Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sejarah Bukit Merah Salju


__ADS_3

Bukit itu menjulang sangat tinggi. Dari kejauhan, bukit tersebut tampak sangat indah. Jika dari dekat, terlihat seperti raksasa yang sedang duduk dengan kokoh.


Semilir angin berhembus meniup lirih. Membuat dedaunan kering terhempas. Menggoyangkan pepohonan. Batang bambu bergesekan beriringan dengan datangnya hembusan angin.


Hawa di sana sangat sejuk. Udara masih asri, belum tercemar sedikitpun. Pohon-pohon mulai dari yang pendek hingga yang tinggi, semuanya ada di sini.


Aliran sungai yang berair jernih memberikan suara menenangkan. Burung pemakan ikan sedang berusaha mencari makanan untuk menafkahi keluarganya yang menunggu di rumah.


Bau harum bunga yang tumbuh dengan liar tercium memberikan kenyamanan ke dalam jiwa.


Tempat ini benar-benar indah. Keagungan Tuhan terpatri di sini.


Hal di atas adalah gambaran sedikit tentang keindahan hutan yang ada di Bukit Merah Salju.


Chen Li, Huan Ni Mo dan Huang Taiji telah tiba di sana. Saat ini keduanya sedang berdiri tegak di bawah pohon besar. Halaman yang tersedia di sana bisa dibilang cukup luas. Bebatuan hitam berjejer secara acak.


Namun meskipun begitu, bebatuan itu terasa membawa sebuah seni tersendiri. Seni yang disediakan oleh alam semesta.


Suasana saat ini adalah pagi hari. Sinar mentari pagi menyorot ke bumi memberikan kehangatan pada tubuh.


Mereka bertiga tidak beranjak pergi dari sana. Ketiganya tetap berdiam diri sambil menunggu seorang guru dan murid yang beberapa hari lalu secara tiba-tiba menantang Chen Li untuk bertarung.


Bukit Merah Salju. Sebenarnya bukit ini tidak jauh berbeda dengan bukit-bukit lainnya. Setiap tempat seperti ini, pasti mempunyai keindahan tersendiri yang mungkin tidak akan ditemukan di tempat lain.


Walaupun begitu, Bukit Merah Salju tetap tidak bisa disamakan dengan bukit lainnya. Alasannya karena bukit itu mempunyai sejarah tersendiri. Dan tentang sejarah ini, semua orang kalangan dunia persilatan pasti pernah mendengarnya.


Kurang lebih seratusan tahun lalu. Saat itu sedang turun saju. Udara di seluruh negeri terasa sangat dingin menusuk tulang sumsum.

__ADS_1


Di tengah udara yang sangat dingin tersebut, tepatnya di halaman luas yang sekarang ditempati oleh Chen Li dan dua orang lainnya.


Di tengah-tengah, berdiri dua orang tokoh dunia persilatan yang namanya sudah termashur ke seluruh pelosok negeri.


Yang satu dari golongan hitam, satu lagi daru golongan putih. Meskipun sekarang jalan mereka berbeda, namun pada awalnya dua tokoh itu merupakan seorang sahabat. Sahabat sehidup semati. Suka dan duka dilewati bersama. Puluhan atau bahkan ratusan pertarungan, juga mereka lewati bersama.


Mereka adalah Dua Sahabat Tak Terkalahkan. Yang satu bernama Hui Yang, dia dijuluki Pendekar Pedang Malaikat. Satu lagi Ciong To, dia mendapat julukan Pendekar Pedang Bulan Bintang. Keduanya memang pendekar pedang, permainan pedangnya belum menemukan lawan yang mampu bertahan lebih dari lima puluh jurus darinya.


Dua nama itu benar-benar terkenal. Siapapun tokoh aliran hitam, pasti akan merasa gentar jika mendengar dua nama tersebut.


Sayangnya, karena suatu masalah pribadi, dua sahabat tersebut harus rela berpisah jalan. Entah karena apa masalah yang sebenarnya, sebab hingga sekarang pun, tidak ada yang dapat mengetahuinya secara pasti.


Pendekar Pedang Bulan Bintang tiba-tiba muncul kembali di dunia persilatan seorang diri. Dia mendadak menjadi tokoh besar aliran hitam dan langsung menyebarkan surat undangan kepada seluruh pendekar yang ada di Kekaisaran Wei tentang pertarungannya.


Para pendekar yang menerima undangan itu tidak ada yang tidak terkejut. Semuanya terkejut. Dua sahabat yang dikenal sangat lengket, tiba-tiba bisa berpisah dan bahkan berniat melangsungkan pertarungan hidup dan mati.


Singkat cerita, terjadilah pertemuan antara keduanya di bukit ini.


Ratusan pendekar sudah mengelilingi halaman tersebut. Semua tokoh hadir. Bahkan kabarnya Kaisar sendiri turut hadir di sini.


Siapa yang tidak tertarik dengan pertarungan hebat ini? Siapapun pasti tertarik. Apalagi pelaku utamanya merupakan pendekar besar yang ketenarannya tidak diragukan lagi.


Bukit yang biasanya sepi itu mendadak ramai. Semua pendekar yang hadir merasakan perasaan yang berbeda-beda. Ada yang senang, sedih, dan lain sebagainya.


Setelah semuanya sudah siap dan hadir di bukit itu, terjadilah pertarungan dahsyat sehidup semati antara Pendekar Pedang Malaikat dan Pendekar Pedang Bulan Bintang.


Sepanjang jalannya pertarungan antara dua tokoh besar tersebut, tidak ada yang berani bicara. Jangankan bicara, berkedip sedikit pun rasanya tidak. Semua orang ingin melihat bagaimana jurus-jurus dahsyat milik keduanya.

__ADS_1


Saat itu, dunia seperti kiamat. Langit berguncang dan bumi bergetar keras. Raungan dan jurus mematikan terus terdengar tanpa henti. Jurus yang dikeluarkan oleh dua pendekar pedang itu sangat hebat. Sangat langka. Sangat luar biasa, dan sangat mematikan.


Saking dahsyatnya jurus mereka, puluhan pendekar yang hadir harus rela menjadi korban salah sasaran. Semua yang menjadi korbannya tidak ada yang selamat.


Darah mulai membanjiri bukit tersebut. Di atas salju yang berwarna putih, warna merah darah dan warna putih salju menjadi perpaduan warna yang indah sekaligus menyeramkan.


Pertarungan mereka berlangsung selama tiga hari tiga malam. Selama itu, tidak ada yang kembali di antara para pendekar yang hadir. Semakin lama keduanya bertarung, semakin banyak juga pendekar tak bersalah yang meregang nyawa menjadi korban keganasan.


Setelah ribuan jurus terlewati, akhirnya Pendekar Pedang Malaikat dan Pendekar Pedang Bulan Bintang tewas. Keduanya tewas di ujung pedang lawanya masing-masing.


Darah semakin banyak. Bau anyir semakin tercium dengan jelas. Jika sesaat sebelum pertarungan dua tokoh itu, para pendekar yang hadir merasakan berbagai macam perasaan, sekarang setelah keduanya tewas, justru tidak ada reaksi apa-apa dari mereka.


Semua pendekar membungkam mulutnya masing-masing. Wajah mereka tampak kelam. Yang aliran putih kehilangan tokoh utamanya, yang aliran hitam juga mengalami hal serupa.


Semenjak saat itulah, bukit yang sebelumnya tak bernama tersebut mulai dikenal dengan nama Bukit Merah Salju. Nama itu sengaja mereka sematkan sebagai bentuk penghormatan bagi dua pendekar pedang yang luar biasa.


Karena alasan tersebut, dari generasi ke generasi, Bukit Merah Salju selalu dijadikan sebagai tempat pertarungan hidup dan mati oleh para pendekar dari berbagai macam pengalaman.


Seperti juga yang akan dilakukan oleh Chen Li. Dia akan melangsungkan pertarungan hidup dan mati.


Mentari semakin meninggi. Awan menghilang, yang terlihat hanyalah birunya langit di atas sana.


"Kau yakin mereka akan datang?" tanya Huan Ni Mo mulai tidak sabar.


"Pasti datang. Karena aku tahu bahwa guru dan murid itu bukan orang yang suka menjilat ludahnya sendiri," jawab Huang Taiji sambil tersenyum hangat.


"Semoga saja seperti itu. Aku hanya ingin mereka segera datang kemari. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuan gadis angkuh itu," ucap Huan Ni Mo.

__ADS_1


__ADS_2