
"Hahaha … kau pikir aku takut kepadamu manusia? Jangan mimpi. Kau berada di Negeri Siluman, itu artinya kau akan selalu berada dalam ancaman Istana Kekaisaran ini," kata iblis berkulit merah mencoba untuk memberanikan dirinya.
"Hahaha, bagus. Aku menyukai tantangan, mungkin jika jadi buronan para iblis, aku akan mempunyai tantangan baru," ucap Shin Shui tertawa nyaring. Setelah itu, dia berjalan dua langkah mendekati iblis tersebut.
"Terima serangan pertamaku manusia sombong," teriak si iblis lalu melancarkan sebuah serangan jarak jauh.
Dia menghentakkan kakinya, lalu tubuhnya meluncur deras ke arah Shin Shui sambil menghentakkan kedua tangannya. Dari balik telapak tangan, meluncur sinar merah sebesar pohon.
Shin Shui menjadi serius, walaupun iblis itu masih berada di bawahnya, tapi tetap saja dia termasuk lawan yang berbahaya. Maka ketika serangan datang, Shin Shui melompat ke atas dan berjungkir balik dua kali.
Sambil mendarat, Shin Shui melancarkan juga sebuah serangan dahsyat. Dia berputar seperti baling-baling sehingga keluar sinar biru terang dari telapak kakinya.
Serangan itu datangnya sangat cepat, sampai-sampai si iblis hampir tidak bisa menghindarinya. Untung bahwa dia juga mempunyai kecepatan yang lumayan, sehingga dirinya berhasil terhindar dari sedangan Shin Shui walaupun berbeda tipis saja.
"Blarr …"
Ledakan terdengar, halaman Istana Kekaisaran jadi cekung beberapa jarak akibat kedahsyatan jurus Shin Shui. Begitu serangannya gagal, Pendekar Halilintar kembali naik ke atas untuk melancarkan serangan lainnya.
Dua buah tangannya mengirimkan pukulan keras. Si iblis tersentak, dia menyilangkan kedua tangannya untuk menahan pukulan Shin Shui. Saking kuatnya pukulan itu, si iblis berkulit merah sampai-sampai terpundur sejauh lima langkah.
Pertarungan mulai berjalan dengan seru. Iblis berkulit merah memberikan serangan balasan berupa pukulan dan tendangan. Setiap ayunan pukulannya membawa angin berbau busuk dan menebarkan kematian. Setiap tendangannya membawa hawa yang panas.
Shin Shui menahan semua serangan balasan lawan dengan mudah. Kaki dan tangannya mulai bergerak. Kadang tbuhnya berkelit lincah menghindari pukulan dan tendangan yang tidak sempat dia balas.
Di sisi lain Chen Li melihat pertarungan ayahnya ini dengan hati terkagum-kagum. Dia baru pertama ini melihat ayahnya bertarung dengan serius. Betapa bangganya dia saat mengetahui bahwa ayahnya memang seorang yang memiliki kekuatan dahsyat.
Sepanjang menonton pertarungan, Chen Li tersenyum tiada hentinya. Kadang-kadang dia juga berteriak untuk menyemangatu Shin Shui.
Pertarungan ini berjalan tanpa ada yang mengetahui lainnya. Selain karena jarak gerbang ke Istana cukup jauh, alasan lainnya adalah karena Shin Shui sudah meredam pertarungan mereka dengan ilmunya.
__ADS_1
Sehingga walau ledakan sekeras apapun, tidak akan ada yang mendengar kecuali mereka bertiga. Shin Shui memang cerdik, dia lebih memilih untuk mengantisipasi terlebih dahulu.
Setiap gerak-geriknya selalu penuh perhitungan matang. Dia tidak mau bergerak tanpa berpikir.
Pertarungannya melawan iblis berkulit merah sudah berjalan selama dua puluh jurus. Keduanya masih terlihat imbang. Si iblis sebenarnya sudah mengeluarkan kekuatan sampai delapan puluh persen, sayangnya itu masih kurang cukup untuk mengalahkan Shin Shui.
Menyadari bahwa lawanya sangat kuat, dia meningkatkan kekuatannya sampai ke titik paling tinggi. Tubuhnya terbungkus sinar merah seperti api neraka yang membara. Sinar itu terus berkobar melemparkan lidah api ke sekitarnya.
Shin Shui tidak mau kalah dari lawan, dia mengeluarkan juga jurus Tubuh Halilintar sehingga tubuhnya terbungkus oleh sinar biru mencolok yang selalu mengeluarkan kilatan petir.
Keduanya sudah bertukar jurus kembali. Berbagai macam jurus sudah mereka lancarkan, keduanya sama-sama kuat sehingga pertarungan berjalan tegang.
Ledakan keras entah sudah beberapa kali terdengar, tempat sekitar pun berguncang karena jurus dahsyat keduanya. Saat ini giliran Shin Shui yang menyerang lawan, kedua tangannya memberikan serangan berupa pukulan dan tapak.
Setiap serangannya menebarkan kabar dari Raja Akhirat untuk lawan. Sinar biru terus keluar dari setiap serangannya. Jurus demi jurus terus berbenturan di udara.
Hawa di sekitar semakin mencekam. Udara terasa sesak. Angin berhembus dingin menusuk tulang. Si iblis berkulit merah mulai kewalahan karena serangan Shin Shui terus datang bagaikan hujan lebat yang tiada hentinya.
"Lidah Api Menjilat Langit…"
"Wushh …"
Si iblis mengeluarkan jurus hebatnya saat melihat ada kesempatan. Dia menjulurkan lidahnya. Dari mulutnya keluar sinar merah berbentuk lidah ular yang sangat besar meluncur cepat ke arah Shin Shui.
Getaran panasnya bahkan mungkin terasa sejauh ratusan meter, tapi Shin Shui tidak gentar. Dia mengumpulkan tenaga lebih dulu sebelum melancarkan serangan balasannya.
"Pukulan Halilintar Meremukkan Gunung …"
"Glegar …"
__ADS_1
Halilintar menyambar bumi satu kali saat Shin Shui memukulkan tangannya ke depan dengan keras. Dari kepalan tangan itu keluar sinar biru terang melesat menahan lidah api milik lawan.
"Blarr …"
Ledakan keras terdengar lagi. Getaran yang ditimbulkan kali ini bahkan lebih hebat lagi. Si iblis terpental sejauh sepuluh tombak. Tubuhnya bergulingan sebelum menabrak dinding Istana Kekaisaran. Saking dahsyatnya benturan dua jurus ini, dinding pelindung kedap suara yang Shin Shui buat sampai-sampai hancur.
Iblis berkulit merah memuntahkan darah kehitaman. Organ dalamnya terguncang keras. Seluruh tulang di tubuhnya terasa seperti remuk. Dia mencoba untuk bangkit berdiri tapi rasanya sangat sulit.
Di sisi lain sebenarnya Shin Shui ingin memberikan serangan terakhirnya untuk menewaskan lawan, sayangnya hal itu tidak keburu sebab dari dalam istana segera berlompatan para prajurit yang kaget mendengar ledakan keras tadi.
Shin Shui buru-buru mendekati Chen Li yang masih berdiri mematung.
"Li'er, cepat kita pergi dari sini," kata Shin Shui sambil menyuruh Chen Li untuk menaiki pundaknya.
"Baik ayah," ucapnya.
Setelah itu, ayah dan anak tersebut segera melesat pergi dari Istana Kekaisaran. Shin Shui melesat secepat kilat lalu terbang bagaikan burung elang yang gagah. Dalam sekejap mata, dia sudah keluar dari Istana Kekaisaran.
Bertepatan dengan itu, para iblis tampak terkaget-kaget saat melihat apa yang terjadi saat ini. Puluhan rekannya telah tewas terkapar dengan luka mengerikan. Mereka lebih kaget lagi saat melihat si iblis berkulit merah terluka parah.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang iblis kepadanya.
"Anak itu …"
"Hoekk …" darah kembali keluar dari mulutnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. "Anak itu telah dibawa kabur oleh ayahnya," katanya sambil megap-megap.
"Arghh … akan aku kejar mereka," kata iblis tadi dengan marah.
"Jangan. Dia bukan lawan kita. Hanya Yang Mulia Kaisar yang mampu menghadapinya,"
__ADS_1
"Hahh … baiklah. Biarkan aku mengobatimu dulu," kata rekannya lalu mengobati si iblis kulit merah.
Dalam waktu singkat, Shin Shui dan Chen Li sudah sampai di pintu tenda darurat tempat kediaman Kaisar Naga Merah. Dia baru menurunkan Chen Li dari gendongannya saat sampai di sana.