Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tingkah Konyol Pengemis Berwatak Aneh


__ADS_3

Kelima orang yang merupakan pembunuh bayaran itu tercengang. Mulut mereka terbuka hingga hampir membentuk huruf O. Matanya melotot.


Apakah yang mereka lihat sekarang adalah mimpi?


Bagaimanapun juga, orang-orang itu tidak mau percaya begitu saja. Mereka selalu bangga dengan kekuatan dan kemampuannya yang sudah terhitung kelas atas. Siapa sangka, di hadapan pemuda ini, mereka justru dibuat kaget setengah mati.


Kejadian ini sungguh diluar dugaan.


Orang yang goloknya patah membelalak lebih terkejut lagi. Tubuhnya langsung bergetar. Keringat panas dan dingin merembes membasahi seluruh badannya.


Plakk!!!


Telapak tangan Pendekar Tanpa Perasaan memukul ke arah dadanya. Pukulan itu terlihat pelan. Tapi akibatnya amat mengejutkan.


Orang itu langsung terdorong mundur dengan deras. Untung empat rekannya bergerak cepat, mereka langsung menangkapnya sehingga dia tidak terpental terlalu jauh ke belakang.


Coba kalah tidak, mungkin saat ini tubuhnya sudah remuk karena menabrak sebatang pohon yang ada di belakangnya.


"Apakah kalian masih ingin mencoba lagi?" tanya Chen Li dengan suara yang angkuh dan dingin. Wajahnya tanpa ekspresi.


Pertanyaan itu tidak dijawab dengan ucapan. Melainkan dengan tindakan. Empat orang anggota Lima Pembunuh Kilat langsung menyerang secara bersamaan.


Serangan mereka sama bahayanya dengan orang yang pertama. Empat macam senjata tajam telah mengincar seluruh tubuh Pendekar Tanpa Perasaan. Berbagai macam jurus kelas atas juga sudah dilayangkan tanpa belas kasihan.


Wushh!!! Wushh!!!


Jurus jarak jauh yang dahsyat menerjang lebih dulu. Namun sebelum empat jurus itu mengenai sasaran, telah ada satu jurus lain.


Sebuah cahaya putih menyilaukan tiba-tiba muncul di hadapan Pendekar Tanpa Perasaan.


Blarr!!!


Ledakan terjadi. Empat macam sinar dari empat jurus telah lenyap bersama dengan suara ledakan itu.


Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh ternyata tidak tinggal diam. Berbarengan dengan kejadian barusan, orang tua itu merentangkan kedua tangannya lalu di arahkan ke arah berdirinya Chen Li.


Cahaya putih tadi adalah jurus yang dia keluarkan.


"Jurus yang hebat," kata Chen Li memuji.


"Pemuda yang bermata tajam," jawabnya sambil tersenyum pula.

__ADS_1


Wushh!!!


Selesai ledakan tadi, Pendekar Tanpa Perasaan telah meluncur jauh ke depan. Tubuhnya berputar dengan cepat. Pedang Merah Darah sudah dihunus di tangan kirinya.


Cahaya merah segera berkelebat. Empat senjata tajam juga sudah mencecar.


Pertarungan telah dimulai. Empat orang itu bekerja sama untuk membinasakan anak dari Pendekar Halilintar tersebut.


Hawa kematian mulai menjalar ke setiap tubuh orang-orang itu. Aura gelap serasa menyelimuti tempat sekitar.


Belasan jurus sudah berlalu. Posisi Lima Pembunuh Kilat berada di bawah angin. Meskipun mereka sudah mengeluarkan segenap kemampuan, sayangnya hal itu saja masih belum cukup untuk menghadapi Pendekar Tanpa Perasaan.


Wutt!!!


Orang yang sudah dipatahkan goloknya tiba-tiba melesar secepat anak panah yang dilepaskan dari tapi busur. Dua belas pukulan berantai dia layangkan dengan segera.


Pukulan itu adalah jurus hebat. Juga dahsyat. Kecepatannya tidak perlu diragukan lagi.


Kalau saja lawannya orang lain, bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong.


Sayangnya lawan yang sekarang adalah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan.


Dia tewas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Empat rekannya terkejut kembali. Sayangnya mereka tidak bisa terlalu lama dalam posisi seperti itu. Sebab tepat pada saat itu, tebasan Pedang Merah Darah telah datang pula.


Serangan yang diberikan oleh Pendekar Tanpa Perasaan teramat cepat. Datangnya seperti setan gentayangan. Tidak diduga. Menakutkan. Dan mampu melemahkan keberanian.


Crashh!!! Brett!!!


Suara yang sama terdengar empat kali hampir secara berbarengan.


Pertarungan rampung saat itu juga. Hanya dalam tiga puluhan jurus, lima orang Pendekar Dewa tahap dua telah mampus di ujung Pedang Merah Darah. Lima Pembunuh Kilat dibunuh secara kilat juga oleh seorang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan.


Pengemis Berwatak Aneh bertepuk tangan dengan girangnya. Dia juga jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang sedang bahagia.


"Jurus bagus, pertarungan hebat. Pemuda perkasa, aii, aku sangat terhibur sekali," katanya sambil setengah berteriak.


Dia tertawa lantang lalu segera melemparkan lima jasad manusia itu dengan tangan energi ciptaannya.


Chen Li tidak bicara apapun. Dia hanya tertawa simpul karena melihat kelakukan konyol orang tua itu.

__ADS_1


Bekas-bekas pertarungan masih ada. Tapi noda darah dan jasad dari para korban telah tiada. Hanya beberapa kali kibasan tangan, semuanya bisa dilenyapkan oleh Pengemis Berwatak Aneh.


Diam-diam diapun memuji akan kehebatan Pemimpin Perkumpulan Pengemis itu.


"Dia benar-benar bukan orang sembarangan," gumam Chen Li kepada dirinya sendiri.


Tiong Jong berjalan mendekatinya setelah dia puas tertawa dan bertingkah konyol. Wajahnya lebih berseri. Seperti sekuntum bunga layu yang tiba-tiba disirami oleh air hujan.


"Kau benar-benar hebat anak muda. Aii, aku sangat kagum kepada kemampuanmu,"


"Tidak berani, tidak berani. Aku belum pantas menerima pujian itu," jawab Chen Li merendah.


"Pemuda yang hebat. Pemuda yang selalu merendah. Aku suka, aku suka," katanya berjingkrak lagi.


Tapi setelah itu dia tiba-tiba lemas. Tubuhnya langsung ambruk begitu saja.


Chen Li memeriksanya, dia takut luka dalam orang tua itu kambuh lagi. Siapa sangka, Tiong Jong ternyata tidak papa. Dia malah tidur dengan nyenyaknya.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas.


Chen Li segera membopong Tiong Jong. Dengan kecepatan kilat, pemuda itu langsung beranjak pergid dari sana.


Tujuannya saat ini adalah ke markas utama Perkumpulan Pengemis.


Beberapa waktu kemudian, dia sudah tiba di sana. Semua anggota Perkumpulan Pengemis menyambut baik kedatangannya. Apalagi setelah mereka melihat pemimpinnya ikut serta.


Hampir semua anggota Perkumpulan Pengemis berkumpul di halaman utama yang luasnya puluhan tombak itu. Mereka memberikan hormat kepada Pendekar Tanpa Perasan.


Chen Li membalas hormat itu. Kemudian dia langsung masuk ke dalam. Ke ruangan utama di mana Beng Koan dan To Cun suka berdiam di sana.


Ruangan itu ramai. Beberapa orang tokoh Perkumpulan Pengemis sedang berada dalam ruangan tersebut. Begitu melihat kedatangan Chen Li sambil membawa Tiong Jong, mereka langsung memperlihatkan ekspresi yang sangat bahagia sekali.


"Pemimpin telah kembali. Pemimpin sudah ditemukan," teriak salah seorang tokoh sangat gembira.


"Di mana kamar Tuan Tiong?" tanya Chen Li.


Seorang tokoh segera menunjukkan kamar orang tua itu. Chen Li ikut di belakangnya. Begitu tiba di kamar, dia segera membaringkan Pengemis Berwatak Aneh di kasur yang empuk juga mewah.


ternyata perkumpulan ini banyak harta juga,' batinnya saat mengetahui bahwa kamar itu diisi dengan barang-barang mahal.


Setelah membaringkan Tiong Jong, Chen Li segera keluar lagi karena para tokoh sudah menunggu dirinya di sana.

__ADS_1


__ADS_2