Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar IV


__ADS_3

Ledakan terjadi. Satu orang tokoh itu terdorong dua langkah ke belakang. Dia tidak pernah menduga bahwa ternyata, sosok wanita yang menjadi lawannya mempunyai kekuatan yang sangat tinggi.


Karena merasa malu, orang itu langsung melesat dan berniat menyerang lebih dulu. Dia menggunakan senjata berupa gada. Sebuah gada yang cukup besar dan pastinya sangat berat. Gadis berwarna hitam. Sehitam harapannya untuk menang saat ini.


Wushh!!!


Bumm!!!


Gada itu diayunkan dengan cepat. Sasarannya kepala Ye Rou, si Dewi Teratai Putih. Untungnya wanita tua itu bergerak lebih cepat lagi sehingga pusaka berbahaya tersebut tidak mengenal kepalanya.


Satu lubang berdiameter cukup besar tercipta saat gada tersebut menghantam tanah. Asap putih mengepul tinggi.


Ye Rou tidak diam saja. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini.


Kepala Tetua Sekte Teratai Putih tersebut melompat mundur ke belakang. Setelah itu, selendang pusaka miliknya langsung di hentakkan ke depan.


Segulung angin dahsyat menerjang tiba. Lawan yang pada saat itu masih terbengong menjadi kaget setengah mati.


Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita itu benar-benar sakti.


Gelegar!!!


"Ahhh …"


Sebuah ledakan terdengar bersamaan dengan sebuah teriakan. Teriakan kematian, teriakan kengerian.


Tokoh kelas atas yang menjadi lawan Dewi Teratai Putih telah tewas. Dia tewas dalam keadaan menggiris hati.


Dadanya koyak. Darahnya langsung menggenangi tubuh sendiri.


###


Li Xu si Kaisar Salju Putih mendapatkan jatah tersendiri. Saat ini Kepala Tetua Sekte Gunung Salju itu sedang melawan tiga kelas atas dari Kekaisaran Sung.


Semuanya merupakan seorang pria. Pria tua yang umurnya tidak berbeda jauh dengan dirinya sendiri.


Belakangan ini Kaisar Salju Putih jarang memunculkan diri dalam dunia persilatan, sebenarnya dia sudah enggan berhubungan dengan dunia luar.


Tapi setelah mendengar kabar bahwa Kekaisaran Wei sedang berada dalam bahaya, maka tokoh terkuat yang menempati urutan keempat itu memutuskan untuk kembali lagi ke dunia ramai.


Di Kekaisaran Wei, rasanya tidak ada yang tidak mengenal kakek tua yang satu ini. Setiap orang di negeri tersebut, baik itu dari kalangan warga biasa maupun kalangan dunia persilatan, semuanya pasti mengenal dirinya.

__ADS_1


Walaupun tidak setiap orang pernah bertemu tapi dapat dipastikan bahwa mereka pernah mendengar berita tentangnya.


Tiga lawan Kaisar Salju Putih bukan tokoh kelas atas biasa. Mereka mempunyai satu buah jurus gabungan yang sulit mencari lawannya.


Ketiganya merupakan saudara kembar. Karena itulah mereka disebut Tiga Iblis Kembar.


Semuanya memakai senjata berupa kapak. Kapak yang sangat tajam dan sangat mengerikan. Meskipun kapak mereka tidak terlalu besar, tapi ketajaman dan kekuatannya tidak kalah besar.


Bahkan menurut cerita, masing-masing kapak dari mereka mampu untuk membelah satu buah bukit yang besarnya ratusan ribu kali lipat dari kapak itu sendiri.


Sekarang kakek tua itu sedang digempur oleh Tiga Iblis Kembar. Serangan mereka masing-masing membawa satu kekuatan hebat yang sulit untuk diceritakan.


Semua serangan terjadi dengan tepat dan cepat. Bacokan masing-masing kapak mengincar berbagai macam titik berbahaya di tubuh manusia.


Li Xu tidak tinggal diam. Pedang Dewa Salju yang dia dapat dari pertapaan beberapa tahun lalu sudah keluar. Pedang pusaka kelas atas itu memancarkan hawa dingin yang tiada bandingannya.


Semua yang ada di sekitarnya langsung membeku. Bahkan pasukan musuh yang tidak kuat untuk menahan hawa dingin itu pun turut membeku.


Jika pendekar terkuat keempat mengeluarkan seluruh kekuatannya, adakah yang mampu bertahan lebih lama lagi?


"Pedang Dewa Salju Meruntuhkan Harapan …"


Wushh!!!


Kaisar Salju Putih mengayunkan pedang itu dengan segenap kekuatan yang dia miliki. Satu ayunan dahsyat keluar dengan sangat cepat. Seorang lawannya kelabakan, dia berniat untuk menghindar. Tapi sayangnya terlambat.


Sebelum dirinya bergerak lebih jauh lagi, pedang itu telah berhasil menebas tubuhnya menjadi dua bagian.


Li Xu tidak tinggal diam saja. Dia kembali menyerang dengan tusukan pedang beruntun yang tidak kalah cepat dan berbahayanya.


Ayunan Pedang Dewa Salju semakin menjadi. Segulung angin yang membawa sebuah kekuatan dahsyat menyapu segala yang ada di sana.


Dua orang lawan yang tersisa melompat setinggi mungkin. Mereka tidak mau bernasib seperti satu orang rekannya. Bagaimanapun juga, kedua tokoh itu belum mau mati.


Tapi, apakah mereka bisa lepas dari kematian yang sudah ada di hadapannya saat ini?


Dua jurus kapak yang mengerikan akhirnya dikeluarkan. Dua buah sinar melesat melebur segala kekuatan yang ada. Dua jurus dahsyat itu datang secara bersamaan dari sisi kanan dan sisi kiri.


Kedua tokoh tersebut sangat yakin bahwa jurus pamungkas mereka mampu membunuh orang tua itu.


Gelegar!!!

__ADS_1


Wushh!!!


Crashh!!! Crashh!!!


Keyakinan keduanya langsung runtuh. Harapannya langsung sirna begitu saja. Entah bagaimana caranya, tapi mereka benar-benar merasakan ada gelombang dahsyat yang menyambar tubuh tanpa diduga sebelumnya.


Nyawa mereka melayang saat itu juga. Tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian.


Kaisar Salju Putih benar-benar menunjukkan kesaktiannya. Dia benar-benar memperlihatkan kehebatannya di saat-saat yang tepat sekali.


Pedang Dewa Salju kembali menelan korban. Dua orang tokoh dilahap habis tanpa mengenal belas kasihan.


Jurus pamungkas kakek tua itu sangat cepat sehingga dua lawannya tidak pernah menyangka.


Setalah keduanya tewas, dia langsung pergi ke tempat lainnya untuk mencari lawan yang setingkat.


###


Tidak seberapa jauh dari Li Xu si Kaisar Salju Putih, ada satu pertarungan yang tidak kalah dahsyatnya.


Pertarungan itu milik Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.


Kepala Tetua Sekte Pedang Emas itu sedang bertempur melawan enam orang Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan.


Meskipun jumlahnya jauh lebih banyak, namun kekuatan dan jurusnya belum tentu lebih hebat dari Yuan Shi sendiri.


Pertarungan mereka sudah berjalan sela ratusan jurus. Walaupun sudah selama itu, ternyata belum diketahui pihak mana yang bakal kalah.


Yuan Shi tampil seperti seekor singa jantan yang sedang marah besar. Dia tidak segan untuk mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.


Sebaliknya, enam orang lawan Raja Seribu Pedang tampil seperti kawanan serigala kelaparan. Mereka tidak malu untuk mengeroyok secara bersamaan dengan buas.


Jurus yang mereka miliki sebenarnya sangat hebat. Sayangnya itu semua belum cukup untuk membunuh Yuan Shi. Jangankan membunuhnya, melumpuhkannya saja belum tentu sanggup.


Sekarang mereka sedang bertarung kembali. Enam tokoh dari Kekaisaran Sung tersebut menerjang dengan ganas. Sambaran senjata tajam terasa menusuk tulang belulang. Angin dingin yang tercipta dari setiap serangan mampu menerbangkan nyali.


Tapi Yuan Shi tidak gentar. Tidak sama sekali.


Kakek tua itu justru meladeni semua serangan lawannya dengan senjata pusaka yang dia genggam.


Pedang Emas Pembelah Samudera miliknya telah memancarkan kekuatan dahsyat. Cahaya emas menyelimuti seluruh batang pedang. Hawa kematian pekat terasa mulai dari ujung hingga pangkal pedang.

__ADS_1


Dia menerjang lawan. Dengan jurus Pedang Berputar Angin Menderu, Yuan Shi berusaha untuk mengimbangi seluruh serangan gabungan dari enam lawannya.


__ADS_2