yang tiada henti itu.
Di dalam hutan, pertarungan sengit juga sedang berlangsung.
Dua bocah kecil sedang melawan puluhan pendekar yang memiliki otak licik. Kedua bocah itu terkepung di antara puluhan pendekar tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Eng Kiam dan Chen Li?
Walaupun musuh meraka berjumlah puluhan, tetapi tidak ada rasa gentar di dalam dada kedua bocah itu.
Eng Kiam saat ini sedang melawan sepuluh Pendekar Bumi tahap dua akhir. Di tangan gadis itu terdapat sebuah pedang perak. Sekilas memang biasa saja, tetapi sebenarnya pedang tersebut adalah pedang yang sangat berbahaya.
Seluruh batang pedang sudah di lumuri oleh sebuah racun ganas. Selama orang tersebut tidak memiliki pondasi dasar yang kuat, maka hanya dengan sekali gores saja korban akan segera tewas dengan tubuh menghitam.
Eng Kiam saat ini sedang menari di antara puluhan jurus lawan. Walaupun sepuluh lawannya berkekuatan Pendekar Bumi tahap dua akhir, tapi jika menyerang bersama maka akan sedikit sulit. Walaupun hal itu bukan masalah yang terlalu berarti.
Gadis itu saja sekarang baru mencapai tingkatan Pendekar Langit tahap tiga akhir. Meskipun begitu, tapi jurusnya cukup untuk menggetarkan mental lawan.
Pedangnya berkelebat mencari sasaran. Setiap kali sambaran pedangnya membelah udara, maka akan tercium bau amis yang menyengat.
Eng Kiam sudah bertarung selama dua belas jurus lebih. Satu persatu dari musuhnya mulai meregang nyawa karena sabetan dan tusukan pedang racun miliknya. Sepuluh jurus berikutnya, dia telah berhasil mengalahkan semua Pendekar Bumi.
Kini yang harus dia hadapi adalah mereka para Pendekar Langit. Eng Kiam tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua dalam sekali pertarungan. Apalagi jumlah mereka ada enam orang.
Namum yang pasti, dia tidak akan mundur walau satu langkah sekalipun. Baginya mati lebih baik daripada lari dari sebuah pertarungan.
__ADS_1
Sementara itu di sebelahnya, Chen Li juga sedang bertarung melawan mereka para Pendekar Bumi. Sepuluh lawan telah mengepung dari segala sisi.
Bocah itu terlihat sangat tenang. Seruling giok hijau warisan dari kakek gurunya sudah tergenggam erat di tangan.
Kalau sudah seperti ini, maka tidak akan ada yang membuatnya takut. Sekalipun kematian sudah menantinya.
Bocah itu sedang bergerak menumpas satu persatu lawannya. Dengan kekuatannya yang sudah mencapai Pendekar Langit tahap satu pertengahan, maka bukanlah hal berarti kalau bertarung melawan satu atau dua Pendekar Bumi.
Tapi kalau jumlahnya sepuluh orang dan menyerang sekaligus? Itu artinya dia harus menguras tenaga dan mengeluarkan kemampuannya untuk mengimbangi semua lawan.
Seruling giok hijau sudah bergerak ke segala penjuru. Sinar hijau mengiringi setiap kali seruling itu melesat. Totokan dan hantaman sudah Chen Li keluarkan.
Gerakannya semakin lama semakin lincah. Hal ini terjadi karena dia sudah sering melakukan sebuah pertarungan berbahaya yang mengancam nyawanya. Bahkan setiap kali Chen Li bertarung, dipastikan lawannya justru berada di atas kemampuannya sendiri.
Karena alasan itulah Chen Li sudah tahu bagaimana menghadapi serbuan lawan. Bagaimana menghadapi mereka yang kekuatannya di atas dia sendiri. Jurus yang dia kuasai semakin matang. Perlahan namun pasti dasarnya sudah mulai kokoh.
Tanpa sadar, Chen Li menjadi bocah yang lebih istimewa daripada bocah lainnya.
Aura pembunuh yang sudah terserap secara otomatis jika telah membunuh lawan, sudah mulai merembes keluar membebani para pendekar itu.
Sebuah aura hitam tipis berkumpul mengelilingi tubuh kecil Chen Li. Walaupun aura itu belum sekuat milik ayahnya, tetapi bagi dia sudah lebih dari cukup. Sebab dengan aura tersebut, Chen Li bisa memanfaatkannya untuk mempengaruhi gerakan musuh.
Apalagi hampir semua pendekar yang sudah dia bunuh berada di atas kekuatannya sendiri.
Memasuki jurus kedua puluh tiga, sepuluh Pendekar Bumi telah rata oleh seorang bocah bernama Chen Li.
Namun sebagai konsekuensinya, dia sendiri mulai merasa kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga unruk jurus-jurusnya.
Melihat semua rekannya tewas, sepuluh Pendekar Bumi yang tersisa lainnya tidak tinggal diam. Mereka serempak maju dan melancarkan jurusnya untuk menghabisi Chen Li.
Namun bocah itu tidak tinggal diam. Dia mengkonsumsi beberapa pil penambah energi dari ayahnya. Dengan pil itulah Chen Li menghalau semua jurus lawan.
__ADS_1
Serulingnya dia julurkan ke depan untuk menahan berbagai jurus tersebut. Walaupun tubuhnya bergetar karena hampir tidak kuasa menahannya, tapi dia mencoba untuk tetap menguatkan diri.
Setelah beberapa saat beradu jurus, Chen Li membentak nyaring. Semua jurus musuh seketika musnah karena sabetan seruling, pemiliknya segera melesat menerjang ke depan.
"Menggempur Harimau di Hutan …"
"Wushh …"
Chen Li mengeluarkan jurusnya. Begitu tiba di hadapan semua lawan, seruling saktinya segera memberikan gempuran serangan. Totokan dan hantaman sudah dia keluarkan menerjang semua pendekar.
Awalnya mereka mampu mengimbangi gerakan bocah itu, tapi lama kelamaan, sepuluh Pendekar Bumi tersebut mulai kewalahan. Semakin lama Chen Li bergerak, semakin hebat juga sepak terjangnya.
Bentakan demi bentakan mulai keluar dari kulit mereka. Satu persatu lawan berhasil dia tewaskan. Ketika mencapai jurus kesembilan belas, enam orang Pendekar Bumi sudah meregang nyawa.
Empat sisanya mulai merasa gentar. Bocah kecil yang di hadapannya kini benar-benar kejam. Tidak memiliki perasaan. Apalagi setiap kali dia membunuh, ada sebuah senyuman kejam tersungging di sudut bibirnya.
Menjelang jurus ke dua puluh sembilan, empat Pendekar Bumi menyusul enam rekannya tanpa mampu memberikan sebuah perlawanan berarti.
Pertarungan berhenti sejenak. Sekarang di hutan tersebut yang tersisa tinggal delapan belas Pendekar Langit tahap tujuh pertengahan.
Eng Kiam dan Chen Li sudah berdiri saling membelakangi. Tidak ada yang mereka ucapkan, karena kalau sedang seperti ini memang lebih baik tidak usah bicara.
Tapi lakukan saja kerja sama sebaik mungkin.
Sementara itu, Shin Shui masih menggempur enam lawan yang tersisa. Sasaran utamanya saat ini adalah Pendekar Dewa tahap lima. Puluhan jurus sudah mereka lalui bersama.
Tetapi semakin lama bertarung, semakin mengerikan juga sepak terjang Shin Shui. Pedang Halilintar setidak detik menebarkan ancaman kematian bagi semua lawannya.
Si Pendekar Dewa tahap lima mulai merasa menyesal karena sempat terpisah dari empat rekannya. Sekarang dia harus bersusah payah menghadapi amarah Shin Shui yang semakin menggila.
Beberapa kali tubuhnya terlontar karena jurus Shin Shui. Entah sudah berapa banyak juga hantaman dan goresan pedang yang bersarang di tubuhnya.
__ADS_1