
"Kakek sedang mencari informasi Nyonya. Tuan Pahlawan Shin Shui menyuruhnya," jelas Eng Kiam.
"Kapan dia akan menjemputmu?"
"Entahlah. Tapi Kiam'er mendengar bahwa Kakek akan kembali setelah tiga bulan nanti bersama yang lainnya,"
"Oh, baiklah. Anggap saja di sini rumah kamu Kiam'er. Berlatih dengan tekun supaya nanti Kakekmu kaget saat melihat kemajuanmu," ujar Yun Mei memberikan pesan.
"Baik Nyonya. Terimakasih nasihatnya,"
Yun Mei mengangguk. Mereka berbicara untuk beberapa saat. Setelah rasa kantuk mulai menghampiri, ketiganya segera kembali ke kediaman.
Di kamar, Shin Shui sudah menunggu Yun Mei sejak beberapa saat lalu. Dia bukannya tidak tahu di mana istrinya, dia tahu di mana Yun Mei, tapi Shin Shui memih untuk tidak mengganggunya.
"Memei, seminggu lagi aku akan turun gunung," kata Shin Shui memulai pembicaraan setelah Yun Mei berbaring di tempat tidur.
"Kau akan pergi lagi? Baru bertemu denganku kau tak lama akan pergi?"
Yun Mei cukup terkejut. Ada rasa sedih dalam hatinya.
Kalau masalah perasaan, memang wanita paling jago. Bagaimanapun juga, Yun Mei adalah istrinya.
Pasangan mana yang tidak mau selalu bersama?
Siapapun pasti mau. Bahkan kalau bisa sampai ajal menjemput.
Yun Mei juga begitu. Dia ingin selalu bersama Shin Shui setiap waktu. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Di mana mereka selalu melewatkan hari-hari bersama. Membesarkan Chen Li, anak mereka, secara bersama pula.
Menikmati hidup dengan segala kesenangan dan kebahagiaan yang ada. Mengajar murid-murid bersama.
Apapun dilakukan bersama.
Yun Mei ingin seperti itu lagi. Dia merindukan masa-masa itu. Sayang, sekarang rasanya hal-hal seperti di atas sangat sulit sekali untuk bisa dilakukan.
"Memei, kau kan tahu aku ini siapa. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan bertanggungjawab terhadap semua kejadian yang sedang terjadi di Kekaisaran Wei? Ini semua sudah menjadi tugasku. Jadi aku harap kau bisa mengerti, setidaknya selama masalah besar ini belum selesai," kata Shin Shui berusaha untuk membuat istrinya mengerti.
Yun Mei diam.
Dia bukan tidak mau menjawab.
Gampang sekali untuk menjawab semua perkataan itu. Tapi dia tidak mau.
Yun Mei tidak ingin menjadi istri egois. Dia ingin menjadi seorang istri yang mengerti tentang suaminya.
Walaupun hatinya berat. Walaupun dia ingin menahannya, tapi Yun Mei tidak mengungkapkan.
__ADS_1
Karena dia bukan seorang wanita yang hanya ingin dimengerti tapi dia sendiri tidak mau mengerti.
Yun Mei bukan wanita semacam itu.
Setelah menghela nafas dan menenangkan diri sebentar, akhirnya dia berkata, "Baiklah. Maaf karena tadi aku sempat berkata seperti itu. Aku tahu tugasmu memang berat. Tapi aku mohon, berhati-hatilah saat kau turun gunung nanti. Terutama, jaga perasaanmu," pinta Yun Mei dengan nada sedih.
Shin Shui membelai kepala istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia sangat beruntung bisa mendapatkan seorang istri seperti sosok Yun Mei ini.
Baginya, wanita yang seperti ini hanya ada satu di dunia
Yaitu istrinya sendiri.
"Kau jangan khawatir Memei. Kau tahu siapa aku dan bagaimana sikapku," ucap Shin Shui kemudian mengecup keningnya.
Keduanya berciuman mesra. Ciuman lembut yang sudah mereka idamkan selama belakangan ini. Keduanya sudah rindu akan masa-masa seperti ini.
Melewati malam bersama tanpa sehelai pakaian pun. Menikmati keindahan lekuk tubuh sang istri. Sedangkan istrinya menikmati kegagahan suaminya.
Mereka bercumbu mesra. Menyelami lautan samudera cinta berdua. Menikmati kenikmatan yang tiada banding.
Memainkan segala yang ada di tubuhnya masing-masing. Mereka bermain sampai Fajar menjelang.
###
"Malam ini aku turun gunung seorang diri untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang pemimpin dunia persilatan," kata Shin Shui mulai bicara.
Semua orang mengangguk. Sebelumnya Shin Shui memang pernah bicara lebih dulu. Sehingga mereka tidak ada yang merasa terkejut.
"Adik Shin, kau ingin turun gunung seorang diri? Bagaimana denganku dan Li'er?" tanya Huang Taiji Lu si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
"Benar Kakak Huang. Sebagai pemimpin dunia persilatan, sudah pasti aku akan membereskan persoalan ini. Kau latihlah Li'er, nanti setelah matang kau bisa membawanya mengembara," ujar Shin Shui kepada kakak angkatnya.
Huang Taiji Lu melirik Chen Li yang sedari tadi hanya diam saja. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bocah itu. Tapi yang jelas, ekspresi wajahnya nampak dingin.
"Bagaimana Li'er? Kau menerima keputusan ayahmu?" tanya Huang Taiji Lu.
"Hemm …" timpalnya dingin.
"Li'er, untuk sekarang kau harus berlatih lebih giat lagi. Nanti setelah tiga bulan, Ayah akan kembali dan melihat hasilmu. Jika kau mengalami kemajuan pesat, maka Ayah akan mengizinkanmu belajar mengembara. Sekarang kau jangan ikut," tegas Shin Shui.
Chen Li tidak mampu menjawab apa-apa. Semua orang juga terdiam.
Kalau orang bernama Shin Shui sudah serius dan berkata tegas, maka mereka semua tidak ada yang berani menentangnya.
Bahkan termasuk Yun Mei sendiri, harus berpikir dua kali jika sedang seperti ini.
__ADS_1
"Memei, aku pergi dulu,"
"Li'er, ingat pesan Ayah,"
"Para tetua semua dan Kakak Huang, aku menitipkan istri dan Sekte Bukit Halilintar untuk beberapa saat. Semoga kalian semua tidak keberatan," kata Shin Shui kepada semua orang yang ada di sana.
Mereka semua mengangguk. Tidak ada yang bicara lagi kecuali hanya satu atau dua kata saja.
Setelah selesai, Shin Shui segera keluar dari ruangan para tetua dan langsung melesat menembus kegelapan.
Dia sengaja tidak mau ada murid yang mengetahui kepergiannya.
Entah karena alasan apa. Yang pasti, tindakan Shin Shui semuanya sudah penuh perhitungan.
Mungkin karena dia tidak mau diketahui oleh para musuh. Sebab jika mereka tahu bahwa Shin Shui tidak ada, bukan tidak mungkin orang-orang luar akan menyerang Sekte Bukit Halilintar.
Shin Shui pergi memakai topeng. Penampilannya berbeda jauh, tidak seperti biasanya. Dia memakai jubah dan pakaian serba hitam. Topengnya juga hitam. Hanya terlihat bola mata berwarna biru muda saja di balik topeng itu.
Pendekar Halilintar tidak langsung pergi keluar daerah. Pertama-tama dia pergi ke Hutan Awan sesuai perintah dari Kakek Sakti Manusia Dewa seminggu yang lalu.
Terkait tujuan apa kakek tua itu menyuruhnya ke sana, sampai sekarang pun Shin Shui belum mengetahuinya.
Bayangan hitam meluncur di antara celah-celah pohon. Tanpa suara berisik, tanpa suara langkah kaki. Shin Shui sudah tiba di goa dekat Pendekar Belalang Sembah di makamkan.
Saat dia baru tiba di sana, terlihat seorang kakek tua sedang duduk di atas sebuah batu hitam selebar meja. Matanya terpejam. Tapi semua inderanya berfungsi normal.
Bahkan lebih tajam dari pada indera orang-orang yang usianya masih muda.
"Akhirnya kau datang juga. Aku kira kau akan lupa," kata si kakek tua yang sudah pasti merupakan Kakek Sakti Manusia Dewa.
###
Maaf kalau alur cerita berbeda seperti novel-novel kebanyakan. Author memang ingin yang berbeda.
Mencontoh para suhu zaman dulu. Hanya saja, gaya penulisan dan genre di ubah ke xianxia.
Jadi jangan pernah menyamakan dengan yang lain ya. Karena di sini tidak akan banyak kompetisi dan mungkin meracik pil. Kecuali beberapa saja.
Oke gengs smoga menikmati
###
Jangan lupa, bagi yang gemar cerita romance, baca karya sepupu aku ini ya wkwk
__ADS_1