Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pembunuhan yang Kejam


__ADS_3

Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan hitam berputar-putar secepat kincir angin lalu kemudian melesat ke depan ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Rupanya Pang Meng, si datuk dunia persilatan itu, melemparkan dua kapak pusaka miliknya. Kapak kembar hitam legam yang membawa hawa kematian beprutar semakin cepat. Kedua kapak itu mengelilingi tubuh Chen Li lalu menyerang secara tiba-tiba.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Bayangan merah berkelebat. Pedang Merah Darah turut dilemparkan. Pedang pusaka itupun menangkis setiap serangan dari dua kapak pembawa maut tersebut.


"Akupun bisa melakukan apa yang kau lakukan," ejek Chen Li sambil tersenyum dingin.


Wutt!!!


Satu bayangan manusia melesat. Tiba-tiba Pang Meng sudah berada di hadapan Chen Li. Dua belas pukulan berantai dia layangkan dengan segenap kemampuan.


Jangan lupa, dia adalah seorang Pendekar Dewa tahap tujuh. Mengingat tahapannya yang begitu tinggi, sudah pasti kalau mengeluarkan segenap kemampuannya, maka pukulan yang dihasilkan juga akan jauh lebih dahsyat lagi.


Pertarungan hidup dan mati benar-benar baru akan dimulai.


"Ingin membunuhku dengan pukulan bertenaga semut? Hahaha, jangan bermimpi …"


Kalau orang lain yang berkata seperti itu, mungkin akan terdengar lucu. Seperti sebuah lelucon seorang anak kecil kepada temannya.


Sayang, yang bicara kali ini bukan anak kecil. Dia adalah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan. Kata yang seharusnya lucu, justru malah terdengar ngeri di telinga setiap orang yang ada di sana.


Wushh!!!


Bayangan tubuhnya lenyap entah ke mana. Angin yang menerbangkan segala macam benda langsung menggulung kedua tokoh tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pusaran angin tersebut.


Trangg!!! Trangg!!! Bukk!!!


Pertarungan antar senjata pusaka langsung berhenti. Pertarungan manusianya juga berhenti.


Dua kapak kembar milik Pang Meng si Macan Kumbang Dari Barat telah patah. Masing-masing dari kapak itu bisa patah menjadi dua bagian.


Besi baja yang begitu tebal, bagaimana mungkin dapat dipatahkan?


Tentu saja mungkin. Karena yang mematahkannya bukan pusaka sembarangan. Itu adalah pusaka yang pernah menggetarkan langit dan bumi.


Kalau bukan Pedang Merah Darah, apalagi?

__ADS_1


Lain senjata pusaka, lain juga pemiliknya.


Pang Meng telah tergeletak jatuh di tanah. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah. Entah darah itu berasal dari bagian tubuh mana, yang jelas, merahnya darah membuat siapapun yang melihatnya bakal merasa ngeri setengah mati.


Dadanya amblas masuk ke dalam. Seluruh persendian di tubuhnya bergeser hingga tulang belulang tampak menonjol dengan jelas.


Pang Meng telah tewas. Tewas membawa rasa sakit yang tiada tara.


Dengan luka sebanyak dan separah itu, memangnya bagaimana mungkin dia masih dapat bertahan?


Pemandangan ini benar-benar menjadi pemandangan paling mengerikan yang pernah dilihat oleh Yun Jianying bersama orang-orangnya. Selama mereka hidup, selama berkelana dalam dunia persilatan, rasanya mereka belum pernah melihat kejadian seperti sekarang ini.


Jangankan pendekar aliran hitam kelas menengah, bahkan yang kelas satu atau seorang datuk sesat sekalipun, rasanya mereka belum tentu sanggup untuk melakukan pembunuhan seperti yang dilakukan oleh Chen Li.


Cara pemuda itu membunuh Pang Meng benar-benar kejam. Lebih kejam dari apapun.


Apakah semua kejadian ini mimpi?


Mereka mencoba mengucek-ngucek matanya sambil berharap bahwa ini hanyalah mimpi. Sayangnya setelah beberapa kali melakukan hal serupa, ternyata hasilnya tetap sama.


Kejadian ini nyata. Bukan rekayasa, apalagi sebuah mimpi belaka.


Wushh!!!


Hujan mulai reda. Yang tersisa hanyalah hawa dingin. Hawa dingin menusuk tulang bercampur dengan hawa kegelapan, kira-kira bagaimana jadinya?


Chen Li berjalan ke arah tempat sebelumnya dia berdiri. Phoenix Raja sudah bertengger kembali di pundaknya.


"Aii, sayang sekali aku malah membunuhnya," gumam Chen Li seperti sedikit menyesal.


"Memangnya kenapa?" tanya Phoenix Raja.


"Kalau dia keburu mati, bagaimana mungkin kita bisa menemukan Tuan Tiong Jong? Harusnya aku tidak segera membunuh tua bangka itu,"


"Jangan khawatir. Aku bisa menemukan di mana dia berada," jawab Phoenix Raja penuh rasa percaya diri.


"Bagaimana caranya?"


"Pang Meng bersembunyi di mana?"


"Di Sekte Bulan Merah,"

__ADS_1


"Kalau kau jadi dia, kira-kira di mana kau akan menyembunyikan orang tua itu?"


"Tentu saja di tempat paling aman dan rahasia yang ada di Sekte Bulan Merah. Kebetulan toh akupun menyamar menjadi kepala tetua sekte itu," jawab Chen Li.


Bukankah alasan itu masuk akal?


Jika seseorang menduduki posisi paling tinggi, apapun bisa dia lakukan di wilayah kekuasaannya. Jangankan menyembunyikan seorang manusia, bahkan menyembunyikan segudang harta pun bisa.


Sebab di setiap sekte, apalagi sekte ternama, pastinya mempunyai sebuah tempat yang sangat terlarang di mana tidak ada yang boleh memasukinya kecuali hanya kepala tetua sekte itu sendiri.


"Tepat. Jadi dugaan terbesar kita saat ini Tuan Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh itu berada di tempat terlarang Sekte Bulan Merah,"


"Betul juga," jawab Chen Li girang.


Akhirnya persoalan yang berliku-liku mulai dapat dipecahkan. Terkait dugaannya benar atau tidak, hal itu bukanlah masalah. Yang penting mereka sudah berusaha untuk mencarinya.


Chen Li berjalan mendekati Yun Jianying bersama orang-orangnya. Wajahnya kembali dingin, hawa kematian masih menyelimuti tubuh pemuda serba putih itu.


"Apakah pertarungan kita akan dilanjut kembali?" tanyanya dengan dingin.


Dua Penguasa Bulan saling pandang, kemudian berpaling ke arah Yun Jianying. Mereka semua bingung, setelah melihat bagaimana kesaktian Pendekar Tanpa Perasaan, masing-masing dari orang itu benar-benar merasa takut.


Tidak bertarung pun sekarang mereka sudah tahu bahwa meskipun bergabung, belum tentu keempatnya dapat mengalahkan Chen Li.


Kalau seorang datuk sesat dunia persilatan saja bisa tewas mengenaskan di tangan Pendekar Tanpa Perasaan, apalagi mereka?


"Ini, ini …" salah seorang dari Dua Penguasa Bulan tidak sanggup menyelesaikan bicaranya. Dia benar-benar takut sekaligus gugup, apalagi pada saat itu dirinya ditatap dengan tajam oleh Chen Li.


Ketakutannya yang utama adalah disebabkan oleh sepasang mata yang dimiliki oleh pemuda angkuh itu. Bola mata tersebut benar-benar menakutkan. Lebih menakutkan dari apapun.


"Kalau kalian tidak mau berurusan denganku, tidak masalah. Tapi aku punya satu permintaan untuk kalian,"


Dua Penguasa Bulan dan yang lainnya memasang wajah bingung. Tatapan Maya mereka penuh dengan tanda tanya dan rasa penasaran.


"Apa syarat yang akan kau ajukan?" tanya Yun Jianying.


Suaranya lembut, nadanya juga tenang. Tidak berangasan seperti tadi. Dalam nada suara itu malah seperti mengandung rasa kagum, rasa ngeri dan rasa takut tersendiri.


Tapi dari tatapan matanya jelas bahwa Yun Jianying mulai mengagumi sosok Pendekar Tanpa Perasaan.


Memangnya anak gadis mana yang tidak suka kepada seorang pendekar muda bertubuh kekar, berwajah tampan dan berilmu tinggi?

__ADS_1


Hampir setiap anak gadis pasti suka terhadap pemuda yang mempunyai ciri-ciri seperti demikian. Tidak terkecuali dengan Yun Jianying sendiri.


__ADS_2