Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Membeli Senjata Pusaka


__ADS_3

Sekarang gantian, giliran si pelayan yang dibuat terkejut. Mendadak dia memperhatikan Chen Li mulai dari atas hingga bawah.


Pakaiannya memang sederhana. Tetapi ada aura agung yang keluar dari tubuh bocah itu. Saat ia bicara, seperti seorang Kaisar yang sedang berkata. Semua orang pasti akan tunduk dan menuruti.


"Tuan muda sungguh akan membelinya?" tanyanya masih belum percaya sepenuhnya.


"Kalau aku berbohong, kepalaku menjadi jaminannya. Lagi pula, toh diluar penjagaan amat ketat. Aku bukan orang bodoh yang berani mencari mati di kandang harimau,"


"Ba-baiklah, aku akan mencatatnya dengan segera," kata si pelayan sedikir gugup.


Chen Li mengangguk. Dia juga berkeliling untuk melihat-lihat. Terdengar di belakangnya, Yuan Shao sedang berbicara.


"Kau lihat, pedang ini sangat indah bukan. Lihat ukiran burung phoenix di sarung pedangnya. Aihh, warnanya sama dengan warna yang aku suka. Sungguh indah sekali, kalau aku sudah banyak uang, pasti aku akan kemari untuk membelinya," ucap Yuan Shao kepada Li Meng Li.


Keduanya adalah pendekar pedang. Walaupun Li Meng Li menggunakan pedang kembar, tapi tetap itu juga pedang.


Pedang yang dimaksud oleh Yuan Shao memang indah. Tak dapat dipungkiri lagi, siapapun pasti akan mengatakan hal yang sama. Pedang itu memang benar-benar indah.


Siapapun pasti ingin memilikinya.


Sebuah pedang bersarung dan bergagang emas. Sarungnya memiliki ukiran burung phoenix emas. Bahkan gagang pedangnya berwarna emas dan berbentuk kepala phoenix.


"Catat dan jelaskan," bisik Chen Li kepada pelayan yang selalu mengikutinya.


"Baik,"


Si pelayan segera menghampiri Yuan Shao. Kemudian dia menjelaskannya, "Ini namanya Pedang Phoenix Emas. Menurut legenda, pedang ini selalu digunakan oleh Pendekar Phoenix Surgawi pada puluhan tahun lalu. Pedang ini sangat istimewa, sebab di dunia ini tidak ada lagi pedang seperti ini. Hanya inilah satu-satunya," jelas si pelayan.


Mata Yuan Shao tampak berbinar-binar sekali. Sepertinya dia memang tidak salah pilih. Bocah itu memilih sesuatu yang telah untuknya.


"Apakah harga setiap senjata pusaka beda-beda?" tanya Chen Li.


"Pastinya beda Tuan muda. Tetapi semuanya satu tingkatan. Masalah bisa mengeluarkan kekuatan dahsyat atau tidaknya, hal itu kembali lagi kepada si pengguna. Semakin dia kuat, semakin semakin hebat juga hasilnya. Semakin sempurna tenaga dalam pemiliknya, semakin mengerikan juga senjatanya,"


"Hemm, menarik. Semua memang ada kelebihan dan kekurangannya," kata Chen Li sambil mengangguk-angguk.


Sekarang yang belum mendapatkan senjata pilhan tinggal Li Meng Li. Sepertinya gadis itu masih mencari-cari pedang kembar yang sesuai dengan seleranya.


Setelah beberapa saat melihat-lihat, akhirnya dia menemukan juga pilihannya.


Sepasang pedang kembar tersimpan rapi di dalam kotak kayu hitam. Warnanya putih. Seperti salju di pegunungan.

__ADS_1


Sarungnya bermotif bunga lotus dan tampak sangat indah sekali. Saat Li Meng Li menyentuhnya, terasa ada hawa dingin yang masuk ke tulangnya.


"Ini namanya apa?" tanya bocah kecil itu tanpa basa-basi.


"Ini namanya Pedang Kembar Bunga Lotus Es. Pedang kembar ini kami dapatkan dari gunung es di daerah tenggara. Pedang ini tercipta setelah siluman naga penunggu gunung tersebut berhasil di bunuh. Menurut cerita, pedang ini dapat mengeluarkan hawa dingin yang sangat menusuk tulang jika pemiliknya sudah mempunyai tenaga salam sempurna dan ahli dalam tenaga im (dingin)," jelasnya kepada Li Meng Li.


"Berapa harganya?"


"900 ribu keping emas," jawab si pelayan.


"Hemm, sepertinya aku harus menjual mataku dulu untuk bisa mendapatkannya," ucap Meng Li sambil tertawa getir.


Dia menghela nafas. Pertanda bahwa hatinya sangat sedih sebab tidak mampu untuk membeli Pedang Kembar Bunga Lotus Es.


Tiga rekannya sudah mendapatkan senjata pusaka pilihan. Semua senjata yang mereka pilih merupakan senjata yang cocok untuknya.


Tentu, sebab senjata-senjata yang ada si ruangan tersebut merupakan senjata terbaik daripada yang terbaik lainnya.


"Pedang ini berapa?" tanya kepada si pelayan.


"500 ribu. Ini namanya Pedang Hitam. Seperti juga bentuknya. Berwarna hitam pekat, sangat misterius dan menyeramkan. Ini adalah pusaka terlama yang belum terjual di sini. Menurut para pembeli, katanya pedang ini mengandung kekuatan aneh. Sehingga mereka tidak mau untuk membelinya. Karena alasan itulah kami menjualnya dengan harga sedikit miring,"


"Tidak masalah. Aku akan membelinya,"


"Apakah aku kelihatan seperti sedang bercanda?"


"Aii, baiklah. Aku mengerti," jawab si pelayan pasrah.


"Apakah semua rekanku sudah selesai memilih?" tanya Chen Li kepadanya.


"Sepertinya sudah Tuan muda. Karena aku melihat, tidak ada senjata lainnya yang mereka inginkan,"


"Baiklah. Kalau begitu sekarang aku akan membayarnya,"


"Baik, mari Tuan muda ikut aku,"


Si pelayan kembali berjalan. Dia mengajak Chen Li dan rekan-rekannya menuju ke sebuah ruangan lagi. Sepertinya itu ruangan khusus.


"Ruangan ini khusus dipakai tempat pembayaran yang bernilai tinggi,"


"Baik, tidak masalah. Siapa yang akan menerima pembayaran?"

__ADS_1


"Tentunya si pemilik toko ini,"


"Di mana dia sekarang?" tanya Chen Li.


"Di depanmu," jawab si pelayan.


"Maksudmu? Kau sendiri pemilik toko yang dimaksud?"


"Benar, kau tidak percaya?"


Awalnya Chen Li memang tidak percaya. Tetapi setelah dia melihat tanda kepemilikan, akhirnya mau tidak mau dia harus percaya juga.


"Sekarang aku percaya," katanya mengeluh.


"Kenapa kau tidak bilang dari awal?"


"Karena tidak setiap orang harus tahu siapa pemilik asli sebenarnya. Aku melakukan semua ini tak lebih karena untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,"


"Pemilik toko memang jenius," jawab Chen Li.


"Tuan muda terlalu memujiku,"


Yuan Shao, Mo Xiuhan dan Li Meng Li juga sama-sama kaget saat mereka mengetahui siapa sosok pelayan tersebut. Tak disangkanya, mereka akan langsung dilayani oleh pemilik asli toko tersebut. Walaupun mereka diluar, tapi ketiganya mendengar pembicaraan itu.


"Apakah ini sudah menjadi tradisi kalian? Itu artinya, toko ini sudah turun temurun bukan?"


"Benar, dari dulu sampai sekarang, kami memang biasa melakukan hal ini. Dan lagi-lagi kau benar, Toko Senjata Pusaka Pualam adalah usaha turun temurun keluarga kami. Dari generasi ke generasi,"


"Hemm, sekarang aku mengerti," kata Chen Li baru memahami di balik sini semua.


Si pelayan hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia semakin mengagumi bocah itu. Namun dalam hatinya muncul gagasan bahwa menurutnya, bocah tersebut pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa.


"Berapa jumlah semuanya?" bisik Chen Li. Dia tidak mau semua rekannya mendengar dengan jelas.


"Kipas Dewi Sakura 800 ribu keping emas, Pedang Phoenix Emas 1 juta keping emas, Pedang Kembar Bunga Lotus Es 900 ribu keping emas, dan Pedang Hitam Tuan muda 500 ribu keping emas. Jadi jumlah totalnya 3 juta 200 ribu keping emas. Karena aku mengagumi Tuan muda, aku akan memberikan sedikit potongan harga. Totalnya menjadi 3 juta 150 ribu keping emas," ucap pelayan tersebut.


"Baiklah. Berikan aku kertas putih dan tintanya,"


Walaupun si pelayan tidak paham apa yang akan dia lakukan, tetapi si pelayan yang ternyata pemilik toko itu segera memberikannya secarik kertas dan tinta.


Chen Li segera menulis. Dia sudah belajar menulis sejak kecil, jadi sekarang dirinya sudah pandai.

__ADS_1


Begitu kertas diberikan kembali dan di lihat oleh si pemilik toko, dia langsung membelalakan matanya.


__ADS_2