
Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung terdiam. Semuanya sedang menunggu hal penting apa yang akan di sampaikan oleh Shin Shui.
Suasana kembali tegang. Sedangkan Shin Shui berusaha untuk mengatur nafasnya. Perlahan dia menuangkan arak dulu ke gelas kecil. Setelah meminum satu tegukan, Shin Shui mulai bicara.
"Sebelumnya, apakah aku boleh kalau meminta bantuan senior Yuan Shi sebagai Kepala Tetua dari Sekte Pedang Emas?" tanya Shin Shui mengawali pembicaraannya.
"Tentu saja pahlawan. Apapun yang diinginkan oleh Pendekar Halilintar, selama kami Sekte Pedang Emas sanggup melakukannya, maka kami akan menjalankan," kata Yuan Shi menyambut positif perkataan Shin Shui.
"Baik, kalau begitu terimakasih senior. Kalau senior tidak keberatan, aku mohon untuk menyelidiki beberapa sekte besar lainnya. Tapi tugas ini hanya boleh dijalankan oleh tetua. Atau setidaknya murid inti yang sangat berbakat. Sebab pekerjaan ini, bukanlah pekerjaan yang mudah dan sepele. Justru ini sangat penting, sebab kalau sampai gagal, maka tidak ada harapan lagi bagi dunia persilatan Kekaisaran Wei,"
"Maksud Kepala Tetua? Apakah bisa di perjelas lagi supaya para tetua lain bisa lebih mengerti lagi," kata Yuan Shi belum paham betul ucapan Shin Shui.
"Baik, begini. Aku minta supaya beberapa petinggi Sekte Pedang Emas pergi ke empat sekte terbesar lainnya. Yaitu Sekte Gunung Salju, Sekte Teratai Putih, Sekte Serigala Putih, dan Sekte Bulan Perak. Aku ingin penyelidikan terhadap empat sekte terbesar ini,"
"Memangnya, apakah ada sesuatu yang ganjil di empat sekte terbesar itu?" tanya Yuan Shi.
"Firasatku mengatakan begitu. Tapi ini masih perlu bukti dan penyelidikan lebih mendalam lagi. Alasanku menyuruh untuk menyelidiki empat sekte lain karena pertama, aku sudah percaya penuh kepada Kepala Tetua Yuan Shi, tapi bukan berarti aku tidak percaya kepada empat Kepala Tetua lainnya. Dan yang kedua, alasannya karena beberapa waktu lalu aku menyaksikan bahwa Sekte Langit Merah yang besar dan ternama di daerah Selatan, ternyata mampu berkhianat. Bahkan semua orang-orang sekte itu melakukan pengkhianatan dan ingin sekali membunuhku,"
"Orang yang ada di belakang ini semua sangat hebat dalam menggali informasi penting. Sehingga sekte besar saja bisa mereka paksa untuk bergabung. Karena itu, kalau Sekte Langit Merah saja mampu berkhianat, berarti sekte lain pun tidak ada bedanya," kata Shin Shui menjelaskan.
"Hemm, ternyata berita itu memang benar. Aku kira hanya sebuah isapan jempol belaka," kata Yuan Shi sedikit kaget mendengar penjelasan Shin Shui.
"Bukan, berita itu memang benar senior. Bahkan aku sendiri yang menghancurkan sektenya berasa nona Eng Kiam dan puteraku, Chen Li,"
Semua orang terkejut lagi saat mendengar bahwa Shin Shui menghancurkan Sekte Langit Merah bersama bocah kecil bernama Chen Li.
__ADS_1
"Kalau begitu, kapan waktu yang tepat bagu sekte kami bergerak?" tanya si Raja Seribu Pedang.
"Lebih cepat lebih baik. Nanti tiga bulan ke depan, aku berharap bahwa senior mau menghadiri acara yang sudah aku buat. Sebelumnya aku juga sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari informasi, baik di daerah Selatan maupun daerah Timur,"
"Kalau begitu baiklah. Besok kami akan langsung bergerak sesuai dengan arahanmu," ujar Yuan Shi menerima permintaan Shin Shui.
"Terimakasih senior. Dan untuk Tetua Lin Zong He, Lu Xian Chuan, dan tetua Yiu Jiefang, aku meminta supaya kalian mencari berita tentang di mana keberadaan istriku dan tetua lainnya. Selain itu, perintahkan juga beberapa murid utama untuk turun gunung. Kirimkan mereka ke beberapa daerah yang rawan kejahatan serta daerah yang lemah keamanannya,"
"Baik. Siang nanti, perintah akan segera dilaksanakan," jawab mereka serempak.
"Bagus. Aku rasa kita harus bisa menjalankan semua hal ini sebaik mungkin. Sekali lagi aku peringatkan bahwa orang yang ada di balik semua kejadian ini bukanlah orang biasa. Bukan tidak mungkin kalau orang utama terjun langsung dalam hal ini," jaeta Shin Shui.
Semua tetua tidak ada lagi yang bertanya karena mereka memang sudah mengerti dan mengetahui tentang badai yang melanda Kekaisaran Wei, tanah air mereka.
Berita terkait banyaknya kemunculan pendekar dari Kekaisaran lain sudah menyebar luas bahkan sampai ke pelosok negeri. Karena itu, semua orang sudah paham betul bagaimana bahayanya dunia persilatan Kekaisaran Wei saat ini.
Tidak lama setelah itu, para tetua yang sudah Shin Shui tunjuk juga telah bergerak. Mereka turun gunung mencari informasi bersama puluhan murid inti lainnya.
Suasana di Sekte Bukit Halilintar kembali seperti seperti semula. Bahkan kali ini lebih sepi lagi karena hampir semua tetua yang ada, turun gunung. Sedangkan sisanya, masih belum diketahui di mana rimbanya.
Di Sekte Bukit Halilintar hanya ada dua tetua saja, yaitu Ong Kwe Cin dan Thai Lu. Keduanya kini sedang duduk bersama Shin Shui di ruangan para tetua. Kebetulan saar ini masih jam istirahat, sehingga ketiga orang tersebut bisa bercerita.
"Kepala Tetua, langkah apa yang harus kami lakukan selanjutnya? Apakah ikut menyusul turun gunung, atau ada tugas lainnya?" tanya Ong Kwe Ching.
"Kalian berdua diam saja di sini. Untuk sementara waktu, aku butuh istirahat total dan memulihkan luka di tubuhku ini," jawab Shin Shui lalu meneguk gelas arak.
__ADS_1
Pendekar Halilintar itu berpikir bahwa kalau di diamkan lebih lama lagi, maka luka akibat racun bahkan sisa racunnya, sudah pasti akan menyebar ke seluruh tubuh. Kalau sampai hal itu terjadi, maka bisa dipastikan bahwa dirinya tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
"Baiklah kalau begitu, kami berdua akan menuruti semua perintah Kepala Tetua. Silahkan Kepala Tetua memulihkan diri dengan tenang. Masalah tugas di sekte, serahkan saja kepada kami berdua," kata Thai Lu penuh rasa hormat.
"Baiklah kalau begitu. Aku sangat berterimakasih kepada Tetua Thai Lu dan Tetua Ong Kwe Ching," ucap Shin Shui.
Keduanya mengangguk sambil tersenyum lembut. Shin Shui sudah bersiap untuk pergi, namun sebelum itu, dia memberikan beberapa pil berharga kepada dua tetua tersebut.
Setelah keadaan bisa dipastikan aman, Shin Shui segera pergi dari sana ditemani oleh Tabib Seribu Cara. Walaupun dia sudah bisa jalan sendiri, tetapi tentu belum bisa menghimpun tenaga dalam dengan sempurna.
Shin Shui lebih dulu mengunjungi kediamannya untuk memastikan keadaan Chen Li dan Eng Kiam.
Dia menyaksikan anaknya yang sedang berlatih di bawah pohon sakura ditemani oleh gadis kecil itu.
"Li'er, kemarilah!" panggil Shin Shui.
"Baik ayah," Chen Li menghentikan latihannya lalu segera menghampiri Shin Shui.
"Untuk beberapa waktu ayah akan menyepi memulihkan diri. Kau berlatihlah dengan tekun sesuai tata cara yang ayah ajarkan. Nanti setelah keluar, ayah akan melihat hasil latihanmu," ujar Shin Shui.
"Baik, Li'er mengerti. Apakah keberadaan ibu sudah diketahui?"
"Belum. Tapi kau jangan khawatir. Ibumu baik-baik saja,"
"Baiklah. Li'er percaya kepada ayah,"
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu ayah pergi dulu. Kau lanjutkan saja latihannya," ucap Shin Shui lalu segera pergi ke tempat tujuannya.