Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ying Mengtian si Kaisar Buas


__ADS_3

Mencapai jurus kedua puluh tiga, Chen Li bergerak semakin hebat dan dahsyat. Serangan yang dia lancarkan menggunakan pedang dan seruling, benar-benar membuat para murid merasa jeri.


Apalagi sekarang, kekuatan Chen Li sudah naik secara cepat karena diberikan Mustika Siluman Naga Tiga Kepala. Dengan kekuatannya yang baru, tentu sepak terjangnya jauh lebih berbahaya lagi.


Ujung pedang bergetar jadi terlihat seperti ada beberapa batang. Seruling giok hijau berputar menghasilkan sinar hijau bundar. Sinar itu perlahan melesat ke masing-masing murid.


Mencapai jurus ketiga puluh, pertarungannya selesai. Tidak kurang dari delapan belas murid, berhasil dia tumbangkan.


Tidak berapa lama, pertarungan lainnya juga telah selesai. Kemenangan tentu diraih oleh pihak Shin Shui. Walaupun pihaknya kalah jumlah, tetapi di lihat dari segi kekuatan, tentu dia menang telak.


"Adik Shin, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Maling Sakti.


"Tentu saja kita harus segera pergi," jawab Shin Shui.


"Percuma saja Ayah. Yang lainnya sudah datang, tidak ada gunanya kita pergi juga. Kita telah terkepung. Sebentar lagi mereka akan tiba di sini," kata Chen Li secara tiba-tiba.


Semua orang saling berpandangan. Terlebih lagi para tetua dan pendekar yang baru dibebaskan. Mereka tidak percaya karena belum mengetahui Chen Li yang sekarang. Bahkan ibunya sendiri, Yun Mei, juga kurang percaya terhadap ucapan anaknya.


Lain lagi ceritanya denga Shin Shui dan Maling Sakti. Kedua orang itu sudah tahu seperti apa Chen Li sekarang. Sehingga, tidak terlihat raut muka keraguan dari mereka.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Shin Shui. Entah kepada siapa dia bertanya, karena tidak ada penyebutan nama di dalamnya. Seolah dia bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.


Semua orang saling pandang satu sama lain. Kalau benar apa yang dikatakan oleh Chen Li, maka kejadian berikutnya akan lebih rumit.


"Kepala Tetua, apakah yang dikatakan Tuan Muda adalah benar?" tanya seorang tetua.


"Kalau kalian tidak percaya, tunggu saja sebentar lagi. Atau kalau tidak, lihatlah ke bawah. Apakah yang dikatakan anakku benar, atau salah," jawab Shin Shui dengan tenang.


Ucapannya memang terdengar kalem, seolah tidak ada ketakutan dalam dirinya. Padahal, otaknya sedang berpikir cepat tentang bagaimana cara membebaskan diri dari sini.

__ADS_1


Seperti kerbau di cocok hidungnya, tetua tadi menuruti perkataan Shin Shui. Dia melangkah lalu melihat ke tempat agak bawah, dan ternyata memang benar. Ada sekitar seratus orang murid bersama beberapa tetua dan bahkan kepala tetua yang sedang bergerak menuju ke hutan Sekte Serigala Putih, tempat mereka diami saat ini.


"Gawat, seratusan murid dan beberapa tetua serta kepala tetua, sedang menuju kemari," ucap tetua tadi khawatir.


"Hemm, jadi, bagaimana ucapan anakku?" tanya Shin Shui.


"Ucapan Tuan Muda, be-benar,"


"Nah, sekarang apa boleh buat? Kita harus bertarung melawan mereka sebisa mungkin," tegas Shin Shui.


Para tetua dan pendekar merasa kaget pada awalnya. Mereka baru saja bebas dari status tawanan, kini malah harus bertarung mempertaruhkan nyawa lagi.


Hidup sebagai pendekar memang tidak pernah lepas dari bahaya kematian.


Tapi setelah berhasil menguasai diri, pada akhirnya para tetua dan pendekar tersebut sadar juga. Mereka sadar akan resiko kematian yang selalu membayangi dirinya setiap saat.


"Baik. Kami siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Kalau ada kesempatan untuk bebas, silahkan kepala tetua bersama keluarga pergi dari sini. Sisanya serahkan kepada kami," kata seorang tetua tegas dan penuh ketulusan.


Semuanya menunggu orang-orang Sekte Serigala Putih tiba di sana. Sembari menunggu, mereka menyiapkan kekuatan dan kemantapan. Pertarungan kali ini bukan hanya bertaruh nyawa, tetapi juga bertaruh tentang kondisi keamanan di Kekaisaran Wei.


Kalau Shin Shui dan yang lain berhasil, setidaknya beban masalah akan berkurang. Tetapi kalau pihak Shin Shui gagal, maka masalahnya akan menjadi lebih rumit lagi.


Setelah beberapa saat menunggu, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Terlihat kepala tetua Sekte Serigala Putih, Ying Mengtian si Kaisar Buas memakai pakaian serba putih dengan jubah berbulu serigala.


Pakaian itu, adalah pakaian kebesarannya. Sepanjang perjalanan karirnya di dunia persilatan, pakaian tersebut selalu menyertainya.


Di belakang Ying Mengtian, terdapat tujuh orang tetua lainnya. Bersamaan dengan mereka, ada juga seratus murid sekte. Para murid segera mengelilingi Shin Shui dan yang lainnya. Semua senjata sudah dicabut dan di todongkan. Tidak ada kesempatan lagi untuk melarikan diri.


Walaupun memang ada, kesempatan tersebut sangat kecil sekali.

__ADS_1


"Selamat datang kepala tetua. Mohon maaf aku telah berbuat lancang di tempatmu," kata Shin Shui sambil memberikan hormatnya kepada Ying Mengtian.


"Selamat datang kembali kepala tetua Shin Shui. Tidak masalah, memang seharusnya kau bertindak sesuatu yang menurutmu benar. Mohon maaf aku tidak bisa menyambutmu dengan baik seperti biasanya. Keadaan sekarang telah jauh berbeda," jawab Ying Mengtian si Kaisar Buas.


Dua orang petinggi dari masing-masing sekte sedang berbincang-bincang ringan. Walaupun keduanya sadar bahwa saat ini mereka telah bersebrangan, tetapi tidak nampak adanya permusuhan.


Semuanya tampak seperti biasanya. Mereka sempat bercanda, tertawa bersama. Bahkan berbagi cerita. Orang-orang seperti mereka ini adalah orang-orang yang sudah bisa mengendalikan diri.


Sehingga walau menghadapi masalah apapun, orang-orang seperti itu akan tetap tenang dan santai. Tidak akan terlihat amarah di wajah mereka, karena amarahnya sudah tidak mampu lagi mempengaruhi.


"Aku berharap kau tidak terlalu menyalahkanku. Tetapi aku yakin, kau sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Ying Mengtian.


"Bagaimana kau yakin aku tidak terlalu menyalahkanmu, dan bagaimana pula kau bisa beranggapan bahwa aku sudah tahu semuanya?" tanya balik Shin Shui.


"Karena aku tahu, Shin Shui adalah Shin Shui. Dia bukan orang lain. Aku tahu bagaimana kecerdasanmu saat ini. Nampaknya setelah perang besar berakhir, kau terus menempa diri hingga seperti sekarang ini. Kagum, sungguh kagum," puji kepala tetua itu dengan tulus.


"Hahaha, ini semua berkat bantuan para senior sekalian. Tidak ada kalian, tidak mungkin aku menjadi seperti ini,"


"Kau benar, tapi sayangnya, semua itu kini telah berubah. Kita tidak bisa lagi bercanda seperti dulu, semuanya akan menjadi kenangan manis dalam hidupku,"


"Kenapa tidak bisa? Tentu saja bisa, asal kau mau kembali ke jalan sebelumnya,"


"Tidak, tidak bisa. Ying Mengtian bukan orang pengecut. Semua orang tahu ini, dan alasanku berpindah jalan, cukup untuk mewakili semuanya,"


"Kau benar. Bukankah kau berpindah jalan demi menyelamatkan reputasi sekte?" tanya Shin Shui memastikan.


"Tepat. Kau memang cerdas,"


"Baiklah, aku tidak memaksa. Kau bebas memilih, tapi alasanmu berpindah jalan, sugguh membuatku salut. Ternyata kau seorang yang penuh tanggungjawab," kata Shin Shui memuji.

__ADS_1


"Terimakasih. Jadi, bagaimana kalau kita mulai?"


"Baik, kita akan mulai sekarang,"


__ADS_2