Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bukit Hitam


__ADS_3

"Tapi Tuan Muda, aku …" belum sempat Ong San menyelesaikan perkataannya, Shin Shui telah memotong pembicaraan lagi.


"Kau masih ingat bukan bahwa jika aku sudah bertekad, tidak ada satupun yang mampu menghalangiku?" Shin Shui berkata dengan tajam. Sorot matanya menggambarkan kemarahan yang kapan saja bisa meledak seperti halnya bom waktu.


Ong San langsung membungkam mulutnya. Dia menjadi peliharaan Pendekar Halilintar cukup lama. Berbagai macam suka duka sudah mereka lewati bersama.


Sehingga sedikit banyaknya, masing-masing dari mereka sudah paham sifat dan karakter yang dimiliki.


Ong San memang tahu bagaimana sifat Shin Shui, majikannya. Kalau orang itu sudah bertekad terhadap sesuatu, maka tidak ada lagi yang mampu menahannya.


"Baiklah. Maaf, aku merepotkan Tuan Muda," kata Ong San sambil menundukkan kepalanya.


Berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu dalam benaknya.


"Jangan cengeng seperti itu. Berikan obat ini jika San Ong mengalami sakit lagi, walaupun tidak lama, setidaknya cukup untuk menahan rasa sakit yang di akibatkan Telapak Tangan Seribu Racun Bisa Ular," ucap Shin Shui lalu melemparkan sebotol pil kepada Ong San.


"Baik Tuan Muda, terimakasih. Berhati-hatilah," kata Ong San.


Shin Shui hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. Detik selanjutnya, dia langsung melesat menembus kegelapan hutan. Saat di sebuah jurang, Pendekar Halilintar memilih terbang untuk mempersingkat perjalanannya.


Dalam situasi seperti sekarang ini, Pendekar Halilintar tidak mau berlama-lama. Dia ingin sampai di tempat tujuan sesingkat mungkin. Masalah mencari sosok yang menyamar menjadi dirinya, menjadi masalah nomor dua.


Bagi Shin Shui, urusan sahabat lebih penting daripada urusan diri sendiri.


Terkadang memang ada saatnya kita mementingkan urusan seorang sahabat daripada urusan kita.


Setiap sahabat sejati, sudah pasti pernah mengalami posisi seperti Shin Shui sekarang.


Mereka akan berkorban segalanya hanya demi sahabatnya.


Sayang, orang-orang seperti itu di zaman sekarang, terkadang berkorban kepada seseorang yang salah.


Entah dia yang bodoh, atau orang yang ditolong memang tidak tahu budi. Sebab masalah ini masih menjadi misteri hingga sekarang.


Yang jelas, kasus kesalahan dalam hal menolong orang, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

__ADS_1


Hari pertama berhasil di lewati tanpa ada gangguan sedikitpun. Shin Shui tidak berhenti menempuh perjalanannya. Dia hanya berhenti untuk hal-hal pokok saja.


Kadang kala Pendekar Halilintar itu memilih untuk terbang. Atau kadang kala dia memilih untuk berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya hingga ke titik puncak.


Baru di hari kedua, ada satu masalah yang menghadang perjalanan Shin Shui.


Saat itu malam hari, dia sedang berlari di jalanan yang sudah sepi di sebuah desa yang entah apa namanya. Pendekar Halilintar melihat ada seorang pendekar tua yang sedang dikeroyok oleh enam orang pendekar aliran hitam.


Karena melihat si pendekar tua berada posisi di ujung tanduk, maka tentu saja Shin Shui tidak tinggal diam. Dia turut membantu si pendekar tua dan menghajar enam pendekar aliran hitam.


Hanya dengan beberapa puluh gebrakan, lima pendekar itu terkapar tak bernyawa. Sedangkan satu lagi, yang diduga pemimpin keenam pendekar, berhasil melarikan diri.


Saat itu Shin Shui sengaja tidak mengejarnya, sebab kondisi si pendekar tua terbilang sudah sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah dan terkena beberapa jurus beracun.


Untung pada saat itu ada Shin Shui si Pendekar Halilintar. Sehingga nyawa pendekar tua tersebut berhasil di selamatkan walaupun masih dalam keadaan sakit, namun setidaknya jauh lebih baik.


Untuk diketahui, dalam perjalanan ini, Shin Shui sengaja memakai jubah dan pakaian serba hitam. Bahkan topeng yang menutupi setengah wajahnya juga berwarna hitam. Sama seperti penampilan sebelumnya.


Tiga hari berlalu, Shin Shui tiba di tempat yang dia tuju pada saat tengah malam.


Setelah bertanya-tanya kepada pemilik rumah makan, ternyata apa yang dikatakan oleh Ong San sahabatnya, memang benar.


Bukit Hitam adalah sebuah tempat berkumpulnya beberapa kepala perampok kejam dan berilmu cukup tinggi di daerah perbatasan Timur Kekaisaran Sung.


Bahkan nama bukit itu sudah cukup terkenal ke berbagai daerah. Waktu Shin Shui bertanya tentang bukit tersebut, si pemilik rumah makan awalnya juga tidak ingin bercerita karena takut ketahuan pihak mereka. Untung saja Pendekar Halilintar tahu bagaimana caranya supaya seseorang mau membuka mulut.


Uang.


Kalau ada uang, apapun jadi.


Ini trik. Berapa banyak manusia di muka bumi ini yang rela mengorbankan nyawa hanya demi uang? Mungkin semua manusia melakukannya.


Hanya saja, mereka mengorbankan nyawa secara tidak langsung. Lagi pula, ada antisipasi sebelum kehilangan nyawanya hanya demi uang.


Kalau dipikir, terkadang manusia itu lucu.

__ADS_1


Manusia mencari uang mati-matian. Setelah terkumpul, uang itu akan kembali dihabiskan. Terus seperti itu sampai ajal menjemput.


Tapi kalau dipikir mendalam bukan lucu. Memang seperti inilah siklus kehidupan.


Kata peribahasa, ada uang yang harus keluar demi sesuatu yang diinginkan. Ada pengorbanan keras yang harus ditempuh demi mencapai tujuan.


Saat ini Pendekar Halilintar telah berada di wilayah yang termasuk Bukit Hitam. Dia berdiri menentang gelapnya hutan yang nampak angker dan menyimpan sejuta misteri.


Suara lolongan serigala dan burung liar menggema di seluruh hutan. Semilir angin dingin menghembus pelan menerpa tubuh Shin Shui


Dia melepaskan jubahnya hitam lalu digantikan dengan jubah dan pakaian biru terang yang sesekali memancarkan kilatan halilintar.


"Malam ini, akan aku habisi semua orang yang ada di sana. Tidak peduli tua ataupun muda. Selama dia ada di Bukit Hitam, maka jangan pernah berharap bisa lepas dariku," gumam Shin Shui sambil mengepalkan kedua tangannya.


Selesai berkata demikian, Shin Shui mulai menyusuri hutan untuk beberapa saat. Bayangan berwarna biru terlihat megah di bawah gelap malam.


Hanya dalam beberapa saat saja, Pendekar Halilintar telah tiba di kaki bukit. Kemudian, dia segera menaiki bukit untuk menuju ke puncak.


Setelah tiba di puncak, Shin Shui tidak langsung bergerak melancarkan aksinya. Dia lebih dahulu mengelilingi area untuk memahami situasi di sekitar.


Saat kau ingin melakukan sesuatu yang sangat beresiko, minimal kau sudah menguasai apa yang ingin kau lakukan.


Ini sangat penting sebab menyangkut semuanya.


Shin Shui sudah menyusuri area Bukit Hitam. Tidak jauh di depannya, dia melihat ada sebuah bangunan yang sudah sangat tua. Terdapat banyak obor yang menari tertiup angin.


Di sekeliling bangunan itu, terdapat puluhan orang yang sedang berjaga. Di lihat dari segi kekuatan, nampaknya mereka hanya merupakan Pendekar Langit tahap tiga.


Shin Shui bergerak.


Tubuhnya melesat dalam kecepatan tinggi. Pedang Halilintar langsung dia keluarkan.


Hanya satu kali lesatan, dua nyawa telah tertebas Pedang Halilintar. Dia bergerak lagi, tiga nyawa melayang. Empat, lima, hingga akhirnya sepuluh nyawa melayang dalam waktu sekejap mata.


Kalau Pendekar Halilintar sudah marah, jangan harap kau bisa lepas darinya.

__ADS_1


__ADS_2