Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kota Sokhia


__ADS_3

Shin Shui memperhatikan baik-baik berbagai sudut kota di peta tersebut. Dalam penuturan peta itu, setidaknya ada beberapa organisasi aliran hitam yang terbilang cukup besar dan mempunyai jaringan luas.


Kurang lebih ada dua organisasi.


Masing-masing dari organisasi tersebut setidaknya mempunyai anggota sekitar 500 orang yang sudah tersebar luas ke beberapa daerah terdekat.


Setelah di rasa cukup, Shin Shui menggulung peta itu lalu menggantikannya dengan sebuah buku.


Buku berwarna putih dan terlihat masih baru.


Dan memang masih baru sekali.


Buku itu hasil catatan dari murid-muridnya yang juga menjadi mata-mata. Si murid ditugaskan untuk mengumpulkan nama-nama para tokoh di Kekaisaran Wei.


Di dalam buku catatan tersebut, para tokoh disebutkan dengan jelas siapa nama dan julukan, keistimewaan, bahkan sampai tempat di mana biasanya mereka berada, juga disebutkan.


Walaupun Shin Shui tidak takut, tapi dia harus tetap memperhitungkan setiap langkahnya.


Meskipun dia sudah dinobatkan menjadi pendekar terkuat di Kekaisaran Wei, tapi Shin Shui harus tetap menjaga sikapnya.


Karena dia yakin akan satu pepatah.


"Di atas langit, masih ada langit. Di bawah bumi, masih terdapat lapisan bumi lainnya."


Dia yakin akan pepatah tersebut.


Segala persiapan telah selesai. Bagaimana tata kota Sokhia sudah dia hapal. Beberapa tokoh penting sudah diketahuinya. Ditambah lagi dua organisasi besar aliran hitam, dia juga sudah mengetahui di mana mereka berada.


Kalau semuanya beres, maka sekarang waktunya untuk makan sebelum istirahat.


Shin Shui turun ke bawah untuk menuju ke ruang makan, karena kebetulan kamar yang dia dapatkan berada di atas.


Suasana di restoran tersebut sudah ramai. Padahal hari masih sangat pagi sekali.


Tapi dia sudah tidak merasa risih ataupun terganggu. Justru suasana seperti ini sudah lama dia nantikan.


Shin Shui memilih tempat duduk di bagian belakang restoran. Baginya, duduk di bangku paling belakang sangat cocok.


Karena dari belakang sana, dia biss melihat seisi restoran dengan puas. Dia menarik kursi lalu bersender ke tembok sambil menunggu pelayan datang.


"Maaf, tuan mau pesan apa?" tanya si pelayan kepada Shin Shui dengan sopan.

__ADS_1


"Makanan terenak yang ada di sini. Jangan lupa sediakan juga daging dan arak yang wangi,"


Si pelayan mengangguk. Dia segera kembali untuk mempersiapkan pesanan yang dipesan.


Sedangkan Shin Shui, tentu saja dia bersandar ke tembok dengan santai. Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu, selalu dia lakukan.


Sambil menunggu pesanan tiba, dia akan memperhatikan seisi ruangan apakah ada yang mencurigakan atau tidak. Telinganya dia pasang dengan tajam.


Puluhan orang ada di sana. Kelihatannya mereka adalah para pedagang. Ada juga sebagian pendekar. Masalah dari kalangan hitam atau putihnya, dia sendiri tidak tahu


Toh baginya tidak penting pula.


Semua pengunjung sedang berbincang-bincang bersama rekan mereka masing-masing. Shin Shui hanya menjadi pendengar yang baik.


Dari sejak dahulu sampai sekarang, atau mungkin hingga di masa depan nanti, restoran dan sejenisnya adalah tempat yang paling cocok untuk mencari sumber informasi.


Segala persoalan akan di bahas di sini. Entah itu persoalan dalam dunia persilatan, konflik internal, politik, bahkan sampai persoalan rumah tangga dan hutang piutang pun bisa ditemukan di sini.


Setelah hampir lima belas menit menunggu, pesanan pun datang. Bau harum segera mengisi seluruh ruangan restoran. Bau arak wangi menyebar ke sudut-sudut tempat sekitar.


Makanan siap. Saatnya makan.


Tapi baru saja Shin Shui memegang sumpit, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun menghampirinya. Penampilan pria itu terlihat cukup sederhana. Hanya memakai pakaian ringkas dengan rambut panjang digelung ke atas.


Dia menaruh kembali sumpit dan makanan yang hampir masuk ke mulutnya. Bagaimanapun juga, Shin Shui tahu etika.


Dia melirik ke beberapa tempat sekitar. Ada dua atau tiga bangku kosong. Tapi entah kenapa pria itu ingin duduk bersamanya. Karena merasa tidak enak jika menolak, akhirnya Shin Shui mengizinkan pria itu.


"Silahkan Tuan, kebetulan aku tidak ada teman makan. Mari-mari, silahkan duduk. Makan saja apa yang ada di meja ini, aku juga tidak mungkin menghabiskannya," kata Shin Shui menarik bangku untuk pria asing itu duduk.


Pria itu tersenyum sambil mengangguk. Tanpa sungkan lagi, dia langsung duduk dan mulai mengambil hidangan yang terdapat di meja Shin Shui.


Sambil makan, keduanya mulai berbicara untuk menghangatkan suasana.


"Siapakah namamu sahabat? Dan ke mana tujuanmu? Rasanya, aku baru lihat dirimu," ujar pria tersebut menanyakan Shin Shui.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Shin Shui mengembara memakai jubah dan pakaian serba hitam. Bahkan topeng yang menutupi sebagian wajahnya, berwarna hitam pula.


"Aku marga LI. Namaku Feng, aku memang bukan orang asli sini. Bahkan baru pertama singgah di kota ini,"


"Ah, pantas saja. Ke mana tujuanmu?" tanyanya mengulangi pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Aku akan menuju ke Daerah Timur. Ke gunung San-ong. Sekedar untuk melancong saja," jawab Shin Shui sedikit berbohong.


Orang itu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sedangkan Tuan sendiri, dari marga apa?" kali ini giliran Shin Shui yang bertanya.


Mengetahui nama dari lawan bicara memang sangat penting. Karena, rasanya kurang lengkap jika kita bicara dengan orang yang bahkan tidak tahu namanya.


"Ah, maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Aku marga Jiu, namaku Reen," kata pria itu yang mengaku bernama Jiu Reen.


"Tua asli sini?"


"Iya, tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Paling hanya dua-tiga kilo saja. Hampir setiap hari aku kemari untuk sekedar sarapan,"


Keduanya mulai bicara panjang lebar. Seolah mereka merupakan teman lama yang baru bertemu kembali.


Shin Shui tidak banyak bicara mengenai asal usul teman barunya itu. Dia hanya bicara dan bercanda sewajarnya saja.


Saat selesai makan, keduanya segera meminum arak bersama.


Ada arak, pasti ada daging.


Li Feng dan Jiu Reen sangat menikmati arak tersebut.


Saat sedang asyik minum arak, tiba-tiba terdengar suara gaduh.


Dua orang pengunjung adu mulut dengan pengunjung lainnya. Bahkan mereka sempat beberapa kali main pukul.


Suasnaa langsung ricuh. Semua orang berkerumun, termasuk juga Shin Shui.


Rekan dari masing-masing orang yang cekcok itu berusaha sebisa mungkin untuk melerai. Setelah beberapa saat kemudian, suasana kembali hening.


Dua pihak yang sempat membuat keributan langsung pergi keluar. Entah mereka akan melanjutkan pertikaiannya atau tidak. Shin Shui tidak tahu.


Saat dia duduk kembali, Jiu Reen masih ada di sana sambil menikmati arak yang wangi.


"Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Jangan terlalu di ambil hati. Ah, Shin Shui, aku harus pergi dulu. Terimakasih atas makanan dan araknya, jika ada kesempatan untuk bertemu, aku akan membalas semua kebaikanmu," kata Jiu Ren lalu pergi begitu saja sambil membawa satu potong paha ayam.


"Baik, sampai jumpa,"


Shin Shui hanya tersenyum. Dia tidak bicara apapun walau sudah tahu yang sebenarnya.

__ADS_1


Kepergian Jiu Reen, tidak berbeda jauh dengan perginya dua pihak yang sempat bertengkar.


__ADS_2