Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Keamanan Kekaisaran


__ADS_3

Shin Shui mulai kesal karena melihat sepak terjang puluhan penjaga itu ternyata hanya biasa saja. Pendekar Halilintar menciptakan tiga pusaran angin yang menggulung segalanya.


Suara keras terdengar ke seluruh wilayah Istana Kekaisaran. Hal ini membuat orang-orang penting keluar untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.


Namun masih belum ada yang turun tangan di antara mereka itu. Orang-orang tersebut hanya melihat di pinggir seperti layaknya penonton.


Karena harapannya berbeda jauh dengan kenyataan, terpaksa Shin Shui melepaskan tiga pusaran angin tersebut. Padahal niat tadinya supaya semua tokoh keluar dan membantu sesamanya.


Siapa sangka, justru yang terjadi malah sebaliknya.


Blarr!!! Blarr!!! Blarr!!!


Tiga kali ledakan keras terdengar. Debu mengepul sangat tinggi. Bebatuan berhamburan lalu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.


Pemandangan di sana masih belum terlihat jelas. Semuanya tampak buram karena tebalnya debu yang mengepul itu. Puluhan tokoh penjaga sudah melompat cukup jauh ke belakang. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, orang-orang tersebut hanya memikirkan tentang keselamatan dirinya masing-masing.


Begitu semuanya mulai mereda dan kembali seperti semula, satu sosok dengan jubah serba merah api yang menyala telah berdiri sambil memegang sebuah tombak pusaka.


Kaisar Wei An.


Sosok itu tidak lain adalah Sang Kaisar sendiri. Orang nomor satu di Kekaisaran Wei saat ini.


Dia berdiri dengan sorot mata yang tajam. Pandangan matanya tidak lepas memperhatikan Shin Shui dari atas sampai bawah.


Shin Shui tersenyum sinis di balik cadae hitamnya. Matanya memandang dengan santai tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


Jika dua tokoh kelas atas dunia persilatan saling berhadapan seperti ini, maka mereka akan tampak sangat tenang. Tidak terlihat panik seperti tokoh kelas bawah. Ibarat seorang panglima perang yang sudah banyak mengenyam pengalaman. Semakin banyak pasukan musuh yang dihadapi, maka jendral itu akan semakin tenang.


Seperti juga tokoh kelas atas dunia persilatan. Semakin tangguh lawan yang akan dihadapinya, maka kemenangannya akan semakin terlihat jelas.


"Siapa kau?" tanya Kaisar Wei An kepada Shin Shui.


Suaranya datar. Wajahnya tanpa ekspresi. Meskipun tidak mengandung kesan kemarahan, tetapi Shin Shui tahu bahwa di balik semua itu, ada ancaman yang lebih mengerikan dari pada harimau mengamuk.

__ADS_1


"Sebentar lagi kau akan tahu siapa aku," jawab Shin Shui dengan tenang.


"Apa tujuanmu kemari?"


"Aku hanya ingin menguji keamanan Istana Kekaisaran. Tak disangka, Istana Kekaisaran Wei yang keamanannya selalu aku banggaan, sekarang justru malah sebaliknya. Istana Kekaisaran itu tidak lebih dari sarang harimau yang sudah tidak ada penghuninya. Sama sekali tidak ada penjagaan berarti. Seperti inikah balasanmu kepada kepercayaan yang telah diberikan oleh semua rakyat?"


Ucapan Shin Shui terdengar sangat tegas dan lantang. Gelombang suara yang tercipta olehnya membawa kekuatan tak kasat mata yang mampu menggetarkan hati semua orang yang ada di sana.


Termasuk menggetarkan hati Kaisar Wei An sendiri. Untuk beberapa saat lamanya, orang terkuat kedua di dunia persilatan Kekaisaran Wei itu tidak mampu menjawab. Dia bingung harus menjawab apa. Karena, apa yang diucapkan oleh sosok serba hitam itu memang benar.


"Lancang sekali mulutmu, sepertinya kau ingin mampus," kata sebuah suara yang datangnya dari kerumunan para tokoh.


Mereka sudah berniat untuk menerjang ke depan. Tenaga dahsyat telah disiapkan hingga titik tertinggi. Sayangnya sebelum kaki mereka terangkat, sebuah kekuatan yang lebih dahsyat telah menahan gerakannya.


"Sekali lagi kalian ikut campur, jangan salahkan aku jika nyawa menjadi gantinya," kata Shin Shui dengan dingin.


Puluhan tokoh yang ditugaskan untuk menjaga gerbang itu langsung terdiam. Lutut mereka terasa lemas, tubuhnya bergetar. Tanpa perlu ditanyakan lagi, orang-orang tersebut sudah mengetahui seberapa kuat orang bercadar hitam itu.


"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Shin Shui kembali kepada Kaisar Wei An.


"Sebenarnya siapa kau ini?"


"Aku bilang sebentar lagi kau akan tahu sendiri. Sekarang aku bertanya kembali kepadamu, kenapa keamanan di Kekaisaran Wei menjadi selemah ini?"


"Karena, karena …"


Wushh!!!


Kaisar Wei An tiba-tiba menerjang Shin Shui dengan ganas. Tombak Dewa Api warisan Pendekar Halilintar sepuluh tahun lalu di genggam dengan sangat erat.


Luncuran tombak itu sangat cepat sekali sehingga meninggalkan bekas gugusan seperti bara api yang menyala. Arah serangan yang dia incar adalah bagian dada sebelah kanan.


Shin Shui mendengus dingin. Dia tidak menyangka bahwa sosok agung seperti Kaisar Wei An ternyata berani melakukan hal pengecut seperti itu.

__ADS_1


Trakk!!!


Telapak tangan kanan Shin Shui berhasil menangis serangan Kaisar Wei An. Kecepatan tangkisannya ternyata lebih cepat dari pada datangnya serangan lawan.


Semua orang tersentak. Termasuk Kaisar Wei An sendiri. Di Kekaisaran Wei ini, hanya beberapa orang saja yang dapat menangkis jurus Tombak Api Meluncur Membawa Maut. Semua orang yang ada di sana langsung menerka-nerka siapakah orang di balik cadar hitam itu.


Sayangnya mereka tidak bisa menemukan jawaban apapun. Shin Shui mulai balas menyerang. Dia memutar tangannya lalu memukul tombak dengan telapak tangan kanan.


Wushh!!!.


Kaisar Wei An terkejut. Tenaga luncuran lawannya ternyata jauh lebih besar dari yang dia keluarkan sendiri. Tetapi sebagai orang terkuat kedua, Kaisar mampu mengambil posisinya kembali.


Dia melompat tinggi lalu berjumpalitan di tengah udara. Detik selanjutnya, serangan hebat kembali dia lancarkan.


Tombak Dewa Api berubah seperti ada lima. Kecepatan serangan dan ketepatan mengambil langkah benar-benar diperhitungkan oleh Kaisar Wei An.


Tombak itu menyerang dari segala penjuru. Setiap serangannya membawa hawa panas yang dapat membakar apa saja. Kaisar Wei An mengeluarkan lebih dari setengah kekuatannya.


Sehingga serangan yang keluar juga jauh lebih dahsyat lagi.


Shin Shui tahu bahwa Kaisar sudah serius. Oleh alasan tersebut, Pendekar Halilintar juga tidak main-main lagi. Kedua tangannya berubah menjadi dua ekor naga yang siap menerkam.


Dia menari di bawah tusukan Tombak Dewa Api milik Kaisar Wei An. Tubuhnya melesat tanpa henti sehingga menyulitkan Kaisar itu sendiri.


Blarr!!!


Gelegar!!!


Ledakan keras mementalkan Kaisar Wei An beberapa langkah ke belakang. Dia terengah-engah, Tombak Dewa Api hampir saja lepas dari genggaman tangannya.


Di sisi lain, Shin Shui masih berdiri dengan tenang. Nafasnya masih teratur, dia tidak kelihatan lelah sama sekali. Tubuhnya melancarkan sebuah cahaya putih menyilaukan. Tenaga dalam langit bumi sudah dikeluarkan.


Dalam hatinya, sia sendiri merasa terheran-heran. Kenapa Kaisar Wei An bertarung tidak seperti biasanya? Kekuatan yang dia keluarkan juga tidak semurni sebelumnya. Bahkan Shin Shui juga tahu bahwa Kaisar bertarung dengan pikiran yang tidak tenang.

__ADS_1


Dalam pertarungan kelas atas seperti yang terjadi barusan, ketenangan menjadi modal paling utama. Jika tidak tenang, jangan harap kau akan selamat dari kematian.


__ADS_2