Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok


__ADS_3

Chen Li tersenyum dingin. Perkataan seperti itu sudah terlalu sering didengar telinganya. Saking serinya, dia sendiri tidak ingat berapa jumlah pastinya. Entah berapa banyak juga orang-orang yang mengatakan hal itu kepadanya.


Setiap kali ada orang yang berkata demikian, bocah kecil itu selalu memberikan senyuman dingin dan ejekan.


"Entah sudah berapa banyak orang-orang mengatakan hal seperti itu kepadaku. Sayang, sayang sekali," ucap Chen Li tidak menyelesaikan perkataannya.


Kedua orang asing itu saling pandang satu sama lain. Mereka tidak mengetahui apa kata selanjutnya.


"Sayang kenapa?" tanya yang bersenjatakan tongkat mata golok.


"Sayang, tidak ada satu pun perkataan itu yang terbukti nyata. Bahkan yang lebih disayangkan, justru malah mereka yang mampus di tanganku. Lebih tepatnya mampus karena kesombongan dan rasa percaya diri yang terlalu tinggi," jawab Chen Li dingin.


Sikapnya mulai berubah. Itu artinya, dia sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.


Terkadang rasa percaya diri yang berlebihan memang selalu mendatangkan kekecewaan mendalam.


Mendengar perkataan pedas dari seorang bocah kemarin sore, tentu saja keduanya sangat tidak terima. Sifat mereka angkuh, merasa tinggi, merasa dirinya kuat, tentu saja saat mendengar perkataan barusan, amarahnya langsung berkobar.


Api tidak akan berkobar jika tidak dinyalakan. Dan Chen Li, barusan sudah berusaha untuk menyalakan api tersebut.


Usahanya berhasil. Dia memang tidak pernah mengecewakan.


"Ternyata kau juga mempunyai mulut yang busuk seperti rekanmu itu. Orang lain mungkin tewas di tanganmu, tetapi kami tidak," jengek yang memegang pedang.


Chen Li tersenyum semakin dingin. Wajahnya bahkan tampak seperti iblis. Senyumannya misterius, seperti juga jalan kehidupan yang selalu penuh misteri.


"Dari mana kalian bisa yakin seperti itu?"


"Karena kami sudah tahu kekuatanmu. Jujur saja, seorang Pendekar Surgawi tahap satu sepertimu tapi berani berbuat sombong, kami merasa salut. Kau benar-benar bocah pemberani," pujinya tulus.


"Terimakasih. Aku hanya ingin tahu siapa nama kalian,"


"Karena kau berani, kami akan memberitahukannya kepadamu. Aku si Pedang Angin, dan ini si Setan Mata Golok," kata orang yang mengaku Pedang Angin mengenalkan siapa dirinya.


"Terimakasih,"


"Untuk apa kau menanyakan nama kami?"


"Supaya aku bisa menuliskan nama di batu nisan kalian,"

__ADS_1


"Bangsat!! Aku sudah bilang kau tidak akan bisa membunuh kami, tahu?"


"Kalau belum dicoba, bagaimana kalian bisa bicara seperti itu?"


"Hemm, katakan saja siapa namamu bocah keparat. Biar sekarang aku buatkan batu nisan untukmu,"


"Namaku Chen Li, orang-orang menyebutku Pendekar Tanpa Perasaan," Chen Li berkata dengan dingin.


Sangat dingin. Seperti hembusan angin dari barat. Dingin, mendatangkan hawa sepi. Dan mendatangkan kekuatan tersendiri.


Si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok tampak sedikit terkejut. Hal ini terlihat dari Perubahan wajah mereka. Tetapi kejadian tersebut hanya sebentar. Karena selanjutnya mereka segera tertawa dengan suaranya yang menyeramkan.


"Hahaha, bagus. Aku dengar Pendekar Tanpa Perasaan adalah bocah yang istimewa. Tidak sedikit orang-orang dari negarakku yang mati di tanganmu. Sekarang aku ingin membuktikan apakah kabar itu benar atau tidak," kata si Setan Mata Golok tersenyum sinis.


Chen Li sendiri sedikit kaget. Dia tidak menyangka bahwa ternyata, dirinya sudah cukup terkenal di kalangan musuh besar Kekaisaran Wei.


Ini artinya, untuk ke depannya dia harus selalu berhati-hati. Di mana pun dan kapan pun. Sebab itu artinya, bisa saja nyawanya melayang setiap saat.


"Baik, kalau memang kalian ingin mencobanya, silahkan coba semampu kalian. Kita lihat, apakah dua orang tua bisa membunuh seorang bocah kecil? Atau malah sebaliknya?" sebuah senyuman sinis dilemparkan oleh Chen Li kepada kedua musuhnya.


"Bersiaplah! Lihat serangan …" bentak si Pedang Angin.


Chen Li tidak langsung menghindar. Bahkan dia tidak bergerak sedikitpun. Bocah itu menunggu datangnya serangan lawan.


Begitu jaraknya sudah dekat, dengan santainya Chen Li mengangkat tangan lalu menahan pukulan lawan.


Tangan kanannya menangkap kepalan tangan lawan. Kemudian dia memutar kepalan tersebut lalu mementalkannya ke belakang.


Si Pedang Angin terdorong satu langkah ke belakang. Dia tersentak kaget. Tak disangka, ternyata seorang bocah Pendekar Surgawi mampu menahan pukulannya. Bahkan dengan mudahnya dia menahan pukulan tersebut.


"Sringg …"


Tanpa banyak berkata, pedang yang tadi tersarung rapi di tempatnya, kini telah dikeluarkan. Hawa pedang segera menjalar hingga ke ujung mata pedang. Batang pedang itu berkilat saat terkena tempaan sinar matahari.


"Aku sarankan supaya kalian maju bersama. Aku tidak ingin membuang waktu terlalu lama," kata Chen Li.


"Sombong betul kau bocah," teriak si Setan Mata Golok.


"Harus!!!" tegasnya.

__ADS_1


Dua orang tersebut merasa sangat marah. Baru sekarang mereka mengalami hal seperti ini. Harga diri mereka seolah diinjak-injak oleh bocah kurang ajar itu.


"Mampus kau …" teriak si Setan Mata Golok dengan amarah yang memuncak.


Kini mereka benar-benar menyerang secara bersamaan. Pedang dan tongkat mata golok melesat membelah udara. Cahaya putih berkilat tajam.


"Trangg …"


Benturan pertama terjadi. Entah kapan dan bagaimana caranya, tiba-tiba saja sebuah pedang sudah tergenggam erat di tangan si bocah dan menahan senjata mereka masing-masing.


Sebuah pedang hitam. Membawa hawa mengerikan. Aura misterius keluar dari seluruh bagian pedang tersebut. Asap hitam menyelubungi seluruh batang pedang.


Chen Li segera mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain-main lagi. Karena itulah dia menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.


"Wushh …"


Angin berhembus kencang. Si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok terdorong dua langkah ke belakang.


Hal tersebut tidak dibuang percuma oleh Pendekar Tanpa Perasaan. Dia segera menerjang kedua lawannya.


Pedang Hitam ditebaskan dari sisi kanan ke sisi kiri. Gerakannya suka digambarkan. Dia melesat bagaikan awan di angkasa. Tebasannya membawa hawa yang sukar untuk dilukiskan.


Dingin. Dan tampak tak berperasaan.


Tiga kali tebasan pedang dilancarkan, tiga kali pula benturan terjadi. Sekarang si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok baru sadar bahwa kekuatan sebenarnya bocah itu benar-benar mengerikan.


Ketiga pendekar itu sudah terlibat dalam pertarungan sengit. Kedua lawannya berusaha mendesak Pendekar Tanpa Perasaan dengan jurus-jurusnya yang tidak kalah hebat.


Si Pedang Angin melancarkan serentetan serangan pedang. Baik tebasan dan tusukan dia lancarkan dengan gerakan cepat dan mantap. Pedangnya sangat cepat. Orangnya sangat lincah.


Pedang dan pemiliknya benar-benar seperti angin. Bergerak bebas ke sana kemari tanpa hambatan. Tidak terlihat tapi dapat dirasakan.


Keduanya mempunyai pengalaman yang banyak, sehingga mereka tahu kapan waktunya untuk mengeluarkan seluruh kemampuan.


Debu mengepul tinggi mengaburkan pemandangan. Tiga pendekar sedang bertukar jurus di dalam kepuan debu tersebut.


Chen Li diserang dari dua sisi berlawanan. Sisi kanan dan sisi kiri.


Si Setan Mata Golok menggerakan senjatanya. Walaupun tidak secepat si Pedang Angin, tetapi gerakannya sangat berat dan mengandung tenaga dahsyat.

__ADS_1


__ADS_2