
Sepuluh orang yang ada di hadapannya menjadi sangat terkejut. Ekspresi wajah mereka jelas memperlihatkan rasa tidak percaya. Walaupun sepuluh orang itu baru pertama kali melihat siluman kera yang seperti ini, tapi meraka tahu bahwa dua siluman tersebut bukanlah siluman biasa.
Suasana hening. Angin lirih menggoyangkan jubah dan pakaian semua orang yang ada di sana. Bau amis darah mulai tercium menusuk hidung terbawa angin.
Suara lolongan serigala dan burung hantu terdengar saling sahut menyahut. Rembulan tertutup awan kelabu. Bintang yang gemerlap telah menghilang entah ke mana.
Udara di sana terasa sangat sesak. Seolah oksigen telah menghilang dari muka bumi.
"Li'er, kenapa kau sampai mengeluarkan San Ong dan Ong San?" tanya Huang Taiji Lu tidak mengerti maksud keponakannya tersebut.
Di sisinya, Moi Xiuhan merasa sangat terkejut. Sama seperti sepuluh musuh di hadapannya. Gadis kecil itu sungguh tidak pernah menyangka bahwa Chen Li ternyata mempunyai dua ekor siluman.
Bahkan dua siluman itu memancarkan aura yang sangat kental. Kekuatan yang keluar juga terasa menekan tempat sekitar.
Tetapi walaupun dalam hatinya merasa sangat terkejut dan penasaran, dia tidak berbicara sepatah katapun. Dalam keadaan genting seperti ini memang lebih baik tidak bicara.
Fokuskan pikiran, bulatkan tekad, terus berkonsentrasi.
Kau hanya memerlukan tiga kata itu. Jangan sampai melupakannya.
"Tentu saja untuk mempercepat urusan ini Paman. Kau harus ingat bahwa kita masih punya satu urusan lainnya. Kata orang, jika ingin menjadi orang baik, maka harus selamanya menjadi orang baik. Menyelesaikan suatu masalah, maka harus di bereskan sampai ke akarnya. Lebih cepat, itu jauh lebih baik," jawab Chen Li.
Mau tidak mau Huang Taiji Lu menyetujui perkataan Chen Li. Mereka memang harus cepat menyelesaikan masalah yang sekarang sebelum beritanya menyebar. Dia bukan tidak sanggup menghadapi sepuluh orang seperti mereka, apa yang tidak mungkin bagi seorang pengawal pribadi seorang Dewa?
Yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, mungkin bisa dia lakukan. Sebab besar kemungkinan bahwa dia juga merupakan Dewa. Lebih tepatnya setengah Dewa setengah manusia.
Namun harus ingat bahwa Huang Taiji Lu sedang menyamar. Belum saatnya untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Kalau sekali lagi melakukan kesalahan, sudah pasti Chen Li akan mengetahui siapa dirinya. Apalagi dengan kecerdasan yang dimiliki oleh bocah kecil itu.
"Kau benar Li'er, Paman setuju denganmu. Kalau begitu, jangan berlama-lama lagi,"
Chen Li tertawa. Tawa yang terdengar menyeramkan. Tapi juga menambah daya tarik dalam dirinya.
Sepuluh orang tersebut masih tertegun. Mereka sudah tahu bahwa lawannya hanya berjumlah tiga orang. Sebab dua siluman itu baru saja tiba.
__ADS_1
Namun sekarang mereka sadar, walaupun jumlah lawan lebih sedikit, tapi keadaan yang sebenarnya justru sebaliknya.
Sebab mereka pun tahu bahwa musuhnya yang sekarang mempunyai kekuatan yang bisa dibilang melebihi gabungan mereka.
"Aku rasa kau telah menyesal karena sudah membiarkan lima puluh nyawa manusia melayang begitu saja," kata Chen Li dingin.
Si orang tua berbaju kuning terang menjawabnya. "Sudah aku bilang, aku tidak pernah menyesal seumur hidupku,"
"Kau tidak menyesal, tapi sembilan rekanmu menyesal. Sayang, penyesalan itu sudah terlambat,"
"Ya, memang terlambat. Sekarang, mau tidak mau kami harus menggunakan cara keras untuk melenyapkan kalian,"
"Hehehe, kalau memang meras sanggup, lakukan sesukamu," ejek Chen Li.
Suasana hening kembali. Tak ada lagi orang yang berbicara sepatah katapun.
Situasi seperti ini bukannya tenang, yang ada justru malah tegang. Sebab saat-saat seperti ini adalah saat-saat menentukan.
"Xiuhan'er, saat kami mulai bertarung, kau pergi selamatkan rekan-rekanmu. Jika berhasil, kau bersembunyi di tempat yang aman. Jangan pernah turun tangan dalam pertempuran nanti. Bukan kami merendahkan dirimu, tetapi ini sangat berbahaya bagimu," kata Huang Taiji Lu mengingatkan Moi Xiuhan.
"Kau tenang saja. Dia tidak akan mati. Karena Malaikat Kematian sudah tidak mau mencabut nyawanya," ucap orang tua itu sambil tertawa.
Chen Li hanya tersenyum. Senyuman yang sama seperti sebelumnya.
"Baiklah. Xiuhan'er percaya,"
Dia langsung bersiap-siap mengambil posisi untuk melesat ke depan mencari empat murid seniornya.
"Sekarang!!" teriak Huang Taiji Lu memberikan aba-aba kepada gadis kecil itu.
Dia langsung melesat sangat cepat ke depan sebab Huang Taiji mendorongnya. Sepuluh orang juga bergerak, mereka hendak menghalangi niatnya.
Sayang, pada saat itu Huang Taiji juga sudah bergerak. Segulung angin dahsyat dia lancarkan dari jarak jauh. Kekuatan yang terkandung di dalamnya jangan ditanyakan lagi, bahkan batu dan tanah pun ikut terangkat.
__ADS_1
Berbarengan dengan itu, Chen Li juga sudah siap sedia.
"San Ong, Ong San, maaf telah merepotkan kalian,"
"Tuan Muda jangan sungkan. Walaupun kami harus menerjang badai api, asal itu perintah darimu, maka kami siap melakukannya dengan senang hati," kata San Ong yang diangguki oleh Ong San.
Ketiganya juga bergerak secara bersamaan dengan Huang Taiji. Kecepatan San Ong dan Ong San tidak kalah hebat.
Hal ini membuat sepuluh lawannya semakin terkejut. Sekarang mereka telah menyadari bahwa saat ini pihaknya sedang menghadapi bencana besar.
Malapetaka yang paling menakutkan bagi sebagian orang.
Antara hidup dan mati.
Huang Taiji Lu mengincar tiga lawan. Dua Pendekar Dewa tahap lima akhir. Dan yang paling kuat di antara lainnya, satu orang Pendekar Dewa tahap enam akhir.
Kekuatan dia sendiri sekarang sudah mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh awal. Bedanya dengan orang lain adalah tenaga dalam yang dia miliki sangat murni sekali.
San Ong dan Ong San melawan dua Pendekar Dewa tahap tiga akhir dan satu Pendekar Dewa tahap dua. Sedangkan Chen Li melawan sisanya. Yaitu seorang Pendekar Dewa tahap dua akhir. Bahkan sebentar lagi hampir naik tahapan.
Entah dia bisa menang atau tidak. Yang jelas dirinya sangat yakin mampu. Keyakinan kepada diri sendiri melebihi apapun.
Dengan demikian, jumlah lawan pas sepuluh. Meskipun masing-masing dari mereka harus melawan musuh lebih banyak jumlahnya, tetapi tidak ada yang gentar satupun.
Segulung angin dahsyat yang dilancarkan oleh Huang Taiji berhasil ditangkis oleh lawan. Ledakan pertama yang terdengar seperti bom sudah terdengar. Keempat pendekar terpental ke belakang.
Moi Xiuhan akhirnya berhasil masuk ke dalam. Saat ini dia sedang mencari rekan-rekannya.
Salah satu dari tiga lawan Huang Taiji ingin mengejar gadis kecil itu ke dalam. Sayangnya si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding tidak memberikan kesempatan untuknya.
Saat orang itu berlari, mendadak tanah yang diinjaknya meledak ke segala arah. Untung dia telah merasakan getaran lebih dulu. Kalau tidak, mungkin saat ini tubuhnya sudah hancur.
Pertempuran dahsyat dimulai.
__ADS_1
Huang Taiji Lu telah melesat sambil melancarkan serangkaian serangan jarak jauh. Sinar putih datang bergulung-gulung seperti ombak yang mengamuk.
Terjangannya sungguh membuat siapapun ngeri. Dengan tenaga dalamnya yang sangat murni, tentu kekuatannya juga jauh lebih hebat daripada pendekar yang setara dengannya.