
Hon Tong menuruti perkataan Hio Sun. Dia merenung untuk beberapa saat lamanya. Wanita itu sedang mengingat-ingat kejadian di hutan yang terjadi beberapa saat lalu.
Setelah Hon Tong mengingat semuanya, bahkan dia mengingat juga siapa orang tua di hadapannya saat ini, wanita itu langsung berubah hebat.
Wajahnya kembali pucat pasi. Keringat sebesar biji kacang kedelai turun dari kening hingga ke hidungnya. Lututnya bergetar hebat.
"Aku pantas mati. Aku pantas mati," kata Hon Tong langsung merasa lemas.
"Kau tidak pantas untuk mati. Karena aku tidak ingin kau mati," ucap Huang Taiji serius.
"Ta-tapi …"
"Aku tidak suka jika ucapanku dibantah,"
Hon Tong tidak bicara lagi. Dia langsung membisu seribu bahasa.
Tiga Wanita Pembawa Maut tertunduk kepalanya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berani memandang wajah Huang Taiji.
"Apakah tahu apa alasanku tidak membunuh kalian?" tanyanya sambil memandangi tiga wanita itu.
Mereka menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku ada tugas untuk kalian,"
Serempak ketiganya langsung mengangkat kepala. Masing-masing memperlihatkan ekspresi kebingungan.
"Tugas? Tugas apa?" tanya Hio Sun.
"Apakah kalian tahu bahwa negara kita sedang dijajah oleh bangsa asing?"
"Kami tahu," jawab Bi Ling secara cepat.
"Nah, tugas yang akan aku berikan kepada kalian menyangkut hal tersebut. Aku meminta agar kalian menjaga keamanan dan menghancurkan setiap musuh yang kalian temui. Perang yang akan segera terjadi mungkin lebih besar dari pada sebelumnya, agar meminimalisir kejadian yang jauh lebih besar, kita harus bekerja sama dalam segala lini. Hanya bekerja sama lah jalan satu-satunya untuk menghadapi bencana ini," ucap Huang Taiji.
"Tanpa diperintah sekalipun, kami memang ingin memberikan sedikit bantuan untuk negara. Justru sebenarnya, tujuan kami membawa lari gadis itu adalah untuk menyempurnakan jurus kami lalu turun gunung menumpas sepak terjang pihak lawan yang semakin hari semakin semena-mena itu," kata Hio Sun menjelaskan.
Tujuannya memang demikian. Sebab kalau sudah berhasil menyempurnakan jurus andalan seperti diceritakan sebelumnya, maka Tiga Wanita Pembawa Maut akan menjadi tokoh pilih tanding.
Dengan begitu, mereka bakal mempunyai kekuatan besar untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi setiap saat.
"Tujuan kalian memang benar. Tapi cara kalian yang salah. Kalau memang kalian akan melakukan hal itu, maka aku bisa membantu menyempurnakan jurus yang dimaksud,"
"A-apakah Tuan Huang sungguh-sungguh?" tanya Hon Tong masih tidak percaya.
__ADS_1
"Aku tidak suka bermain-main,"
"Ta-tapi, bagaimana caranya?"
Huang Taiji tersenyum hangat. Dia mengibaskan tangan kanannya. Seketika di kepalan tangan kanan itu ada tiga pil berwarna putih.
Hawa dingin atau hawa Im segera menyebar ke seluruh area sekitar. Keadaan di sana mendadak berubah, ketiganya merasa seperti sedang berada di sebuah gunung es.
"Telan Pil Dewa Es ini. Setiap satu pil, mengandung hawa Im yang bahkan lebih besar dari pada gadis yang kalian bawa itu,"
Huang Taiji langsung melemparkan tiga pil tersebut. Tiga Wanita Pembawa Maut menangkapnya dengan cekatan.
"Telan pil ini saat terjadi bulan purnama. Kalian harus meditasi selama proses penyerapan kandungannya,"
Tiga Wanita Pembawa Maut merasa sangat terkejut sekaligus kagum. Mereka terkejut karena tidak menyangka, dan kagum karena Huang Taiji selalu mempunyai sesuatu yang bahkan tidak dimiliki oleh setiap tokoh kelas atas sekalipun.
"Terimakasih Tuan Huang, terimakasih. Kami berjanji akan menjalankan tugas yang Tuan berikan," kata Hio Sun membungkuk hormat lalu diikuti dua saudaranya.
"Jangan terlalu sungkan. Sekarang bawa gadis itu. Aku harus segera kembali ke penginapan,"
Tanpa membuang waktu lagi, Hon Tong langsung membawa keluar gadis kecil yang ternyata cucu Han Ciu Ling.
Hon Tong menyerahkannya kepada Huang Taiji dengan penuh rasa hormat mendalam.
"Pasti Tuan Huang. Anda jangan khawatir,"
Huang Taiji tersenyum simpul. Dia membalikkan badan lalu segera melesat menembus kedinginan yang terasa di sana.
###
Bulan purnama tidak seterang sebelumnya dan bahkan sekarang, bulan itu mulai condong ke Barat.
Han Ciu Ling masih duduk di ruangannya ditemani seguci arak. Wajahnya menggambarkan ekspresi tidak tenang. Siapa orangnya yang bisa santai jika cucu sendiri diculik oleh tokoh-tokoh kelas atas?
Tokk!!! Tiga kali terdengar suara yang sama.
"Masuk,"
Seseorang masuk. Dia adalah pria tua, di sisinya ada seorang gadis yang memegangi pergelangan tangannya dengan erat.
Wajah Han Ciu Ling berubah hebat. Saat itu juga dia langsung lari ke depan lalu memeluk cucu kesayangannya dengan sepenuh hati.
Tangis bahagia terdengar. Si gadis kecil juga menangis saat melihat neneknya meneteskan air mata.
__ADS_1
"Nenek jangan menangis lagi. Aku sudah pulang, untung ada Paman baik ini," katanya tersenyum sambil menghapus air mata di pipi Han Ciu Ling. Matanya melirik sekejap ke arah Huang Taiji.
"Kau tahu bahwa Nenek sangat mengkhawatirkanmu? Aii, untung saja Dewa masih melindungimu. Nah, sekarang pergilah untuk tidur,"
Si gadis kecil mengangguk. Dia langsung berlari menuju kamarnya.
Huang Taiji dan Han Ciu Ling sudah duduk berhadapan. Arak sudah dituang di cawannya masing-masing.
"Entah bagaimana caranya aku harus membalas kebaikan ini. Aku telah menuduhmu, kau justru malah membantuku," kata Han Ciu Ling sedikit merasa malu dan bersalah.
"Kau tidak perlu seperti itu kepadaku,"
Huang Taiji kemudian memberikan tugas kepada wanita tua itu. Tugasnya sama dengan tugas yang diemban oleh Tiga Wanita Pembawa Maut.
Selama Huang Taiji bicara, guru besar Perguruan Kipas Baja itu tidak bicara sepatah kata pun.
"Apakah tugasku hanya itu saja?" tanyanya setelah Huang Taiji selesai bercerita.
"Aku rasa itu saja sudah cukup,"
Jawaban Han Ciu Ling hampir sama dengan jawaban para pendekar yang ditemui oleh Huang Taiji sebelumnya. Dia juga siap membantu dan berkorban nyawa.
"Bagus. Kalau begitu, aku akan segera pulang sekarang juga,"
"Baiklah,"
Huang Taiji langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia membalikkan badan lalu segera pergi dari kediaman Han Ciu Ling.
Tujuannya sekarang adalah ke penginapan di mana Chen Li sedang merawat Huan Ni Mo. Dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya secepat mungkin.
Entah kenapa, tiba-tiba saja benaknya menjadi mengkhawatirkan Chen Li.
Apakah bocah itu sedang menghadapi sebuah masalah? Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Rasa penasaran di benak Huang Taiji semakin menjadi. Karena itulah, dia semakin mempercepat juga ilmu meringankan tubuhnya.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna, Huang Taiji tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di tempat tujuannya.
Hanya sekejap mata, orang tua itu sudah tiba di depan penginapan miliknya.
Dia langsung berlari dan masuk kamar yang dipesan sebelumnya. Namun setelah dia masuk ke dalam, wajahnya mendadak berubah hebat.
Dia menengok ke sana kemari. Benaknya bertambah gelisah setelah melihat bahwa di dalam kamar itu tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1