Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Jurus Kelas Atas


__ADS_3

Sementara itu, pertarungan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding melawan dua pengawal terkuat menjadi tontonan paling memukau.


Huang Taiji Lu sudah memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya. Yang dia hadapi saat ini adalah dua Pendekar Dewa tahap empat akhir. Sedangkan kekuatan dia yang sebenarnya, mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh awal.


Hampir setara dengan Jendral Besar dari Selatan. Namun sepertinya Huang Taiji Lu lebih unggul sedikit karena dia sudah jauh lebih lama berada pada tahapan tersebut.


Pedang Tombak Surga Neraka telah memperlihatkan taringnya. Senjata pusaka unik tersebut melancarkan gempuran serangan hebat yang tiada hentinya.


Kelebatan sinar putih dan merah membelah udara setiap saat.


Dua pengawal masih bisa menandingi permainan pedang tombak. Setidaknya untuk saat ini karena mengingat mereka lah pengawal terkuat.


Keduanya telah mengeluarkan kekuatan hingga ke tahapan tertinggi. Tubuhnya diselimuti aura hijau menekan. Hawa pembunuhan terasa kental di sekitar area tersebut.


Satu orang pengawal yang memakai senjata busur batu giok, melesatkan anak panah dari energi yang dia buat.


"Wushh …"


Tali busur panah bergetar. Lima anak panah melesat secepat angin ke arah Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Saat itu, dia sedang bertarung menggunakan senjata melawan seorang pengawal yang menggunakan kapak kembar.


Dua kapak kembar tersebut menyerangnya dari segala arah dan beputar layaknya sebuah baling-baling.


Sinar kuning terlihat keluar setiap kali kapak kembar tersebut bergerak.


Di saat seperti itulah Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding melihat ada lima anak panah energi melesat ke arahnya.


Pria itu kebingungan. Kalau dia menangkis sabetan kapak, maka lima anak panah tersebut sudah pasti akan menembusnya. Sedangkan jika menangkis lima anak panah, maka dapat dipastikan kepalanya akan lepas akibat sambaran kapak kembar.


Tetapi Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding bukanlah anak kemarin sore. Pengalamannya dalam bertarung hidup dan mati, jangan ditanyakan lagi.


Pedang Tombak Surga Neraka dia putarkan dengan sangat cepat. Desiran angin terasa menggulung seperti air bah.


Dia mengayunkan senjata andalannya, serangan energi berkekuatan besar segera melesat menghantam lima anak panah. Berbarengan dengan itu, dia menangkis pula sabegan kapak kembar lawan.


"Trangg …"


Benturan terjadi. Percikan api menyala lalu lenyap bersama udara.


Pendekar Pedang Tombak tidak tinggal diam. Dia langsung melancarkan berbagai sabetan dan tusukan maut kepada lawannya.

__ADS_1


Senjata itu berputar seperti sebuah pusaran tornado. Kadang kala ditebas bagaikan petir membelah langit kelam.


Pertarungan menjadi lebih dahsyat saat Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding mengeluarkan jurus andalan miliknya.


"Menyapu Ombak Membelah Samudera …"


"Wushh …"


Gerakannya berubah. Ujung mata pedang bergetar lalu melancarkan sabetan dahsyat. Saking cepatnya, seolah ujung mata pedang tersebut berjumlah ribuan.


Berbarengan dengan itu, ujung mata tombak bergerak menusuk seperti seekor harimau mengoyak daging mangsanya.


Dua jurus dalam satu serangan.


Kedua lawannya merasa kelimpungan. Gerakan mereka semuanya telah tertutup rapat oleh gulungan sinar berwarna putih.


Memasuki jurus sembilan puluh tiga, Pedang Tombak Surga Neraka berhasil memberikan goresan memanjang di punggung si pendekar kapak kembar.


Pendekar tersebut menjerit keras karena tidak kita menahan rasa perih. Darah langsung keluar membanjiri kakinya.


Dia tidak dapat meneruskan pertarungannya. Sebisa mungkin, pendekar tersebut berusaha mengobati luka yang sangat parah itu. Sayangnya, dia tidak berhasil karena darah yang keluar sudah terlalu banyak.


Pendekar kapak kembar itu tewas dengan luka yang masih menganga dan terus mengeluarkan darah.


Tubuhnya segera mengeluarkan tenaga dengan jumlah sangat kuat.


Busur telah ditarik lalu dilepaskan. Awalnya memang tidak terlihat ada keaenahan.


Tapi sedetik berikutnya, ribuan anak panah segera turun ke bumi menghujani siapa saja yang ada di sana. Sasaran utamanya tentu si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Tidak ada jalan keluar dari jurus hujan anak panah itu. Kecuali satu cara saja, dan Huang Taiji Lu telah mengetahui caranya.


Dia menenangkan dirinya terlebih dahulu. Mengumpulkan tenaga dalam dan mengeluarkan hawa sakti lalu berniat untuk mengeluarkannya secara bersamaan.


Setelah terkumpul seperti apa yang diinginkan, Pendekar Pedang Tombak langsung bergerak.


Sekali kakinya menjejak tanah, luncurannya sudah sangat jauh sekali.


"Menggores Langit Menghancurkan Bumi …"


"Wushh …"

__ADS_1


Sambil berlari secepat kilat, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding juga sambil mengeluarkan salah satu jurus andalan yang selalu dia sembunyikan.


Pedang Tombak Surga Neraka seperti menjadi ribuan banyaknya.


Suara bergemuruh seperti teriakan roh penasaran mulai terdengar menggema.


Langit bergemuruh. Bumi bergetar.


Kilatan cahaya dari senjata legendaris tersebut menebarkan ancaman maut.


Ribuan anak panah yang mirip hujan, terhempas di tengah jalan. Sebelum mencapai tanah atau mengenai sasaran, ribuan anak panah tersebut telah hancur menjadi serpihan kecil karena ditebas oleh jurus milik Huang Taiji Lu.


Pria berpakaian serba putih itu berlari mendekat ke pengguna jurus. Pedang dan tombak pusaka langsung menari di bawah hujan anak panah.


Sambarannya mampu membuat robek molekul udara. Kecepatannya mustahil dapat disetarakan dengan kecepatan lawan.


Karena jurus mautnya sudah keluar, maka Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan pertarungan ini.


Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, pertarungannya sudah selesai. Pengawal Jendral Besar yang menjadi lawannya, telah tewas tanpa kepala ditebas oleh senjata pusaka.


Tebakan Huang Taiji Lu terbukti. Ketika si pengguna itu tewas, maka hujan anak panah segera berhenti.


Semuanya menjadi normal kembali. Langit hanya menyisahkan kenangan mengerikan. Bumi hancur akibat keganasan sepak terjang Huang Taiji.


Pria kekar itu kini sedang menghimpun tenaga dalam untuk mengobati kondisi tubuhnya. Walaupun dia tidak terluka berat, tapi luka ringan nampak di seluruh tubuh. Pakaian kesukannya terkena noda darah.


Setelah selesai, Huang Taiji segera menghampiri Shin Shui dan yang lainnya. Kini giliran dia yang menjadi penonton pertarungan para tetua lain.


Pertarungan para tetua masih berlangsung. Mereka tidak segsnas Huang Taiji ataupun Shin Shui. Juga tidak sekuat keduanya.


Sehingga rasanya wajar kalau pertempuran yang terjadi, terkesan lebih lama dan lebih alot.


Masing-masing pihak saling berusaha melumpuhkan lawan dengan kemampuanya sendiri. Benturan jurus terus terjadi. Kekuatan hebat merembes keluar semakin kental.


Pihak musuh mulai kewalahan saat para Tetua Sekte Bukit Halilintar mengeluarkan jurus pamungkas mereka yang didapat dari Shin Shui.


Sebuah jurus dahsyat yang hanya boleh dikeluarkan jika posisi benar-benar dalam keadaan terdesak atau nyawa sedang terancam.


Jurus tersebut berupa jurus gabungan. Walaupun bisa dikeluarkan oleh seorang diri, tetapi jika dikeluarkan bersama, maka hasilnya akan berbeda lagi.


Akan lebih dahsyat. Lebih ganas.

__ADS_1


Dan tentunya lebih mengerikan lagi.


"Jurus Sejuta Halilintar Menggetarkan Semesata …"


__ADS_2