Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Hidup dan Mati


__ADS_3

Begitu debu lenyap sepenuhnya, Chen Li telah berdiri kembali dengan tenang. Wajahnya tetap tidak menampakkan ekspresi apapun. Wajah itu masih dingin. Dari sudut kanan bibirnya, cairan merah meleleh.


Darah.


Tapi Chen Li tidak terlihat meringis walau sedikitpun.


Sementara itu, Nenek Pedang Tunggal tampak gembira melihat kejadian ini. Dia sudah memperkirakan bahwa kekuatan muridnya jauh di atas bocah kecil itu.


"Bagus. Lakukanlah yang terbaik, jangan sungkan muridku. Bunuh dia secepatnya," gumam Nenek Pedang Tunggal kepada muridnya.


Bidadari Kecil Pedang Sutera menganggukkan kepalanya. Saat dia melihat serangannya berhasil melukai Chen Li, gadis kecil itu langsung merasa sangat percaya diri. Dia yakin kekuatannya jauh di atas lawan. Dan dia juga percaya bahwa kemenangan bisa dengan mudah diraih.


Wushh!!!


Segulung angin seperti sebelumnya menerjang Chen Li kembali. Hanya saja serangan yang sekarang jauh lebih hebat lagi. Debu dan daun kering berterbangan bergulungan menyatu dengan serangan dahsyat tersebut.


Bidadari Kecil Pedang Sutera melesat di belakang serangan jarak jauhnya. Pukulan berantai sudah dia siapkan apabila serangan pertama gagal.


Blarr!!!


Ledakan terjadi kembali. Kali ini bumi bergetar lebih keras. Pandangan mata semua orang tertutup untuk beberapa saat.


Plakk!!!


Tiba-tiba terdengar benturan dua tangan. Saat debu menghilang, dua bocah itu sedang bertarung dengan sengit. Pukulan mereka menerjang lawannya satu sama lain. Keduanya tampak sangat serius. Pertarungan ini memang bukan pertarungan biasa. Ini adalah pertarungan hidup dan mati. Karena itu, keduanya tidak boleh main-main.


Chen Li belum mengeluarkan kekuatan sepenuhnya. Dia masih berusaha untuk mengukur sampai di mana kehebatan si Bidadari Kecil Pedang Sutera itu.


Serangan gadis kecil tersebut semakin gencar. Kali ini kakinya ikut memberikan serangan. Tiga tendangan dahsyat dia layangkan mengincar iga Chen Li.


Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum dingin. Dia menggerakan tangannya untuk menangkis tendangan lawan.


Plakk!!!


Gadis kecil itu terdorong ke belakang. Tubuhnya berputar beberapa kali sebelum dia benar-benar mendapatkan posisi.


"Bangsat!!!"


"Ulat Sutera Melilit Dahan Pohon …"


Wuttt!!!

__ADS_1


Dua pedang pusaka miliknya dicabut dalam sekejap mata. Dia melompat ke depan sambil melancarkan dua tebasan secara bergantian. Sinar hitam keluar menyerang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Chen Li tidak mau kalah. Dia mengeluarkan Pedang Hitam yang membawa hawa kematian pekat.


Wuttt!!!


Trangg!!!


Benturan dua senjata pusaka terjadi. Pedang dua bocah itu seperti di lem. Menempel tanpa bisa ditarik ataupun dilepaskan untuk beberapa saat.


Plakk!!!


Chen Li melancarkan satu tendangan ke arah perut Bidadari Kecil Pedang Sutera. Tendangannya sangat telak mengenai sasaran utama. Gadis itu terlempar ke belakang lalu muntah darah.


Dia tidak pernah menyangka bahwa lawannya berani berbuat kejam seperti itu. Begitu juga dengan si Nenek Pedang Tunggal. Orang tua itu tidak pernah mengira bahwa bocah kecil tersebut ternyata tidak mempunyai perasaan.


"Kau pendekar yang tak berperasaan. Berani sekali kau menendang perut muridku secara kejam," kata si Nenek Pedang Tunggal protes tidak terima.


"Dia sendiri sangat kejam kepadaku, masa aku tidak boleh membalasnya dengan kejam pula. Dan lagi, bukankah ini adalah pertarungan hidup dan mati? Jika aku tidak mengerahkan seluruh seranganku, bukankah itu artinya aku bunuh diri?" tanya Chen Li dengan dingin.


"Bocah yang sangat sombong. Kau lihat saja, muridku pasti bisa membunuhmu secepatnya,"


Sementara itu, si Bidadari Kecil Pedang Sutera sudah menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuh. Perutnya terasa sangat sakit sekaligus mual saat terkena tendangan Chen Li. Seumur hidupnya, meskipun pernah beberapa kali melangsungkan pertarungan hidup dan mati, tapi baru kali ini ada lawan yang menyerangnya tanpa perasaan.


"Apakah kau tidak memiliki perasaan?" tanyanya menahan rasa kesal yang telah naik ke ubun-ubun.


"Memang tidak. Karena aku adalah Pendekar Tanpa Perasaan,"


Angin mendadak berhembus cukup kencang. Debu mengepul membawa harum bunga. Bidadari Kecil Pedang Sutera terkejut. Begitu juga dengan gurunya sendiri.


Di saat lawannya seperti itulah Chen Li menyerang kembali. Pedang Hitam melancarkan dua tebasan dan empat tusukan cepat. Tubuhnya melesat seperti bayang-bayang kematian.


Wushh!!!


Si gadis kecil kaget. Dia menggulingkan tubuhnya ke tanah beberapa kali lalu untuk menghindari serangan tersebut. Setelah itu secara tiba-tiba dia melompat dan menerkam Chen Li.


Dua pedang kembar yang membawa hawa panas bergerak ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Chen Li tidak gentar. Dia menyongsong datangnya serangan lawan dengan tebasan dan tusukan pedang. Permainan pedang bocah itu bisa dibilang sudah tinggi untuk anak seusianya, karena itulah gerakannya cukup merepotkan Bidadari Kecil Pedang Sutera.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!

__ADS_1


Benturan pedang terus terdengar nyaring. Percikan api terlihat lalu lenyap terbawa angin musim semi.


Tiga orang tua yang menyaksikan jalannya pertarungan mereka terbengong di sisi arena. Dalam hatinya masing-masing, mereka menyesalkan bahwa dua bocah yang mempunyai bakat sangat tinggi ternyata harus bertarung hidup dan mati.


Meskipun ada niat untuk berusaha melerai, hal itu tetap akan percuma. Karena kini keduanya sudah bertarung sengit. Lagi pula, sekarang mereka mempunyai alasan kuat untuk melakukan pertarungan hidup dan mati ini.


Tarr!!! Blarr!!!


Percikan api membumbung tinggi. Pedang pusaka milik Bidadari Kecil itu dilemparkan ke arah Chen Li sehingga menimbulkan bunyi seperti sambaran petir.


Sayangnya sebelum pedang itu mengenai sasaran, Chen Li telah mengeluarkan jurusnya sehingga dia berhasil mematahkan serangan tersebut.


Pedang si Bidadari Kecil Pedang Sutera terlempar ke atas sangat tinggi. Chen Li melompat. Begitu tubuhnya mencapai pedang lawan, dia langsung menebaskan Pedang Hitam dengan sangat kuat.


Clangg!!!


Pedang si gadis kecil patah menjadi dua bagian dan meluncur deras ke arahnya. Dia melompat ke belakang untuk menghindari serangan senjatanya sendiri.


"Pedang Hitam Membelah Kesunyian …"


Wushh!!!


Chen Li berteriak keras. Tenaga dalam langit bumi warisan ayahnya dikeluarkan hingga sampai ke titik maksimal. Sebuah tebasan yang membawa hawa kematian pekat menyelimuti jagat raya.


"Seribu Tusukan Pedang Sutera Biru …"


Wushh!!!


Tidak mau kalah dari lawannya, si Bidadari Kecil Pedang Sutera juga turut mengeluarkan jurus andalan yang sudah dia kuasai. Pedang di tangan kanannya memberikan seribu tusukan.


Tusukan itu mengandung kekuatan dahsyat dan kebencian mendalam karena pedangnya dibuat patah oleh Chen Li. Kalau pedang itu tidak patah, niscaya jurusnya akan jauh kebih hebat lagi.


Sayangnya yang terjadi tidak seperti itu. Dia harus rela kehilangan satu pusaka andalannya. Dia sedih, dia marah, dan dia juga dendam.


Gelegar!!!


Ledakan dahsyat terdengar kembali. Gelombang kejut menyapu segala macam yang ada di saja. Beberapa batang pohon patah karenanya.


Wushh!!!


Bayangan putih melesat sangat cepat menerjang kepulan debu. Kecepatannya jangan ditanya lagi, bahkan tiga orang tua yang hadir sana pun dibuat terkejut setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2