Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Semua Orang Terkejut


__ADS_3

Setelah posisi dirinya sudah tepat berada di tengah-tengah orang-orang tersebut, Pendekar Tanpa Perasaan langsung menghentikan langkahnya.


Meskipun tidak ada angin, tapi jelas terlihat jubahnya berkibar dengan agung.


Dari puluhan tokoh yang hadir di sana, seorangpun belum ada yang bergerak. Mereka masih berdiri di tempatnya masing-masing.


Chen Li menatap tajam kepada sosok tua yang sedang duduk di sebuah kursi singgasana itu. Pemuda tersebut tersenyum dingin penuh ejekan.


Dia sudah mengetahui siapa gerangan karena pada tiga tahun lalu, Pendekar Tanpa Perasaan pernah bertemu dengannya. Bagi dia sendiri, sosok tersebut sangat tidak asing sekali.


Sosok tua yang dimaksud adalah Hong Hua. Si orang tua yang pernah mengadakan perjanjian dengan Pendekar Merah tiga tahun lalu.


"Kita bertemu lagi," kata Chen Li dingin.


Hong Hua mengerutkan keningnya. Sepasang matanya menatap selidik ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


"Siapa kau? Aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya," ucap Hong Hua acuh tak acuh.


"Tiga tahun tidak bertemu, ternyata kau sudah melupakanku,"


"Tiga tahun? Sebenarnya siapa dirimu?"


"Kau masih ingat dengan Pendekar Merah?"


Hong Hua tidak langsung menjawab. Dia berpikir sesaat, sepertinya sedang mengingat-ingat julukan tersebut.


"Ah, iya, aku ingat," kata Hong Hua.


"Bagus. Pendekar Merah itu adalah aku. Dan aku, adalah Pendekar Tanpa Perasaan dari Kekaisaran Wei. Datang kemari untuk membalaskan dendam berdarah. Sekaligus aku ingin menghancurkan semua orang yang ada di sini," tegas Chen Li langsung menjelaskan terkait kedatangannya.


Aura mengerikan seketika merembes keluar dari seluruh tubuh pemuda serba putih itu. Lantai yang dia pijak hancur. Kakinya sedikit amblas. Dari lantai tersebut keluar asap putih yang mengepul.


Suasana di sana langsung gempar. Terlebih lagi puluhan orang yang ada di ruangan tersebut. Mereka saling pandang dengan rekan yang ada di sampingnya masing-masing.


Semua orang bertanya-tanya. Semuanya merasa penasaran.


Mereka masih mengingat pada tiga tahun lalu Hong Hua telah mengatakan bahwa Pendekar Merah telah mati. Bahkan dia berkata bahwa dirinya yang sudah membunuh pendekar yang menggemparkan jagat persilatan itu.


Tapi kenapa sekarang ada seorang pemuda yang juga mengaku Pendekar Merah? Apakah dia berkata yang sebenarnya?

__ADS_1


"Bohong. Kau pasti bohong," bentak Hong Hua sambil menunjuk ke arah Chen Li.


"Untuk apa aku berbohong? Kau masih ingat pedang ini?" tanya Chen Li sambil memperlihatkan Pedang Merah Darah.


Hong Hua semakin tersentak. Puluhan tokoh yang lainnya juga sama. Di mata mereka, pedang tersebut sudah tidak asing lagi.


Sebab siapapun tahu bahwa pedang itulah yang dipakai oleh Pendekar Merah untuk menghancurkan markas cabang Organisasi Elang Hitam tiga tahun lalu.


"Kauuu …" teriak Hong Hua semakin dibuat marah oleh Chen Li.


"Hahaha, kau pasti tidak menyangka bahwa aku akan kembali lagi bukan? Hemm, asal kau tahu saja, dulu aku menyetujui perjanjian itu karena ilmuku belum sempurna. Oleh sebab itulah aku mau bekerja sama denganmu agar aku bisa selamat. Tapi sekarang … sekarang ilmuku sudah sempurna. Karena itu aku datang lagi kemari untuk menghancurkan segalanya," teriak Chen Li sambil tertawa lantang.


Suara tawa itu sangat menyeramkan. Seperti suara Raja iblis yang gembira karena siasatnya berhasil. Suara itupun mengandung satu kekuatan dahsyat yang sanggup menggetarkan tempat tersebut.


"Bedebah. Kalau aku tahu bahwa itu adalah dirimu, sudah sejak dulu aku membunuhmu,"


"Sayang, semuanya sudah terlambat. Dulu, mungkin aku bisa mampus jika melawan delapan belas tokoh persilatan itu. Tapi saat ini, jangan harap," tegas Pendekar Tanpa Perasaan sambil menyeringai.


Hong Hua semakin marah. Wajahnya mendadak memerah. Sepasang matanya melotot dengan tajam. Seolah mata itu ingin menerjang keluar. Seluruh otot di tangannya terlihat menghijau. Sedangkan otot di wajahnya seketika mengencang.


Hal yang sama bukan hanya dirasakan oleh orang tua itu, bahkan para tokoh yang lain juga merasakan amarah yang serupa.


Semua tokoh itu sudah berada dalam posisi kuda-kuda. Mereka siap membunuh pemuda sombong kapanpun itu.


"Hahaha …" Hong Hua tertawa sangat lantang.


"Kenapa kau malah tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Chen Li.


"Ada,"


"Apa?"


"Kau … kau yang lucu. Apakah kau pikir bisa mewujudkan apa yang tadi dikatakan? Kau mungkin bisa melewati semua rintangan sebelumnya, tapi jangan pernah berharap bisa menghadapi semua orang yang ada di sini," tegas Hong Hua penuh keyakinan.


"Percaya tidak percaya itu hakmu. Tapi harus kau ingat bahwa aku sanggup mewujudkan semua perkataanku,"


"Hahaha … bocah kemarin sore sudah berani berlaku kurang ajar di hadapanku. Kau pikir dirimu manusia terkuat? Atau manusia yang tidak dapat mampus? Orang-orang yang ada di sini semuanya tokoh kelas atas dunia persilatan. Jumlah keseluruhannya ada seratus satu orang," ujar Hong Hua dengan sangat bangga.


"Aku tahu,"

__ADS_1


"Kalau sudah tahu, kenapa kau masih berlaku sombong?"


"Sudah aku katakan, alasannya karena aku sanggup membuktikannya,"


Hong Hua masih tetap tertawa. Bahkan suara tawanya mengeluarkan satu gelombang kekuatan yang hebat. Seisi ruangan tersebut bergetar cukup hebat.


"Bocah ingusan, kau bisa masuk kemari, tapi jangan harap bisa keluar dari sini. Sekarang juga kau harus mampus," teriak salah seorang tokoh tua yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


Tokoh tersebut berpakaian merah darah. Jubahnya berwarna hitam legam. Matanya tinggal satu, yang satu lagi ditutup oleh kain hitam bulat. Di pipi sebelah kanannya terdapat sebuah luka codetan yang cukup panjang. Di pinggang sebelah kanan terdapat satu batang golok hitam yang pastinya sangat tajam.


Saat dia selesai berkata, tubuhnya seketika itu juga terus melesat menerjang ke arah Chen Li.


Golok hitam yang tajam tersebut langsung dicabut berbarengan pada saat dirinya menyerang. Satu jurus dia keluarkan secara berbarengan.


Sinar merah membentuk gelombang cukup besar.


Wushh!!! Wuttt!!!


Serangan tiba. Serangan itu sudah di depan mata.


Pendekar Tanpa Perasaan segera melompat tinggi.


Pedang Merah Darah telah dihunus. Satu jurus lainnya melesat lalu berbenturan dengan jurus tersebut.


Blarr!!!


Wushh!!!


Crashh!!!


Cahaya putih menerjang ke depan. Sinar merah darah yang lebih pekat menebas dengan kecepatan diluar nalar.


Hanya sesaat saja, pertarungan tersebut seketika berhenti. Tokoh tua yang tadi maju ke depan sekarang telah mampus. Kepalanya terlempar ke arah kerumunan para tokoh yang hadir.


Pendekar Tanpa Perasaan kembali ke posisi berdirinya semula. Tubuh itu masih tegap.


Pedang Merah Darah yang baru saja menelan korban telah kembali ke sarungnya dengan cepat.


Semuanya terjadi dalam waktu singkat. Meskipun singkat, tapi kejadian sebenarnya sangatlah dahsyat.

__ADS_1


Hong Hua tersentak. Dia masih tidak percaya bahwa apa yang terjadi barusan, ternyata merupakan kenyataan.


__ADS_2