Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Petani Yang Menyamar


__ADS_3

Kini mereka telah tiba di sebuah kota yang cukup besar dan ramai. Banyak orang berlalu-lalang ke sana kemari. Para pedagang berteriak menjajakan barang dagangannya.


Saat tiba di sana, waktu sudah menunjukan malam hari. Rembulan telah naik ke atas permukaan.


"Kalian pesan saja penginapan yang di sana. Aku akan berjalan-jalan sebentar," ujar Chen Li lalu pergi tanpa melirik lagi ke tiga sahabatnya.


"Cih, belum juga dijawab sudah pergi begitu saja," kata Moi Xiuhan masih merasa jengkel.


"Sudahlah. Biarkan dia mencari kesenangan sendiri, kita segera ke sana saja. Aku sudah lapar," kata Li Meng Li.


Kebetulan sekali di penginapan yang tadi ditunjuk oleh Chen Li juga merangkap sebuah restoran. Sehingga mereka tidak perlu susah payah untuk mencari menu makan malam.


Mereka kemudian segera menuju ke sana untuk memesan kamar dan menu makan malam.


Sedangkan Chen Li saat ini sedang duduk di sebuah warung arak. Dia meneguk arak dengan nikmatnya. Sudah beberapa hari bocah tersebut tidak minum, rasanya cacing dalam perut meronta-ronta meminta asupan arak.


Tetapi walaupun doyan minum arak, dia tidak berani minum arak keras. Chen Li hanya berani minum arak yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.


Bocah itu duduk di tengah-tengah. Di sekelilingnya banyak juga para pengunjung lain. Mulai dari kalangan biasa, hingga kalangan pendekar.


Minum arak di tengah cuaca yang dingin memang sangat cocok. Sayangnya, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama. Sebab seseorang sudah menarik tangannya secara paksa.


Entah apa maksud orang tersebut. Tetapi Chen Li hanya mengikutinya dengan santai. Walaupun dalam hatinya sangat kesal karena ketenangannya diganggu, namun dia tidak mau bertindak secara gegabah.


Orang yang menariknya bukan seorang pendekar. Melainkan seorang petani yang pura-pura menjadi pendekar. Chen Li tahu itu, karena alasan tersebut lah dia masih meraba-raba apa keinginan orang itu.


Dia di bawa ke sebuah ruangan gelap di belakang restoran. Tepatnya di sebuah gang yang sepi. Ternyata orang itu tidak sendiri. Sebab di gang sana juga sudah berdiri sepuluh orang lainnya.


Semuanya sama, seorang petani yang pura-pura menjadi pendekar.


Chen Li msih tetap mengikuti apa yang diinginkan oleh orang yang sudah membawanya. Dia terus berjalan hingga jaraknya semakin dekat dengan yang lain.


"Berikan seluruh harta yang kau miliki," kata orang tersebut sambil mengancam dengan golok yang sudah hampir menyentuh leher.


Rekan-rekannya juga sama. Mereka sudah mengacungkan senjata dan mengurung Chen Li.


Seolah mereka sedang berhadapan dengan seorang bocah kecil polos yang mudah untuk ditakut-takuti. Padahal kalau mereka tahu sejak awal, jangankan membawanya secara paksa, berlaku sedikit kurang ajar pun mungkin tidak akan berani.


"Kalian ingin semua harta yang aku miliki? Boleh, tapi untuk apa?" tanya Chen Li lebih lanjut.


"Masalah mau digunakan untuk apa, itu urusan kami. Bukan urusanmu bocah, serahkan sekarang atau golok ini akan menebas lehermu,"

__ADS_1


"Kalian berani?"


"Kenapa tidak? Kau hanya sendiri, bagaimana mungkin kau bisa melawan?"


"Benarkah?"


"Trangg …" belasan kali bunyi nyaring terdengar. Belasan golok juga telah patah menjadi dua bagian.


Tidak ada yang tahu bagaimana bocah cilik itu melakukannya. Sebab siapapun tidak ada yang bisa melihat gerakannya. Bahkan mereka masih menyaksikan bahwa si bocah masih berdiri persis seperti posisi semula.


Keringat dingin langsung menjalar ke seluruh tubuh. Butiran keringat sebesar kacang kedelai mulai menetes dari pelipis masing-masing.


"Ampun, ampuni kami. Jangan bunuh kami," kata seorang yang tadi membawa Chen Li secara paksa.


"Hemm, kalian tahu siapa aku?"


"Ti-tidak,"


"Baik, perkenalkan. Margaku Shin, namaku Chen Li,"


Bagaikan petir menyambar jantung mereka. Belasan petani yang menyamar tersebut langsung merasa seluruh badannya gemetar hebat. Mereka merasakan tulang-tulangnya lepas dari sendi.


Marga Shin di Kekaisaran Wei hanya ada satu. Kalau bukan keluarga Shin Shui, siapa lagi? Tentu saja mereka tahu akan keagungan marga tersebut.


Chen Li sengaja melakukan hal ini. Sebab menurutnya, kalau tidak memberitahu identitas yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan mengaku atas dasar alasan apa melakuka semua hal ini.


Namun jika dia memberitahu siapa dirinya, maka pasti orang-orang tersebut akan menjelaskan yang sebenarnya.


"Bangunlah,"


"Tidak berani. Kami sudah berlaku kurang ajar terhadap Tuan muda. Kami semua pantas mati,"


"Bangun, aku tidak suka kalian seperti ini,"


Karena mendengar ucapan yang dingin, belasan petani itu segera bangun kembali. Tapi wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat.


"Kenapa Paman-paman melakukan hal ini?" tanya Chen Li. Suaranya berubah menjadi ramah dan lembut. Bahkan senyuman yang menggemaskan dia perlihatkan.


"Kami … kami terpaksa Tuan muda, karena desa kami dilanda kekeringan. Hasil panen kami dibeli dengan harga sangat murah oleh kepala desa setempat. Kami melakukan ini untuk biaya makan anak istri kami," kata seorang petani lalu menangis.


"Kenapa tidak minta baik-baik sejak awal?"

__ADS_1


"Kami, kami tidak berani,"


"Baiklah. Pakai semua uang ini untuk membuat usaha. Kumpulkan semua warga desa tepat di halaman rumah kepala desa. Kalau sudah, beritahu aku," ujar Chen Li penuh wibawa. Tangan kananya segera dikibaskan, satu peti kecil emas sudah ada di depan mata.


"Ambil, ini untuk biaya hidup kalian,"


Belasan petani tersebut kemudian mengambilnya sambil terus memberi hormat. Setelah menyatakan terimakasih, mereka segera pergi untuk menjalankan perintah bocah itu.


Chen Li pun segera kembali ke restoran untuk melanjutkan minumnya.


Tidak berapa lama setelah Chen Li menghabiskan cawan arak terakhir, seorang petani yang tadi memberitahu bahwa warga desa sudah berkumpul.


Setelah itu, Chen Li membayar biaya minum lalu segera pergi menuju ke sana.


Di depan sebuah rumah yang cukup besar, puluhan warta desa sedang berdiri seperti orang yang menunggu antrian. Di depan rumah itu ada seorang pria tua dengan sorot mata tajam memandang ke semua warga desa.


"Pergi kalian!!" bentaknya.


"Aku yang menyuruh mereka berkumpul. Kenapa kau mengusirnya?"


Tiba-tiba dari kumpulan warga desa berjalan seorang anak kecil yang sangat berwibawa. Chen Li, bocah kecil itu memang dia.


"Siapa kau?"


"Orang yang akan menurunkan jabatanmu jika masih memeras rakyat,"


"Bocah cilik, tahu apa kau?"


"Tahu segalanya,"


"Kau pikir kau siapa?"


"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang, kau berikan warga sekantung gandum dan emas yang sudah kau ambil dari sesuatu yang bukan hakmu. Pemerintah sudah memberikan biaya untuk kehidupan di sini, dan kau malah menelannya sendiri? Manusia macam apa kau?"


Kepala desa tersebut tampak terbengong mendengar ucapan bocah itu. Dia tidak pernah menyangka ada seorang bocah kecil yang berani kurang ajar kepadanya.


"Beri pelajaran bocah itu,"


Sesudah dia berkata, mendadak enam orang pria kekar langsung melesat ke depan. Keenamnya merupakan pengawal si kepala desa. Mereka adalah Pendekar Bumi tahap tiga.


Chen Li tentu tidak takut. Dia justru malah berjalan semakin ke depan. Tangan kanannya mengibas pelan sehingga mendatangkan hembusan angin kencang.

__ADS_1


Sekali kibas, enam orang tersebut terpental ke belakang.


__ADS_2