
"Menantu kurang ajar!!!" bentak Kaisar Tang Yang sambil menunjuk ke arah Kaisar Wei An.
Dua Kaisar yang masih satu keluarga itu terlibat dalam perdebatan. Sementara yang lainnya masih diam menanti. Mereka belum bergerak sama sekali. Hanya saja, orang-orang yang ada di sana sekarang sedang mempersiapkan kekuatannya masing-masing.
"Sudahlah, percuma kau bicara lebih jauh lagi. Aku tetap tidak akan memberikan Kekaisaran Wei semudah itu. Kau harus ingat bahwa aku seorang Kaisar, aku lebih memilih mati dalam membela tanah airku, aku lebih baik mati sebagai seorang pahlawan dari pada mati sebagai seorang pecundang," tegas Kaisar Wei An.
Suaranya mengandung keseriusan. Dia memang tidak main-main. Kaisar Wei An tidak mau mengecewakan ayahnya yang telah tiada, dia juga tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah percaya kepadanya.
Membalas kepercayaan orang-orang yang percaya adalah dengan cara membuktikan bahwa mereka tidak salah memilih kita sebagai orang kepercayaannya.
"Bagus, sekarang kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah tidak mau memberikan pilihan lain kepada manusia keras kepala sepertimu. Kau telah memilih jalan kematian, oleh sebab itu sekarang juga aku akan mengantarkanmu ke neraka," ucap Kaisar Tang Yang marah besar.
Setelah sejak tadi hanya membungkam mulut, akhirnya Kaisar Sung Poan Siu angkat suara.
"Sudahlah, tidak ada gunanya kau bicara dengan manusia seperti itu. Sejak tadi aku diam mencoba sabar, sekarang kesabaranku sudah mencapai batas. Kita datang kemari untuk berperang, bukan untuk bicara tidak karuan. Lebih baik segera bereskan saja," katanya sambil memandangi Kaisar Tang Yang dan Kaisar Wei An secara bergantian.
"Kau benar. Kalau begitu … kita mulai sekarang!!!" teriak Kaisar Tang Yang lalu secara tiba-tiba menyerang ke depan.
Sekali kakinya menjejak ke tanah, Kaisar Tang Yang telah tiba di hadapan Kaisar Wei An dan Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.
Kaisar Tang Yang menggunakan senjata berupa pedang terbang. Dari balik lengan bajunya, dia menyimpan sepuluh batang pedang sepanjang setengah depa. Sekali dia menyerang, sepuluh serangan bisa dilancarkan sekaligus.
Kekuatan Kaisar Tang Yang sudah sempurna. Dalam segi jurus atau tingkatan, dia telah mencapai taraf tertinggi. Kemampuannya dalam sebuah pertarungan tidak perlu diragukan lagi.
Dia menyerang dengan ganas. Lima batang pedang terbang melesat dengan cepat ke arah Kaisar Wei An. Lima pedang itu bergerak mengelilingi lawan lalu meluncur deras satu persatu.
Setiap pedang seperti mempunyai mata. Pedang itu mampu bergerak dan menghindar secara otomatis.
Kaisar Wei An dan Raja Seribu Pedang langsung mengeluarkan seluruh kekuatan. Jurus terdahsyat telah dikeluarkan oleh mereka berdua. Tombak Dewa Api dan Pedang Emas Pembelah Samudera telah memancarkan satu kekuatan dahsyat yang sangat mengerikan.
Wushh!!! Wushh!!!
__ADS_1
Cahaya merah membara berkelebat dengan cepat. Cahaya keemasan melesat dahsyat menyongsong lima batang pedang kembar milik Kaisar Tang Yang.
Tiga tokoh kelas atas itu bertarung dengan sengit. Suara ledakan keras terdengar tanpa berhenti. Meskipun melawan dua tokoh kelas atas, namun nyatanya Kaisar Tang Yang tidak merasa kesulitan sedikitpun.
Orang itu bahkan sanggup menghadapi dua serangan dahsyat mereka sekaligus. Kaisar Tang Yang tampak tidak kesulitan sedikitpun.
Lima batang kembar terus menyerang tanpa ampun. Sinar perak menyeruak seperti bianglala yang indah. Sinar perak itu juga indah, sayangnya sinar tersebut membawa kematian..
Wushh!!!
Lima batang pedang kembar lainnya telah dikeluarkan pula. Kalau sudah begini, itu artinya Kaisar Tang Yang tidak main-main lagi. Dia telah mengeluarkan kekuatan serangan yang sesungguhnya.
Pertarungan di sisinya tidak kalah hebat dan mengerikan. Kaisar Sung Poan Siu melabrak Shin Shui dan Yun Mei dengan jurus-jurus dahsyat yang dia miliki.
Kaisar dari Kekaisaran Sung merupakan pendekar pedang. Pedangnya sangat antik, sangat tajam, juga sangat menakutkan. Pedang itu sekilas memang terlihat biasa saja. Tapi kalau sudah berada di tangannya, pedang tersebut akan menjadi senjata tajam yang pilih tanding.
Cahaya perak kehitaman berkelebat secepat kedipan mata. Satu tusukan dahsyat melesat ke arah Yun Mei.
Dewi Pedang Kembar itu menyambut serangan lawan dengan tenang. Pedang kembar di tangannya bergerak. Pedang terbang yang selalu mengelilingi tubuhnya langsung melindungi, menjadi sebuah benteng pertahanan yang sangat kokoh.
Benturan antar pedang terjadi. Yun Mei terdorong mundur lima langkah ke belakang. Kedua pergelangan tangannya bergetar, dia baru mengalami kejadian seperti ini dalam hidupnya setelah dinobatkan menjadi pendekar pedang wanita terkuat di Kekaisaran Wei.
Pada saat Kaisar Sung Poan Siu ingin melancarkan serangan lanjutan kepada Yun Mei, saat itu pula Pendekar Halilintar bergerak cepat.
Pedang Halilintar terhunus. Cahaya biru terang berkelebat membelah udara.
Wushh!!!
Jurus Pedang Cahaya telah dikeluarkan kembali.
Trangg!!!
__ADS_1
Ujung Pedang Halilintar menusuk tepat di batang pedang milik Kaisar Sung. Kedua senjata pusaka kelas atas itu berbenturan. Keduanya seperti menempel satu sama lain.
Tubuh Shin Shui bergetar. Dia tidak menyangka bahwa kekuatan lawannya berada sedikit di atas dirinya sendiri. Pergelangan tangan Shin Shui bergetar. Rasa ngilu menjalar mulai dari telapak tangan hingga ke pangkal lengan.
Saking hebatnya jurus kekuatan Kaisar Sung Poan Siu, bahkan tubuh Shin Shui juga ikut bergetar.
Wushh!!! Wushh!!!
Sinar peran kehitaman tiba-tiba terlihat kembali. Pedang pusaka milik Kaisar Sung telah lepas. Bahkan mini senjata itu sudah memberikan serangan dahsyat kembali kepada Pendekar Halilintar.
Benturan antar pusaka nomor satu terjadi. Ledakan hebat terdengar memekakkan telinga setiap orang yang mendengar. Shin Shui mulai sedikit kewalahan, seumur hidupnya, baru kali ini dia menemukan lawan yang sanggup menahan setiap serangan Jurus Pedang Cahaya.
Selama pengembaraan dalam dunia persilatan, baru sekarang Pendekar Halilintar menemukan lawan yang benar-benar seimbang dengannya.
Pertarungan Pendekar Halilintar melawan Kaisar Sung Poan Siu berjalan semakin sengit. Saat ini, Yun Mei di Dewi Pedang Kembar juga sudah turun kembali ke medan pertempuran.
Sepasang suami istri itu bertempur dengan ganas. Setiap serangannya amat dahsyat. Sepak terjangnya brutal seperti sepasang naga yang sedang mengamuk.
Kedua pertarungan tersebut sangat dahsyat. Sebab orang-orang yang ada di dalamnya juga bukan orang sembarangan. Mereka semua adalah tokoh kelas atas. Mereka sudah mencapai tingkatan pilih atau bahkan tanpa tanding.
Kaisar Wei An bersama Yuan Shi si Raja Seribu Pedang masih menggempur melawan Kaisar Tang Yang. Keduanya juga kewalahan. Mereka tidak sanggup membaca serangan lawan dengan tepat.
Alasannya karena setiap serangan itu sangat cepat dan mengerikan.
Sepuluh batang pedang kembar melesat mengelilingi kedua tokoh Kekaisaran Wei tersebut.
Srett!!! Srett!!!
Dua batang pedang kembar berhasil menemukan sasarannya. Pangkal lengan kanan dan kiri Raja Seribu Pedang telah terluka. Luka itu sangat perih, sangat menyakitkan.
Sebisa mungkin Yuan Shi bertahan dan menutup keluarnya darah yang diakibatkan oleh luka tersebut.
__ADS_1
Srett!!!
Sekali lagi suara sama terdengar. Punggung Raja Seribu Pedang tiba-tiba terluka parah. Luka itu dari atas hingga ke bawah punggung. Darah menyembur dengan deras.