Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dikepung


__ADS_3

Kakek Tua Jubah Hitam juga sudah merasakan hal lain dari diri Shin Shui. Dia merasakan bahwa kekuatan yang sulit dijelaskan sudah merembes keluar dari tubuh pendekar itu. Hal ini semakin menambah kekagumannya kepada Shin Shui.


"Persetan dengan semua ucapanmu itu. Hari ini juga, kau harus mampus …" bentak Hek Jiu Lin dengan sangat marah.


Bukan hanya dia saja, baik Shin Shui maupun Kakek Tua Jubah Hitam, semuanya merasa marah. Kakek tua itu mempunyai sifat yang sedikit tidak sabaran.


Terbukti seperti sekarang ini, belum sempat Shin Shui memberikan perintah untuk menyerang, Kakek Tua Jubah Hitam malah sudah menyuruh binatang peliharaannya untuk menyerang lawan.


Sedangkan Shin Shui sendiri masih berusaha menahan diri dari amarahnya. Pendekar Halilintar itu sedang mengamati satu persatu lawannya. Dan hasilnya, cukup untuk membuat Shin Shui kaget.


Yang Shin Shui khawatirkan bukanlah kelompok Hek Jiu Lin. Justru sebaliknya, sepuluh orang tak dikenal itulah yang membuatnya terkejut. Sebab dari sepuluh orang tersebut, tiga di antaranya berkekuatan Pendekar Dewa tahap lima akhir.


Kalau benar mereka berasal dari Kekaisaran lain, itu artinya mereka setara dengan Pendekar Dewa tahap enam akhir. Ada tiga pendekar sekuat mereka masih bisa ditangani oleh Shin Shui. Meskipun harus berjuang susah payah.


Tetapi kalau dari tiga itu ditambah dua belas orang, bagaimana jadinya? Apalagi Hek Jiu Lin sendiri sudah berada di tingkatan Pendekar Dewa tahap enam.


'Ini tidak bagus. Kalau aku hanya berdua dengan Kakek Tua Jubah Hitam, tidak ada harapan untuk menang sama sekali," pikir Shin Shui.


Sementara itu, selama dirinya memikirkan bagaimana caranya untuk melawan orang-orang tersebut, Kakek Tua Jubah Hitam sudah mulai melancarkan jurus mautnya.


Kakek tua itu semakin kesal saat melihat binatang kesayangannya terbunuh. Apalagi salah satu pelakunya adalah murid dari Hek Jiu Lin sendiri, Hua Kim. Tentu saja hal itu semakin membangkitkan amarah Kakek Tua Jubah Hitam.


Serangan yang dia lancarkan mengandung racun ganas. Incaran utamanya tentu si Hua Kim yang terkenal angkuh itu. Sinar hitam yang mengandung bau busuk menyengat hidung sudah berkelebat tanpa henti ke arah Hua Kim.


Sayangnya bocah tersebut dijaga oleh sesorang berjubah hijau lainnya. Sehingga semua serangan Kakek Tua Jubah Hitam sedikit banyak gagal menemui sasarannya.

__ADS_1


Di tempat lain, Eng Kiam dan Li Cun sedang berada di halaman belakang rumah sederhana gurunya. Dia sedang menulis sepucuk surat bantuan yang akan di kirim ke rekan kakek tua itu.


"Kakak Kiam, kau akan mengirimkan surat itu kepada siapa?" tanya Li Cun penasaran.


"Ke paman Serigala dari Lembah Kematian. Dia adalah sahabat dekat guruku, dan kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Sehingga dia mungkin bisa di andalkan," kata Eng Kiam.


Li Cun hanya mengangguk saja. Sebab dia sendiri sebenarnya tidak mengetahui siapa itu Serigala dari Lembah Kematian.


Sepucuk surat sudah ditulis dengan tangan yang lentik dan halus itu. Eng Kiam segera menggulung surat tersebut lalu mengikatkannya ke kaki burung elang pengirim pesan.


Elang itu sudah mengerti. Ketika dia diberi sepotong daging ayam mentah, elang tersebut segera terbang tinggi menembus cakrawala untuk menjalankan tugasnya.


Namun belum sempat dia terbang jauh, tiba-tiba saja ada sebuah pisau yang melesat secepat kilat dari arah hutan bagian dalam.


Buru-buru Eng Kiam melepaskan jarum beracun yang dia miliki untuk menghalau pisau tersebut supaya tidak mengenai burung elang pengirim pesan miliknya.


Letaknya di dalam hutan belakang rumah sederhana milik Kakek Tua Jubah Hitam. Kedua bocah itu sudah tiba di sana. Dan ternyata dugaan Li Cun tepat, di sana juga sudah ada beberapa orang yang menanti.


Sepertinya hutan ini sudah dikepung. Li Cun dan Eng Kiam melihat di bagian depan mereka setidaknya ada enam orang Pendekar Langit tahap tujuh pertengahan. Di belakangnya ada sekitar sepuluh Pendekar Bumi tahap dua akhir.


Sedangkan di bagian kanan di kiri sama juga. Bahkan Pendekar Bumi yang berada di belakang mereka pun, sama persis jumlahnya.


Otak Li Cun berputar cepat, dia sudah paham akan semua ini. Alasannya karena sedikit banyak dia sudah mengetahui bencana dunia persilatan di Kekaisaran Wei.


"Tidak disangka mereka benar-benar menginginkan kematian ayah. Hemm, kalau seperti ini maka sekte pasti mendapat gangguan juga," gumamnya.

__ADS_1


Mengingat akan ibunya dan membayangkan sektenya pasti diganggu, amarah Li Cun segera memuncak saat itu juga. Sosok bocah kecil polosnya langsung lenyap tergantikan dengan sosok dingin tanpa perasaan.


Kalau sudah seperti ini, sudah pasti dia akan bertindak kejam.


Eng Kiam juga melihat perubahan yang terjadi dengan bocah tersebut. Hanya saja dia tidak berani mengajaknya bicara. Karena gadis itu sendiri sebenarnya sudah merasa sangat marah.


Eng Kiam sudah tahu siapa yang mengepung meraka ini. Sudah pasti orang-orang tersebut merupakan anggota Sekte Langit Merah. Terlihat dari semua pakaian yang mereka kenakan. Jelas menandakan bahwa itu adalah ciri dari Sekte Langit Merah. Apalagi dengan tanda awannya.


"Ternyata Sekte Langit Merah memiliki sifat pengecut. Tidak kusangka sekte yang katanya aliran putih mampu melakukan hal serendah ini," kata Eng Kiam dengan tajam.


"Tutup mulutmu gadis kecil. Lebih baik kau menyerah saja. Serahkan bocah kecil itu kepada kami, maka kau akan bebas," kata salah seorang bicara dengan angkuh sambil menunjuk ke arah Li Cun.


Eng Kiam tidak menjawab. Amarahnya telah membuat mulut gadis itu seperti terkunci. Tak ada lagi yang dapat dia lakukan kecuali membunuh mereka.


Begitupun dengan Li Cun. Amarahnya sudah jelas terlihat oleh siapapun juga. Andai matanya terbuka, maka mereka akan dapat melihat tatapan matanya yang menjadi sangat tajam seperti seekor harimau sedang marah besar. Tatapan mata itu bahkan terlihat tidak memiliki perasaan sama sekali.


Sayangnya hal itu tidak bisa terjadi, sebab matanya masih tertutup rapat. Setidaknya untuk saat ini.


Tak ada rasa takut dan gentar. Yang ada hanyalah dendam membara sudah berkobar dalam jiwa dua bocah itu.


"Hari ini kalau bukan aku yang mampus, maka kalian semua yang akan tewas," kata Li Cun.


Bocah itu membuka penampilan penyamarannya. Terlihat pakaian dan jubah putih bersih berkibar tertiup angin. Kedua matanya di tutup oleh sehelai kain sutera putih juga.


Walaupun usianya masih sangat belia, walaupun tubuhnya sedang, tapi kegagahan sudah terpancar dari dalam tubuhnya.

__ADS_1


Melihat sosok asli Li Cun, Eng Kiam sendiri tertegun sejenak. Matanya memandang kagum dari atas sampai bawah. Tatapan matanya jadi berubah mengandung arti yang berbeda.


'Ternyata tuan muda memang gagah. Sama seperti ayahnya,' batin gadis itu berkata mengagumi Li Cun yang sudah berubah menjadi Chen Li.


__ADS_2