
Wushh!!! Wushh!!!
Enam sinar perak terlihat saling gulung menjadi satu. Berbagai macam jurus melesat dengan cepat lewat senjata lawan masing-masing. Chen Li tersenyum dingin, sekarang kekuatannya sudah melejit ke atas, melihat enam serangan itu, Pendekar Tanpa Perasaan yang sekarang memakai gelar Pendekar Merah hanya berdiam menanti mereka.
Trangg!!! Trangg!!!
Dentingan nyaring terdengar secara bersamaan. Enam batang pedang milik lawan langsung patah menjadi dua atau tiga bagian saat berbenturan dengan pusska milik Chen Li.
Pedang Merah Darah telah dikeluarkan dari Cincin Ruang.
Pedang itu memancarkan sinar kemerahan yang mengandung aura agung. Tajamnya jangan ditanya lagi, kalau dia mau, mungkin bukit pun dapat dibelah dengan mudah suatu saat nanti ketika kekuatannya telah mencapai puncak kesempurnaan.
Pedang Merah Darah adalah senjata pusaka legenda yang mengandung kekuatan tersendiri. Selama ratusan tahun lalu, hampir setiap pendekar mengincar pedang tersebut.
Sekarang pedang itu sudah muncul kembal. Pemiliknya adalah seorang remaja yang merupakan anak dari Pendekar Halilintar.
Wushh!!! Crashh!!!
Cahaya merah melesat ke depan. Enam pendekar itu terpaku di tempatnya masing-masing. Setelah sesaat kemudian, mereka ambruk ke tanah secara bersamaan.
Enam kepala menggelinding. Darah menyembur ke segala arah. Enam nyawa telah melayang hanya dengan satu kali serangan.
Pada saat itu, debu mengepul tinggi sehingga pandangan mata sedikit terhalang. Begitu debu lenyap, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya dan si gadis yang tadi sempat digoda oleh sembilan orang tersebut.
Satu orang di antara lawan Pendekar Merah telah berhasil melarikan diri. Entah ke mana dan kapan perginya orang itu. Yang jelas, tidak ada yang mengetahui saat dirinya pergi.
Chen Li tidak ambil pusing. Semakin banyak musuh, dia justru semakin senang. Karena tujuannya turun gunung, selain untuk menikmati dunia luar, dia juga ingin melangsungkan pertarungan dengan para pendekar.
Semakin banyak musuhnya, semakin senang juga hatinya. Chen Li selalu haus akan kekuatan, dia ingin membuktikan sampai di mana hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Gadis yang tadi digoda kemudian menghampiri Chen Li.
Gadis itu memakai pakaian kuning terang. Rambutnya panjang, sebagian lagi diikat ke atas. Wajahnya juga sangat cantik, usianya paling sekitar delapan belasan tahun.
Sekulum senyuman manis dia lemparkan kepada bocah tersebut. Pipinya memerah saat dirinya sudah berada di hadapan Chen Li.
"Terimakasih Tuan Muda," ucap gadis tersebut sambil tetap menundukkan kepalanya.
Chen Li juga merasakan hal yang sama. Selama tiga tahun ini, dia tidak pernah bertemu dan berhubungan dengan manusia lain. Selama belakang ini, Pendekar Merah hanya berhubungan dengan Huang Taiji seorang.
Karena itulah dirinya merasa malu dan sedikit canggung saat jaraknya berdekatan dengan gadis tersebut.
"Sama-sama nona," jawab Chen Li ragu-ragu.
__ADS_1
Gadis itu mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit. Dia menatap kembali wajah Chen Li. Saat menatap wajahnya, hati gadis itu langsung merasa bergetar.
Wajah itu sangat tampan. Sangat gagah, juga sangat dingin. Semua perpaduan itu menyatu menjadi satu sehingga memberikan aura tersendiri.
"Kalau boleh tahu, siapa nama Tuan Muda?" tanyanya kembali.
"Sebut saja Pendekar Merah. Sedangkan nona, siapakah namanya?" tanya Chen Li berusaha menahan rasa malu.
"Namaku Nio Cu,"
"Nama yang indah," ucap Chen Li perlahan.
Gadis itu langsung menundukkan kepalanya kembali. Sepasang pipinya langsung memerah saat mendengar pujian tersebut.
"Terimakasih atas pujiannya Tuan Muda. Suatu saat aku akan membalas kebaikan ini, sampai berjumpa lagi," ujar gadis tersebut lalu dia segera pergi dari sana.
Ternyata dia juga seorang pendekar. Hanya saja, kemampuannya belum seberapa sehingga saat diganggu tadi, gadis tersebut tidak berani melawannya.
Delapan nyawa bergelimpangan di tempat tersebut. Chen Li menatap mereka satu-persatu dengan tatapan hampa.
Setelah itu, dia langsung pergi secepat mungkin. Hanya sesaat, dirinya sudah menghilang dari pandangan.
###
"Permisi, maaf tumpang tanya, apakah Paman tahu ini kota apa dan Kekaisaran apa?" tanya Chen Li saat berhasil menemukan seorang pria tua di pinggir tempat makan kecil.
"Apakah Tuan Muda orang baru di sini?"
"Benar,"
"Pantas saja. Ini adalah Kota Qinghai, salah satu kota terbesar di Kekaisaran Sung," ucap pria tua itu menjelaskan.
Saat mendengar nama Kekaisaran itu, hati Pendekar Merah bergetar hebat. Dia masih ingat perang besar tiga tahun lalu. Bayangan tentang perang besar tersebut masih terlihat dan teringat jelas olehnya.
Chen Li menggertak giginya. Sepasang tangannya juga dikepal erat-erat.
"Terimakasih Paman,"
Si orang tua mengangguk. Chen Li langsung pergi dari sana. Dia ingin mencari masalah dengan orang-orang yang tidak dia sukai. Siapapun orangnya, kalau dia sudah tidak suka, maka orang itu harus mampus.
Wushh!!!
Pendekar Merah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat seperti seekor harimau yang sedang berlari. Dia berniat untuk mengelilingi Kota Qinghai dan mencari sekte-sekte aliran hitam.
__ADS_1
Hanya saja sebelum dirinya pergi jauh, pergerakannya mendadak berhenti karena secara tiba-tiba di depan sana sudah berdiri tiga orang tua yang menatapnya dengan geram.
"Berhenti!!!" teriak salah seorang.
Chen Li berhenti tepat sepuluh langkah di hadapan orang-orang tersebut.
Angin malam yang membawa hawa dingin berhembus lirih. Sinar rembulan tertutup oleh awan kelabu. Malam ini terasa mencekam, sebab bintang juga tidak nampak sama sekali.
"Siapa kalian?" tanya bocah itu dengan dingin.
"Kaukah si Pendekar Merah?" bukannya menjawab, orang itu justru malah balik bertanya.
"Benar. Kenapa?"
"Jadi, kau yang sudah melakukan pembunuhan terhadap delapan orang saat sore tadi?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Tepat, apakah mereka anak buah kalian?" tanya Chen Li sambil tersenyum dingin.
"Kau tidak perlu tahu,"
"Lantas?"
"Yang perlu kau tahu adalah nyawamu akan melayang saat ini …"
"Apakah kalian mampu?"
"Hemm, bocah kemarin sore sudah berani sombong. Mampus kau!!!" teriak orang tersebut.
Blarr!!!
Ledakan mendadak terdengar. Serangan jarak jauh tiba-tiba dilancarkan orang tersebut dengan kecepatan tinggi. Untungnya Chen Li bergerak tepat waktu sehingga serangan tadi tidak sampai mengenai dirinya.
Lubang berdiameter cukup besar tercipta. Asap putih mengepul terbawa semilir angin malam.
Wushh!!!
Lima belas batang pedang energi melesat ke arah Pendekar Merah. Lima belas pedang itu mengandung kekuatan tinggi, kalau sampai mengenai tubuh, niscaya korbannya akan mampus saat itu juga.
Chen Li tahu bahaya di balik belasan pedang tersebut. Namun dengan kekuatannya yang sekarang, apalagi yang harus dia takutkan?
Wushh!!!
Dua pedang energi berukuran cukup besar mendadak tercipta. Kedua tangan bocah itu di hentakkan ke depan sehingga dua pedang tersebut langsung menyambut serangan lawan.
__ADS_1