Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Di Keroyok


__ADS_3

"Keparat. Kalau hari ini kau tidak mampu di tangan kami, lebih baik bunuh diri saja," kata seorang bertubuh kurus kering.


Li Cun menanggapi hal itu hanya dengan senyuman sinis saja. Dia paling suka kalau melakukan pertarungan melawan orang-orang yang lebih kuat darinya.


Karena semakin banyak dia bertarung, semakin matang pula pengalamannya di dunia persilatan.


"Jangan bunuh diri. Lebih baik aku saja yang membunuh kalian," kata Li Cun pak tertawa.


"Kakak sama adik tidak jauh berbeda. Kalian sama-sama pintar bicara omong kosong," bentak seorang agak pendek dan gemuk.


"Heh gendut!" kata Chen Li sambil menunjuk orang yang dimaksud. "Kalau tidak percaya, kemarilah kita coba sekarang juga. Kau pikir aku tidak mampu untuk meledakkan perutmu yang seperti balon itu?"


"Anak iblis …" bentak si gendut lalu dia maju menyerang Li Cun saat itu juga.


Siapa yang tidak akan marah jika diejek seperti itu? Bahkan yang mengejeknya anak kecil pula.


Ternyata walaupun orang itu gemuk, tapi gerakannya masih tetap lincah. Bahkan terbilang cepat.


Hal ini terbukti saat dia berkata lalu menerjang, tidak sampai hitungan sepuluh, dia sudah tiba di hadapan Li Cun sambil mengayunkan tangan kanannya yang sudah memegang golok.


Li Cun tidak langsung memakai pedang. Sebab kalau dia sudah menggunakan pedang, maka hasilnya akan membuat siapapun kaget.


Dia harus menyembunyikan kelebihannya dalam bermain pedang. Karena kalau tidak, akan banyak pendekar yang mengincar dirinya. Terlebih lagi para pendekar pedang, bisa dipastikan mereka menginginkan nyawanya karena merasa tersaingi.


Karena alasan tersebut, Li Cun lebih memilih untuk menggunakan seruling giok hijau, sekaligus supaya jurus-jurus yang dia kuasi semakin matang dan sempurna.


Bacokan golok yang mengincar kepala sudah tiba di atas. Seruling giok hijau sudah dia cabut pula. Tapi dia tidak membenturkan pusakanya dengan senjata lawan.


Begitu goloknya hampir tiba di kepala, Li Cun bergerak. Tubuhnya mendadak lenyap dari hadapan si gendut. Detik berikutnya, dia sudah ada di sisi lawan lalu memukul perut yang disebutnya mirip seperti balon itu.


Karena pukulan seruling Li Cun menggunakan tenaga dalam besar, maka dalam sekali jangan saja si gendut terpental dua langkah.


Orang itu tidak menyangka ada seorang bocah yang mampu mementalkannya hanya dalam satu kali hantaman. Terlihat wajahnya menahan sakit yang lumayan.


"Hehe, baru sekali saja kau sudah seperti itu. Lebih baik kau pulang saja," ejek Li Cun. "Kenapa kalian juga tidak maju? Apa kalian pikir si gendut itu mampu membunuhku? Cih, aku bukan tikus yang gampang kalian bunuh," ucap Li Cun mendengus.


Ejekan demi ejekan terus keluar dari mulutnya. Ketujuh orang lainnya menjadi terbakar emosi. Mereka berteriak, detik berikutnya ketujuh pendekar tersebut sudah maju menyerang dengan masing-masing senjata yang mereka miliki.

__ADS_1


"Bagus. Biar aku lihat sampai di mana kemampuan kalian," kata Li Cun sambil menghindari hujan serangan yang datang.


Sementara itu di sisi lain, Li Feng pun sudah memulai pertarungannya dengan enam pendekar. Diantaranya tentu ada Kepala Tetua Sekte Langit Merah Hek Jiu Lin yang dikenal dengan sebutan si Tangan Langit Membalik Bumi dan ada juga murid utamanya yaitu Hua Kim.


Karena rasa malu dan rasa kesal sudah mendalam, orang-orang tersebut tidak mengindahkan lagi peraturan dunia persilatan sebagaimana yang biasanya dipegang teguh oleh para pendekar aliran putih.


Di mana kalau mereka bertarung, pantang sekali untuk melakukan pengeroyokan. Tetapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi orang-orang Sekte Langit Merah itu.


Apalagi mereka sudah dipermalukan di depan banyak orang. Mau ditaruh di mana harga dirinya?


Di antara penyerang itu, yang paling tinggi tingkatannya tentu saja si Tangan Langit Membalik Bumi. Jurus-jurus tangan kosongnya mengandung tenaga dalam yang sangat dahsyat.


Julukan itu memang sesuai dengan semua jurus yang dia kuasai. Setiap jurusnya terasa berat dan keras. Kalau dia sudah marah, bisa-bisa batu besar pun hancur kalau dia pukul.


Walaupun begitu, Li Feng tetaplah Li Feng. Dia tidak merasa takut sama sekali walaupun kekuatannya terbatas jika dalam keadaan penyamaran. Namun jangan salah, jurus dari permainan pedang kembar yang dia keluarkan mampu untuk menandingi jurus-jurus maut dari keenam lawan.


Meskipun sering kali dia dalam keadaan terdesak.


Untuk diketahui supaya tidak salah persepsi, walaupun seorang pendekar telah mencapai tahapan tertinggi, dia tetap akan merasa kerepotan jika diserang secara serempak oleh beberapa orang. Apalagi kalau kekuatan mereka juga sudah tinggi. Sebab kalau semua penyerang mengeluarkan jurus mereka secara bersamaan, maka hasil yang didapat pun akan lebih dahsyat lagi.


Berbeda kalau yang menyerangnya berkekuatan rendah.


Seperti Li Feng saat ini, keenam lawannya sudah menyerang secara bersamaan dari tadi. Untungnya jurus pedang kembar yang dia kuasai termasuk hebat dan telah sempurna, sehingga dia tetap bisa mempertahankan posisinya.


Dengan jurus Bintang Bertaburan di Segala Sisi, Li Feng mulai bisa memberikan serangan balasan walau tidak terlalu sering.


Dentingan senjata berbenturan di udara. Bentakan dari keenam pendekar terus menggelegar di telinga.


Tapi Li Feng masih tetap tenang. Bahkan kalau nyawanya terancam seperti sekarang ini pun, dia tetap akan tenang. Karena hanya dengan ketenangan, seseorang biasanya dapat melakukan hal yang mengejutkan.


Li Feng tahu akan hal ini, karena hal tersebut akan terjadi sebentar lagi.


Tepat saat pertarungan sampai pada jurus kedua puluh tiga, Li Feng mengubah gaya bertarungnya. Tubuhnya mencelat tinggi ke udara lalu berjumpalitan dan berpindah posisi.


Di saat keenam lawan merangsek maju ke arahnya, dia sudah mempersiapkan sebuah jurus yang paling tepat untuk menghadapi serangan tersebut.


"Dua Pedang Sejuta Sinar …"

__ADS_1


"Wushh …"


Dia melesat. Kedua pedangnya ditusukan dan diputarkan secepat kilat. Sinar putih keluar dari kedua batang pedang miliknya. Tubuhnya menari dalam sinar yang dia ciptakan sendiri.


Keenam lawan tersentak kaget. Dalam keadaan kritis seperti itu, ternyata si pemuda mampu mengeluarkan jurus mengerikan.


Hek Jiu Lin dan yang lainnya mulai waspada. Mereka sekarang berada dalam posisi bertahan.


Tapi sepertinya hal itu tidak terlalu mempengaruhi Li Feng. Sebab sampai tiga puluh jurus pun, bahkan dia masih mampu mendesak pihaknya.


Li Feng bergerak ke pinggir sebelah kanan. Di sana ada seorang tetua Sekte Langit Merah yang mempunyai tingkatan Pendekar Dewa tahap dua.


Strategi Li Feng adalah menyerang yang lemah terlebih dahulu.


Dia sudah melakukannya. Hujan tusukan pedang dan sabetan terus membayangi tubuh tetua itu. Hanya dalam belasan jurus, Li Feng sudah berhasil mendaratkan sayatan dua pedangnya.


Si tetua itu ingin kabur dari kepungan sinar pedang Li Feng. Sayangnya dia tidak bisa melakukan hal tersebut. Sebab semakin lama, serangan pemuda itu justru semakin berbahaya.


Tepat pada jurus dua puluh, tetua itu akhirnya meregang nyawa. Dia tewas karena dua pedang Li Feng memberikan tusukan ke tenggorokan dan sabetan ke dadanya.


###


Note: Mohon baca ya!


Di novel ini, mungkin akan banyak pertarungan berlangsung. Selingan bicara mungkin hanya 1-2 ch saja. Kenapa? Referensi author adalah novel jadul. Karya suhu yang tenar pada zamannya.


Selain itu, di novel sekarang emang banyak masalah bermunculan. Badai mulai melanda dunia persilatan. Sebelumnya sudah disampaikan.


Para suhu dulu sering membuat konflik yang lebih banyak bertarung daripada bicara, atau bicara sekaligus bertarung. Dan itu yang dilakukan author.


Sebab kalau bicara terus, akan monoton. Bertarung terus, bakal bosan. Maka dari itu author akan memberikan selingan.


Kalau misalkan masalahnya itu aja, bukan berarti begitu. Setiap masalah agak panjang, ga mungkin selesai sesaat. Kalo kalian pernah baca novel silat karya Khu Lung, pasti paham gimana maksud author.


Nanti selingan romantis juga ada. Cuma nanti ya, kan Chen Li masih bocah wkwk.


Semoga bisa membuat kalian betah dan terkesan.

__ADS_1


Salam pecinta kopi☕


__ADS_2