
Mendengar pertanyaan Ong San, Shin Shui langsung meliriknya. Tapi dia tidak langsung menjawab. Pendekar Halilintar itu meneguk guci araknya sekali lagi sebelum bicara.
Setelah itu, Shin Shui menghela nafas dalam-dalam untuk sekedar menenangkan pikirannya.
"Tidak ada," jawabnya pelan sambil tersenyum berusaha untuk menutupi keadaan sebenarnya.
"Tuan Muda, semua manusia yang ada di muka bumi ini, dari pertama manusia diciptakan sampai sekarang, rasanya belum ada seorang pun manusia yang tidak mempunyai masalah. Siapapun dia, pasti mempunyai masalahnya masing-masing. Bahkan aku atau mungkin juga dirimu, pasti ada masalah," kata Ong San tidak percaya kepada tuannya.
"Memang benar. Apa yang kau ucapakan adalah kenyataan, tapi masalahku bisa aku hadapi sendiri. Aku masih kuat,"
"Kau bukan kuat, tapi menguatkan,"
"Bagaimana kau bisa bicara seperti itu kepadaku?"
"Wajahmu yang mengatakannya. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa di balik senyumanmu, terdapat sebuah beban besar yang saat ini sedang kau hadapi. Dan kau sendiri, merasa lelah dan ingin melepaskan beban itu dengan segera. Hanya saja, sayangnya kau tak sanggup melakukan hal tersebut,"
Shin Shui langsung terdiam. Perkataan sahabatnya sangat menusuk hati. Semua yang dikatakan memang benar. Tapi dia masih tetap berusaha untuk menutupinya dengan terus menerus berkata tidak.
"Walaupun seribu kali kau berkata tidak, tetap saja aku tidak akan percaya. Kalau kau menganggapku sebagai sahabatmu, ceritakan masalahmu. Seorang sahabat akan saling membantu sahabatnya sendiri. Suka dan duka dilewati bersama, itu baru namanya sahabat," ucap siluman kera putih itu lalu menenggak guci araknya.
Shin Shui tidak menjawab. Karena memang dia tidak menemukan jawaban yang tepat.
Masalah besar memang sedang dia hadapi saat ini. Dan dia juga memang ingin lepas dari masalah tersebut. Sayangnya, Shin Shui tidak sanggup. Dia sama sekali tidak mampu untuk lepas dari masalahnya.
"Belajar dari mana kau sehingga bisa bicara seperti ini? Bahkan kau mulai berani berkata demikian kepadaku," ujar Shin Shui sedikit terkejut.
Selama mereka saling kenal, rasanya baru-baru ini saja baik San Ong maupun Ong San berani berkata sedemikian jauhnya kepada Shin Shui.
Dia sendiri ingin tidak percaya. Sayangnya, dia harus percaya karena kejadian ini memang nyata.
"Bukankah Tuan Muda sendiri yang dulu selalu bicara apa yang aku bicarakan barusan? Tuan Muda yang mengajarkan, Tuan Muda juga yang memberitahukan. Lalu, kenapa Tuan Muda malah seperti ini? Bukankah lucu?"
"Degg …"
Ucapan Ong San barusan benar-benar sampai ke lubuk hatinya yang terdalam.
Dia memang selalu bicara ini itu kepada orang-orang terdekatnya. Memberikan solusi bagi yang punya masalah. Memberikan bantuan bagi yang membutuhkan.
Lalu sekarang, kenapa dia malah seperti itu?
"Hahaha, kau benar. Aku jadi ingat sekarang, maafkan aku," kata Shin Shui tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ong San.
Ong San juga tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rata. Bagaimanapun juga, dia tetaplah seekor siluman kera. Sedikit banyaknya, naluri dan kebiasaan seekor hewan atau siluman, tetap menempel dalam dirinya.
__ADS_1
"Jadi sekarang bagaimana, kau masih tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku?" tanya Ong San sekali lagi.
"Tentu saja aku mau. Karena kau sahabatku," jawab Shin Shui.
Sebelum bicara, dia kembali menenggak arak.
"Sebenarnya tujuanku ke perbatasan Timur adalah untuk mencari seseorang,"
"Siapa?" tanya Ong San mulai serius.
"Orang yang sudah menyamar menjadi diriku,"
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan kepada Tuan Muda?".
"Hemm, intinya dia selalu membuat masalah atas namaku. Sehingga sekarang namaku sedikit jelek karena perbuatan orang tersebut,"
"Lalu, apakah Tuan Muda mengetahui siapa dia sebenarnya?"
"Tidak. Tapi aku yakin bahwa pelakunya merupakan pendekar dari luar Kekaisaran Wei,"
"Mungkin bisa juga. Apakah yang kau maksudkan dia itu berasal dari Kekaisaran Sung?"
"Bagaimana kau tahu aku menyangka hal itu?"
"Tepat," kata Shin Shui kegirangan.
"Kapan Tuan Muda akan berangkat?" tanya Ong San.
"Mungkin besok pagi hari,"
"Kami ikut,"
"Tidak, kalian diam saja di sini. Terlebih lagi kondisi San Ong, dia belum sembuh total,"
Shin Shui tentu saja tidak ingin merepotkan kedua sahabatnya tersebut. Awalnya dia memang berniat mengajak mereka, tapi setelah mendapati bahwa keadaannya tidak sesuai harapan, maka Pendekar Halilintar tentu tidak akan mengajak dua siluman kera tersebut.
"Siapa bilang aku belum sembuh?"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
San Ong.
Siluman kera putih itu berjalan dengan tenang dan langkahnya ringan. Bahkan sekarang dia terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya.
__ADS_1
"Nah, Tuan Muda mendengar sendiri bukan? Jadi, kau masih tetap tidak ingin mengajak kami?" tanya Ong San.
"Tapi aku …"
"Kalau Tuan Muda tetap tidak mau mengajak kami, lebih baik kita tidak pernah bertemu lagi," tegas San Ong lalu duduk di pinggir Ong San.
Shin Shui kebingungan. Kedua sahabatnya telah mengucapkan kata-kata pamungkas.
Tentu saja dia tidak ingin kehilangan dua sahabatnya. Lagi pula, apakah ada orang yang ingin kehilangan sahabat baiknya sendiri? Tentu saja tidak. Siapapun tidak mau kehilangan sahabatnya.
Dah itu pasti.
"Hahh …" dia menghembuskan nafasnya. "Baiklah, baiklah. Kalian boleh ikut," kata Shin Shui tidak bisa lagi menolak.
"Itu baru betul," kata San Ong kegirangan.
Kedua siluman kera itu melompat-lompat saking senangnya. Mereka kembali berpesta arak seperti beberapa hari lalu.
Pagi harinya, tiga sahabat tersebut telah melakukan persiapan. Ketiganya sudah siap untuk berangkat ke satu daerah di perbatasan Timur.
Saat ini mereka sedang sarapan sambil menikmati matahari terbit bersama udara yang sejuk. Rusa panggang telah matang, arak sudah disiapkan.
Mereka sarapan bersama diselingi canda tawa.
Setalah semua persiapan selesai, ketiganya kemudian menuruni Gunung San-ong.
Shin Shui sengaja tidak terbang karena ingin menikmati perjalanan bersama dua sahabatnya. Padahal kalau dia mau, San Ong dan Ong San bisa dimasukkan terlebih dahulu ke Kantong Siluman.
Sayangnya dua siluman kera tersebut tidak mau. Mungkin karena mereka sudah merasa rindu akan perjalanan seperti yang saat ini mereka lakukan bersama.
"Hahh … akhirnya kita merasakan perjalanan yang sudah kita idamkan selama ini San Ong. Akhirnya kita keluar dari sarang …" teriak Ong San lalu diikuti oleh suara tawa khas seekor kera.
Dua siluman bersaudara itu sesekali bergelayutan di dahan-dahan pohon yang ada di sekitar mereka.
Ketiganya tampak sangat menikmati perjalanan ini.
Sesuatu yang sudah mereka bayangkan. Berjalan bersama. Berlari bersama. Dan melewati semua bersama pula.
Apakah kebersamaan ini akan terus berlanjut seperti dahulu kala? Atau kebersamaan ini hanya akan sampai di sini saja?
Belum ada yang mengetahui secara pasti apakah kedua siluman kera itu akan kembali mengikuti Pendekar Halilintar dalam membela kebenaran atau tidak.
Yang jelas, apapun bisa terjadi.
__ADS_1