
"Kau sudah kembali?"
"Sudah," jawab Chen Li lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Ah Kui.
Orang tua itu langsung membalikkan tubuhnya. Sekarang keduanya telah berhadapan satu sama lain, sama halnya seperti kursi tersebut.
Tangan kirinya kemudian menuangkan arak kepada cawan Pendekar Tanpa Perasaan. Setelah itu, mereka berdua langsung bersulang lalu segera meneguk araknya masing-masing.
"Bagaimana, apakah semuanya lancar?"
"Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan," jawab Chen Li sambil menganggukkan kepalanya.
Ah Kui tersenyum. Senyuman itu terlihat hangat. Tapi dalam hati, justru sebaliknya.
Dia khawatir Pendekar Tanpa Perasaan tidak sanggup melakukan apa yang sudah dia ucapkan. Meskipun pemuda itu sudah mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, namun Ah Kui sendiri belum mengetahui seberapa tingginya kekuatan tersebut.
"Apa saja yang kau bicarakan dengan mereka?"
"Aku tidak bicara apa-apa. Aku hanya mengatakan tujuanku ingin menghancurkan Organisasi Elang Hitam, setelah itu aku menantang mereka semua," kata Pendekar Tanpa Perasaan dengan tenang.
Ah Kui terkejut, sepasang bola matanya yang berwarna cokelat kehitaman itu hampir saja keluar.
Apa yang dilakukan Chen Li sungguh diluar dugaannya. Dia tidak menyangka bahwa bocah tersebut benar-benar menantang semua tokoh Organisasi Elang Hitam.
Kalau orang lain yang berkata, sekalipun dia seorang Kaisar, Ah Kui pasti tidak akan percaya. Untung yang bicaranya merupakan pelakunya sendiri. Apalagi ditambah dia sudah mengetahui semuanya. Sehingga mau tak mau orang tua itu tetap harus percaya.
"Kau gila," katanya setengah kagum setengah khawatir.
"Aku memang sudah gila. Kalau tidak gila, mana mungkin berani menantang seratus tokoh Organisasi Elang Hitam itu," ujarnya sambil tertawa.
"Aii, aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu yang sebenarnya," ucap mantan tokoh Organisasi Elang Hitam itu.
"Jalan pikiran dan tujuanku melakukan semua ini sangat sederhana,"
"Apa itu?"
"Aku hanya membalaskan dendam berdarah dan ingin nama Organisasi Elang Hitam lenyap dari muka bumi," tegas Chen Li dengan suara penuh amarah tertahan.
Ah Kui tidak berkata lagi. Kalau sudah bicara masalah dendam, orang tua itu lebih memilih untuk diam.
Meskipun dia tidak mengetahui seberapa dalam dendam Pendekar Tanpa Perasaan terhadap Organisasi Elang Hitam, tapi sedikit banyak dia mengerti bahwa di balik semua ini ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
"Kapan kau akan bertempur dengan semua tokoh Organisasi Elang Hitam?" tanya Ah Kui lebih lanjut.
__ADS_1
"Saat bulan purnama. Aku mengajak mereka bertemu di padang rumput Gunung Bok San,"
"Aku ingin membantumu,"
"Tidak boleh," ucap Pendekar Tanpa Perasaan langsung memberikan sebuah jawaban tegas.
"Kenapa?"
"Inu urusanku. Ini dendamku, kau tidak asa sangkut pautnya dengan masalah ini. Lagi pula, kau merupakan mantan bagian dari mereka. Jika kau membantuku, maka nyawamu akan terancam, bukan tidak mungkin saat pertemuan nanti kau bakal mampus," ucap Chen Li menjelaskan.
"Tapi aku …"
"Sekali aku berkata tidak, seribu kalipun tetap tidak,"
Ah Kui terkulai lemas. Dia tidak tahu lagi harus bicara apa. Namun yang jelas dia sudah paham bahwa siapapun tidak akan ada yang sanggup menghalangi pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu.
"Baiklah. Aku mengerti," katanya sambil tertunduk.
"Bagus," jawab Chen Li singkat.
Malam semakin larut. Kentongan kedua telah lewat. Suasana di restoran itu mulai sepi. Para pengunjung semakin banyak yang sudah berpulang. Suasana di Kotaraja, meskipun tidak mati, tapi saat ini kota tersebut terlihat sedikit sepi.
"Aku pergi dulu. Semua biaya kita sudah aku bayar sebelumnya. Kau tenanglah di sini," kata Ah Kui sambil berdiri. Tanpa menoleh lagi dia langsung berjalan menuruni anak tangga restoran.
###
Ah Kui sedang berada di sebuah jalanan yang bisa dibilang sangat sepi. Orang-orang yang berlalu lalang tidak banyak, paling hanya beberapa orang saja.
Orang tua itu berjalan dengan santai. Entah ke mana tujuannya, karena dia sendiri tidak mengetahui secara pasti.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua sosok manusia berjubah hitam pekat tiba-tiba menghadang jalan Ah Kui. Keduanya memakai kerudung yang sama hitam. Di jalanan yang sepi ini, di malam yang gelap begini, kedua sosok tersebut tidak mirip manusia. Keduanya lebih mirip seperti setan atau iblis yang bakal merenggut nyawa.
"Ternyata pengkhianat itu kau," kata seorang di antara dua sosok tersebut dengan nada bengis.
Saat dia bicara, wajahnya bertambah angker. Suaranya seperti setan. Sama seperti sinar yang mencorong keluar dari matanya tersebut.
"Benar, memang aku," jawab Ah Kui.
Meskipun kedua sosok di hadapannya memperlihatkan amarah yang mendalam, tapi sedikitpun Ah Kui tampak tidak takut. Bicaranya masih tenang. Wajahnya juga tenang. Seolah masalah apapun tiada yang sanggup membuatnya takut ataupun cemas.
"Kenapa kau mengkhianati kami?"
__ADS_1
"Karena aku sudah lelah menjalani hidup seperti ini,"
"Tapi bukan berarti kau harus melakukan pengkhianatan,"
"Itu hakku. Aku bebas melakukan apapun,"
"Hemm, ternyata kau sudah menjadi manusia sombong seperti pemuda ingusan bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu," jengek seorang lagi kepada Ah Kui.
Orang tua itu terdiam. Dia tidak ingin melayani dua sosok yang merupakan utusan dari Organisasi Elang Hitam tersebut. Ah Kui mulai melangkah tanpa menghiraukan mereka, hanya saja belum jauh dia berjalan, mereka berdua telah kembali menghadangnya.
Tanpa memberikan peringatan ataupun berkata sebelumnya, kedua urusan tersebut telah menerjang ke muka. Mereka segera melancarkan serangan ganas dengan senjata pusakanya yang berupa golok dan trisula perak.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua sinar hitam dan putih keperakan sudah melesat ke depan Ah Kui. Keduanya menyerang dengan kekuatan tertinggi. Seluruh kekuatan dan seluruh hawa kematian mereka salurkan dalam serangan tersebut.
Berbarengan dengan serangan itu, keduanya juga turut melancarkan dua jurus kelas atas.
Semuanya serangan yang membawa maut. Tidak ada kesempatan lagi bagi Ah Kui untuk menghindar.
Trangg!!! Trangg!!! Clangg!!!
Benturan senjata terjadi. Kedua senjata pusaka yang selalu diandalkan itu tiba-tiba patah menjadi dua bagian.
Pada saat keduanya belum mengetahui kejadian sebenarnya, dua sinar biru terang telah menerjang lalu memenggal kepala mereka.
Crashh!!! Crashh!!!
Dua kepala manusia menggelinding jatuh ke bawah. Disusul kemudian oleh dua tubuh yang langsung ambruk.
Ah Kui tidak bergerak. Dia hanya sedikit kaget karena kehadiran seseorang yang telah menolongnya barusan.
Pendekar Tanpa Perasaan.
Orang yang sudah menyelamatkan selembar jiwanya memang pemuda itu.
Chen Li masih membelakangi Ah Kui. Kedua tangannya masih mengepulkan asap putih. Ternyata dia membunuh kedua orang tadi dengan dua batang pisau energi berkekuatan dahsyat.
"Terimakasih," ucap Ah Kui sambil menjura.
"Tidak perlu berterimakasih. Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa selama bersamaku, tidak akan kubiarkan seorangpun yang menyentuhmu," jawab Chen Li masih tanpa menoleh.
Ah Kui membungkam mulutnya.
__ADS_1
Sekarang orang tua itu percaya bahwa ucapan Pendekar Tanpa Perasaan pada waktu pertama dekat dengannya memang benar. Sekarang pemuda tersebut sudah membuktikannya.